Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Peringkat Kedua

Keesokan paginya pada pukul 6, Andien sudah berseragam sekolah dengan rapi dan wangi. Wajah Andien terlihat berseri-seri dan bersemangat sekali lantaran tadi malam menjelang tidur mendapatkan kabar dari bu Endah melalui WA kalau cerpennya masuk tiga besar. Andien sempat bertanya kepada Wali Kelasnya itu siapa peringkat pertama hingga ketiga, tapi beliau tidak memberitahukannya. Beliau akan mengumumkannya besok di jam istirahat pertama pemenang pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah tahun ini. Andien sangat optimis kalau dirinya adalah si peringkat pertama itu.

Pada saat ini, Bik Imah sedang mempersiapkan sarapan untuk Pak Yana sekeluarga. Semua masakan sudah matang tinggal memindahkan dari dapur ke meja makan. Andien membantu seorang pembantu yang sudah bekerja sejak Andien masih balita itu hingga sekarang di rumahnya Pak Yana, Papanya.

“Tumben pagi-pagi udah bangun, Neng?”

“Mimpi apa semalem, Neng?”

Andien hanya menjawab dengan tersenyum-senyum.

“Kok kelihatannya hepi banget, Neng?”

“Pasti semalem sayang-sayangan lagi dengan mas Rio ya Neng?”

“Halah…ngaku aja, Neng! Bik Imah feeling aja nih, Neng!”

Andien mulai membantu Bik Imah mengambil masakan-masakan di dapur.

“Ah..enggak juga kok kalau soal Rio, Bik!”

“Soal apa kok kelihatannya hepi banget gitu, Neng?”

“Emang Andien kelihatannya hepi banget ya Bik?”

“Iya, Neng. Kelihatan hepi banget.”

“Dari mana Bik Imah kok tahu?”

“Raut wajah Neng Andien kelihatan berseri-seri dan senyum-senyumnya itu loh tulus banget!”

“Ah…Bibik bisa aja ngelihatnya.”

“Ada apa sih sebenarnya, Neng?”

“Nanti di jam istirahat pertama pemenang pertama sampai ketiga lomba menulis cerpen sekolah diumumin, Bik.”

“Oh…gitu!”

“Terus kenapa Neng Andien hepi banget?”

“Cerpen Andien masuk tiga besar, Bik.”

“Alhamdulillaahh…Neng kalau begitu.”

“Selamat ya Neng. Semoga Neng Andien juara pertamanya.”

“Andien sangat optimis si juara pertama itu Andien, Bik.”

“Syukurlah kalau udah sangat optimis juara pertama, Neng.”

“Iya, Bik.”

Tidak beberapa lama kemudian, Pak Yana dan istrinya keluar dari dalam kamar dalam keadaan sudah rapi. Kedua orang tua Andien tersebut sudah siap untuk sarapan. Andien sekarang sudah selesai membantu Bik Imah menyiapkan sarapan.

“Ini Bik ada hadiah dari Andien lagi.” Andien menggenggamkan uang sebanyak tiga lembar seratus ribuan ke tangan kanannya Bik Imah.

“Apa ini, Neng?”

“Uang, Bik.”

“Diterima ya Bik.”

“Terima kasih banyak ya Neng. Semoga Neng Andien juara pertama.”

“Pasti, Bik.” Andien menjawabnya dengan sangat optimis.

Setelah mengucapkan terima kasih kepada Andien, Bik Imah segera mendekati Pak Yana dan istrinya yang sudah mulai dekat dengan meja makan. Kedua orang tua Andien mengetahuinya dari depan kamarnya tadi.

“Silakan, Tuan dan Nyonya. Sarapan sudah siap.” Bik Imah memberitahukan ke Pak Yana.

“Terima kasih banyak ya Bik.” Ucap Pak Yana.

Setelah itu, Bik Imah segera menuju ke kamarnya di lantai dua dekat dengan kamarnya Andien. Andien sekarang sedang mengambil posisi untuk sarapan. Tidak beberapa lama kemudian, kedua orang tuanya juga mengambil posisi. Pak Yana dan istrinya duduk berdekatan, sedangkan Andien duduk berhadapan dengan mereka berdua. Seperti biasanya, sebelum mulai makan bersama, Pak Yana memimpin doa.

“Tumben pagi-pagi kamu sudah berseragam rapi dan wangi. Bantu-bantu Bik Imah pula.” Pak Yana membuka obrolan dengan Andien.

“Iya, Pa.” Andien menjawabnya singkat dengan tersenyum-senyum hepi.

“Apakah nggak bisa dipertahankan terus keadaan ini?” Pak Yana bertanya sambil menerima pemberian nasi hangat dari istrinya yang selalu mengambilkan untuknya.

“Insya Allah bisa, Pa.” Andien menjawabnya singkat dan tersenyum-senyum lagi.

“Sayang, kelihatannya kamu hepi banget.” Mamanya menyela dengan mengambilkan beberapa sendok sayur sop dan ikan goreng masih untuk suaminya.

“Iya, Ma.” Andien menjawabnya singkat dan tersenyum-senyum lagi.

“Ada apa, sayang?” Mamanya nanya dengan mengambil nasi secukupnya, sayur sop, dan ikan goreng untuk dirinya sendiri.

“Nanti di jam istirahat pertama diumumin pemenang pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah, Ma.” Andien menjawabnya cukup panjang sambil mengambil nasi secukupnya, sayur sop, dan ikan goreng seperti Mamanya barusan.

“Apa hubungannya?” Mamanya nanya sambil mulai makan.

“Cerpen Andien masuk tiga besar dari 950 cerpen, Ma.” Andien menjawabnya juga sambil makan dan sesekali minum air putih dari gelasnya.

“Bagus banget ya Pa prestasi Andien ini dalam menulis cerpen.” Mamanya memujinya.

“Kamu tadi ngasih ke Bik Imah uang lagi kan?” Pak Yana bertanya untuk mengalihkan perhatian. Andien terdiam sambil terus makan.

“Buat apa?” Pak Yana nanya lagi.

“Hadiah buat Bik Imah, karena Andien sangat optimis juara pertama, Pa.” Andien menjawabnya.

“Kamu jangan mikirin cerpen melulu!” Pak Yana mulai menasehatinya.

“Andien juga sudah belajar giat, Pa.” Andien mulai membela diri.

“Tuh Papa denger sendiri kan?” Mamanya menyela.

“Selain ikut lomba menulis cerpen sekolah, Andien nggak lupa belajar giat tuh, Pa.” Mamanya menambahkan.

“Bener kan, sayang?” Mamanya nanya ke Andien sendiri untuk memastikannya lagi.

“Iya bener, Ma.” Andien menjawabnya dengan singkat.

Wajah ceria Andien setengah padam.

“Papa nggak nanya soal kamu belajar giat dan ikut menulis cerpen.” Pak Yana memberitahukannya dengan tegas.

“Terus Papa nanya soal apa ke Andien?” Andien nanya sambil menelungkupkan sendok dan garpunya di atas piringnya dengan posisi menyilang, lalu meminum air putih dari gelasnya tiga teguk.

“Soal hubungan kamu dengan Rio.” Pak Yana menjawabnya singkat dan jelas.

“Rio?” Andien cukup terkejut mendengarnya.

“Ma-sih de-ngan Rio, Pa.” Andien mengatakannya cukup berat ke Papanya.

“Papa ingin hubungan kamu dengan Rio tetap baik hingga selesai.” Pak Yana berpesan.

“Tahu ah, Pa.” Andien menjawabnya dengan sewot.

Setelah itu, Andien segera beranjak dari kursinya untuk berangkat ke sekolah dengan memakai tas punggungnya. Andien hanya pamit ke kedua orang tuanya yang masih di meja makan tanpa bersalaman, memeluk, dan mencium pipi kanan dan pipi kiri seperti biasanya Andien lakukan ketika pamit berangkat sekolah. Wajah ceria Andien di saat ini tinggal seperempat. Sisanya, bad mood akibat perkataan-perkataan Papanya tadi. Andien juga memberikan hadiah uang kepada Mang Parjo sama besarnya seperti yang diberikan kepada Bik Imah tadi. Seperti biasanya, Andien menjemput Sisil terlebih dahulu dan kemudian Mila.

Dalam perjalanan ke sekolah bersama Sisil dan Mila..

“Gue bête banget pagi ini!!” Andien memberitahu ke kedua sahabat karibnya itu sambil menyetir mobil pribadinya.

“Bete kenapa loe, Ndien?” Mila yang duduk di sampingnya nanya.

“Papa.” Andien menjawabnya dengan singkat.

“Emang kenapa dengan Papa loe, Ndien?” Sisil yang duduk di belakangnya nanya dengan mendekatkan dirinya menempel di jok yang diduduki Andien.

“Maunya gue sama Rio aja!” Andien menjawabnya dengan cemberut.

“Emangnya kenapa dengan Rio, Ndien?” Sisil nanya dengan lembutnya.

“Rio udah mulai macem-macem sama gue!” Andien menjawabnya dengan membelokkan mobilnya ke arah jalan lurus menuju ke sekolahnya.

“Gue mau putusin dia semalem, tapi gue nunggu waktu aja.” Andien menambahkan.

“Sayang kalau diputusin, Ndien.” Mila sok menasehatinya.

“Sayang kenapa, Mil?” Andien nanya dengan menghentikan mobilnya di bawah lampu merah di sebuah perempatan jalan.

“Rio itu anak relasi Papa loe dan ganteng, Ndien!” Mila menjawab sekenanya.

Andien tersenyum-senyum mendengarnya.

“Ini bagian gue menasehati Andien, Milaa!” Sisil menyela.

“Loe bagian keamanannya Andien aja ya Mil.” Sisil menyambung.

Andien tersenyum-senyum mendengarnya. Wajah ceria Andien bertambah seperempat lagi karena Mila.

“Terserah loe dah, Sil! Gue nyerah aja ke cowok ganteng dan tajir kayak Rio.” Mila menjawabnya dengan bête.

Sisil dan Andien sekarang tersenyum-senyum bersamaan.

“Nyerah gimana maksud loe, Mil?” Sisil mencoba nanya Mila.

“Gue pengin dipeluknya aja terus.” Mila menjawabnya dengan polos.

Andien dan Sisil ketawa-ketiwi setelah mendengar jawabannya Mila.

“Loe sabar aja dulu, Ndien. Barangkali Rio mulai sadar dengan kesalahan-kesalahannya.” Sisil mulai menasehatinya.

“Iya, Sil. Gue maunya begitu. Sabar dulu dengan Rio.” Andien menjawabnya lirih dengan suaranya agak parau, lalu menghembuskan nafas lega.

Andien sekarang sudah sampai di sekolahnya. Pintu gerbang sekolah masih terbuka lebar dengan dijaga ketat empat orang Satpam, karena sekarang masih pukul 06.45 WIB. Lima belas menit lagi, pintu gerbang itu akan ditutup. Siswa dan siswi yang datang sesudahnya atau terlambat harus memberitahukan ke guru BK yang bertugas hari itu. Tidak hanya Andien yang memakai mobil pribadi ke sekolah, siswa dan siswi lainnya, termasuk Rio, yang setajir Andien juga memakai mobil pribadinya. Pihak sekolah juga menyediakan tempat parkir sendiri buat mobil-mobil pribadi siswa dan siswinya tersebut selain motor dan sepeda. Sekolahnya Andien ini tergolong lima besar SMAN papan atas di Jakarta dari segi ketajiran siswa dan siswinya.

Karena Mila yang bisa menghiburnya dan Sisil yang bijak menasehatinya, Andien kembali sayang banget kepada kedua sahabat karibnya itu. Kini, Andien bersemangat lagi di sekolah. Sebelum pelajaran pertama dimulai, Andien telah memberikan sejumlah uang kepada teman-teman sekelasnya untuk makan-makan, karena cerpennya masuk tiga besar dan dia sangat optimis meraih juara pertama lagi.

Setelah pelajaran pertama dan kedua yang masing-masing berlangsung dua jam, sekarang tibalah waktu istirahat pertama satu jam lamanya. Semua siswa dan siswi sedang mendengarkan dengan seksama sebuah pengumuman pemenang pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah tanpa ada suap dan hasil dari plagiat. Seperti selama dua tahun sebelumnya, bu Endah sebagai perwakilan Dewan Juri lomba tersebut mengumumkannya melalui sebuah mik di dalam ruang guru. Mila, Sisil, dan teman-teman sekelasnya mengunggul-unggulkan Andien dengan bersorak-sorai menyebut-nyebut namanya, Andien...Andien.

Tidak beberapa lama kemudian, bu Endah mengumumkan bahwa pemenang pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah tahun ini dengan tema ‘Cinta’ adalah Kevin Dieter Alaric dengan cerpen berjudul ‘Cinta-cinta Kertas’, Andien Sukma Ayu dengan cerpen berjudul ‘Kekasih Tak Bertuan’, dan Julia Jessica Putri dengan cerpen berjudul ‘Bila Cinta Merindu’.

Sorak-sorai Mila dan Sisil bersama teman-teman sekelasnya mengunggulkan Andien pun mulai meredup dengan sendirinya hingga tak bersuara. Andien tertunduk lesu setelah mendengarkan pengumuman tersebut, karena Andien telah berusaha sebaik-baiknya menulis cerpen demi menyandang status tiga kali berturut-turut juara pertama lomba menulis cerpen sekolah dan tampil lagi di kolom cerpenis terbaik sekolah tahun ini di Majalah Sekolah yang terbit setiap bulan itu. Tahun ini, Andien harus puas berada di urutan kedua cerpenis terbaik di sekolahnya. Andien masih tidak percaya dengan keputusan Dewan Juri.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel