Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Terlambat Masuk Sekolah

Dengan kecepatan cukup tinggi mengendarai mobil pribadinya, Andien bersama Sisil dan Mila tiba di sekolah 7 menit sebelum gerbang sekolah ditutup. Sebelum bisa masuk pintu gerbang sekolah, laju mobilnya Andien terhalang oleh seorang cowok bernama Kevin Dieter Alaric lantaran dia berjalan pelan dengan cuek dan coolnya di depan mobilnya. Seperti biasanya setiap pagi di hari efektif sekolah, empat orang satpam sedang berjaga di pintu gerbang sekolah.

Tin..tin..tin…(suaranya tidak begitu keras).

Kevin sempat melirik ke belakang sejenak, tapi pandangannya kembali ke depan.

Tin..tin..tin…(suaranya cukup keras).

Kevin tetap berjalan dengan cuek dan cool.

“Nih anak cuek banget jalannya mana pelan lagi.” Andien menggerutu sendiri.

Sisil sedang membaca sebuah novel, sedangkan Mila melihatnya, tapi masih diam saja. Mila dan Sisil kali ini duduk di belakang Andien.

“Duh..kurang 5 menit lagi pintu gerbang ditutup.” Andien menggerutu lagi setelah melihat jam tangannya.

“Kenapa, Ndien?” Mila nanya.

“Tuh ada seorang cowok cuek banget jalannya di depan mobil. Udah gue bel dua kali masih aja cuek. Sialan!” Andien menjawabnya dengan kesal.

“Coba loe bel lagi lebih keras, Ndien.” Mila nyuruh.

Tiin..tiin..tiin…(suaranya lebih keras dari bel kedua).

Kevin masih berjalan dengan cuek dan cool sambil memegang tas punggungnya dengan tangan kanannya saja sejak tadi. Satu menit kemudian, Kevin sudah masuk sedikit di dalam area sekolah.

“Sialan nih anak masih cuek.” Andien marah.

Karena jengkel, Andien menghentikan mobilnya, lalu turun untuk menghampiri Kevin untuk memarahinya.

“Heeiii…dipercepat dong jalannya.” Andien berkata cukup keras ke Kevin.

Kevin masih terus berjalan pelan dan cuek. Terlihat beberapa siswa dan siswi berlari untuk masuk ke dalam area sekolah takut pintu gerbangnya ditutup. Keempat satpam pintu gerbang melihat Andien marah-marah di depan mobil pribadinya, tapi mereka berempat diam saja dengan tampang serius.

“Heeii….apa loe nggak denger gue ngomong apa?” Andien berkata cukup keras lagi ke Kevin.

Satu menit kemudian, karena sekarang pukul 7 tepat, keempat satpam segera menutup pintu gerbang sekolah.

“Loh? Kok ditutup, pak?” Andien kelabakan nanya ke empat satpam yang sedang menutup pintu gerbang.

“Maaf, mbak. Sudah jam 7.” Seorang satpam menjawabnya dengan serius.

“Ya ampuunn. Sialann!” Andien menggerutu.

Andien berdiri di depan mobilnya dengan satu tangan kirinya bersendekap dan tangan kanannya menutupi wajahnya. Andien menundukkan wajahnya. Sisil dan Mila segera turun dari mobil pribadinya Andien untuk mendekatinya.

“Ya ampuun. Kita terlambat ya Ndien?” Sisil nanya dengan sangat terkejut di sampingnya.

“Iya.” Andien menjawabnya singkat masih menutupi dan menundukkan wajahnya.

“Gara-gara cowok sialan tadi!” Andien menyambungnya dengan membuka dan menghadapkan wajahnya ke depan.

“Loe sih baca novel mulu dari tadi.” Mila menyalahkan Sisil.

“Maafin gue ya Ndien. Mana gue tahu, Mil.” Sisil menjawabnya dengan penuh penyesalan.

“Kalau gue tahu, gue pasti bantu Andien. Suer, Mil.” Sisil menambahkan.

“Udah…udah. Nggak apa-apa. Turun satu peringkat di semester terakhir ini aja diributin.”

Pintu gerbang sekolah sudah terkunci. Tidak beberapa lama kemudian, seorang guru perempuan BK mendekati mereka bertiga dengan tampang serius. Seorang satpam membuka kuncinya setelah diperintahkannya. Guru BK tersebut segera menemui Andien dan dua sahabat karibnya sedikit di luar pintu gerbang sekolah.

“Nama lengkap kamu?” Guru BK nanya ke Andien dengan serius sambil siap mencatat di selembar kertas dengan ballpointnya.

“Andien Sukma Ayu.” Andien menjawabnya agak pelan.

“Kamu pimpinan redaksi majalah sekolah ya?” Guru BK nanya setelah mengamat-amatinya.

“Iya bener, bu.” Andien menjawabnya.

Guru BK itu menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bersendekap. Andien sedikit menunduk.

“Sepertinya dua teman kamu itu anggota kamu juga ya?” Guru BK nanya.

“Iya bener, bu.” Andien menjawabnya singkat masih sedikit menundukkan wajahnya.

“Mereka berdua teman sekelas saya juga, bu.” Andien menyambung.

“Siapa nama lengkap mereka berdua?” Guru BK nanya dengan serius.

“Sisil Ambarwati dan Mila Rosalina.” Andien menjawabnya.

“Cepat kamu parkir mobilmu dulu. Setelah itu, kamu dan dua teman kamu itu masuk ke dalam ruang BK menghadap saya sendiri.” Guru BK itu memberitahukannya dengan serius.

“Baik, bu.” Andien mematuhinya.

Setelah itu, guru BK itu segera masuk ke dalam area sekolah menuju ke dalam ruang kerjanya di samping ruang Kepala Sekolah.

“Ndien, maafin gue ya.” Mila berkata dengan memeluknya.

“Maafin gue juga ya Ndien.” Sisil berkata dengan memeluknya juga.

“Udah. Nggak apa-apa. Kalian berdua jangan cengeng ya. Ini juga emang salah gue sendiri.” Andien menjawabnya dengan melepaskan diri dari pelukannya Sisil dan Mila secara perlahan-lahan, lalu masuk ke dalam mobilnya.

“Kalian jalan berdua ke ruang BK ya, genks. Gue parkir dulu di tempat parkir mobil gue ini.” Andien berpesan ke kedua sahabat karibnya itu.

“Iya, Ndien.” Mila dan Sisil menjawabnya pelan bersamaan.

Andien segera menyetir pelan-pelan mobil pribadinya masuk ke dalam area sekolah menuju ke parkir khusus mobil. Sisil dan Mila juga berjalan beriringan menuju ke ruang BK. Dalam perjalanan ke ruang BK, Mila menceritakan kronologis kejadiannya tadi. Andien, Mila, dan Sisil masih belum tahu apalagi kenal kalau cowok tadi adalah Kevin Dieter Alaric, siswa kelas 3.IPS.2.

Andien, Sisil, dan Mila langsung disidang sekitar 15 menit di dalam ruang BK oleh seorang guru perempuan BK tadi. Setelah itu, guru itu segera memutuskan sebuah sanksi hukuman bagi Andien sebagai penanggungjawab keterlambatan, yaitu diturunkan satu peringkat di semester ini. Andien menerimanya dengan menandatanganinya di selembar kertas. Itulah sanksi hukuman bagi semua siswa dan siswi yang terlambat. Bagi staf guru dan staf Tata Usaha, ada sanksi hukumannya sendiri, yaitu diturunkan satu tingkat pangkat golongannya di semester itu juga. Bagi Kepala Sekolah, ada sanksi sendiri, membayar uang sebesar Rp. 10 juta. Semua itu dilakukan agar semua elemen sekolah melakukan yang terbaik di sekolah.

Sekolahnya Andien itu memang sangat luar biasa dalam menegakkan kedisiplinan. Tak aneh, sekolah tersebut selalu berprestasi di tingkat lokal dan nasional bahkan internasional serta masuk tiga besar SMAN favorit se-Jakarta.

Setelah menerima keputusan dari guru BK, Andien dan dua sahabat karibnya segera ke kelasnya. Dalam perjalanan menuju ke kelasnya, Wali Kelasnya, bu Endah, sengaja menemui Andien dan dua sahabat karibnya yang sejak tadi mendapat kabar dari seorang siswinya.

“Andien! Tunggu!” bu Endah memanggilnya cukup keras setelah keluar dari ruang guru.

Andien, Sisil, dan Mila berhenti. Bu Endah mendekati mereka bertiga.

“Kalian bertiga terlambat ya?” bu Endah nanya.

“Iya, bu.” Andien menjawabnya.

“Ini gara-gara seorang cowok yang sialan banget, bu.” Mila menambahkan dengan perasaan jengkel.

“Mila, udah dong.” Andien mencegah Mila marah-marah.

“Seorang cowok brengsek? Siapa yang kamu maksud, Mil?” Bu Endah nanya ke Mila.

“Enggak kok, bu. Nggak apa-apa, bu.” Andien menutupinya.

“Oke kalau begitu.” Bu Endah menganggapnya tidak ada apa-apa.

“Kalian bertiga turun satu peringkat di semester ini?” Bu Endah nanya ke mereka bertiga dengan serius.

Andien dan dua sahabat karibnya itu diam sejenak.

“Kok kalian bertiga diam?” Bu Endah nanya.

“Saya yang bertanggungjawab atas keterlambatannya Sisil dan Mila, bu. Jadi, saya yang turun satu peringkat di semester terakhir ini.” Andien menjawabnya dengan menunduk.

“Oh begitu.” Bu Endah menjawabnya singkat.

“Kenapa kamu kok bisa terlambat, Ndien?” Bu Endah nanya.

“Tadi ada sedikit salah paham dengan seorang cowok di depan mobil saya saat saya mau masuk pintu gerbang sekolah, bu.” Andien menjawabnya sedikit berterus terang.

“Lain kali hati-hati ya Ndien.” Bu Endah berpesan ke Andien.

“Memang ada aja siswa dan siswi yang tidak mau mengalah seperti itu, Ndien.” Bu Endah menambahkan.

“Iya, bu.” Andien menjawabnya singkat dengan mengangguk.

“Ngomong-ngomong, mulai hari ini wawancarai pemenang pertama lomba menulis cerpen ya Ndien. Ambil data-data dan fotonya satu lembar saja.” Bu Endah menyuruh.

Andien terdiam.

“Oh iya, jangan lupa tayangkan cerpennya juga di majalah sekolah buat bulan depan ya Ndien.” Bu Endah menambahkan.

“Baik, bu.” Andien menyanggupinya meskipun dengan berat hati, karena hal ini adalah tugasnya.

Setelah itu, bu Endah segera kembali ke ruang guru, karena bu Endah mengajar di pelajaran kedua setelah istirahat pertama usai. Andien dan dua sahabatnya segera melanjutkan perjalanan ke kelasnya kembali. Selama dalam perjalanan menuju ke kelas, Mila marah-marah kepada cowok tadi, Kevin Dieter Alaric. Sisil berusaha meredam kemarahannya Mila. Sejak tadi Andien masih diam dan murung memikirkan lagi kekalahan cerpennya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel