BAB ~ 2
"Pagi" Seorang cowok dengan tubuh atletis duduk dikursi meja makan bergabung bersama keluarganya yang sudah lebih dulu berkumpul. Ansel Altezza Fahrezel, anak sulung dari keluarga Fahrezel.
"Pagi apanya, udah siang kali. Daddy kamu juga udah mau berangkat. Kenapa lama banget turunnya. Itu juga, mana seragam sekolah kamu" Gerutu wanita paruh baya yang tak lain adalah Mommy Ansel. Erinka Shazfa Fahrezel namanya. Erinka pusing melihat tingkah anaknya yang terlalu sulit untuk diatur.
"Hari ini ada pertandingan basket antar sekolah Mom. Jadi buat anak basket datangnya rada siangan engga papa" Jelas Ansel sadar kalau sang Mommy sangat kesal dengan kelakuan dirinya hari ini.
Erinka yang tadinya sudah kepalang kesal menjadi sedikit merasa bersalah karena sudah berprasangka buruk kepada sang anak. "Mommy kirain kamu mau bolos" Dengus wanita itu.
"Sudahlah Mom, masih jam segini udah ngomel aja. Mending sekarang antar Daddy kedepan" Lerai suara bariton si Tuan rumah, Ezro Tsaqib Fahrezel. "Ohiya, ini Daddy balikin. Hukuman kamu sudah habis waktu kemarin" Imbuh Ezro sambil menyodorkan beberapa kartu ATM, kartu Kredit, kunci mobil dan kunci apartemen kepada sang putra.
"Wuahh.. Thank's Dad" Girang Ansel mengambil semua benda yang disodorkan sang Daddy didepannya.
Erinka memutar bola mata malas "Gitu aja ceria lagi. Kalau engga, datar mulu" Cibirnya melihat kegirangan si sulung.
Sebulan yang lalu Ansel ketahuan balapan liar oleh sang Daddy. Hal itu membuat Ezro murka dan menyita semua fasilitas sang anak. Ezro hanya memberikan motor saja dan uang pas-pasan untuk Ansel seminggu ini. Karena itu juga sikap Ansel berubah menjadi datar belakangan ini.
"Udah yuk Mom, Daddy udah telat nih" Ajak Ezro menggandeng tangan Erinka meninggalkan ruang makan.
"Kak, nanti pulang beliin Luzy es krim sama jajanan yang banyak ya sama kartu itu" Suara anak kecil terdengar dari sebelah Ansel. Pemuda itu memutar pandangan, maniknya mengikuti arah telunjuk gadis kecil disebelahnya. Jari mungil itu menunjuk tepat kartu ATM yang masih tergeletak dimeja makan.
Ansel menampilkan senyuman manis pada gadis kecil disebelahnya dengan tangan mengusap puncak kepala sang anak permpuan itu. Luzy Quiley Fahrezel, si bungsu dari keluarga Fahrezel yang tak lain adalah adik dari Ansel.
"Kamu ini tahu aja ya kalau Kakak udah kaya lagi" Gemasnya menjawili kedua pipi Luzy. Luzy yang kesal diperlakukan seperti itu memukul keras kedua tangan Ansel.
"Sakit tau" Ketus Luzy sambil bersikedap dada dengan wajah menekuk. Ansel melihat wajah menggemaskan sang adik kala marah tertawa terpingkal-pingkal.
"Kalian kenapa sih? yang satu ketawa-ketawa, yang satu malah nekuk wajah gitu. Pasti kamu jahilin adik kamu lagikan Ansel?" Tuding Erinka yang baru saja kembali ke meja makan.
"Mommy, Kakak nakal. Kak Ansel gini-giniin pipi Luzy" Terang Luzy dengan tangan yang mencubit pipinya sendiri guna mempraktikkan perlakuan Ansel tadi kepada dirinya.
Erinka tersenyum manis melihat kelucuan anak perempuannya yang masih berumur 4 tahun itu. "Maafin Kakak nya ya sayang. Mungkin Kak Ansel cuma gemes aja liat kamu yang imut ini" Kaki si nyonya besar berjalan mendekati anak perempuannya.
"Mom, aku keatas dulu ya mau ganti baju" Pamit Ansel tak lupa meninggalkan satu kecupan dimasing-masing pipi kedua perempuan tercintanya.
Pemuda itu membawa langkahnya kembali ke kamar yang terletak dilantai 2. Sesampainya dikamar, Ansel bergegas mengganti pakaian rumahannya dengan pakaian basket yang tadi sudah disediakan dipinggir tempat tidur.
Saat bangun tadi, dirinya sudah terlebih dahulu mandi. Jadi kini tinggal bertukar pakaian saja.
Tubuhnya menjulang didepan cermin yang terdapat dikamar tersebut. Setelah menyemprotkan banyak parfum ke tubuhnya. Ansel memberikan minyak rambut pada rambutnya yang sudah mulai memanjang.
Setelah dirasa cukup, Ansel mengambil hoodie yang tersampir disandaran sofa. Memakaikan ke tubuh atletis yang sudah dibalut oleh baju basket tadi. Ansel keluar dari kamar tak lupa mengambil kunci motor kesayangannya.
"Mom, Ansel pamit" Pamit si sulung sambil mengecup pipi sang nyonya besar. Tak lupa menyalimi punggung wanita yang telah melahirkannya itu.
"Kakak berangkat dulu ya tuan putri. Nanti Kakak pulang bawain titipan kamu deh" Ansel mencoba merayu sang adik yang membuang pandangan tak ingin melihat ke arah dirinya.
Mendengar perkataan sang Kakak, dengan cepat Luzy mengalihkan padangannya pada Ansel. "Janji ya" Mengulurkan jari kelingking mungilnya ke arah Ansel dengan wajah girang.
"Janji" Ansel ikut menautkan jari kelingkingnya pada kelingking sang adik.
"Yaudah, Kakak pamit dulu ya. Kamu jaga Mommy dirumah. Jangan nakal-nakal, nanti Mommy nya capek" Pesan pemuda itu pada sang adik. Tak lupa Ansel mengecupi seluruh wajah sang adik sebelum berlalu keluar dari rumahnya.
~#~
"Wihh.. Akhirnya Babang ganteng kita nyampe juga, sini kapten" Kedatangan Ansel disambut dengan kehebohan Dayyan Roland Murtadha, sahabatnya yang paling heboh.
"Berisik!" Ketus sebuah suara dingin. Kalau kalian mengira itu adalah suara Ansel, kalian salah besar. Itu adalah suara Jaxton Dhamir Giyats, sahabat Ansel yang memiliki wajah datar dan aura dingin sebanding dirinya.
"Huh, susah emang kalau kutub utara gabung sama kutub selatan" Dengus Dayyan jengah melihat kedua sahabatnya yang satu frekuensi tersebut.
Apa Dayyan salah memilih sahabat ya? Ah, nanti dirinya akan bertanya pada ibunya dirumah.
Ansel sudah berteman dengan kedua sahabatnya itu sejak mereka memasuki sekolah dasar. Bahkan mereka sudah mengenal keluarga satu sama lain.
"Udahlah, males gue sama kalian" Dayyan meninggalkan mereka berdua dari parkiran menuju ruangan basket. Memang tadi mereka bertiga bersamaan tiba disekolah.
Ansel dan Jaxton mengikuti langkah sahabat mereka yang tengah kesal itu dengan wajah datar dan aura dingin yang tak pernah tertinggal.
Anehnya, walaupun begitu. Banyak sekali kaum hawa yang tertarik pada mereka. Kadang Dayyan suka kesal melihat para penggemar Ansel dan Jaxton.
Para anak basket mulai bersiap-siap untuk pertandingan mereka yang akan dilaksanakan setengah jam lagi. Pemanasan demi pemanasan mereka lalui. Ansel selaku ketua basket banyak berperan dalam mengurus tim basketnya.
Tim basket dari sekolah lawan juga sudah mulai berdatangan. Memang yang bertanding bukan hanya 2 sekolah. Tapi ada 6 sekolah yang akan bertanding.
Pertandingan ini memang selalu dilakukan setiap 3 bulan sekali.
Kegiatan ini dilaksanakan semata-mata untuk mempererat kedamaian antar sekolah. Tak lupa juga mencari siapa-siapa yang pantas untuk diikut sertakan dalam kejuaraan besar dan lainnya.
Lapangan basket sudah dipenuhi oleh penonton yang berdatangan dari sekolah lawan. Bahkan lapangan basket sudah seperti pasar ramainya.
Memang disekolah ini menyediakan lapangan basket khusus yang digunakan untuk pertandingan besar.
Tim Ansel mulai berkumpul untuk mengingat-ingat strategi yang akan mereka gunakan nanti. Sekolah Gamerd High School selalu keluar sebagai pemenang. Jadi disini tanggung jawab Ansel selaku ketua sangatlah berat.
Ansel tak ingin membuat malu sekolahnya. Walau pertandingan dilaksanakan semata-mata bukan untuk mencari siapa yang paling tangguh. Tapi ingat, Ansel tak ingin memalukan sekolahnya.
Pemuda itu mulai menuntun do'a untuk timnya. Mereka semua mulai berdo'a dalam keadaan khidmat menurut kepercayaan masing-masing.
