Protes
Setelah bu Endah mengumumkan pemenang pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah tahun ini, Andien terlihat tertunduk lesu di tempat duduknya di dalam kelas hanya seorang diri. Sisil dan Mila segera mendekatinya.
“Ndien, kenapa loe?” Mila nanya langsung to the point kepadanya.
“Mil, jangan gitu langsung ke Andien dong.” Sisil berbisik ke Mila setelah menarik lengan kanannya untuk agak menjauh dari Andien yang masih duduk dengan posisi menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Habis gimana dong, Sil?” Mila nanya dengan berbisik ke Sisil.
“Kalem dong, Mil.” Sisil menjawab dengan berbisik sambil melihat ke Andien yang posisi duduknya masih sama, menutupi wajahnya dengan kedua tangannya.
“Sepertinya Andien sedang bersedih, Mil.” Sisil berbisik lagi ke Mila.
“Biar gue aja yang mendekatinya ya. Loe menambahi omongan gue seperlunya ya.” Sisil berpesan dengan berbisik ke Mila.
“Oke dech, Sil.” Mila sepakat dengan berbisik.
Tidak beberapa lama kemudian, Mila dan Sisil pelan-pelan mendekati Andien yang sekarang memperlihatkan wajahnya. Kedua air mata Andien perlahan-perlahan menetes ke pipinya. Posisi Mila di belakangnya Sisil. Di saat ini, di kelas hanya ada mereka bertiga. Teman-teman sekelasnya yang lain langsung ke kantin makan-makan dari uang yang diberi oleh Andien sebelum pemenang pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah diumumkan.
“Ndien, loe pemenang kedua loh.” Sisil mencoba menghiburnya.
“Kita berdua ikut senang loh, Ndien.” Sisil menambahkannya.
“Iya kan Mil?” Sisil nanya ke Mila di belakangnya.
“Iya betul, Ndien. Kita berdua ikut senang kok.” Mila menambahkan untuk meyakinkan Andien.
“Loe kenapa menangis, Ndien?” Sisil nanya dengan mengusap-usap kepalanya.
“Enggak kok. Gue enggak menangis kok. Gue enggak apa-apa.” Andien menjawabnya dengan mengusap-usap air matanya yang menetes di kedua pipi halus dan mulusnya.
“Oke kalo loe enggak apa-apa.” Sisil menyahut.
“Kirain loe nangis, Ndien.” Sisil menyambung.
“Gue nggak puas menjadi peringkat kedua!” Andien berkata dengan nada cukup tinggi.
“Gue sekarang harus pastiin kalo cerpen gue kalah!” Andien berkata dengan nada cukup tinggi lagi sambil berdiri dari tempat duduknya.
“Loe mau ke mana, Ndien?” Sisil nanya dengan memegangi tangan kanannya.
“Lepasin tangan gue!” Andien menyuruh Sisil dengan marah.
“Iya…jawab dulu pertanyaan gue tadi, baru gue lepasin tangan loe!” Sisil menjawabnya dengan kalem dan hati-hati.
“Gue mau ke bu Endah di ruang guru sekarang.” Andien menjawabnya dengan marah lagi.
“Ngapain, Ndien?” Sisil nanya lagi ke Andien masih memegangi tangan kanannya.
“Gue mau protes ke bu Endah. Gue udah nulis cerpen lebih baik dari nulis cerpen tahun lalu.” Andien menjawabnya dengan marah lagi.
Karena Andien terlihat marah, Sisil perlahan-perlahan melepaskan pegangan tangan kanannya. Setelah itu, Andien segera berjalan sendirian meninggalkan kedua sahabat karibnya itu di belakang tepatnya di dekat bangkunya Andien.
“Apa perlu kita berdua menemani loe, Ndien?” Sisil nanya dengan berlari kecil mendekatinya saat Andien sudah di ambang pintu kelasnya.
“Enggak perlu! Loe ama Mila di sini aja ya!” Andien menjawabnya dengan menoleh ke belakang sejenak sambil terus berjalan dengan tergesa-gesa menuju ke ruang guru menemui bu Endah.
Sisil dan Mila terdiam dengan menyaksikan Pimpinan Redaksinya itu berjalan sendirian. Kira-kira sepuluh menit kemudian, Andien sudah bertemu dengan Wali Kelasnya, bu Endah, di dalam ruang guru yang kebetulan sedang membandingkan cerpennya Andien dan Kevin.
“Selamat pagi, bu!” Andien menyapa Wali Kelasnya.
“Selamat pagi juga!” Bu Endah membalas sapaannya Andien.
“Eh, Andien.” Bu Endah terkejut melihatnya setelah siapa siswi di depannya.
“Ada apa, Ndien?” Bu Endah nanya ke Andien.
“Saya boleh mengganggu waktunya sebentar, bu?” Andien balik nanya ke Wali Kelasnya itu.
“Iya, silakan.” Bu Endah mempersilakannya.
“Atas dasar apa Dewan Juri menempatkan cerpen saya di peringkat kedua, bu?” Andien bertanya masih berdiri sejak tadi di samping Wali Kelasnya itu.
“Silakan duduk dulu ya Ndien.” Bu Endah mempersilakan seorang siswi yang cukup dekat dengannya itu.
“Terima kasih banyak, bu.” Ucap Andien, lalu berjalan menuju ke salah satu dari dua kursi di depan meja Wali Kelasnya itu.
“Kita mulai ngobrol-ngobrol soal pemenang pertama dan kedua menurut keputusan Dewan Juri semalam ya Ndien.”
“Iya, bu.” Andien menjawabnya dengan penuh hormat.
“Dewan Juri melihat, menimbang, dan menilai kalo cerpennya Kevin Dieter Alaric siswa kelas 3IPS2 lebih bagus dari cerpen milik kamu dari segi isi, tulisan, dan gaya bahasanya.” Bu Endah mencoba menjelaskannya kepada Andien sejujur-jujurnya.
“Cerpennya murni hasil karyanya sendiri.” Bu Endah menyambungnya.
“Tidak ada plagiat dan suap ke Dewan Juri.” Bu Endah menyambungnya lagi.
“Padahal saya menulisnya lebih baik dari lomba cerpen tahun lalu, bu.” Andien mulai protes.
“Dari segi gaya bahasa, isi, dan tulisan juga lebih baik dari tahun sebelumnya, bu.” Andien protes lagi.
“Andien, cerpen kamu masih kalah jauh dari cerpennya Kevin.” Bu Endah menjawabnya dengan ramah.
Andien terdiam sejenak dengan agak menduduk di hadapan Wali Kelasnya itu.
“Tahun-tahun sebelumnya saya tidak pernah mendengar Kevin menduduki peringkat kedua dan ketiga, bu.” Andien protes lagi.
“Kevin baru ikut lomba menulis cerpen di tahun terakhirnya ini di sekolah.” Wali Kelasnya itu menjelaskannya.
“Kok ibu tahu seperti itu?” Andien nanya.
“Saya tahu anak ini dan saya belum pernah menjumpai cerpen-cerpennya di lomba menulis cerpen sekolah dua tahun sebelumnya.” Bu Endah menjawabnya dengan tegas.
“Bolehkah saya membaca cerpennya sekarang, bu?” Andien nanya.
“Kebetulan sebelum kamu datang ke sini setelah mengumumkan pemenang pertama hingga ketiga membaca cerpennya Kevin dan cerpen milik kamu.” Bu Endah menjawab pertanyaannya Andien, lalu menyodorkan dua lembar cerpennya Kevin yang sudah diketik rapi dan dicetak di kertas Folio seperti cerpennya Andien dan cerpen-cerpen peserta lain sebagai syarat wajib mengikuti lomba menulis cerpen sekolah.
Tidak beberapa lama kemudian, Andien menerima dua lembar cerpennya Kevin dari bu Endah. Setelah itu, Andien membacanya dengan serius. Wali Kelasnya itu memberikan waktu kepada Andien untuk membacanya.
Kira-kira 10 menit kemudian …
“Bagaimana, Ndien?” Bu Endah nanya ke seorang siswinya yang termasuk cantik itu.
“Maaf sebelumnya ya Ndien kalo dari segi isi, gaya bahasa, dan tulisannya daripada cerpen milik kamu masih menang mutlak cerpennya Kevin apalagi cerpen miliknya Julia Jessica Putri si pemenang ketiga.” Bu Endah menjelaskannya panjang lebar ke Andien yang tengah membaca cerpennya Kevin sudah hampir selesai.
Sekarang Andien sudah selesai membaca cerpennya Kevin si pemenang pertama lomba menulis cerpen tahun ini, lalu mengembalikannya ke Wali Kelasnya itu.
“Mohon maaf sebelumnya ya Ndien saya dan Dewan Juri lainnya harus tegas dalam memutuskan dan tidak ada pilih kasih. Buagus banget cerpennya Kevin Dieter Alaric. Bu Endah suka banget membacanya.” Bu Endah menyambung penjelasannya.
“Iya, bu.” Andien menjawabnya.
“Terima kasih banyak ya bu sudah menjelaskan ke saya.” Ucap Andien ke Wali Kelasnya itu dengan suara parau dan lirih.
Andien sekarang terlihat sedih.
“Kok kamu kelihatannya sedih begitu.” Bu Endah langsung to the point.
“Saya nggak sedih kok, bu.” Andien menjawabnya.
“Saya melihatnya dari wajah dan suara kamu loh, Ndien.” Bu Endah memberitahukannya.
“Cuacanya kurang enak, bu. Sehingga, saya terpengaruh.” Andien beralasan.
“Oke.” Bu Endah menjawabnya dengan singkat dan tersenyum.
“Jangan lupa nanti tugasmu mewawancarai Kevin, lalu menampilkannya di kolom cerpenis terbaik sekolah tahun ini ya Ndien.” Wali Kelasnya itu berpesan kepada Andien.
“Baik, bu.” Andien menjawabnya.
“Sekarang saya pamit ke kelas ya bu.” Andien berpamitan.
“Baik, silakan.” Bu Endah mempersilakan dengan tersenyum.
Tidak beberapa lama kemudian, Andien berdiri dari kursinya, lalu berjalan keluar dari ruang guru menuju ke kelasnya. Sisil dan Mila sejak tadi menunggunya di depan kelasnya sambil duduk-duduk santai dan ngobrol ngalor ngidul. 10 menit yang lalu teman-teman sekelasnya sudah kembali dari kantin ke kelasnya kembali.
“Hai, Ndien.” Sisil menyapanya ketika Andien sudah dekat.
Andien tampak murung.
“Duduk sini dulu dong ngobrol-ngobrol ya.” Sisil meminta Andien duduk di dekatnya dan Mila.
Andien terdiam dan duduk di tengah Sisil dan Mila.
“Gimana, Ndien?” Mila nanya.
“Mohon maaf ya kesayangan-kesayangan gue.” Andien menjawabnya.
“Gue nggak mood menjawab dan menjelaskan ke kalian berdua soal tadi bersama bu Endah.” Andien menyambungnya.
Setelah itu, Andien segera beranjak dari sebuah bangku besi di depan kelasnya, lalu berjalan menuju ke dalam kelasnya. Andien masih tampak murung. Sisil meminta Mila untuk tetap diam di tempat. Di dalam kelas, Andien membaca buku pelajaran sejarah yang sebentar lagi dimulai. Teman-teman sekelasnya mengucapkan selamat kepadanya sebagai pemenang kedua lomba menulis cerpen sekolah tahun ini. Andien menerimanya tanpa tersenyum kepada mereka. 10 menit kemudian, pelajaran sejarah dimulai. Tetapi, hanya berlangsung selama 30 menit, karena di jam sekarang ini Kepala Sekolah dan guru-guru akan rapat mengenai Ujian Nasional yang 3 bulan lagi akan dilaksanakan serentak se-Indonesia, sehingga semua siswa dan siswi pun dipulangkan.
