Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Sedih

“Ndien, loe nganterin kita berdua pulang kan?” Sisil nanya.

“Iya.” Andien menjawabnya singkat.

Andien tampak jutek bercampur bête.

“Kenapa?” Andien nanya.

“Kalo enggak, kita berdua naik angkot aja.” Sisil menjawab dengan agak canggung.

“Iya kan, Mil?” Sisil nanya dengan menyenggol Mila di sampingnya.

“I…i…ya, Sil.” Mila menjawabnya terbata-bata.

“Gue nggak akan ngebiarin loe berdua pulang naik angkot.” Andien berkata sambil memakai tas punggungnya setelah memakai jaket kainnya.

“Yuk kita pulang.” Andien mengajak kedua sahabat karibnya itu keluar dari kelasnya untuk pulang.

Tidak seperti biasanya, Andien selalu ceria dan berjalan bersama Sisil dan Mila keluar dari sekolah. Setelah menghadap bu Endah, Andien tampak jutek dan bête hingga saat ini. Andien berjalan sendirian dengan agak mempercepat kedua langkahnya meninggalkan mereka berdua keluar dari kelasnya.

“Andien, tungguuu!!” Teriak Sisil cukup keras dengan berlari kecil mengejar Andien.

Mila ikut berlari kecil mengejar Andien.

“Loe nggak kayak biasanya, Ndien.” Sisil membuka omongan dengannya.

Andien diam. Mila dan Sisil barusan berada di samping Andien.

“Iya nih nggak kayak biasanya ya Sil.” Mila menyambung.

“Loe kok tampak bête gitu sih, Ndien?” Sisil nanya dengan serius.

“Iya, Ndien. Cerita ke kita berdua dong kalo loe lagi ada masalah.” Mila menambahkan.

Andien masih diam dan terus melangkahkan kedua kakinya menuju ke mobil pribadinya di tempat parkir mobil.

“Kita berdua ikutan bête juga nih, Ndien.” Sisil berkata.

“Kita berdua seneng sekali kok loe bisa masuk tiga besar lomba menulis cerpen sekolah tahun ini meskipun bukan juara pertama yang loe harapkan.” Mila menyambung.

“Bener nggak, Sil?” Mila nanya ke Sisil.

“Bener banget, Mil. Kita berdua udah seneng banget kok loe bisa juara kedua.” Sisil berkata.

“Bener nggak, Mil?” Sisil nanya ke Mila.

“Bener banget, Sil.” Mila menjawab pertanyaan Sisil yang berputar-putar itu.

Andien tiba-tiba berhenti. Sisil dan Mila pun ikut berhenti.

“Loe berdua bisa nggak?” Andien nanya dengan agak marah ke Sisil dan Mila.

“Bisa apa maksud loe, Ndien?” Sisil nanya balik ke Andien dengan kalem dan agak ketakutan.

“Ngomongin lomba menulis cerpen sekolah, terutama pemenang-pemenangnya!” Andien menjawabnya agak membentak.

Sisil dan Mila langsung terdiam dan menundukkan wajahnya masing-masing.

“Kok kalian berdua malah diem?” Andien nanya dengan suara agak keras.

“Kalo sebelum pulang ini gue masih denger dari loe berdua ngomongin itu, gue nggak akan ngejemput dan nganterin loe berdua selamanya!” Andien menambahkan dengan jutek dan culasnya.

“Iya. Gue ngerti kok, Ndien!” Mila menjawabnya dengan menunduk dan setengah takut.

“Kalo loe, gimana?” Andien nanya ke Sisil.

“Iya, Ndien. Gue ngerti juga kok sama seperti Mila.” Sisil menjawabnya seperti Mila, menunduk dan setengah takut.

“Oke. Gue anterin loe berdua pulang.” Andien berkata sambil berjalan meninggalkan mereka berdua terlebih dahulu menuju ke mobilnya.

Sisil dan Mila segera berjalan bersama lagi, tapi di belakang Pimpinan Redaksinya itu. Sisil dan Mila masih takut dia marah. Pada saat ini, Rio menelpon Andien. Rio sekarang menunggunya di dekat tempat parkir mobil. Andien hanya sebentar menerima telpon dari pacarnya itu. Andien masih jutek dan bête.

“Sayang, kenapa HP loe matiin?” Rio nanya ke Andien setelah mengetahui Andien.

“Bukan urusan loe!” Andien menjawabnya.

“Minggir loe!” Andien mengusir Rio dari hadapannya.

“Sayang, loe kenapa?” Rio nanya.

“Gue bilang minggir atau kita putus?” Andien nanya balik ke Rio dengan marah dan bête.

Sisil dan Mila hanya diam dengan menyaksikan mereka berdua.

“Oke…oke, sayang!” Rio menjawabnya dengan memberinya jalan ke mobilnya.

Rio takut Andien memutusnya sebagai pacarnya saat itu juga.

“Nanti malem kira-kira jam 7 gue ke rumah loe, sayang.” Rio berkata.

“Boleh kan, sayang?” Rio nanya.

“Gue hari ini pengin sendiri!” Andien menjawabnya dengan marah.

“Loe ngerti nggak?” Andien nanya ke Rio dengan marah.

Rio terdiam dengan mengamat-amatinya. Tidak beberapa lama kemudian, Andien masuk ke dalam mobil pribadinya, lalu diikuti Sisil dan Mila. Setelah itu, Andien mulai menyetir mobilnya agak cepat keluar dari sekolahnya.

Di jalan raya dengan menyetir mobilnya..

“Ndien, loe nangis kenapa?” Sisil perlahan dan kalem nanya untuk membuka curhatan Andien ke dirinya dan Mila.

Andien sedikit menangis terisak. Kedua air matanya perlahan menetes ke kedua pipinya yang halus.

“Pleasee, Andien.” Sisil berkata dengan kalem dan hati-hati.

“Enggak! Gue enggak apa-apa kok!” Andien menjawabnya dengan mengusap-usap air matanya sambil menyetir mobil pribadinya.

“Cerpen loe kalah dari Kevin?” Sisil nanya dengan kalem dan hati-hati.

Andien menjawab hanya dengan mengangguk. Andien tampak murung dan cemberut.

“Ndien, menang dan kalah itu udah biasa dalam sebuah lomba.” Sisil menasehatinya dengan kalem dan hati-hati.

Mila hanya diam dan menyimak. Mila kuatir salah ngomong, sehingga kena omel Sisil.

“Nggak perlu loe sesali.” Sisil menasehatinya lagi dengan kalem dan hati-hati.

“Iya, Sil. Gue ngerti kok yang loe maksud.” Andien menjawabnya.

“Tapi….!” Andien berkata.

“Tapi kenapa?” Sisil nanya dengan kalem dan hati-hati.

“Gue malu!” Andien menjawabnya singkat.

“Malu kenapa, Ndien?” Sisil nanya dengan kalem dan hati-hati.

“Gue udah berusaha sebaik-baiknya, Sil.” Andien menjawabnya.

“Gue….gue belum bisa menerima kekalahan gue ini!” Andien menambahkan.

“Sepertinya Kevin lebih berusaha sebaik-baiknya dari loe dech, Ndien.” Sisil membujuknya untuk meredam kesedihannya Andien.

Andien segera terdiam, lalu menghembuskan nafas agak lega. Tidak beberapa lama kemudian, Andien menurunkan Mila di depan rumahnya. Setelah itu, Andien menyetir kembali mobil pribadinya.

“Gue masih belum bisa menerima kekalahan gue ini!” Andien berkata dengan agak marah.

“Udah ah gue nggak mau ngomongin ini dulu!” Andien menyambung omongannya.

“Oke. Terserah loe aja.” Sisil berkata dengan kalem dan hati-hati.

“Gue minta loe jangan sedih ya Ndien apalagi sampai berlarut-larut.” Sisil berpesan kepadanya.

“Oke, Sil. Gue janji kok.” Andien menjawabnya.

Tidak beberapa lama kemudian, Andien menurunkan Sisil di depan rumahnya. Setelah itu, Andien menyetir kembali mobil pribadinya. Kira-kira 10 menit kemudian, Andien tiba di rumahnya. Andien tampak murung dan sedih dengan kekalahan cerpennya. Andien mengurung diri di dalam kamar.

“Bu, sejak pulang sekolah sampai sekarang Neng Andien di dalam kamar terus.” Bik Imah mengadu dengan sangat kuatir ke kedua majikannya yang barusan pulang dari luar kota.

“Masak sih, Bik?” Bu Lina sangat terkejut mendengarnya.

“Iya, bu.” Bik Imah menjawabnya.

“Sejak tadi belum makan apa-apa, bu.” Bik Imah mengadu lagi ke Mama dan Papanya Andien.

“Bik Imah sudah nanya-nanya ke Andien?” Bu Lina nanya.

“Belum sempat, bu.” Bik Imah menjawabnya singkat.

“Bibik ketuk-ketuk pintu kamarnya nggak dibuka, bu.” Bik Imah menyambungnya.

“Papa mau masuk ke dalam kamar dulu ya Ma. Mama aja yang urusin Andien.” Pak Yana berkata ke istrinya.

“Iya, Pa.” Bu Lina menjawabnya singkat.

“Coba saya periksa, Bik.” Bu Lina sangat kuatir dengan satu-satunya putrinya itu.

Bu Lina mengetuk-ngetuk pintu kamarnya dengan memanggil-manggil namanya. Di saat ini, Rio di depan pintu gerbang rumahnya Andien dan sedang berusaha menelponnya berkali-kali. Tetapi, Andien juga berkali-kali tidak menjawabnya. Andien belum membuka pintu kamarnya. Mamanya semakin keras mengetuk-ngetuk dan memanggil namanya. Karena si satpam penjaga gerbang rumah sudah tahu Rio adalah pacarnya Andien, si satpam mempersilakan Rio menemui Andien. Rio sekarang menelpon Pak Yana.

“Iya, mas Rio. Andien di rumah kok.” Pak Yana menjawabnya.

Rio masih berdiri di depan pintu rumahnya Pak Yana di dekat mobil pribadinya.

“Sabar ya mas Rio. Saya akan membukakan pintu rumah.” Pak Yana keluar dari kamarnya setelah berganti pakaian, lalu menutup pintu kamarnya lagi sambil ngobrol-ngobrol dengan Rio via HPnya.

Pak Yana menuju ke pintu rumahnya. Sementara itu, Mamanya masih mengetuk-ngetuk pintu kamarnya Andien dan memanggil-manggilnya dari luar. Bik Imah sejak tadi berdiri di sampingnya bu Lina dengan perasaan sangat kuatir terhadap Andien.

“Silakan masuk, mas Rio.” Pak Yana menyuruh Rio dengan tersenyum-senyum setelah membuka pintu rumahnya.

“Silakan duduk, mas Rio.” Pak Yana mempersilakan Rio duduk di sofanya.

Setelah itu, Pak Yana segera menuju ke kamarnya Andien di lantai dua.

“Ma, gimana?” Pak Yana nanya ke istrinya yang belum berhasil membuat Andien keluar dari kamarnya.

“Belum berhasil, Pa.” Istrinya menjawab.

“Sepertinya Andien ada masalah serius nih, Pa.” Istrinya menambahkan.

“Ada-ada aja nih anak pake ada masalah segala. Mana Rio mau mengajaknya kencan lagi.” Pak Yana kesal.

“Biar Papa yang coba sekarang, Ma. Mama mundur.” Pak Yana menyambungnya.

Andien membuka pintu kamarnya setelah Papanya yang mengetuk-ngetuk dan memanggil-manggil namanya.

“Kamu ngapain aja sih di dalam kamar? Tidur? Sekarang masih jam berapa kamu udah tidur? Itu ada Rio mau mengajak kamu keluar. Cepetan kamu ganti baju sekarang.” Papanya mengomelinya.

“Maap Andien nggak mood keluar sama Rio, Pa. Sori ya Ma..Pa!” Andien menjawabnya dengan menutup kembali pintu kamarnya, lalu menguncinya kembali dari dalam.

Pak Yana berusaha lagi, tapi istrinya mencegahnya. Pak Yana pun turun menemui Rio di ruang tamu.

“Mohon maaf banget ya mas Rio Andien nggak bisa diajak keluar malam ini. Badannya agak sakit katanya.” Pak Yana membujuk Rio.

“Sakit apa Andien, Pak?” Rio nanya ke Pak Yana dengan sangat terkejut.

“Gue telpon berkali-kali nggak diangkat.” Rio menambahkan.

“Katanya sih tadi sakit demam, mas.” Pak Yana menjawabnya.

“Oke. Kalo begitu, gue keluar sendirian, Pak.” Rio berkata.

“Silakan, mas Rio.” Pak Yana menjawab.

“Sekali lagi, mohon maaf ya mas Rio.” Pak Yana meminta maaf.

Tanpa berkata sepatah kata, Rio keluar dari dalam rumah relasi bisnis Papanya itu. Rio akan menuju ke diskotek bersama Rina, seorang cewek di sebuah Mall kemarin bersamanya yang kebetulan Andien memergokinya. Tidak beberapa lama, Andien membuka pintu kamarnya setelah Mamanya berkali-kali berusaha. Sekarang Mamanya sedang ngobrol-ngobrol dengan Andien dan sesekali memotivasinya. Pak Yana marah kepada Andien.

“Papa nggak mau kamu ngecewain Papa lagi, terutama Rio.” Pak Yana marah kepada Andien di dalam kamarnya Andien.

“Kamu harus ingat itu.” Pak Yana menyambung omongannya.

“Udah dulu dong marahnya ke Andien, Pa. Andien sedang dalam masalah nih, Pa.” Istrinya meredam kemarahan suaminya ke Andien dengan menjauhkannya darinya.

“Mama juga harus tahu itu!” Pak Yana sekarang marah ke istrinya.

“Iya, Pa. Mama ngerti kok. Mama akan selalu berusaha untuk itu, Pa. Sekarang Papa kembali ke kamar ya. Biar Mama urusin Andien nih, Pa.” Bu Lina menasehatinya.

“Mama harus janji ke Papa dulu!” Pak Yana berkata.

“Iya, Pa. Mama janji kok.” Bu Lina menjawabnya.

Setelah itu, bu Lina menutup pintu kamarnya Andien, lalu menguncinya dari dalam. Pak Yana pun kembali ke kamarnya. Sekarang hanya Andien dan Mamanya di dalam. Bik Imah masih sangat menguatirkan Andien yang sudah dianggap sebagai anaknya sendiri itu.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel