Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Pesan Papa

Keesokan paginya sekitar pukul 06.00, Andien sudah berseragam sekolah. Andien sekarang sedang melamun di dekat jendelanya. Sarapan sudah tersaji di meja makan sepuluh menit lalu. Kedua orang tuanya Andien sedang menunggunya di ruang makan.

“Ma, Andien kok belum di sini? Apa masih di kamar mandi?” Pak Yana nanya dengan serius ke istrinya yang selalu duduk di samping kirinya di meja makan itu.

Bik Imah mendengarnya sambil mondar-mandir dari meja makan ke dapur mengambilkan apa yang masih kurang.

“Iya nih, pa. Biasanya sepuluh menit sudah di depan kita berdua ya pa.” Istrinya menjawabnya dengan curiga.

“Apa perlu Bibik panggil neng Andien sekarang, bu?” Bik Imah menawarkan bantuan ke bu Lina.

“Nggak perlu, bik. Biar saya saja ke kamarnya sekarang.” Bu Lina menjawabnya sambil berdiri dari kursinya.

“Iya, ma. Suruh dia cepat kemari. Papa bisa terlambat nih, ma.” Pak Yana marah.

“Iya, pa. Sabar ya pa.” Istrinya menjawab sambil berjalan menuju ke tangga.

Bik Imah mengikuti majikan perempuannya menaiki tangga.

“Bibik mau ke mana sekarang?” Pak Yana nanya dengan marah ke Bik Imah.

Bik Imah menghentikan langkah kedua kakinya.

“Ke atas, pak.” Bik Imah menjawabnya dengan perasaan takut.

“Ke kamarnya Andien juga?” Pak Yana nanya lagi.

“I-ya, pak.” Bik Imah menjawabnya dengan terbata, karena takut.

“Bibik nggak usah ikut ibu ke kamarnya Andien. Bibik di sini saja menyiapkan sarapan.

“I-ya, pak.” Bik Imah menjawabnya dengan terbata lagi, karena takut.

Bik Imah segera menuruni tangga menuju ke dapur. Lima menit kemudian, bu Lina sudah di depan kamarnya Andien. Karena pintu kamarnya Andien tidak dikunci, bu Lina bisa membukanya.

Bu Lina sangat terkejut melihat Andien sedang melamun di dekat jendela kamarnya. Andien tampak murung, karena kekalahan cerpennya dari Kevin Dieter Alaric.

“Loh? Kok malah diem di situ sih, sayang?” Bu Lina nanya sambil berjalan mendekatinya.

“Kamu kenapa sih, sayang?” Bu Lina nanya dengan mendekapnya.

Andien masih diam.

“Sudah jam berapa nih, sayang?” Bu Lina nanya ke Andien.

“Papa marah loh, sayang.” Bu Lina memberitahukannya.

“Hei, kamu sedih kenapa, sayang? Apa karena cerpenmu kalah ya sayang?” Bu Lina nanya tetap dengan sabar dan lemah lembut.

Andien masih diam. Tidak beberapa lama kemudian, Pak Yana masuk ke dalam kamarnya Andien.

“Andien!” Pak Yana memanggilnya cukup keras sambil berjalan mendekatinya.

Bu Lina masih mendekap Andien.

“Kamu ngapain di situ?” Pak Yana nanya dengan marah.

“Sebentar lagi Papa terlambat nih!” Pak Yana marah.

Andien masih diam dan duduk melamun di dekat jendela kamarnya.

“Pa, sabar ya.” Bu Lina berusaha meredam amarah suaminya.

“Ayo, ma. Sekarang kita sarapan berdua saja. Biarin Andien di sini. 30 menit lagi Papa ke kantor.” Pak Yana mengajak istrinya.

“Iya, pa.” Bu Lina mengiyakan agar suaminya itu tidak marah-marah ke Andien.

Pak Yana dan istrinya segera keluar dari dalam kamarnya Andien bersamaan menuju ke meja makan. Selama perjalanan menuju ke meja makan, bu Lina menceritakan tentang kesedihan Andien. Pak Yana sekarang tahu. Lima menit kemudian, Andien keluar dari dalam kamarnya menuju ke meja makan. Seperti biasanya, Andien duduk di depan kedua orang tuanya di meja makan.

“Makan yang banyak ya sayang.” Mamanya menyuruhnya dengan tersenyum.

“Nggak perlu dipikiran ya sayang. Cuman kalah cerpen aja kok.” Mamanya menasehatinya.

Pak Yana masih diam dengan sesekali menatap Andien dengan tatapan tajam sambil makan. Andien seperti kehilangan sesuatu dalam dirinya.

“Yang penting, bukan kalah belajar giatnya, iya kan sayang?” Mamanya nanya dengan tersenyum mencoba memotivasi Andien.

Andien mulai mengambil nasi hangat terlebih dahulu di tengah meja makan masih murung.

“Papa nggak mau melihat kamu sedih hanya karena cerpenmu!” Pak Yana mulai ngomong ke Andien.

Andien sekarang mengambil lauk dan pauk di dekat sebakul nasi hangat. Andien masih murung.

“Mulai sekarang, Papa melarang kamu bikin cerpen lagi apalagi ikut lomba cerpen!” Pak Yana berkata dengan tegas.

“Apa kamu ngerti?” Pak Yana nanya ke Andien.

Andien sekarang mulai makan.

“Pa, jangan marah ke Andien ya.” Istrinya berkata ke suaminya.

“Mama tenang aja. Papa nggak marah ke Andien kok.” Suaminya menjawab.

Bu Lina bernafas lega.

“Papa nggak mau cerpenmu mengganggu belajarmu dan hubungan kamu dengan Rio.” Pak Yana berkata ke Andien sambil makan yang tiga sendok lagi habis.

Andien masih diam sambil makan. Bu Lina hanya menyimak.

“Karena Papa sangat mengkuatirkan keduanya, mulai sekarang Papa melarang kamu bikin cerpen lagi.” Pak Yana berpesan ke Andien sambil makan sesendok terakhirnya.

“Andien, apa kamu mengerti?” Pak Yana nanya ke Andien sambil memakai jasnya.

Andien masih diam sambil makan.

“Papa tidak ingin kamu persembahkan cerpen terbaikmu ke Papa.” Pak Yana berkata.

“Papa ingin dua hal, belajar giat dan hubunganmu dengan Rio baik hingga menikah.” Pak Yana berkata sambil berdiri.

Dengan segera, bu Lina mengambilkan koper suaminya di dekatnya.

“Ma, Papa berangkat dulu ke kantor. Papa minta tolong terus awasi Andien ya ma.” Pak Yana pamit sambil berpesan ke istrinya.

“Baik, pa.” Istrinya menjawab.

Setelah mencium pipi kanan dan pipi kiri istrinya, Pak Yana segera berangkat ke kantor. Bu Lina melanjutkan makannya, karena belum selesai.

“Sayang, apa kamu denger apa yang dikatakan papa kamu tadi?” Mamanya nanya.

“Denger sekali, ma.” Andien menjawabnya, lalu minum air putihnya dua teguk.

Andien melanjutkan makannya lagi.

“Apa kamu sanggup, sayang?” Mamanya nanya lagi sambil makan.

“Andien tidak bisa janji, ma.” Andien menjawabnya.

“Loh? Nanti Papa marah loh, sayang.” Mamanya mengingatkannya tetap lemah lembut dan bersabar ke satu-satunya putri yang sangat disayanginya itu.

Andien sudah cukup makannya. Andien tidak menghabiskannya. Bik Imah sejak tadi menguping di dapur sambil mencuci piring, gelas, sendok, dan lain sebagainya.

“Kenapa, sayang?” Mamanya nanya dengan serius.

“Andien suka banget dengan cerpen dan Andien mulai nggak suka Rio, ma.” Andien menjawabnya.

“Haduh..Papa bisa marah, sayang!” Mamanya mengingatkannya lagi.

“Biarin aja Papa marah ke Andien, ma.” Andien berkata sambil berdiri dari kursinya, lalu memakai tas punggungnya.

“Tapi sayang,.….!” Mamanya ingin mengatakan sesuatu lagi ke Andien, tapi Andien segera memotongnya.

“Andien pamit ke sekolah ya ma.” Andien pamit ke Mamanya dengan mencium pipi kanan dan pipi kirinya.

“Andien tetap menulis cerpen dan belajar giat kok, ma.” Andien berkata setelah selesai mencium pipi kanan dan kiri Mamanya.

“Tentang Rio, Andien belum kasih tahu, mama. Daaahh, mama.” Andien berkata.

Mamanya hanya diam. Karena 30 menit lagi pintu gerbang sekolah ditutup, Andien mengendarai mobil pribadinya cukup kencang. Sisil dan Mila sudah menunggu di depan rumahnya. Tidak beberapa lama kemudian, Bik Imah menghampiri majikan perempuannya yang masih menikmati sarapannya.

“Bu, Bibik nggak mau neng Andien sedih lagi seperti tadi.” Bik Imah berkata sambil duduk di hadapannya.

Bu Lina masih diam sambil makan dan mendengarkan perkataan-perkataan pembantunya itu.

“Bibik suka banget cerpen-cerpennya, neng Andien. Bagus-bagus banget loh, bu.” Bik Imah berkata lagi.

“Sayangnya neng Andien juara kedua ya bu. Kalau juara pertama, neng Andien bakal ngasih hadiah lagi ke bibik dan merayakannya dengan makan-makan seperti tahun-tahun sebelumnya.” Bik Imah mengenang.

“Kalau soal Rio, bibik nggak menjamin neng Andien suka, bu. Neng Andien seperti punya tipe-tipe sendiri soal cowok, bu.” Bik Imah berkata.

“Huusshh…bibik kembali kerja aja ya. Jangan bicara soal Andien dulu ya bik apalagi dengan Rio.” Bu Lina menjawabnya dengan kalem dan sabar.

“Iya, bu.” Bik Imah mematuhinya.

Selesai sarapan, bu Lina shopping. Mang Parjo yang mengantarkan dengan mobil pribadinya bu Lina sendiri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel