Dua Minggu Kemudian
Hari ini adalah tepat dua minggu lomba menulis cerpen sekolah dengan tema ‘Cinta’ diadakan. Artinya, hari ini atau di jam istirahat kedua sekarang ini adalah batas terakhir siswa dan siswi kelas 1 hingga 3 yang ikut lomba itu mengumpulkan satu cerpen terbaiknya di loker Sekretariat Majalah Sekolah untuk selanjutnya dikumpulkan di lokernya bu Endah, Wali Kelasnya Andien. Pihak sekolah, terutama para guru Bahasa dan Sastra Indonesia, merasa sangat penting mengadakan lomba tersebut guna melatih siswa dan siswinya mencintai bahasa Indonesia dan menulis imajinatif tanpa plagiat karya orang lain. Pemenang pertama akan mendapatkan sebuah piala dan sejumlah hadiah dari Dewan Juri serta wajib ditampilkan di sebuah rubrik majalah sekolah di kolom cerpenis terbaik sekolah tahun ini, sedangkan pemenang kedua dan ketiga hanya mendapatkan beberapa hadiah menarik saja.
Andien sudah mengumpulkan satu cerpen terbaiknya ketika lomba menulis itu baru berjalan dua hari. Setiap malam, Bu Endah bersama tiga juri memeriksa cerpen-cerpen yang sudah terkumpul. Dewan Juri menilai cerpen berdasarkan tiga aspek, yaitu ketepatan EYD (Ejaan Yang Disempurnakan), judul yang bagus, dan isi yang menarik. Apabila Dewan Juri menemukan sebuah cerpen yang di dalamnya terdapat kesalahan-kesalahan EYDnya atau penulisannya tidak benar sebanyak lebih dari 10, maka Dewan Juri berhak untuk mendiskualifikasinya meskipun judul dan isinya sangat menarik. Hal ini untuk menekankan siswa dan siswi menguasai dan mengerti bahasa Indonesia dengan baik sekali.
Sejak malam pertama hingga malam kemarin sehari menjelang lomba menulis cerpen sekolah berakhir, cerpennya Andien masih yang terbaik di sekolah. Andien sangat senang mendengar kabar itu melalui WA langsung setiap malam dari bu Endah, Wali Kelasnya. Cerpen Andien murni hasil karyanya sendiri dan tanpa ada suap ke Dewan Juri untuk memastikannya terbaik. Andien dan kedua orang tuanya pun ikut senang dengan kabar itu. Demikian juga dengan Bik Imah dan Mang Parjo, mereka berdua juga ikut senang. Kedua pembantu keluarganya itu telah diberi hadiah dari Andien sebelum dia mengirimkan satu cerpen terbaiknya.
Jam istirahat kedua telah usai. Sebanyak 100 cerpen sudah terkumpul di loker Sekretariat Majalah Sekolah. Mila dan Sisil segera membawanya ke loker Wali Kelasnya. Sejak hari pertama hingga hari terakhir ini, sudah sebanyak 950 cerpen terkumpul di bu Endah. Angka itu bertambah 250 cerpen dibandingkan lomba tahun lalu. Hal ini menandakan bahwa siswa dan siswi SMA satu sekolah dengan Mila dan Sisil tersebut semakin banyak yang antusias mengikutinya.
Nanti malam, bu Endah bersama Dewan Juri memutuskan, siapa juara pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah tahun ini dan besok akan diumumkan oleh bu Endah di jam istirahat pertama. Nanti malam, bu Endah bersama Dewan Juri sengaja tidak memberitahukan kepada siapapun juara pertama hingga ketiga lomba menulis cerpen sekolah, termasuk Andien.
Malam ini pukul 8, Andien mengajak kedua sahabat karibnya, Sisil dan Mila, makan malam di resto favoritnya, lalu membelikan mereka berdua barang-barang belanjaan masing-masing sebesar Rp 1 juta. Seperti biasanya, Andien menjemput Sisil terlebih dahulu setelahnya Mila, karena letak rumah Sisil lebih dekat dengan rumah Andien. Kedua sahabat karibnya itu lagi-lagi mendapatkan perlakuan istimewanya. Sejak kelas 2 SMA, Mila dan Sisil tanpa ketahuan Andien sudah saling bersepakat untuk tidak ikut lomba menulis cerpen sekolah lagi demi mendapatkan makan-makan enak dan lain-lain dari Pimpinan Redaksinya itu dan agar tetap bersahabat karib dengannya.
Di dalam sebuah resto favoritnya Andien…
“Gue ikut seneeenggg sekali loe bisa mempertahankan quality cerpen loe, Ndien!” Ucap Sisil ke Andien.
“Selamat ya Ndien untuk ketiga kalinya ini!” Sisil berdiri dari kursinya dengan menjulurkan tangan kanannya untuk menyalaminya. Setelah itu, Sisil memeluknya, lalu mencium pipi kanan dan pipi kirinya.
“Gue jugaa, Ndieenn! Selamat ya, sobat terbaik gue!” Mila ikutan Sisil. Mila juga menyalami Andien dan memeluknya, lalu mencium pipi kanan dan pipi kirinya.
“Terima kasih banyak ya kesayangan-kesayangan gue!” Andien menjawab dengan tersenyum bahagia.
Sebenarnya, satu jam sebelum mengajak keluar Sisil dan Mila seperti saat ini, Andien telah menelpon Wali Kelasnya untuk menanyakan pemenang pertama lomba menulis cerpen sekolah. Namun, Wali Kelasnya itu sudah bersepakat dengan tiga juri lainnya untuk tidak memberitahukan dulu kepada siapapun. Karena Andien merasa sangat optimis dirinya masih peringkat pertama, Andien pun pergi keluar merayakannya bersama Mila dan Sisil seperti saat ini. Andien belum memberitahukannya ke Mila dan Sisil. Tentang besarnya uang yang akan dikeluarkannya, Andien sangat tidak mempedulikannya, karena Andien tinggal bilang ke Mamanya.
“Berkat kalian berdua yang selalu support gue, gue bisa juara pertama lagi!” Sambung Andien dengan wajah sangat bahagia.
“Gimana, Mil?” Sisil nanya ke Mila.
“Gimana apa’an?” Mila balik nanya ke Sisil.
“Usul ke bu Endah!” Sisil menjawabnya singkat sambil sesekali melihat dua orang pelayan sedang menaruh pesanan-pesanan di atas meja.
“Ngadain lomba menulis cerpen sekolah setiap sebulan sekali mulai bulan depan kan?” Mila nanya ke Sisil untuk memastikannya.
“Yupz! Jawaban loe seratus persen betul, Mila Rosalina!” Sisil menjawabnya.
“Haha…gue gitu loh, Sisil Ambarwati!” Mila berkata dengan senangnya. Sisil, Andien, dan juga Mila tertawa-tawa.
“Resepnya apa’an sih cerpen loe kok bisa quality cerpen loe, Andien Sukma Ayu?” Mila nanya sambil mulai makan bersama Andien dan Sisil.
“Quality apa’an maksud loe, Mil?” Andien balik nanya ke Mila dengan tersenyum. Sisil juga tersenyum mendengarnya.
“Quality ya quality maksud gue, seperti yang diucapin Sisil tadi loh, Ndien!” Mila menjawabnya tidak jelas. Sisil dan Andien menertawakannya.
“Kok kalian berdua malah ketawain gue sih? Salah gue di mana?” Mila nanya kebingungan.
“Quality itu ada dua macam, Mila Rosalina!” Andien menjawabnya.
“Terus apa’an?” Mila nanya lagi, karena masih belum tahu.
“Quality bagus atau Good Quality atau High Qualitu dan Quality jelek atau Bad Quality atau Low Quality, sobat terbaik gue!” Andien menjelaskan kepadanya, lalu tersenyum.
“Tadi omongan Sisil tuh maksudnya Good Quality atau High Quality ya?” Mila nanya lagi ke Andien untuk memastikannya.
“Iya, betul!” Andien menjawabnya singkat.
“Ampun dech gue ke mana aja selama ini!” Mila ngomong sendiri dengan menepuk jidatnya.
“Makan doang selama ini!” Sisil menyeletuk.
“Iya kali!” Mila menjawab.
“Emang iya!” Sisil membalasnya. Andien, Sisil, dan Mila tertawa-tawa.
Setelah makan-makan, Andien segera mengantarkan Mila dan Sisil ke sebuah Mall untuk berbelanja. Di sebuah tempat di dalam Mall tanpa sepengetahuan Mila dan Sisil, Andien memergoki Rio dari belakang tengah bermesraan dengan seorang cewek saat Andien keluar sebentar menemani Mila dan Sisil berbelanja. Mereka berdua sempat berciuman meski hanya sebentar.
“Oh....begitu ya kelakuan loe malam ini!” Andien berkata cukup keras dengan berkacak pinggang di hadapan Rio dan seorang cewek. “Nggak nyangka gue!”
“Sayang??” Rio sangat kaget melihat Andien tiba-tiba muncul di hadapannya.
“Apa loe panggil sayang-sayang?” Andien sangat marah.
Andien hendak menampar Rio, tapi Rio berhasil memegang tangan pacarnya itu yang akan menampar pipinya. Seorang cewek bernama Rina dari SMA tetangga dan masih setingkat dengan mereka berdua segera lari tanpa sepatah katapun. Kini, hanya Andien dan Rio.
“Siapa tuh cewek?”
Andien membentaknya dan tangan kanannya masih dipegangnya.
“Sayang, dia itu bukan apa-apa gue! Suer!” Rio menjawabnya masih memegang tangan kanannya Andien.
“Lepasin tangan gue sekarang!”
“Bukan apa-apa?” Andien nanya dengan marah.
Rio melepas tangan kanannya Andien perlahan.
“Kenapa loe bisa berduaan dengan dia? Pake ciuman segala?” Andien nanya masih marah ke Rio.
“Berciuman dengan dia? Kapan?” Rio beralasan.
“Cowok gombal loe!” Andien berkata dengan mendorong dadanya Rio hingga Rio terduduk di tempat duduknya lagi bersama Rina tadi.
Andien sekarang pergi menuju ke Mila dan Sisil yang masih berbelanja. Rio mengejarnya.
“Sayang, tungguuu!”
“Sayang, dengerin duluuu!”
“Sayang, cewek tadi itu keponakan gue sendiri!” Rio mencoba menjelaskan kepada Andien dengan memegang salah satu lengannya.
“Lepasin lengan gue!”
“Pergi loe sana sama cewek tadi!”
“Gue nggak mau loe ganggu gue malam ini!” Andien menjawab dengan marah dan melepaskan lengannya dari genggaman Rio.
Andien segera pergi menuju ke kedua sahabat karibnya yang barusan selesai berbelanja, sedangkan Rio pergi meninggalkan Andien untuk kembali ke Rina yang sudah menunggunya di dekat mobilnya di lantai bawah. Rio tidak berani mendekati Andien lagi yang saat ini sedang marah kepadanya. Andien tidak menceritakan permasalahan ini kepada Sisil dan Mila. Di malam hari menjelang tidur, Rio menelpon Andien untuk berusaha menjelaskan dan meminta maaf kepadanya. Dengan rayuan-rayuan, hati Andien luluh kembali. Kali ini, Andien memaafkan Rio dengan catatan tidak mengulangi perbuatannya lagi. Rio pun berjanji kepada Andien.
