Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

BAB ~ 5

"Koko engga mau ya kamu ngejar-ngejar dia" Larang Jaxton penuh penekanan dengan mata fokus pada jalanan didepan.

Setelah makan siang bersama Feisya dan sang Mamah. Jaxton langsung pamit pulang kembali ke apartemennya. Tapi Keliya membujuk agar pemuda itu menginap saja. Karena Jaxton tipe anak penurut, jadi Ia memilih menginap. Walau bukan Ibu kandung, tapi Jaxton telah menganggap Keliya seperti Ibu nya sendiri.

Tapi dirinya harus kembali ke apartemen terlebih dahulu untuk mengambil keperluan sekolah esok hari. Feisya meminta ikut dengan manjanya pada sang Kakak karena sudah lama mereka tak jalan bersama. Walau hanya ke apartemenkan juga sudah lumayan.

Jaxton memang meminta tinggal diapartemen sejak masuk SMA. Alasannya karena ingin belajar mandiri. Darel dan Keliya mengiyakan dengan syarat apapun tentang kebutuhan dan lain hal Jaxton harus tetap konsul ke mereka.

"Tapi Ko, aku tuh tertarik sama dia" Sanggah Feisya memandang ke arah Jaxton. Kalimatnya kekeuh mengambarkan ada tekad kuat disana.

Sebelah tangan pemuda itu menyentuh puncak kepala gadis disebelahnya. Tak lupa meninggalkan usapan lembut disana "Tapi sayang, kamu itu engga cocok dengan Ansel" Penuh kesabaran dirinya harus bisa membujuk sang Adik.

Ya!! Mereka tengah membahas tentang Ansel. Tadi Jaxton sudah sempat memberi tahu lebih dulu nama Ansel pada gadis itu.

Ansel itu sahabatnya, jelas Ia sudah tahu seluk beluk pemuda itu.

Tadi saat dirumah, mereka sudah membahas tentang penentangan Jaxton atas Feisya yang ingin dekat dengan Ansel. Tapi belum selesai karena Jaxton malas membahas lagi.

Kepala Feisya miring menghadap sang Kakak dengan kerutan halus didahinya "Kenapa?" Tanya Feisya polos. Matanya ikut mengedip lucu.

Jaxton menghela berat "Nanti aku jelasin, sekarang kita masuk dulu" Tuturnya selesai memarkirkan mobil diloby apartemen.

Feisya membereskan tas dan tak lupa mengambil ponselnya. Sedangkan Jaxton sudah keluar dari mobil lebih dahulu.

"Awas hati-hati" Jaxton menahan sisi mobil diatas kepala Feisya agar tak kepentok. Sebelah tangan lainnya menahan pintu yang terbuka.

"Makasih Ko" Seru Feisya setelah keluar dari mobil yang langsung dijawab anggukan oleh sang Kakak. Tak lupa pemuda itu juga langsung menggandeng tangan sang Adik.

Mereka berjalan bersama menuju lift yang akan mengantarkan mereka ke lantai 25 tempat apartemen Jaxton berada.

"Mau tunggu disini atau ikut ke kamar?" Tanya si empu kamar setelah mereka tiba diruang tamu apartemen.

"Ikut aja, ngapain juga aku disini sendirian" Seru Feisya. Mereka kembali bergandeng tangan menuju kamar pemuda itu.

"Ko, kenapa Fei engga boleh suka Kak Ansel?" Tanya Feisya memilih duduk dipinggir ranjang. Jaxton berjalan menuju meja belajarnya. Raut gadis itu kentara sekali ingin tahunya.

"Koko udah lama kenal Ansel. Kita itu udah sahabatan lama. Jadi Koko udah khatam dengan sifat dan sikap Ansel. Ansel itu tipe yang cuek dan kasar sama cewek. Kasar disini dalam artian perkataan ya, bukan main tangan. Jadi Koko engga mau kalau kamu sampai disakitin sama Ansel. Koko kan tau kamu gimana" Menjelaskan dengan posisi duduk dikursi meja belajar setelah mengumpulkan semua barang dibutuhkannya.

"Tapi Fei udah keburu tertarik sama Kak Ansel" Cicit Feisya memilin ujung selimut sambil menunduk sendu. Jaxton mendekati sang adik yang tengah sedih menurutnya.

"Hey, jangan nunduk. Entar mahkotanya jatuh loh" Jaxton berusaha mengembalikan mood sang adik yang sudah hancur karena ulahnya sendiri. Ia sudah sangat paham dengan gadis didepannya tersebut .

Feisya mengangkat pandangannya sambil tersenyum memandang ke arah sang Kakak teduh. "Bisa aja si Koko" Selanya memeluk laki-laki yang selalu setia menyayanginya walau mereka tak se Ibu.

"Ko, boleh ya kalau Fei mau dekatin Kak Ansel. Janji deh kalau dia kelewat kasar, Fei bakal jauhin dia" Feisya berusaha membujuk Jaxton. Tubuhnya ditarik kembali dengan menatap penuh harap sang Kakak.

"Huffttt.." Jaxton menghembuskan nafas berat. Inilah sifat Feisya yang Ia sangat tidak suka. Pantang menyerah dan keras kepala. "Okey, tapi kalau dia kelewat kasar kamu harus turuti perintah Koko" Mengalah adalah jalan yang benar walau masih dengan persyaratan.

"Yeyy" Girang Feisya melepaskan pelukan mereka. Binar bahagia tercetak jelas diwajahnya mengundang senyum seorang Jaxton.

Cup

"Koko memang pengertian banget deh" Pekik gadis itu setelah mengecup singkat pipi kiri Jaxton.

"Yang ini engga nih??" Goda pemuda menunjuk pipi kanannya dengan telunjuk. Tak lupa alisnya dinaik turunkan terkesan nakal.

Cup

Feisya tersenyum lebar "Udah" Serunya setelah kembali meninggalkan satu kecupan dipipi lainnya milik Jaxton.

"Uuhh.. Gemes banget sih sama kamu" Jaxton menarik gemas kedua pipi Feisya kekanan dan kekiri.

"Jelas dong, Feisya gitu loh" Bangga gadis itu sambil membusungkan dada dengan tangan yang bersikedap setelah Jaxton melepaskan tangannya.

"Yuk balik" Ajak Jaxton menggandeng tangan sang Adik membantunya berdiri. Memang keadaan mereka tuh seromantis itu. Kalau orang asing melihatnya, mungkin mereka akan mengira Ia dan sang Adik adalah sepasang kekasih.

"Kuy lah" Saut Feisya melangkah riang dengan aura begitu positif. Ah, mendapatkan restu Jaxton itu bagai tersiram ribuan uang dollar gitu.

Mereka kembali berjalan dengan tangan terus bergandeng menuju mobil untuk kembali ke rumah. Hari juga sudah petang.

Disekolah Jaxton dan Feisya sengaja bertingkah seakan manusia yang tak pernah kenal. Itu semua atas permintaan Feisya sendiri. Gadis itu hanya ingin tak dianggap aneh-aneh dengan teman-teman barunya.

~#~

"Jangan pulang lama-lama" Pinta Feisya sambil mengadah melihat wajah tampan didepannya. Tangannya memeluk pinggang Jaxton dengan erat.

Jaxton terkekeh "Iyaaa. Cuma nongkrong bentar doang" Tangannya setia mengelus surai gadis mungil tersayangnya.

"Tapi Fei pingin ikut" Cicit Feisya dengan mata berkaca-kaca. Bibir bawahnya manyun mengundang gemas siapa saja yang melihatnya.

"Engga bisa sayang. Kamu kan engga bisa kena angin malam. Lagian jugakan Koko ngumpulnya sama temen sekolah. Kamu mau mereka tau kita Adik Kakak? Enggakan?" Bujuk Jaxton lembut sekali.

Feisya menggeleng mendengar penuturan Jaxton. "Tapi jangan lama-lama" Pintanya kembali memeluk erat Jaxton. Kepalanya bersandar pada dada bidang sang Kakak.

Beginilah tingkah Feisya kalau sudah Jaxton pamit ingin keluar. Kalau tidak dibolehin ikut pasti ada saja penahanan yang dibuatnya.

"Gini deh gini. Sekarang Koko temenin kamu tidur dulu, habis kamu tidur baru Koko pergi" Usulan terakhir yang terlintas dibenak Jaxton.

"Okey" Jaxton tercengang melihat Feisya yang begitu sumringah dengan tangan menarik cepat tangannya.

Kepalanya menggeleng melihat tingkah sang Adik. Mereka berjalan beriringan menuju kamar gadis mungil itu. Feisya terlebih dahulu bersih-bersih ke kamar mandi. Jaxton melepaskan hoodie yang tadi sudah digunakannya menyisakan kaos lengan pendeknya.

Setelah keluar dari kamar mandi. Feisya langsung merebahkan tubuhnya dikasur mencari posisi ternyaman. Gadis anggun itu perlahan memeluk pinggang Jaxton yang duduk bersandar dikepala ranjang.

Jaxton mengelus lembut kepala Feisya sambil melantunkan lagu-lagu penghantar tidur untuk gadis itu. Kegiatan ini sudah sering mereka lakukan kalau bertemu saat dulu Feisya masih tinggal bersama Eyang nya.

Setelah sekitar 30 menit melakukan kegiatan yang sama tanpa pergerakan lain. Jaxton perlahan melepaskan pelukan Feisya yang mulai melonggarkan.

Maniknya memastikan kalau Feisya sudah benar-benar lelap dalam tidurnya. Setelah yakin gadis itu sudah lelap. Jaxton menarik selimut hingga batas dadanya memastikan sang Adik tidur dengan kenyamanan.

Cup

Jaxton keluar perlahan dari kamar Feisya setelah meninggalkan kecupan sayang didahi sang Adik.

Feisya memang model gadis yang mudah terlelap kalau malam. Bahkan kadang baru pukul 8 saja gadis itu sudah tertidur.

~#~

"Hey Bro. Tumben lama?" Sambut Dayyan saat melihat Jaxton mendekat ke arah dirinya dan Ansel. Mereka tengah duduk dirooftop cafe milik mereka bertiga.

Memang setahun yang lalu, tepatnya saat masuk SMA. Mereka memilih membuka usaha bersama. Sykururnya lagi, usaha mereka berkembang dengan baik.

"Tadi ada urusan" Jawab Jaxton sekenanya. Pemuda itu mengambil duduk disebelah Ansel.

"Tau engga sih, dari tadi gue tuh kek duduk sendirian. Sepi banget" Sungut Dayyan sambil melirik Ansel.

"Kasian amat hidup lo. Udah jomblo karena pacar lagi jauh, sama temen pun dikacangi" Bukannya merasa kasihan, Jaxton malah meledek Dayyan yang tadi mengeluh.

"Sialan lo!! Tau gitu gue engga datang" Dumel Dayyan memainkan ponselnya. Sama saja namanya ini.

"Lah?! Si bocah ngambek" Sindir Jaxton. Ansel melirik sekilas ke arah Dayyan yang sudah menampilkan wajah kesal.

Begitulah mereka, kumpul hanya untuk diam-diaman dan sibuk dengan kegiatan masing-masing. Tapi entah mengapa mereka bisa bersama sampai detik ini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel