BAB ~ 4
Setelah sempat merasa kecewa karena salah satu tim basket disekolah tadi. Feisya memilih untuk pulang saja. Toh, Ia juga bosan kalau harus seorang diri dikelas.
Untung saja sekolah memperbolehkan bagi murid yang ingin pulang. Dirinyakan tidak bisa berada terlalu lama dikeramaian. Jadi buat apa juga Ia harus dilapangan sekolah yang sesak akan penonton.
"Fei yang cantik pulang.." Teriakan nyaring keluar dari bibir mungil sang empu nama yang baru saja menginjakkan kakinya dirumah tercinta.
"Yaampun, kebiasaan deh" Sang nyonya besar menyambut sang anak dengan gelengan kepala. Kakinya melangkah mendekati pintu utama.
"Hehe.." Cengiran lebar tercetak jelas diwajah ayu Feisya dengan jajaran gigi nan rapih terbingkai begitu indahnya. Tak lupa mngambil tangan sang Ibu untuk disalim.
"Kok cepat pulangnya?" Tanya Keliya sambil menuntun sang anak menuju ruang keluarga. Sedikit berbincang sepertinya baik.
"Disekolah lagi ada tanding basket antar sekolah gitu Mah, jadi murid lainnya free. Dari pada Fei bosan dikelas sendirian. Yaudah, Fei pulang aja" Tas yang sejak tadi setia menempel dipunggungnya diletakkan pada sisi sofa yang kosong.
Mengambil duduk disamping sang ibu dan mulai merebahkan kepalanya pada bahu wanita paruh baya itu. Bergelayut manja disana "Emm.. Sayang Mamah" Gumamnya dengan mata memejam menikmati kedekatan dengan wanita tersayangnya.
Keliya mengangguk mengerti karena dirinya sudah paham dengan sang anak yang tak suka dengan keramaian.
Setelah merasa cukup, Feisya menarik kembali tubuhnya "Fei ke atas dulu Mah mau ganti pakaian. Udah lengket banget rasanya" Ta yang tadi diletakkan kembali diambil.
"Yaudah sana, nanti kalau udah lapar turun ya. Mamah udah masak tadi" Tutur Keliya diangguki cepat sang anak.
Gadis itu naik ke lantai dua setelah meninggalkan kecupan singkat pada pipi sang Ibu.
Keliya menatap kepergian sang anak dengan tersenyum lembut. Tingkah anaknya memang belum berubah.
Sesampainya dikamar, tujuannya langsung menu kamar mandi. Tak lupa perlengkapan sekolahnya diletakkan pada tempat seharunya.
Menyiapkan air hangat dengan sabun mandi khususnya. Setelah dirasa cukup. Perlahan tubuhnya direndam hingga mendapatkan posisi ternyaman. Rasanya rileks sekali dengan mata perlahan dititup.
Padahal tadi disekolah dirinya tak ada melakukan hal berat selain belajar di 2 jam pertama.
Butuh waktu 1 jam berendam, Feisya menyelesaikan kesibukannya dikamar mandi. Setelahnya gadis ayu itu keluar dari kamar mandi dengan kimono mandi yang membalut tubuh indahnya.
Tangannya mulai memilih kaos putih polos kebesaran dengan hot pants sepangkal paha. Pakaian sederhana yang suka digunakan olehnya.
Dengan langkah riang, kaki jenjangnya menuruni anak tangga dengan rambut dicepol asal meninggalkan poni dibawah alis yang bergerak kesana kemari mengikuti iringan langkah tersebut.
"Mamahh.." Panggilan riang itu terdengar saat tiba diruang makan. Tampak sepi karena memang yang lain masih melakukan aktifitas diluar rumah. Hanya ada Keliya disan tentunya.
Yang disapa menoleh. Meninggalkan senyuman teduhnya. "Hey, udah lapar?" Tangan wanita itu terus terus makanan dengan apiknya.
"Udah dong Mah" Ujarnya singkat. Dengan langkah lincah, gadis itu membatu sang Ibu membawa piring dari dapur ke ruang makan.
Memang dapur dan ruang makan dirumah didesain terpisah. Masalah masak memasak pun Keliya memilih turun tangan sendiri. Jadi saat masak dan menata makananpun. Wajar jika tak ada pembantu yang membantu sang nyonya . Itu juga atas permintaan Keliya sendiri.
Ting.... Tong...
Anak dan Ibu itu saling pandang saat mendengar ada yang menekan bel rumah. "Feisya aja Mah" Sodor Feisya berlalu menuju pintu utama.
Ceklek
Pintu utama terbuka, menampilkan senyuman menawan dari seorang laki-laki impian para kaum hawa.
Bagaimana tidak impian. Sudah ganteng, tinggi, putih, mata sipit. Jika tersenyum matanya tinggal segaris. Tak lupa diikuti dengan lesung dikedua pipinya, perfect sekali. Ow ow ow, yang terkhir tubuhnya begitu atletis. Cukup membuat ciwi-ciwi diluar sana terpekik jika melihatnya.
"Koko" Panggilan dengan nada manja itu terdengar diiringi pelukan hangat ditubuh sang tamu. Siapa lagi pelakunya jika bukan Feisya.
"Manja" Celetuk sang tamu tapi tak urung membalas pelukan gadis yang lebih mungil itu.
"Kan aku kangen" Feisya melonggarkan pelukannya sambil mengadah melihat cowok didepannya yang terbilang cukup tinggi untuk Ia yang memiliki tubuh mungil.
"Hilih. Tadi udah jumpanya disekolah" Jemari yang sedikit besar tersebut mengamit pelan hidung Feisya.
"Tapikan Koko Jaxton tadi dingin banget" Bantah Feisya mencibik kesal. Orang yang dipanggil Jaxton malah terkekeh tanpa dosa.
"Yuk masuk" Ajak Jaxton sambil merangkul pundak Feisya. Gadis itu menurut sambil memeluk pinggang sang Koko.
Jaxton Dhamir Giyats, ya!! Laki-laki itulah tamu Feisya. Jaxton salah satu anggota tim basket disekolahnya adalah anak pertama dari Darel. Tapi yang berbeda adalah Ibu mereka.
Jaxton adalah anak Darel dari istri pertama yang sudah meninggal dunia setelah melahirkan pemuda itu.
Almeera Zera Giyatsa, Ibunda Jaxton yang sebenarnya. Setelah paham kalau Keliya bukan Ibu kandungannya. Jaxton kecil meminta pada Darel untuk memakai marga dari sang Ibu. Darel mengabulkan saja. Toh tak ada yang salah juga.
Sebelum meninggal, Almeera pernah meminta permintaan terakhir pada Darel untuk menikah dengan sahabat mereka yang tak lain ialah Keliya.
Flashback on
17 tahun yang lalu
Disebuah taman dekat komplek perumahan. Sepasang suami istri tengah duduk sambil melihat pemandangan anak kecil yang begitu ramai tengah berlari kesana kemari.
Sang suami dengan setia terus mengelus perut sang istri yang sudah sangat membuncit. "Mas, aku takut dengan lahiran nanti" Cicit sang istri tak lain ialah Almeera.
Sang suami memutar pandangan ke arah wanita yang sangat dicintainya tersebut. Darel tersenyum lembut berusaha meyakinkan sang istri. "Jangan takut, aku selalu ada disisi kamu" Ujarnya menenangkan. Walau sejujurnya Darel tak kalah kalutnya dengan sang istri. Wajar, ini adalah anak pertama mereka.
"Ekhem. Nikmati banget pacarannya mentang-mentang bentar lagi udah engga bisa lagi" Suara seseorang mengintrupsi mereka untuk menoleh ke arah samping.
"Eh Keliya udah dateng toh, sini duduk" Titah Almeera melihat ke arah seseorang yang baru saja tiba tak lain adalah sahabat dirinya dan sang suami.
Darel, Almeera dan Keliya sudah bersahabat semenjak mereka masuk SMP. Saat SMA kelas 2, Darel memutuskan untuk mengungkapkan perasaannya pada Almeera setelah sekian lama memendam seorang diri.
Almeera menerima Darel hingga mereka memutuskan pacaran. Keliya sangat mensuport hubungan kedua sahabatnya itu.
Setelah tamat SMA, Darel menggantikan kedudukan sang Papa diperusahaan keluarga yang suda turun temurun. Karena berniat ingin mempersunting Almeera, laki-laki itu tidak memberi izin sang pacar untuk melanjutkankan kuliah.
Bukannya tak ingi Almeera fokus dengan pendidikan. Tapi dirinya hanya ingin Almeera dirumah saja. Toh juga belajar bisa dari mana saja. Berbeda dengan Keliya. Perempuan anggun itu memilih melanjutkan kuliahnya.
2 tahun bekerja, Darel mantap untuk memperistrikan Almeera. Prosesnya berjalan dengan begitu baiknya. 2 bulan menikah, Almeera dikabarkan hamil.
Keliya jelaa semakin bahagia dengan hubungan pasangan itu yang terbilang cukup mulus walau ada sedikit-sedikit kerikil menyertai.
Hingga hari ini kehamilan Almeera sudah menginjak 9 bulan lebih seminggu. Entah mengapa tiba-tiba saja Almeera meminta Keliya untuk bertemu. Disinilah mereka tengah menikmati suasana sore.
"Baru balik kuliah?" Tanya Almeera membuka pembicaraan. Yang ditanya sudah menepati tempat kosong didepannya.
"Iya" Jawab Keliya seadanya. Rasanya penat sekali. Namun diajsk bertemu seperti ini tak mungkin menolak.
"Iyalah yang ngejar target mau cepet-cepet wisuda" Goda Almeera. Keliya memutar bola mata malas mendengar godaan sang sahabat.
"Ekhem" Deheman wanita berbadan dua itu menyita pandangan sang suami dan sahabatnya.
"Aku engga mau ngulur waktu lagi. Disini aku sebenarnya mau minta permintaan sama kalian berdua. Kalian harus janji buat penuhi permintaan aku kali ini" Tutur Almeera memandang Darel dan Keliya bergantian.
Darel dan Keliya menyerngit bingung setelah saling pandang. "Entah kenapa aku punya firasat buruk. Aku mau, kalau sewaktu lahiran nanti aku engga bisa selamat. Kalian berdua harus menikah, aku mau kamu Keliya yang akan menjadi Ibu sambungan dari anakku" Ungkapan wanita itu dengan manik sendu.
Hal tersebut jelas mampu mengejutkan Keliya. Mendelik tak percaya dengan penjelasan sang sahabat yang berada disebrangnya.
Darel sangat geram mendengar sang istri. Berusaha mengontrol emosi, laki-laki itu memandang Almeera tajam. "Engga. Kamu akan baik-baik saja" Sanggahnya dengan aura dingin. Wajahnya sudah mengetat dengan rahang mengeras.
"Tapi mas-" Perkataan Almeera terpotong karena melihat Darel bangkit dan menjauh dari mereka. Wanita itu memandang ke arah Keliya yang tengah memandang Darel yang semakin menjauh.
Helaan nafas dilepas oleh Almeera. Memandang sendu ke arah sebrang. "Kel?" Panggilnya pelan.
"Ya?" Menjawab dengan ragu. Rasanya keadaan semakin tak enak. Dirinya tak tahu harus berbuat apa. Hufftt.. Kenapa harus seperti ini.
Almeera memandang Keliya dengan serius "Aku serius dengan omonganku. Aku mau kamu janji sama aku" Tukas wanita itu menggenggam tangan Keliya yang terletak diatas meja.
Memang mereka memilih duduk dibangku taman yang terdapat meja bundar ditengah-tengah.
"Tapi-" Perkataan Keliya terpotong akibat jari telunjuk Almeera sudah berada tepat didepan bibirnya.
"Demi aku" Mohon Almeera lembut dengan senyuman tulus. Nadanya begitu penuh harap.
Saat Keliya tengah berfikir keras akibat permintaan aneh dari sang sahabat. Tiba-tiba saja lamunannya buyar kala telinganya menangkap rintihan keluar dari mulut sang sahabat.
Bertapa kagetnya Keliya saat melihat Almeera sudah meringis sakit sambil memegang perut buncitnya. Tak cukup sampai disitu. Jantungnya semakin diminta berpacu cepat saat maniknya tak sengaja menangkap darah mengalir lambat dikaki wanita itu.
Dengan tangan bergetar, Keliya berusaha menelfon Darel sambil terus menenangkan Almeera.
Darel yang panik mendapat kabar dari sang sahabat langsung kembali ketempat Ia meninggalkan istrinya tadi. Hatinya kalut dengan fikiran mulai kotor. Apalagi permintaan sang istri tafi masih terngiang jelas dibenaknya.
Setelah tiba, laki-laki itu langsung membawa sang istri ke rumah sakit terdekat dengan tangan bergetar. Tak lupa Keliya mengikuti mereka dengan perasaan campur aduk.
Saat tiba dirumah sakit, Almeera sudah dalam keadaan kritis. Dan anak dalam kandungan wanita itu harus segera dikeluarkan karena kondisinya sudah melemah akibat kondisi sang Ibu.
Jadilah hari itu Almeera langsung dilakukan tindak operasi demi menyelamatkan sang bayi.
Setelah kelahiran putra pertama mereka, wanita itu sempat sadar dan memandang sang anak dengan tatapan haru.
Tapi Tuhan berkehendak lain. Almeera menghembuskan nafas terakhir setelah menggendong sang anak. Jelas disitu Darel dan Keliya sama-sama terpuruk.
Setelah pemakaman, Keliya diminta oleh Ibu Almeera untuk merawat Jaxton anak dari Almeera dan Darel. Itu semua dilakukan karena melihat keadaan Darel yang semakin memburuk.
Ibu Almeera sudah tahu kalau anaknya mempunyai permintaan terakhir pada Keliya dan Darel. Karena sebelumnya Almeera sudah berbicara terlebih dahulu padanya.
Dengan hati gundah, Keliya menuruti permintaan Ibu dari sahabatnya. Gadis itu harus sering bolak balik ke rumah Darel untuk merawat Jaxton.
Setelah 2 bulan umur Jaxton, Darel meminta Keliya menjadi istrinya sesuai permintaan terakhir sang istri yang sudah meninggalkan dirinya terlebih dahulu. Keliya hanya bisa menurut karena dirinya tak ingin mengecewakan Almeera yang telah tiada.
Keliya mampu membangkitkan kembali Darel dari keterpurukannya setelah beberapa bulan tinggal bersama.
Kabar baiknya lagi, selang berapa bulan mereka menikah. Keliya dinyatakan hamil. Darel semakin bertekad untuk benar-benar bangkit. Dirinya tak ingin hal yang sama terjadi pada istri keduanya.
Setelah anak mereka lahir. Ibu dari Keliya meminta agar anak mereka tinggal bersama beliau saja sebagai teman dirumah. Awalnya Darel sempat tak terima. Tapi setalah sang mertua sedikit memberi wejangan. Darel berubah fikira walau masih dengan perasaan berat.
Jaxton kecil tumbuh menjadi anak yang pintar. Anak itu juga lahir dengan banyak kemiripan dari Almeera. Salah satunya mata sipitnya.
Siapa sangka jika Jaxton dan Feisya bisa bisa akrab selayaknya saudara sekandung. Hal tersebut jelas membuat Darel bersyukur.
Flashback off
