BAB ~ 6
"Kamu bareng Koko apa bareng Papah sayang?" Tanya sang kepala keluarga pada si bungsu setelah selesai dengan sarapannya.
"Sama Papah aja Pah" Sisa sarapan yang telah selesai dirapikan agar meja cepat dibersihkan. Feisya dengan setia membantu sang Ibu. Tak lupa menyahuti pertanyaan sang Papah terlebih dahulu.
Keliya menoleh dan menyerngit memandang sang anak "Tumben engga mau ikut Koko?" Tanya wanita itu heran. Jarang sekali hal ini terjadi.
"Males, Koko jelek" Jawab Feisya sambil melirik ke arah Jaxton. Yang dipandang membalas dengan wajah garang.
"Jangan ya minta dekat-dekat sama Koko lagi" Ancam laki-laki berseragam sekolah itu memincing ke arah sang Adik.
"Hehe.. Canda Ko" Cengir Feisya mengangkat dua jari tanda damai. Wajahnya berlagak imut.
"Udah jangan berantem mulu, nanti telat loh. Yuk Mamah antar ke depan" Lerai Keliya. Mereka berempat bergegas beriringan menuju pintu utama.
Setelah satu persatu menyalimi sang Nyonya besar. Jaxton dan Feisya bergandengan menuju mobil Darel. Sedangkan pria itu masih berdiri bersama sang istri tercinta.
"Jangan pecicilan banget disekolah. Kalau ada apa-apa telfon Koko aja" Pesan Jaxton membantu membukakan pintu mobil untuk akses sang Adik tercinta masuk.
"Sipp Ko" Feisya menempelkan tangan didahi tanda hormat. Wajahnya girang dengan unjuk gigi bersih nan rapi.
"Yaudah, Koko balik ke mobil dulu. Koko duluan ya" Pamit Jaxton berjalan menuju mobilnya.
"Ko" Panggil Feisya saat Jaxton baru berjalan beberapa langkah. Jaxton berhenti dan membalikkan tubuh kembali menghadap Feisya. "Sini" Seru gadis itu mengayunkan tangannya memanggil sang Kakak.
Jaxton kembali melangkah mendekati mobil sang Papah. "Kenapa?" Tubuhnya dibungkuknya agar posisinya dapat mencapai wajah sang Adik.
Gadis mungil itu meletakkan tangannya dikedua pipi sang Koko. Menarik sedikit lebih mendekat wajah tampan tersebut .
Cup
Cup
Cup
Kecupan-kecupan ringan diberikannya secara bergantian pada dahi dan kedua pipi si tampan "Lupa tadi, hehe.." Cengiran lucu setelah menarik kembali tangannya.
Cup
"Kebiasaan banget deh" Menggelengkan kepala setelah ikut meninggalkan satu kecupan sayang. Setelahnya pemuda itu kembali ke mobilnya sendiri bertepan dengan kedatangan sang Papah.
"Yuk berangkat. Udahkan sayang-sayangannya sama Koko" Ledek Darel setelah tadi melihat kemesraan para anaknya. Laki-laki itu mulai melajukan mobilnya setelah mobil sang anak lebih dulu berlalu.
"Hehe.. Papah mah" Gadis itu dibuat salah tingkah sendiri. Bahakan pipinya sampai memanas
Darel sangat bahagia melihat kedua anaknya sangat akur dan saling sayang walau mereka bukan terlahir dari Ibu yang sama. Hal yang selalu membuatnya semakin semangat.
~#~
Feisya melangkah riang melewati koridor sekolah menuju kelasnya berada. Terkadang lantunan lagu nan merdu keluar dari bibir mungilnya.
Gadis itu mengembangkan senyuman kala melihat Ansel dan sahabatnya dari arah berlawanan. Dengan langkah semangat, kakinya berjalan mendekati rombongan para atlet sekolah itu.
"Hai Kak" Lambaian tangan langsung berayun setelah beberapa langkah lagi mereka bersisian. Ansel dan yang lain menghentikan langkah saat melihat seorang gadis mungil tengah menghadang jalan mereka.
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Feisya menurunkan tangan yang tadi digunakan untuk melambai.
"Hai dede gemes" Dayyan membalas sapaan gadis didepannya kala merasakan kecanggungan yang tercipta. Ia tahu pasti Ansel tak akan membalas sapaan gadis manis yang baru mereka kenal kemarin.
Feisya berusaha mengembangkan kembali senyumannya mendengar sapaan balik dari Dayyan, walau bukan dari orang yang diharapkan.
Seperti biasa, Ansel memilih pergi dengan aura dinginnya. Gadis itu diam. Berbalik memandang arah langkah Ansel dengan tatapan nanar.
"Maaf ya dede gemes" Dayyan merasa bersalah dengan tingkah Ansel lagi dan lagi. Biasanya Ia tak pernah peduli kalau Ansel seperti itu dengan gadis-gadis lain. Tapi entah mengapa, hatinya merasa kesal saat Ansel seperti itu pada Feisya.
"Engga papa kok Kak, kalau gitu Feisya mau lanjut jalan lagi ya Kak. Maaf udah ngehalang jalannya" Pamit gadis itu berlalu meninggalkan Dayyan dan Jaxton.
Tanpa Dayyan sadari, sedari tadi Jaxton disebelahnya sudah mengepal kuat kedua tangannya melihat tingkah Ansel kepada sang Adik.
"Kuy balik" Dayyan merangkul pundak Jaxton. Pemuda itu mengikuti langkah sang sahabat masih berusaha menetralkan emosinya.
"Kok gue kasian ya liat Feisya digituin Ansel. Biasa aja kalau Ansel gitu ke cewek lain gua nya b aja" Tutur Dayyan melepaskan
rangkulan pada Jaxton.
"Gue juga" Dua kata dari Jaxton mampu mengalihkan pandangan Dayyan. Kakinya menghentikan langkah. Jaxton juga otomatis menghentikan langkahnya.
Dayyan memincing menelisik ke arah wajah pemuda disebelahnya. Sedikit mendekati wajahnya. "Lu? Tumben?" Tudingan dengan sebelah alis terangkat.
Memundurkan kembali wajahnya tapi Dayyan tak sedikit pun mengalihkan pandangan dari Jaxton.
Jaxton tak membalas pertanyaan, hal itu semakin menimbulkan kecurigaan dari seorang Dayyan. "Apa lo-" Perkataannya terpotong oleh bel masuk yang lebih dulu berbunyi.
Tet.. Tett...
"Bacot" Jaxton menjitak kepala Dayyan sebelum berlalu meninggalkan pemuda itu dengan langkah lebar.
"Sialan lo!! Awas ya lo nanti. Jaxton, tunggu gue bege" Dayyan mengejar Jaxton yang sudah lumayan jauh setelah mengomel.
~#~
Feisya menikmati bekalnya sambil menonton film horor yang terputar dilayar ponselnya. Kebiasaan yang dilakukan sedari dulu saat masa istirahat datang.
Suasa kelas yang sepi sang mendukung suasana horor dari film didepan sana. Wajar saja kelas sepi, namanya juga jam istirahat. Siapa juga yang mau dikelas saja seperti dirinya.
BRAKK
"Astaga!!" Kaget, jantunya terasa terjun bebas kala suara keras terdengar disebelahnya. Suara itu bertepatan dengan hantu yang muncul dilayar ponsel. Wajar saja kalau Feisya sedikit berlebihan dalam berekspresi.
Kepalanya melihat ke arah sebelah setelah menjeda tontonan tadi. Ternyata keributan itu disebabkan oleh beberapa buku yang dihempaskan diatas meja sisi teman semejanya. Pelakunya ialah si cewek datar, siapa lagi kalau bukan Ghalya.
Feisya sedikit mencuri pandang pada wajah datar Ghalya yang sudah duduk ditempat sendiri. Ia sedikit kagum kala melihat ekspresi lain dari wajah manusia disebelahnya. Terlihat dari wajah Ghalya yang ditekuk masam dengan nafas memburu sambil bersikedap dada.
"Kalau kepo nanya, bukan nyuri pandang" Feisya menjadi salah tingkah saat Ghalya mencyduk dirinya tengah mencuri pandang sedari tadi.
"Hehe.. Ketauan rupanya" Cengir Feisya merasa canggung. Tangannya menggaruk pelipis yang tiba-tiba gatal.
Walau sudah beberapa hari semeja. Ia masih terlalu berjarak dengan Ghalya. Itu semua terjadi entah karena kedataran Ghalya, entah juga karena Feisya yang masih belum terlalu berani bersikap pada gadis itu.
"Gue kesal tau engga" Feisya mengerjab beberapa kali sambil memasang wajah cengo. Apa benar tadi Ghalya berniat berbicara padanya? Atau Ia kembali berhalu?
"Lu mau dengerin gue engga sih?" Sungut si gadis datar dengan ketus melihat teman disebelahnya yang terbengong.
"Ah.. Eh.. Ehmm.. Iyaiya" Feisya menjadi gagu tak tahu harus berkata apa. Dirinya masih sangat kaget dengan perubahan Ghalya si manusia datar.
Wajar saja, ini kali pertama gadis itu berbicara pada Feisya seakrab ini. Ya walau masih ketus, tapi Ia tetap speechless dibuatnya.
"Tau engga sih? masa nih ya, gue cuma engga sengaja tuh numpahi minuman ke buku catatan kakel. Eh, malah gue disuruh nyatat ulang tuh isi buku. Mana bukunya banyak lagi yang ketumpahan. Bisa lepas nih tangan nyatat sebanyak itu" Gerutu Ghalya mengeluarkan semua unek-uneknya. Matanya terfokus pada tumpukan buku yang tadi tengah dikeluhkannya.
Wow, amazing sekali teman-teman. Apa Ia harus mengadakan syukuran setelah ini karena mampu mendengar kalimat begitu panjang dari teman disebelahnya.
"Kenapa bisa ketumpahan?" Pertanyaan itu segera dilayangkan. Selain tak ingin disangka yang macam-macam lagi. Ia juga kepo sih.
"Tadi tuh gue lagi main ponsel sambil jalan. Gue engga tau kalau didepan ada orang. Gitu deh jadinya, nabrak karena engga keliatan.Sialnya, minuman yang baru gue teguk sekali malah jatuh ngenain buku-buku tuh kakel. Mana orangnya dingin banget lagi" Terang Ghalya ketus mengingat kejadian tak mengenakkan tadi.
Hilih, padahal yang ngomong juga sejenisnya "Ghalya yang sabar ya, nanti Feisya bantuin deh nyatatnya" Feisya mencoba menenangkan Ghalya. Mendengar perkataan ity, Ghalya mengembangkan senyuman memandang ke arah gadis disebelahnya.
"Lo serius?" Tanya gadis itu memastikan. Feisya menjawab dengan anggukan mantab. Lumayan, mana tahu setelah ini bida berkenalan lebih dekat.
"Okeh. Kalau gitu entar lo pulang bareng gue aja. Jadi kita ngerjain bareng dirumah lo. Karena tuh kakel cuma ngasih gue waktu 3 hari buat nyatat nih semua" Putus Ghalya panjang lebar sambil menepuk 4 buku catatan didepannya.
"Okey" Jawab Feisya dengan senyum mengembang. Ia sangat senang akhirnya Ghalya yang datar sudah mau berbicara panjang lebar pada dirinya.
Gadis itu memandang Ghalya yang tengah merapikan buku-buku tadi ke dalam tasnya masih dengan senyuman tak luntur sedikit pun.
Akhirnya setelah beberapa hari. Gadis ayu itu mendapatkan teman juga. Tidak merasa kesepian lagi walau selalu duduk bersebelahan.
