Pustaka
Bahasa Indonesia

Cool Boy Or Cold Boy

80.0K · Tamat
Desica Aprilla
60
Bab
551
View
9.0
Rating

Ringkasan

"Jangan kejar gue mulu. Gue muak" "Okey. Aku nurut. Jangan rindu aku ya kalau aku pergi" Deg!! "Bye, mantan calon imamku" ******** Dingin √ Datar √ Ganteng √ Kenapa juga bisa ada yang terus ngejar cowok seperti itu? Wajar saja, dari selaga kelebihannya tak ada hal minus. Dengan ciptaan sang pencipta yang nyaris sempurna. Hampir seluruh kaum hawa yang ditemuinya ingin memlikinya. Dia, Ansel Altezza Fahrezel. Pemuda SMA yang nyaris seperti seorang dewa. Ribuan gadis yang mengejarnya tak ada satu pun yang digubris atau pun diliriknya. Namun suatu hari, ada satu gadis yang mampu menarik perhatiannya. Risih, hal yang dirasakannya namun tanpa disadari hal tersebut dapat merubah hampir seluruh tentang kehidupannya. Gadis manakah itu yang mampu membuat si dingin Ansel terombang-ambing perasaan dan logikannya. Siapakah si gadis beruntung itu? Temui kisahnya dicerita ini. ***********

RomansaTeenfictionCinta Pada Pandangan PertamaMemanjakanSweetBaperbadboy

BAB ~ 1

"Pagi Mah, pagi Pah" Sapa riang seorang gadis yang sudah rapi dengan seragam sekolah barunya. Tak lupa meninggalkan kecupan singkat dipipi sang orang tua. Feisya Awzibya Azucena nama sang gadis.

"Pagi sayang, kamu mau sarapan apa pagi ini?" Tanya wanita paruh baya yang masih cantik diusianya. Keliya Ranea Azucena, Mamah dari Feisya.

"Nasi, sayur sama ayam gorengnya aja Mah" Jawab Feisya riang sambil menelisik semua makanan yang sudah dihidangkan. Rasanya sajian-sajian itu cukup membangkitkan semangatnya untuk sarapan.

Keliya tersenyum sambil melihat tingkah anaknya yang masih saja manja seperti biasanya. Feisya memang sangat manja karena tak pernah mendapat perlakuan kasar dari keluarganya.

Tapi walaupun manja, gadis riang itu bukan tipe anak yang tidak bisa menghargai orang lain. Karena sedari kecil, Feisya sendiri selalu diajarkan tentang kemandirian oleh pihak keluarga.

"Kamu hari ini mau diantar sama Papah atau Mamah ke sekolah barunya sayang?" Tanya Darel Gela Azucena, sang Papah.

Feisya tampak menatap bergantian orang taunya "Sama Papah, biar Mamah dirumah aja" Jawab gadis itu dengan terkikik geli saat melihat tampang sang Mamah yang tadinya penuh harap sekarang meluruh lesu.

"Yah, Mamah ga dipilih. Dirumah lagi deh. Padahal udah ngarep buar jalan-jalan sekalian" Dumel Keliya cemberut.

Darel menggeleng melihat tingkah sang istri. "Nantikan Mamah bisa keluar ditemani supir. Sudah-sudah, sekarang makan dulu. Nanti anaknya telat loh" Titah pria satu-satunya itu langsung dituruti dengan kedua perempuan didepannya.

Hanya menghabiskan waktu sekitar 15 menit. Kegiatan sarapan dikediaman Azucena usai. Feisya bergegas merapikan perlengkapan sekolahnya.

"Yaudah Mah, aku sama Papah berangkat dulu. Bye, muah" Saliman, kecupan dan berakhir lambaian tangan. Hal yang baru Keliya rasakan lagi.

Senyuman haru tak bisa Wanita paruh baya itu tahan "Hati-hati ya sayang disekolah barunya. Semoga kamu betah disana" Pesannya diangguki semangat oleh sang anak.

Feisya kembali melambaikan tangannya pada Keliya kala mobil yang dikemudikan sang Papah mulai berlalu meninggalkan perkarangan rumah. Tak lupa senyum lebar menampilkan gigi rapinya terukir diwajah imutnya.

Disepanjang perjalanan bibir mungil Feisya bersenandung riang mengikuti lagu-lagu yang keluar dari radio mobil Darel. Pagi ini belum terlalu macet walau jalanan sudah tampak ramai.

"Kamu hati-hati ya sayang. Maaf Papah engga bisa nemenin kamu sampai dalam. Soalnya sebentar lagi Papah ada meeting" Ujar Darel dengan wajah merasa bersalah.

Feisya tersenyum lembut "Yaampun Pah, kan Fei udah gede. Fei bisa kok sendirian aja. Kan Papah juga udah nganterin Fei ke sekolahnya. Kalau masalah ke dalam doang mah, kecil Pah" Sangkal gadis itu diiringi jentikkan jari.

"Anak Papah memang engga pernah berubah. Yaudah turun sana, tuh satpamnya udah mau nutup pagar" Titah Darel sambil memandang pagar sekolah yang berada dibelakang sang anak. Karena memang Feisya tengah memiringkan tubuh menghadap dirinya.

Feisya memutar tubuhnya ikut melihat arah pandang sang Papah. Benar saja, disana satpam sudah berdiri didekat pagar. 

"Astaga, Papah. Kenapa engga bilang dari tadi sih. Kalau gitu Fei pamit, Papah hati-hati dijalannya. Muahh" Seperti apa yang dilakukannya pada Keliya tadi, kini dilakukan juga pada Darel.

Darel terkekeh melihat tingkah sang anak. Kakinya kembali kembali menginjak peda gas setelah melihat Feisya sudah memberikan lambaian padanya.

Kembali pada si manis Feisya. Langkahnya tampak girang mendekati pagas sekolah barunya.

"Pak" Panggil gadis itu pelan pada satpam yang masih setia berdiri didekat pagar. Laki-laki dengan kisaran usia 40 tahunan itu tengah menyerukan murid-murid yang masih berada disekitar luar sekolah agar mempercepat langkah mereka.

Satpam yang merasa terpanggil menoleh "Ya, ada apa ya Non?" Tanyanya ramah. Maniknya menelisik gadis mungil dengan seragam sekolah yang dijaganya. Sepertinya Ia belum pernah melihat gadis mungil didepannya itu.

"Saya Feisya, murid baru Pak. Saya mau minta tolong sama Bapak buat nunjukin ruang kepala sekolah, bisa Pak?" Tanya Feisya ramah.

"Ohh, pantes saya belum pernah ngeliat Non nya. Ternyata murid baru toh. Bisa Non, tapi bentar ya Bapak mau nutup pagarnya dulu" Seru sang satpam.

Feisya mengangguk, berjalan lebih dalam menuju pos satpam menunggu sang satpam yang tengah menutup pintu pagar.

Pandangannya diedarkan pada seluruh penjuru sekolah. Sekolah ini sangat luas tak berbeda jauh dari sekolahnya dulu.

"Mari Non Feisya Bapak antar" Suara sang satpam mampu menarik perhatian Feisya kembali.

"Oh, ayo Pak" Ujarnya dengan senyuman. Kakinya dibawa mengikuti langkah sang satpam sambil menjawab beberapa pertanyaan yang dilontarkankan oleh satpam tersebut.

"Ini Non ruangannya" Tangan sang satpam menunjukkan pintu yang baru mereka tuju setelah melangkah pada lorong utama. "Kalau begitu Bapak balik ke pos dulu ya Non. Soalnya takut ada yang telat atau bolos Non" Imbuhnya berpamitan.

Feisya mengangguk dua kali "Makasih ya Pak" Serunya dengan tersenyum ramah.

Tok.. Tok..

Setelah sang satpam pergi. Tubuh Feisya berputar, tangannya naik mengetuk pintu yang bertuliskan 'Ruang Kepala Sekolah' diatasnya.

"Masuk" Terdengar suara bariton dari arah dalam. Setelah mendengar suruhan tersebut, Feisya mendorong perlahan pintu didepannya.

"Permisi" Serunya dengan membuka pintu lebar lebih lebar memberi akses untuk dirinya masuk.

Si pemilik ruangan mengangkat pandangannya "Kamu Feisya ya? anak pindahan itu?" Bertanya dengan pandangan menelisik.

Feisya mengangguk mantap "Iya Pak" Jawabnya riang. Berdiri didepan meja sang kepal sekolah.

"Silahkan duduk dulu, saya akan memanggil walin kelas kamu" Titah sang kepala sekolah sambil menelfon seseorang dari telfon yang tersedia diatas mejanya.

Feisya duduk dengan sopan dikursi yang tersedia tepat didepan meja kepala sekolah.

"Tunggu sebentar ya, wali kelas kamu sedang menuju ke sini" Beritahu kepala sekolah setelah mengakhiri panggilannya.

"Baik Pak" Jawab Feisya ramah. Setelahnya sedikit menjawab pertanyaan yang dilontarkan laki-laki didepannya.

Tak lama seorang perempuan cantik masuk ke dalam ruangan setelah memberi ketukan dipintu.

"Nah, ini dia wali kelas baru kamu Feisya" Feisya berdiri dari duduknya bersamaan dengan sang kepala sekolah.

"Feisya Bu" Tutur lembut Feisya sambil mengulurkan tangannya ke arah perempuan cantik dengan pakaian formal didepannya.

"Saya Cindy wali kelas XI IPA 1, tepatnya kelas kamu nanti" Jelas perempuan itu juga dengan ramah sambil membalas uluran tangan Feisya.

"Yaudah Feisya, sekarang bisa ikut sama Bu Cindy" Titah sang kepala sekolah memberi intruksi.

"Terima kasih Pak" Feisya sedikit membungkukkan tubuhnya hormat sebelum berlalu mengikuti langkah Bu Cindy.

Kelas XI IPA 1 yang tadinya terdengar ramai karena belum ada guru yang masuk mendadak hening. Semua murid memusatkan pandangan pada Bu Cindy yang masuk bersama dengan seorang gadis cantik nan mungil disebelahnya.

"Pagi anak-anak" Sapa Bu Cindy pada para muridnya.

"PAGI BUU.." Jawab semuanya serempak.

"Hari ini kelas kita kedatangan murid baru" Umum Bu Cindy. Kepalanya menoleh "Feisya, silahkan perkenalkan diri kamu" Perintahnya diangguki cepat oleh Feisya.

"Hai teman-teman, kenalin nama aku Feisya Awzibya Azucena. Pindahan dari Bandung. Semoga kalian bisa bantu aku dengan baik kedepannya ya teman-teman" Perkenalan Feisya diakhiri dengan senyum manisnya.

"Baik, kalau mau kenal lebih lanjut bisa nanti ya. Karena Pak Tory sudah menunggu didepan" Akhir Bu Cindy. "Feisya, kamu duduk dipojokan disamping Ghalya ya" Titah sang guru. Feisya mengangguk patuh sebelum berjalan menuju kursi yang tadi ditunjuk oleh Bu Cindy.

Gadis itu sedikit menundukkan pandangan kala teman sebelahnya memberi tatapan kurang mengenakkan. Jujur, Feisya sedikit takut dengan gadis yang dia tau bernama Ghalya. Huh! Sangat berbeda dengan namanya yang mengesankan keramahan.

Tak lama Bu Cindy keluar. Masuklah seorang guru laki-laki muda dengan tubuh ideal bernama Pak Tory.

Feisya mengikuti pembelajaran dengan khidmat. Sekali-sekali, gadis itu mencuri pandang pada teman sebelanya. Sedari tadi Feisya melihat Ghalya hanya menampilkan wajah yang selalu datar.

'Huh!! Kalau ginikan Feisya berasa duduk disebalah pengawas UN' Dengusnya dalam hati. Feisya kembali memfokuskan pandangannya pada Pak Tory yang tengah menjelaskan didepan.