BAB ~ 7
"Bentar ya, Feisya mau telfon supir dulu biar engga usah jemput" Ujar Feisya pada Ghalya saat tangannya masih sibuk membereskan perlengkapan tulis yang telah digunakan. Kegiatan belajar mengajar baru saja berlalu.
"Okey" Tanpa menoleh yang diajak berbicara menyahuti sekenanya. Terlalu asik dengan kegiatan sendiri.
Seperti perjanjian tadi, Feisya akan pulang bersama Ghalya karena akan membantu gadis itu. Bel pulang baru saja berbunyi 5 menit lalu. Tapi suasana kelas sudah cukup sepi.
Setelah dirasa tak ada yang tertinggal lagi, Ghya menoleh dengan tas yang sudah tersampir dibahu kirinya "Udah?" Tanya gadis itu denga tampang kembali datar namun suaranya sudah bersahabat.
Feisya ikut menoleh. Kepalanya mengangguk "Udah. Ghalya udah selesai belum?" Pertanyaan balik dilayangkan dengan senyuman hangat. Ah, rasanya hari ini hari yang cukup baik.
"Udah, yuk balik" Ghalya menarik tangan Feisya beriringan keluar kelas. Lorong sekolah sudah sudah lumayan sepi.
Berbeda dengan area perkairan. Tempat penyimpanan kendaraan itu cukup sesak dengan para murid yang berbondong untuk segera kembali ke rumah atau sekedar mampir ke tempat lainnya.
"Eh dede gemes?" Dari arah timur terdengar suara seseorang yang belakangan sering terdengar. Langkah dua gadis itu terhenti tak jauh dari mobil yang dituju.
Dengan otomatis tubuh gadis-gadis itu berbalik. "Eh, Kak Dayyan" Mengembalikan sapaan ramah kembali. Tak lupa senyuman khas menghiasi wajahnya. Didepan mereka sudah berdiri 3 pemuda dengan karisma tertinggi seontoro sekolah. Siapa lagi kalau bukan Ansel dkk.
Berbeda dengan Ghalya. Gadis itu sudah bersikedap dada dengan tampang garang. Tatapannya sengit pada salah satu kakel disana.
"Mau pulang ya?" Pertanyaan sekedar basa basi agar tak tercipta kecanggungan disana. Biasalah, Aura Ansel dan Jaxton itu tak pernah enak. Tapi kenapa masih saja para gadis-gadis selalu terpekik heboh saat mereka lewat.
"Iya Kak" Jawab Feisya ramah. Saat ini mereka tengah menjadi bahan totonan. Wakar saja, Ansel cs dan anak baru.
"Yakali mau jadi tukang parkir" Ghalya memutar bola mata malas. Menyahuti dengan nada ketus.
"Nyambung aja" Jaxton ikut nimbrung. Nadanya tak kalah ketus dengan lirikan ganas.
"Eh, lu ya. Bisa engga kalau engga nyolot" Matanya mendelik tak terima. Telunjuknya mengancung tepat didepan wajah lelaki itu.
Tatapan Jaxton semakin datar. "Ribut" Jaxton menepis kasar tangan Ghalya. Tak senang senang saja dibuat seperti itu.
"Sialan!!" Berang Ghalya mendesis. Tangannya bergera cepat menarik lengan seragamnya hingga ke bahu.
"Ih, udah udah. Kenapa pada ribut" Feisya melerai cepat. Tubuhnya menghadang ditengah-tengah tatapan sengit kedua insan yang tampaknya kurang bersahabat itu.
"Maaf ya Kakak-Kakak, kita balik duluan" Feisya dengan cepat menarik tangan sang sahabat. Meringis tak enak.
Sedangkan Ghalya sudah dibuat mendengus kasar setelah memandang Jaxton sengit. Mereka kembali melanjutkan langkah menuju mobil yang sempat tertunda.
"Lo tau engga sih Fei, tu manusia tadi tuh yang nyiksa gue" Protesan kesal terdengar. Yang mengomel sudah fokus menyetir.
"Maksudnya?" Feisya ling lung. Menoleh cepat. Kepalanya sampai dimiringkan karena tak paham sama sekali.
"Itu tuh, si Jaxton. Kakel yang sok sangar itu. Dia tuh yang punya catatan yang bakal kita kerjain sekarang" Tutur Ghalya menggebu-gebu. Tangannya sampai mengepal erat setir.
Feisya sedikit menegang mendengar penjelasan itu. "Ooh, jadi itu punya Kak Jaxton ya" Responnya mencoba menormalkan kegugupan yang mukai menyeang.
Hanya anggukan dengan tampang tak bersahabat samapi Feisya sendiri dibuat meneguk kasar liurnya. Aih, kenapa bisa begini.
'Kalau koko tau aku bantu Ghalya. Kira-kira Koko marah engga ya?' Gumaman membatin. Feisya tak tahu kalau Jaxtonlah pemilik catatan itu. Kenapa juga tadi Ia tak melihat terlebih dahulu siapa nama si pemilik buku.
"FEISYA?!" Panggil Ghalya keras. Kepalanya menoleh kesal. Si empu nama sampai terlonjak kaget.
"Ah, iya?" Respon yang sangat gagu. Feisya dibuat mengerjab. Setelahnya kembali membenah posisi duduknya.
Ghalya memincing "Lu ngapa bengong dah? Orang manggil dari tadi kagak dengar-dengar, budek lu?" Omel gadis itu berseru garang.
"Hehe.. Maaf" Feisya cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal sama sekali.
Merotasi mata malas "Huh, dasar bocah" Cibirnya kesal. Kepalanya kembali menoleh ke arah depan.
"Emang ada apa Ghalya?" Tanya Feisya belum menyadari keadaan sekitar. Kelopak matanya mengerjab.
"Kenapa Ghalya?" Ghalya menirukan cara bicara Feisya. "Dari tadi tuh gue ngajakin lo turun buat beli cemilan. Eh malah lo nya bengong mulu" Ketusnya menggerutu. Tak taju apa stok kesabarannya tuh minim sekali.
Feisya memutar pandangan ke arah sekitar. Ternyata mobil milik Ghalya sudah terparkir rapi dipelataran mini market.
"Yuk turun, entar gue makin kesel" Ajak gadis bar-bar itu pertama keluar dari mobil. Feisya keluar dari mobil mengikuti langkah sang sahabat yabg sepertinya hari ini tengah bermood buruk.
Ghalya mulai mengambil keranjang belanjaan. Kakinya berjalan ke arah rak cemilan. Feisya dengan patuh mengikuti langkah gadis itu yang berjalan kesana kemari.
"Lo engga mau milih Fei?" Tanya Ghalya menghentikan langkahnya memandang ke arah samping. Yabg ditanya menggeleng polos.
"Kenapa? Engga usah sungkan sama gue" Ujar Ghalya lagi menarik tangan Feisya agar mengambil apa saja itu.
"Feisya engga dibolehin makan makanan yang begituan" Cicit gadis itu menunduk. Ghalya menghentikan langkahnya mendengar kalimat yang sedikit asing ditelinganya.
"Engga dibolehin?" Beonya menyerngit tak mengerti. Helloww, jaman sekarang loh. Masa iya masih ada anak seusianya menolak micin.
"Iya. Feisya engga bisa makan makanan lain selain masakan rumah" Cicit Feisya. Menggigit ujung bibit bawahnya. Berharap agar sang sahabat tak akan salah paham.
"Oohhh, Okey" Ghalya manggut-mangut berusaha mengerti walau masih sedikit tak percaya.
Raut gadis itu mendadak berubah. Seakan berfikir keras "Yaudah deh, kalau gitu kita beli buah aja. Kan engga mungkin lo engga bisa juga makan buah" Usulnya cepat. Tak enak juga masa iya nanti Ia dibantu tapi ga ada timbal baliknya.
Feisya dengan berat hati memilih buah-buahan karena merasa bimbang dan juga kurang enak.
"Udah?" Ghalya datang dengan bertanya. Dijinjingannya sudah banyak cemilan yang dipilih.
Tadi setelah mengantarkan Feisya ke slot buah. Gadis itu kembali ke rak makanan ringan melanjutkan aksi belanjanya yang sempat tertunda.
"Udah nih" Feisya mengangkat tangannya dengan tampang polos menunjukan apa yang sudah didapatnya.
Hampir saja bola mata milik Ghalya melompat dari sarangnya "Astaga Feii" Jengahnya menggeleng tak habis fikir
Dengan cekatan Ghalya memilih mengambil beberapa buah yang menurutnya segar. "Yuk" Ajaknya setelah merasa cukup dengan pilihannya.
~#~
"Ghalya Tante" Gadis itu menunduk. Menyalimi punggung tangan Keliya yang tadi menyambut kedatangan mereka. Gelagatnya berubah drastis, lebih hangat dan sopan.
"Namanya cantik kaya orangnya. Kalau Tante, Keliya" Puji Keliya. Bibirnya menyunggingkan senyuman lebar. Hatinya menghangat saat mendapati sang anak membawa pulang teman sekolah ke rumah.
"Ah, Tante bisa aja" Ghalya sedikit salah tingkah karena dipuji. Wajar dong, sedatar-datarnya gadis itu kan tetap dirinya tercipta sebagai kaum hawa.
"Eh, yuk masuk. Engga enak ngobrolnya didepan pintu gini" Ajak wanita paruh baya itu. Feisya dan Ghalya mengikuti dari belakang.
"Mamah lo baik ya" Bisik Ghalya dengan suara seminim mungkin. Malu juga kalau didengar dengan Keliya langsung.
Feisya yang mendengarnya terkekeh "Bisa aja kamu" Serunya menggeleng tak habis sangka.
"Disini aja kerjainnya biar engga ada yang ganggu. Mamah mau ke dapur dulu ya, mau lanjut masak" Pamit Keliya setelah sampai diruang keluarga.
Tadi Feisya sempat menjelaskan pada Keliya kalau dirinya dan Ghalya akan mengerjakan tugas bersama. Keliya dengan senang hati menerima teman anak perempuannya itu.
Keliya rasanya benar-benar bersyukur sekali kalau Feisya mudah mendapatkan teman disekolah barunya. Dari awal Ia sangat mengkhawatirkan tentang hal itu. Takut sekali kalau sang anak sulit untuk bergaul.
"Aku ke dapur dulu ya mau ngantarin ini" Ujar Feisya membawa belanjaan khusus buah-buahan ke dapur. Ghalya hanya mengangguk sambil mengeluarkan alat tulis yang dibutuhkan.
Feisya dengan cekatan menyiapkan minuman dan buah-buahan yang telah dicuci untuk dibawa ke tempat Ghalya setelah tiba didapur.
"Temen kamu keliatannya baik" Keliya membuka suara dengan tangan masih mengaduk masakan diwajan. Posisinyabtak jauh dari sang anak.
"Semoga aja Mah, awalnya Feisya sempat ragu juga sama Ghalya" Jujurnya masih mencuci beberapa buah-buahan yang tadi dibeli.
"Kenapa?" Keliya menghentikan adukannya menoleh ke arah sang anak. Dahinya terdapat gelombang halus.
Feisya mendesah pelan "Awalnya tuh Ghalya datar banget Mah, Fei negur aja engga berani. Tapi keliatan sih emang anaknya baik. Tapi bawaannya aja yang mungkin biasa begitu ya Mah" Tuturnya menerangkan.
Keliya mengangguk mengerti, kembali fokus pada masakannya. "Keliatannya dia satu sifat dengan Koko mu" Celetuk Keliya.
"Kenapa gitu Mah?" Tanya Feisya. Kali ini gadis itu bertukar memandang sang Ibu. Penasara aja dengan pernyataan wanita kesayangannya tersebut.
"Koko mu kalau sama orang luar pasti datar banget. Tapi kalau sama yang dikenalnya, dia bakal baik. Ya gitu juga temanmu itu" Kini Feisya paham akan maksud Keliya.
"Kalau udah sana balik ke Ghalya. Kasian dia sendirian didepan" Titah wanita itu lagi setelah melihat Feisya selesai dengan urusannya.
Feisya mengangguk. Buahan tadi sudah diletakkan pada wadah "Yaudah Mah, Fei kedepan dulu" Pamitnya.
~#~
"Sumpah ya. Itu si kakel kenapa sih rajin banget nyatat. Biasa aja kalau cowok paling males buat nyatat gituan" Gerutu Ghalya sambil menyalin catatan Jaxton. Wajahnya memberengut
"Bagus dong, berarti Kak Jaxton itu tipe cowok yang rajin" Feisya mencoba menenangkan Ghalya yang masih kesal kalau bersinggungan dengan nama Jaxton.
"Ih, lo mah" Ghalya semakin menekuk wajahnya. Bibirnya sampai mencibik merasa tak dibela.
"Dari pada ngomel mulu terus kita nya engga bisa fokus. Mending kita lanjut aja nyatatnya, biar hukuman kamu cepat selesai" Tutur Feisya lembut. Ghalya menggangguk patuh.
Mereka melanjutkan menyatat dengan fokus masing-masing. Sesekali mereka berhenti untuk sekedar istirahat atau memakan cemilan.
