BAB ~ 3
Feisya celingukan melihat kondisi kelasnya yang sepi. Padahal kalau difikir-fikir kini kelas seharusnya sudah ramai karena jam istirahat sudah berakhir. Tapi sedari tadi tak ada bel yang berbunyi menandakan berakhirnya jam istirahat.
Gadis itu memang memilih menghabiskan jam istirahatnya dikelas. Dirinya membawa bekal sendiri dari rumah. Itu sudah menjadi rutinitas sedari kecil.
Hal itu dilakukan karena Feisya tak bisa memakan makanan yang bukan masakan dari rumah. Dulu sewaktu kecil, dirinya pernah memakan makanan cepat saji. Alhasil, Feisya kecil harus dilarikan kerumah sakit karna kondisinya yang melemah tiba-tiba.
Ternyata Dokter mendianogsa kalau tubuhnya tak bisa mencerna makanan yang mengandung penyedap rasa.
Sedari kecil Feisya memilih tinggal bersama sang eyang di Bandung. Alasannya ingin menemani sang eyang yang tinggal seorang diri. Tapi sayang, sang eyang sudah menghembus nafas terakhir sebulan yang lalu. Jadi dirinya harus kembali tinggal bersama kedua orang tuanya.
Kembali ke topik. Kini dikelas hanya tinggal dirinya dan Ghalya saja. Tadinya Ghalya keluar saat bel istirahat, tapi tak lama kembali lagi dengan sebuah kantong kresek berisi beberapa makanan. Ia rasa Ghalya sehabis dari kantin tadi.
Sebenarnya Feisya ingin sekali bertanya pada teman semejanya itu kemana semua teman dikelasnya. Tapi niatan itu dikubur dalam-dalam melihat Ghalya sedari tadi hanya fokus dengan ponsel ditangan dan sesekali mencomot makanan yang tadi dibawanya.
Jujur Feisya takut karena Ghalya terus menggunakan wajah datar. Dirinya tak terbiasa dengan orang-orang seperti itu.
"Jam 10 nanti ada pertandingan basket, jadi kelas free" Feisya yang ingin mengambil ponsel dalam tasnya terkejut saat mendengar suara disebelahnya.
Dengan ragu tubuhnya memutar menghadap ke arah Ghalya. Maniknya memerhatikan manusia disamping.
'Apa tadi Ghalya yang ngomong? Kok engga ada pergerakan apapun darinya?' Tanya Feisya dalam hati. Dirinya menjadi ragu kalau tadi benar-benar suara Ghalya, karena tak ada sedikit pun yang berubah dari gadis itu. Mau itu mimik wajah ataupun pergerakan lainnya.
Wajar saja Feisya meragukan suara tadi adalah suara milik Ghalya. Karena sedari pagi tadi, gadis itu tak sedikit pun membuka suara padanya. Mau itu hanya sekedar menyapa atau perkenalan antar teman baru. Huh, tidak ada masa depan jika mereka akan berteman jika begini.
"Huh!! Mungkin Feisya cuma halu" Gumamnya kembali memutar tubuh ke arah tas berbalik pada niatan awal.
"Kalau mau ikut, ayo" Dengan cepat Feisya kembali memutar tubuhnya. Sepertinya kali ini Ia tak tengah halu seperti perkiraannya. Dirinya melihat Ghalya berjalan menjauh menuju keluar kelas.
Tak ingin memikirkan hal lain dahulu. Feisya dengan cepat mengambil ponsel didalam tasnya dan segera berlari mengikuti langkah Ghalya.
Kaki berbalut sepatu sekolah itu berlari mengambil posisi tepat disebelah Ghalya yang berjalan masih dengan wajah datar. "Kita mau, kemana?" Tanya Feisya sangat ragu dengan kepala menoleh takut pada teman semejanya itu.
Lagi!!
Tak mendapat jawaban apapun. 'Apa suaranya mahal ya? Takut amat buka suara' Cibir Feisya dalam hati.
Feisya terus mengikuti langkah Ghalya. Gadis ayu itu tak tahu Ghalya akan membawanya kemana. Dirinya juga tak tahu arah dan ruangan apa saja yang dilaluinya. Wajar sajar, Ia kan murid baru.
"HUUUU.... "
"ANSELLLL.."
"JAXTON..."
"KALAHI MEREKA GUYS.."
"SEMANGAT TIM ANSEL.."
Sayup-sayup indra pendengarannya mendengar banyak sekali teriakan yang semakin ricuh saat langkah mereka semakin menjauh.
Cukup dibuat tertegun melihat keramaian yang sangat amat sesak tapi tetap beraturan. Feisya masih mengikuti langkah Ghalya walau dirinya sibuk melihat situasi sekitar. Sepertinya mereka hampir tiba atau bahkan sudah.
"Awas, mata lo lompat" Feisya yang ingin kembali melangkah langsung menghentikan langkahnya saat indra pendengarannya kembali menangkap suara yang baru ketiga kali didengarnya hari ini.
Feisya mendengus memandang Ghalya yang ternyata sudah duduk ditempat duduk penonton bagian pojok. Ya!! Gadis irit suara itu membawanya ke lapangan basket. Sepertinya benar-benar akan ada acara pertandingan basket seperti yang tadi sudah diberi tahu oleh suara ghaib yang Ia dengar.
Feisya membuang pandangan ke segala arah sambil mengambil duduk disebelah Ghalya. Ia paham sekarang, manusia datar disebelahnya ini jarang bicara karena perkataannya terlalu pedas untuk didengar.
Kembali memerhatikan keseluruhan lapangan. Dirinya baru menyadari kalau penonton disana sangat banyak dengan seragam yang berbeda dari sekolah itu. 'Mungkin pertandingan antar sekolah' Itulah yang terlintas difikiran Feisya.
Feisya memusatkan pandangannya pada lapangan setelah puas memerhatikan sekitar. Sebenarnya dirinya termasuk jenis manusia yang kurang suka keramaian dan juga ruangan terbuka seperti ini.
Tapi karena menghargai temen baru disebelahnya itu. Feisya berusaha menikmati apa yang dijalankan sekarang.
Sedari awal pertandingan dimulai, maniknya terus saja memusat pada satu titik. Seorang cowok berperawakan gagah dengan tubuh atletis yang sangat menunjang wajahnya yang tampan. Begitu mencolok.
15 menit berlalu
30 menit berlalu
Feisya berusaha fokus pada pertandingan yang sedang terlaksanakan didepan sana. Tapi tetap saja tidak bisa, pandangannya hanya fokus pada manusia yang mampu membuat jantungnya berdegub kencang.
1 babak selesai
Pertandingan pertama dimenangkan oleh sekolahnya. Banyak sorak sorai yang kembali semakin heboh saat sang ketua basket mampu mencetak angka terakhir tadi.
Feisya bangkit dari duduknya. Saat hendak melangkah, merasakan tangannya ditarik. "Kemana?" Pertanyaan terlontar dari si datar, siapa lagi kalau bukan Ghalya.
"Mau balik kelas. Pusing Feisya disini" Jawabnya jujur. Feisya tercengang kala melihat tangannya dilepas begitu saja. Ghalya sudah kembali pada ponselnya lagi.
Tanpa dugaan, ternyata Ghalya juga ikut bangkit. Yang menjadi masalahnya, Ghalya malah mendahului dirinya. "Huh!!" Dengus Feisya dengan wajah cemberut mengikuti langkah si datar.
Gadis itu kembali mengembangkan senyuman kala matanya tak sengaja menangkap sosok manusia yang sedari tadi menyita pandangannya.
Tanpa disadari, langkah Feisya berubah haluan mendekati sekelompok manusia yang tengah saling berlempar canda.
"Maaf" Menyapa dengan ragu sekelompok manusia tadi. Semua pasang mata didepan sana memutar pandangannya pada gadis ayu itu.
"Eh, ada dede gemes. Ada apa ade manis?" Tanya salah satu cowok berseragam basket. Gelagatnya tampak ramah tanpa ada unsur genit walau kalimantan terdengar manis bak seorang playboy, mungkin.
Ya!! Feisya tengah berada diperkumpulan anggota basket sekolahnya yang tengah beristirahat. "Feisya mau minta foto sama Kakak itu, boleh?" Telapak tangan terbuka menunjuk ke arah seorang cowok yang sedari tadi memasang wajah datar dan aura dingin. Ah, mengingatkan pada Ghalya namun dengan versi laki-laki.
Semua pasang mata memutar pandangan pada orang yang ditunjuk. Orang yang dimaksud malah pergi meninggalkan tempatnya berdiri tadi dengan acuh.
Dayyan, cowok yang tadi membalas sapaan Feisya kembali memandang ke arah gadis itu dengan raut bersalah. "Cuy, urus. Kita mau masuk dulu" Satu tepukan didapat Dayyan sebelum para teman setimnya masuk ke ruangan basket.
"Aduh dede gemes, maaf ya. Tadi babangnya lagi pms kali, jadi engga mood gitu deh" Seru Dayyan dengan cengengesan sambil menggaruk tengkuk yang tak gatal sama sekali.
"Ohh, engga papa kok Kak...?" Feisya menggantung sambil memandang Dayyan dengan tatapan bertanya.
"Dayyan" Jawab Dayyan cepat setelah melihat kebingungan diwajah sang adik kelas yang tampaknya asing.
"Oh, Kak Dayyan. Engga papa kok Kak, Feisya juga salah. Masa anak baru udah mau minta foto aja sama kakel. Kalau gitu Feisya balik kelas dulu ya. Bye Kak Dayyan" Pamit Feisya dengan lambaian tangan pada Dayyan.
"Bye" Dayyan membalas lambaian tangan Feisya dengan tersenyum lebar. "Anak baru toh, Pantes kagak pernah liat. Tapi?? Cantik, gemesin lagi" Gumamnya mengingat Feisya tadi sambil berjalan menyusul teman-temannya.
