2. Tatap Mata
"Kalau banyak orang yang bilang bahwa jatuh cinta itu dari mata turun kehati. Aku setuju dengan kalimat itu, karena sejak pertama kali aku menatap dirimu, aku langsung jatuh cinta padamu.”
~~~•••~~~
Tin...Tin...Tin...
Suara klakson terdengar jelas dari luar rumah Carla, ia pun dapat memahaminya bahwa itu pasti suara klakson mobil dari teman-temannya. Carla langsung berjalan mengambil tasnya dan pergi tanpa berpamintan dengan mamahnya.
Mamahnya yang telah selesai menerima telpon. Ia melihat anaknya telah pergi tanpa berpamitan dengan dirinya, membuat wanita dengan rambut sebahu itu menghela nafasnya dengan panjang.
'Maafkan mamah ya sayang, Mamah tidak bermaksud untuk seperti itu.' ucap mamahnya didalam hatinya seraya melihat kearah Carla yang telah berjalan menjauh darinya.
Perlahan mamahnya menghela nafasnya dan berjalan kearah meja makan itu. Ia pun melihat bahwa siMbok baru saja selesai membereskan pecahan gelas tersebut yang berjalan menuju kearah dapur.
“Kenapa sih, kamu gak bisa ngertiin perasaan mamah sayang.” gumam sang Mamah.
*****
Carla berjalan menuju kearah mobil sport berwarna orange yang berada diluar gerbang rumahnya. Ia berjalan dengan ekspresi wajah yang ditekuk, akibat perdebatanya dengan mamahnya tadi.
Teman-temanya yang berada dimobil melihat dirinya dengan raut wajah murung, membuat mereka saling melihat satu sama lain seraya memerhatikan raut wajah Carla. Carla membuka pintu mobil dan langsung duduk.
Blam!
Carla menutup pintu mobil itu dengan keras, hingga ketiga temannya terkejut secara bersamaan.
“Ups, Sabar Carl, lo kenapa sih?” tanya Carina yang duduk tepat disampingnya.
“Gak papa,” jawab Carla singkat, dan masih dengan raut wajah kesalnya.
Ketiga temannya saling melihat satu sama lain, dan mereka saling menggelengkan serta mengangkat bahu mereka masing-masing. Tidak mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dengan Carla.
“Yaudah deh, kalau lo gak mau cerita sama kita, gak papa. Tapi, kalau misalkan lo udah mau cerita sama kita, kita siap kok dengerin curhatan lo, ya kan guys ..." ujar Melina.
Carina dan Raina pun menganggukan kepalanya dengan pasti sambil tersenyum. Carla pun melihat kearah tiga temannya. Melihat mereka semua tersenyum kepada dirinya, membuat hati Carla pun merasa sedikit lebih baik, dan perlahan bibir manisnya pun menyimpulkan senyum manis diwajah cantiknya.
'Gue bersyukur banget punya sahabat seperti mereka. Selalu ada di saat apapun, dan gue berharap, ketika suatu hari nanti gue terpuruk. Gue berharap kalau mereka masih tetap berada disisi gue.' batinnya dengan senyuman manis di wajahnya.
Ketiga temannya pun merasa senang melihat senyuman dibibir manis Carla. "Tuh kan, model kita udah senyum lagi." Ucap Melina dengan gembira.
“Oke guys, kalau gitu kita langsung cuss berangkat aja ya,” ucap Carina seraya melihat kearah dua temanya yang duduk dibelakang yaitu, Raina dan Melina.
" Cuss, berangkat ...." ujar serentak Raina dan Melina.
Mereka pun berangkat menuju ke sekolah. Carina memang ahli dakam mengendarai mobil, ia mampu menyalip dari ribuan kendaraan dan padatnya Ibu kota. Ia mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, hingga membuat seakan-akan pohon-pohon pun ikut terbang bersama dirinya.
Jalanan yang macet tak menjadi penghalang untuk Carina melancarkan kemampuan mengendarai, ia nekad masuk ke jalan sempit hingga melalui beberapa rumah warga. Dan pada kenyataannya yap, ia berhasil melewati jalanan sempit itu dan tak lama lagi mereka hampir sampai di sekolah.
“Wow! gila... lo memang benar-benar hebat Carr,” kagum Melina.
“Bener banget, Teman kita yang satu ini kan memang jago dalam salip menyalip,” sahut Raina.
Raina melihat kearah Carla, sepertinya Carla masih bad mood, ia tidak menggubris sama sekali perkataan dari dirinya dan juga Melina.
"Lo masih bad mood?" Tanya Raina.
“ Iya, kenapa sih, dibawa happy aja kali.” sahut Carina.
Carla melirik kearah Carina, ia menghela nafas pendeknya. “ Sumpah, gue gak ngerti banget sama nyokap gue,” ucap Carla.
Teman-temanya saling melirik satu sama lain, begitu pun Carina yang melirik dari kaca mobil diatasnya kearah dua temannya dibelakang.
“ Memangnya nyokap lo kenapa? " Tanya Melina.
Carla melihat kearah tiga temannya. "Nggak, gak papa kok. Em, iya sumpah lo keren banget tadi Car...,” ucap Carla yang mengalihkan pembicaraan tentang mamahya.
Sontak ekspresi ketiga temannya pun bingung. Dan seketika itu pula suasana pun menjadi hening.
Melina pun mencoba untuk mencairkan suasana yang semula hening itu. “Em,.. iya bener kan Carla, Carina itu top banget deh pokoknya.” Melina terkekeh, ia mencoba untuk membuat suasana menjadi ramai namun, malah terasa semakin garing.
Melihat kedua temannya serta Carla, tanpa ekspresi membuat Melina pun menjadi malu sendiri. “Lawakan gue... Gak pas ya,” tutur Melina.
Carina terkekeh, “Udah deh, mendingan gue buka atap mobil gue ya, biar kalian semua bisa ngerasain udara seger dipagi hari,” ujar Carina yang menekan tombol sunroof.
Atap mobil sport miliknya pun terbuka lebar dan membuat udara segar dipagi hari itu pun masuk ke dalam mobil.
Raina pun berdiri seraya menikmati udara segar yang berhembus di pagi itu. Ia memejamkan kedua matanya dan membentangkan kedua tanganya diudara.
“Sumpah, ini seger banget guys .... ” teriak Raina yang perlahan membuka kedua matanya.
“Ih,... gue juga mau dong,” rengek Melina yang menarik baju Raina.
“Ih, sabar ngapa sih Mel." balas Raina.
Raina pun kembali duduk, dan sekarang gantian Melina yang berdiri dan menikmati udara segar dipagi itu. Melihat tingkah unik dari teman-temannya, membuat Carla pun mulai tersenyum lebar.
Carina melirik kearah Carla. “Tuh, kan... model kita si Carramel udah senyum lagi nih,” ledek Carina yang masih fokus pada kemudinya.
“Ciee ... udah gak bad mood lagi nih,” Raina pun ikut meledek Carla.
Carla pun semakin tersenyum lebar menanggapi ledekan dari kedua temannya itu.
“Eh, gimana kalau kalian berdua bertukar posisi nyetir, kaya waktu itu. Pasti seru deh,” ucap Raina yang mengkode kearah dua temannya.
“Boleh tuh,” sahut Melina dari atas.
Carla melirik kearah Carina dan begitu juga Carina. “Gimana menurut lo?” tanya Carina kearah Carla.
Carla tersenyum disudut bibirnya, “ Boleh, siapa takut,” balas Carla.
Dengan segera Carla dan Carina pun bertukar posisi mereka. Padahal kondisi jalanan saat itu tengah ramai. Namun, mereka tidak takut akan terjadi sesuatu dijalanan.
Hal tersebut memang sering mereka lakukan, bertukar posisi pengemudi tanpa memberhentikan laju kendaraannya terlebih dahulu. Padahal itu membahayakan keselamatan mereka.
Kini saatnya Carla yang berada diposisi kemudi, ia pun sama lincahnya dengan Carina. Ia mencepatkan laju mobilnya hingga spidiometer pun bergerak keatas dengan cepat.
Mereka sangat menikmati kebutan dijalanan tersebut. Banyak kendaraan lain yang resah akibat ulah mereka, namun mereka tetap tidak menggubrisnya, mereka malah semakin asik tertawa lebar.
Melina yang masih berada diatas, melihat dengan jelas bahwa ada seorang kakek-kakek yang hendak menyebrang, sontak Melina pun langsung berteriak kepada teman-temanya.
“Awas...!” teriak Melina seraya menutup matanya dengan kedua telapak tanganya.
Srrtttt ....
Carla pun langsung ngerem mendadak hingga membanting setir, dan hampir saja ia menabrak kakek itu. Terkejut dan panik. Itu lah yang sedang mereka rasakan saat tau bahwa hampir saja Carla menabrak seseorang.
Carla, Carina dan Raina pun saling melihat satu sama lain. Gugup. Jantung mereka pun seperti berhenti sedetik yang lalu.
Perlahan, Melina mengalihkan kedua telapak tangannya dan ia langsung melihat kondisi kakek itu dari atas. Lalu masuk kedalam mobil dan segera membuka pintu mobil itu.
Klek.
“Lo mau ngapain sih Mel,” ujar Raina yang menarik tangan Melina.
“Ya gue mau nolongin kakek itu, kasian tau barang bawaannya jatuh tuh." Sahutnya.
“Eh, kalau kita keluar nanti orang-orang pada tau kalau kita yang hampir nabrak tuh kakek-kakek tau,” decak Raina.
“Ya makanya itu, kita tolongin tuh kakek.” ucap Melina yang melihat kearah semua temannya.
“Gak, gue gak mau. Mendingan kita pergi aja dari sini, gue gak mau mobil gue jadi inceran sama orang-orang,” sela Carina.
“ Aduh ... Ini semua gara-gara lo sih Carl,” ujar Raina yang menunjuk Carla.
“Loh kok gue sih, kan lo yang nyaranin gue sama Carina buat tukar posisi setir,” balas Carla yang balas menunjuk Raina.
“ Ya, tapi kan kalau lo bener nyetirnya, nggak akan kaya gini kejadiannya,” tegas Raina.
“Udah, udah deh gak usah ribut berisik tau. Mendingan kita langsung pergi aja, lo gak mau kan kepopuleran lo tercoreng Cuma gara-gara gini doang,” terang Carina.
“ Iya bener juga, aduh bisa mampus gue kalau sampe mereka tau gue yang ngelakuin ini semua,” ujar Carla.
“Yaudah..., tunggu apa lagi mumpung belum banyak orang buruan tancap gas Carl,” perintah Carina.
Melihat perdebatan teman-temanya membuat Melina semakin pusing, tanpa berfikir panjang ia keluar dari mobil tersebut dan segera berjalan menuju kearah kakek itu.
Carla yang bersiap akan menginjak pedal gas, ia mengurungkan niatnya ketika melihat bahwa Melani berjalan menuju kearah kakek itu.
“Aduh..., itu Melina kenapa sih malah kesana,” geram Carla.
Carina dan Raina pun melihat kearah luar kaca mobil. Carina menepuk dahinya, “Sumpah ya, tuh anak bikin repot aja deh,” kesal Carina.
Carla membuka selfbeltnya lalu membuka pintu mobil dan berjalan menuju kearah Melani. Carina dan Raina pun melihat Carla keluar dari mobil.
“Aduh, itu Carla ngapain sih malah ikut-ikutan Melina, dia gak takut apa kalau sampe ada orang yang ngenalin dia sebagai model. Bisa hancur kepopularitasan dia,” ujar Carina.
“Gak ngerti deh sama jalan pikiran mereka." jawab Raina.
Carla menarik tangan Melina yang hendak berlutut membantu kakek itu, “Lo ngapain sih Mel, ayok masuk "
“ Tapi kakek ini kan kasian Carl."
“Gue gak peduli. Lagian dia kan gak kenapa-kenapa, udahlah gue Cuma gak mau kalau orang-orang sampe tau gue ini model, bisa hancur kepopularitasan gue,” kekeh Carla.
“Tapi kan Carl ....” Ucapan Melina terputus, arah pandangan matanya tertuju kebelakang Carla, tatapan matanya pun berubah menjadi berbinar-binar.
“Oh, hay Gino,” lanjut Melani yang melambaikan tanganya.
Carla mengerutkan dahinya. “Gino?" singkat Carla lalu langsung berbalik arah dan melihat siapa yang panggil oleh Melina.
Carla melihat jelas lelaki itu, ia tampan dan berpenampilan menarik, memiliki tubuh tinggi serta memilki senyum yang manis.
Lelaki itu tengah membantu kakek itu membereskan barang-barang bawaannya, terlihat dari tatapan serta cara bicaranya, sepertinya lelaki itu adalah pria yang baik dan juga sopan. Hal itu membuat Carla tak berhenti menatap lelaki tampan tersebut. Ia sungguh mempesona.
Melina melihat Carla seperti terhipnotis, ia terdiam seraya tersenyum-senyum sendiri. “Carl,” panggil Melina. Namun Carla tetap diam, ia masih senyum-senyum sendiri seraya memerhatikan lelaki itu.
Melani menggaruk belakang kepalanya, ia bingung dengan tingkah temannya itu. “Carla kenapa sih? Dia kesambet ya?” gumam Melina.
“Carla,” panggil Melani lagi. Dan yap benar saja, Carla masih tetap diam tanpa kata.
Setelah dibantu oleh lelaki itu, kakek itu pun pergi. Dan lelaki tampan itu pun melangkahkan kakinya namun, baru beberapa langkah ia berjalan, lelaki itu menoleh kearah Melina dan Carla. Sontak Carla pun melihat dengan jelas wajah tampan lelaki beralis tebal itu.
Tatapan lelaki itu tanpa ekspresi dan juga terlihat dingin. Namun, tatapan itu membuat jantung Carla tidak sehat, jantungnya terus bedebar dengan kencangnya, hingga ia mulai menggenggam tangan Melina dengan erat.
Mengetahui bahwa tanganya di genggam oleh Carla, Melina pun semakin bingung dibuatnya. “Ini Carla beneran kesambet apa ya,” gumamnya seraya memerhatikan ekspresi wajah Carla yang semakin aneh.
Carina dan Raina yang masih berada didalam mobil pun ikut bingung akan tingkah kedua temannya itu. “Ini mereka kenapa sih, malah bengong gitu,” ucap Raina.
“Tau tuh mereka kenapa sih. Duh..., keburu telat nih,” balas Carina.
TIN !
Carina menekan klakson dengan sangat keras, hingga membuat Melina dan Carla pun terkejut dibuatnya. Dan seketika itu Carla pun tersadar.
Raina mengeluarkan kepalanya dari jendela mobil. “Oy..., buru udah mau telat nih,” teriak Raina.
Melina pun mendengar teriakan Raina, dan ia segera menarik tangan Carla masuk kedalam mobil. Mereka pun duduk didalam mobil, dan kini Carina yang berada diposisi setir langsung menancapkan gas dan segera menuju kesekolah.
Carina mengemudi dengan sangat cepat seperti kilat, dan tak butuh waktu lama mereka pun sampai di gerbang sekolah yang sebentar lagi akan ditutup.
