3. Penasaran
"Semakin kau menghindariku, semakin membuatku penasaran dengan dirimu. Dan semakin aku penasaran dengan dirimu, semakin membuatku terpesona akan dirimu.”
~~~•••~~~
Tin...Tin...Tin...
Sontak Carina langsung mengklakson memberi isyarat kepada pak satpam yang sudah hampir selesai menutup gerbang.
Sang satpam pun terkejut, akan suara klakson tersebut dengan segara ia pun membuka kembali sedikit pintu gerbang tersebut. Mereka pun langsung masuk dan pak satpam pun mengelus dadanya seraya menghela nafasnya, lalu menutup kembali gerbang tersebut.
Bagi pak satpam sudah biasa mereka telat masuk sekolah, dan ada hal yang lebih parah dari pada itu, terkadang mereka nekat masuk ke sekolah hingga memanjat gerbang sekolah, kalau seperti pribahasa lebih baik telat dari pada tidak sama sekali.
Selesai memarkirkan mobil, mereka pun langsung bergegas menuju kelas dengan berlari. Tapi, belum sempat mereka ke gedung sekolah, tiba-tiba guru piket pun datang dan berdiri dihadapan mereka seraya membawa penggaris kayu besar yang panjang.
Sontak mereka pun langsung mengghentikan lari mereka secara mendadak. Dan mata mereka pun langsung tertuju pada penggaris kayu tersebut.
“Aduh, kali ini habis kita,” bisik Melina. Carina serta Raina pun menyenggol Melina.
“Jadi, kalian tau kan apa yang harus kalian lakukan,” ucap Bu Susi selaku guru piket hari itu, yang terkenal galak di sekolah Abdi Bangsa. Mereka tertegun seraya mengangguk dengan perlahan secara bersamaan.
“Bagus, ikut ibu sekarang,” ujar Bu Susi yang berjalan didepan mereka. Dan mereka pun mengikuti Bu Susi dari belakang.
“Gara-gara lo kita telat,” bisik Raina yang menyenggol Carla.
“Kok gara-gara gue sih,” balas Carla.
“Ya kalau bukan elo yang buat gara-gara dijalan tadi, mana mungkin kita telat "
“Ya itu kan gara-gata lo juga."
“Ssttt, udah deh ga usah berisik, nanti kita ketauan atas kejadian dijalan tadi,” sambung Carina. Dan mereka pun terdiam. Lalu mengikuti Bu Susi.
Mereka dibawa ke ruang BK. Dan ternyata sudah ada murid lain yang berada di ruang BK yang tengah diberi arahan oleh guru BK.
Yap, tak lain dan tak bukan murid itu adalah Gino, yang ternyata ia pun telat karena telah membantu kakek tadi. Dan sontak pandangan Carla pun langsung tertuju pada lelaki tampan itu.
'What, dia sekolah disini juga, gue udah duga sih dari seragam yang dia pake. Tapi kok gue baru tau sih, kalau ada cowok sekeren dia sekolah disini,' batin Carla.
“Kamu siswa berprestasi di sekolah ini, seharusnya kamu mencontohkan yang baik untuk anak-anak yang lainya, ” ucap guru BK yang duduk didepannya.
Lelaki itu hanya mengangguk menanggapi perkataan dari guru tersebut.
“Kamu tau kan Gino. Telat salah satu sifat yang tidak boleh dimiliki oleh siswa berprestasi, harusnya kamu lebih disiplin dan tepat waktu.” lanjut guru tersebut.
“Siap baik, Pak. Saya minta maaf,” ucap lelaki itu dengan menunduk.
Melina melihat bahwa murid itu adalah Gino, dan ia tahu bahwa alasan Gino telat bukan lantaran ia tidak disiplin melainkan karena telah menolong kakek tadi.
Melina pun mengangkat satu tangannya dan berjalan satu langkah kedepan. “Maaf pak, saya tau alasan kenapa Gino telat,” ujar Melani. Ucapan Melani tersebut sontak membuat semua temannya tertuju kearahnya.
“Itu Melani kenapa sih,” bisik Raina.
“Gue gak tau,” balas Carina.
“Aduh..., kalau Melina sampe ngomong, tuh cowok telat gara-gara nolongin kakek tadi, kita kan juga jadi ikut-ikutan,” bisik Raina.
“Sumpah, tuh anak ngeselin banget tau gak. Bisa m*mpus kita,” geram Carina.
“Apa Melina, kamu tau alasannya kenapa?" tanya guru BK.
“Iya pak saya tau, ” jawab Melina.
“Gak Pak, dia gak tau,” potong Raina.
Sontak semua yang berada disitu pun menoleh kearah Raina, termasuk Gino. Guru BK pun dibuat bingung akan ucapan mereka. Bu Susi berjalan mendekat kearah mereka dengan tatapan tajam.
“Kalian jangan main-main ya, bicara yang benar,” tegas Bu Susi yang membuat mereka pun terkejut bukan main.
“Melina bener Bu, Melina gak bohong. Jadi tadi itu Gino--"
Belum sempat Melina menyelesaikan ucapannya, Raina dan juga Carina pun langsung menutup mulut Melina secara bersamaan.
"Hehehe, gak kok bu, Melina gak tau apa-apa,” ucap Carina.
Melina berusaha untuk melepaskan tangan Carina dan Raina, namun mereka malah semakin membungkam Melina.
“Kalian semua ini kenapa sih, sudah kalian semua ibu hukum,” tegas Bu Susi.
Bu Susi pun berjalan mendahului mereka. “Cepat ikut ibu,” perintah Bu Susi. Dan mereka semua mengikuti Bu Susi termasuk Gino yang berjalan dibelakang mereka.
“Gara-gara lo kita jadi kena hukuman,” decak Raina.
“Ih..., gue kan tadi mau ngomog jujur soal Gino,” bela Melina.
“Ya tapi gara-gara lo kita semua jadi kena hukum kan,” balas Carina.
“Kok kalian semua jadi nyalahin gue sih, kan kita buat salahya sama-sama, ya harus tanggung resikonya sama-sama dong,” ujar Melina yang kesal karena teman-temanya menyalahkan dirinya.
Carla hanya terdiam mendengar ocehan dari teman-temannya itu. Ia berjalan seraya melihat kearah jendela sekolah, bukan lantaran ia ingin berkaca namun, ia melihat kearah jendela sekolah lantaran ingin melihat lelaki tampan yang berjalan dibelakangnya.
Carla senyum-senyum dan masih terus memerhatikan lelaki tampan itu dari pantulan jendela tersebut. Ia masih terus memerhatikan lelaki itu hingga ia tidak tau bahwa didepannya ada tiang besar yang membuat dirinya terbentur oleh tiang itu.
Kalau kalian menduga bahwa Gino akan menolongnya, kalian salah besar. Karena, pada kenyataanya, saat Carla menabrak tiang tersebut, Gino hanya menoleh tanpa membantu Carla. Dan ia pun melanjutkan langkahnya mengikuti Bu Susi.
“Aw, sakit...” ucap Carla seraya memegangi dahinya.
Carla melihat kearah Gino yang sudah berjalan menjauh, “Ih ... kok dia gak nolongin gue sih,” geram Carla yang menghentakan kakinya beberapa kali.
“Carla, kamu kenapa gak ngikutin Bu Susi,” ucap guru BK yang sudah berdiri dibelakangnya.
Sontak Carla pun menoleh. “Oh iya pak, ini saya mau kesana. Permisi pak,” ujar Carla yang gugup dan berjalan menuju kesana bergabung bersama dengan teman-temannya.
Carla berhenti dan berdiri tepat disamping Gino. Gino hanya melirik Carla dengan ekor matanya, lalu memerhatikan lagi perintah yang diucapkan Bu Susi.
Carla pun melirik kearah Gino. “Bisa-bisanya dia gak nolongin gue tadi, dia gak kenal apa sama gue. Model terkenal dan terpopuler.” gumam Carla dalam hatinya.
“Jadi paham kan apa yang Ibu perintahkan barusan,” ucap Bu Susi.
“Siap paham Bu,” ucap mereka serentak.
“Oke kalau gitu kerjakan hukuman kalian sekarang. Dan untuk kamu Gino, jangan ulangi lagi ya, Ibu harap, ini adalah untuk pertama dan terakhir kalinya kamu telat.” Ucap Bu Susi
“Siap baik Bu.” ujar Gino seraya mengangguk.
Ibu Susi pun pergi meninggalkan mereka dari lapangan tersebut, namun ia tetap mengawasi mereka dari kejauhan. Ia berdiri digedung sekolah yang tak jauh dari lapangan tersebut.
Carina, Raina dan Melina pun mulai berlari mengelilingi lapangan tersebut. Diikuti oleh Gino yang juga berlari dibelakang mereka.
Carla masih berdiam diri dilapangan tersebut. Entah apa yang ia lakukan dilapangan itu, Carla terus memerhatikan wajah tampan Gino. Ia makin terkesima dengan Gino, ketika Gino mulai mengibaskan rambutnya.
“OMG, sumpah cakep banget dia,” gumam Carla yang terpesona.
Ibu Susi Melihat Carla masih berdiam diri dilapangan tersebut. Ia pun menghela nafasnya, “ Carla! Kamu ngapain malah diam aja, ayok cepat lari,” teriak Bu Susi.
Carla terkejut dengan teriakan Bu Susi, ia pun mengangguk dan langsung berlari mengikuti teman-temannya yang lain. Ia berlari tepat dibelakang Gino. Betapa hatinya dibuat terpesona akan ketampanan Gino, ia berlari dengan santai dan juga tenang.
Wajah tampan serta raut wajah yang teduh membuat Carla semakin penasaran akan lelaki beralis tebal tersebut.
“Kenapa gue baru sadar sih, ada cowok sekeren ini di sekolah. Sumpah, gue selama ini mikirin diri gue sendiri sampe-sampe gue gak kenal sama dia. pokoknya gue harus dapetin lo Gino,” ujar Carla dengan niat yang tekad.
Carla mencoba untu menarik perhatian Gino, ia pun berpura-pura menabrak Gino yag berlari didepannya. Sontak Gino pun menghentikan larinya dan menoleh kearah Carla. Carla menyimpulkan senyum manisnya.
“Lo bisa lari gak sih? Kalau lo mau lari duluan, lari didepan gue,” ujar Gino dengan wajah cuek.
Alih-alih ingin mendapat perhatian dari Gino, Hal itu justru malah membuat Gino bersikap cuek terhadapnya. “Kenapa lo bengong, udah sana lari,” lanjut Gino yang memundurkan satu langkahnya kebelakang.
Seketika senyum yang disimpulkan Carla merubah menjadi raut wajah yang datar.
Carla menghela nafas pendeknya, ia melipat kedua tanganya. “ Lo gak kenal sama gue?” tanya Carla dengan jutek.
Gino mendegus lalu mengacuhkan pertanyaan dari Carla dan melanjutkan larinya. Melihat perlakuan Gino, membuat Carla pun menganga dan memebelalakan matanya.
Ia heran mengapa lelaki itu tidak terkesima dengan kecantikannya, dan malah mengacuhkan dirinya. Carla pun kesal dan ia menghentakan kedua kakinya dengan keras.
“Carla!"
Ia tahu pasti teriakan itu dari Ibu Susi. Carla pun menghela nafasnya dan melanjutkan larinya.
Beberapa menit kemudian, mereka sudah berlari mengelilingi lapangan sebanyak 5 kali. Rasa lelah dan juga letih pun mereka rasakan. Carina, Raina dan Melina duduk di bangku tak jauh dari lapangan tersebut. Mereka mengeluh karena rasa letih tersebut.
“Sumpah! Gila capek banget gue...” keluh Carina.
“Iya, gue rasa kaki gue bentar mau copot,” ucap Raina seraya mengelus-ngelus kedua kakinya.
Melina mengatur nafasnya seraya melihat Carla yang masih berdiri tak jauh dari mereka, “ Carl, lo ngapain? Nggak capek apa berdiri mulu?" Tanya Melina.
Carla masih memerhatikan Gino dari kejauhan, ia tidak mendengar ucapan dari Melina.
Gino duduk di bangku yang berseberangan dari mereka. Ia membuka botol minumnya dan perlahan meminum air mineral tersebut dengan gaya coolnya, ia pun mengibaskan rambutnya yang basah karena keringat yang mulai mengaliri pelipis keningnya.
Jantung Carla semakin tidak bisa diajak kompromi, jantungnya terus saja berdetak kencang melihat lelaki diseberang sana.
“Carl,” panggila Melina yang menyentuh bahu Carla.
