Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Membanggakan Diri

Keesokan paginya pukul 05.30 WIB, Andien sudah berseragam sekolah. Rapi dan wangi. Tidak seperti biasanya, jaket kain cewek perpaduan warna hitam dan putihnya hanya diikat di pinggangnya. Andien tampak bersemangat dan bahagia sekali. Kali ini Andien tidak sarapan di rumah, tapi di sebuah resto di luar sudah janjian dengan Sisil dan Mila semalam pukul setengah sebelas menjelang tidur setelah menyelesaikan satu cerpennya lagi.

“Neng Andien mau ke mana? Pagi-pagi bener udah rapi jali sih, Neng?” Seorang pembantu setia keluarganya, Bik Imah, bertanya kepadanya ketika mengetahui Andien menuruni tangga.

“Berangkat sekolah dong, Bik.” Andien menjawabnya dengan berjalan mendekati Bik Imah yang sedang menyiapkan sarapan di meja makan untuk Pak Yana sekeluarga. “Emang mau ke mana lagi selain ke sekolah, Bik?”

“Ini masih jam berapa, Neng? Kan masuk sekolah jam tujuh, Neng!” Bik Imah nanya sambil menata letak piring, sendok, garpu, pisau, dan tisu.

“Mama sama Papa masih ganti pakaian di kamar atuh, Neng! Barusan selesai mandi.” Sambung Bik Imah.

“Mana masakan-masakan Bibik pesenan Mama ada yang belum mateng, Neng!” Sambung Bik Imah lagi dengan sesekali melihat Andien sedang makan satu potong ayam goreng tidak terlalu besar kesukaannya.

“Biarin aja Mama sama Papa masih ganti baju di kamar, Bik.” Andien menjawab setelah meminum dua teguk air mineral dari sebuah galon air mineral kemasan ulang di dekat meja makan.

“Andien seneng bangeeettt rasanya, Bik!”

“Emang seneng banget kenapa, Neng?” Bik Imah nanya sambil pergi ke dapur untuk mengambil sayur sop yang sudah ditaruh di sebuah piring besar. Andien mengikuti kedua langkah kaki Bik Imah ke dapur yang berdekatan dengan ruang makan.

“Andien mau ikut lomba menulis cerpen lagi di sekolah, Bik!” Andien memberitahukan ke Bik Imah dengan membantunya mengambil satu wadah kerupuk udang untuk sarapan.

“Kok bisa begitu, Neng Andien? Kan lombanya baru mulai, iya kan Neng?” Bik Imah nanya dengan menaruh sayur sop ke meja makan, lalu diikuti Andien menaruh satu kerupuk udang di dekatnya.

“Andien seratus persen optimis menang, Bik!” Andien mengatakannya dengan bangga sekali.

“Bagus kalau begitu, Neng. Udah yakin menang sebelum diputuskan juri.” Bik Imah ikut senang mendengarnya.

Tidak beberapa lama kemudian, Sisil dan Mila berbarengan memvideo call Andien. Andien segera duduk di kursi dekat dengan meja makan untuk ngobrol-ngobrol dengan kedua sahabat karibnya itu. Bik Imah terlihat mondar-mandir menaruh nasi, ikan-ikan goreng, tempe dan tahu goreng, sambel goreng, telur-telur ceplok, telur-telur asin, dan irisan-irisan timun dengan daun-daun kemangi.

“Haaii…kalian berdua!” Andien menyapa.

“Ndien, jadi nggak kita sarapan bersama di luar?” Sisil nanya.

“Gimana, Ndien?” Mila nanya.

“Iya, jadi dong, kesayangan-kesayangan gue!” Andien menjawab.

“Gue udah siap-siap berangkat nih!” Sisil berkata.

“Gue jugaaaa, Andieenn!” Mila tidak sabaran.

“Iya ini gue segera berangkat! Ditunggu ya, genks!” Setelah menjawab, Andien segera mematikan HPnya.

Sekarang pukul 05.45 WIB. Bik Imah masih sibuk menata letak-letak sebakul nasi dan lain-lainnya di atas meja makan yang seperempat jam lagi acara sarapan keluarga dimulai.

“Bik, ini hadiah dari Andien!” Andien menggenggamkan uang Rp.300 ribu ke telapak kanannya Bik Imah. Mama dan Papanya melihatnya dari depan pintu kamarnya. Kedua orang tuanya itu berhenti sambil mengamat-amati Andien dan saling berbisik.

“Buat apa’an nih, Neng?” Bik Imah nanya. Bik Imah sangat terkejut bercampur senang ternyata Andien memberikan uang tiga lembar uang seratus ribu kepadanya.

“Hadiah kemenangan cerpen Andien nanti, Bik!”

“Sekarang Andien berangkat sekolah dulu ya Bik. Udah ditunggu temen-temen Andien di luar.”

Andien pamit ke Bik Imah dengan menyalaminya, lalu mencium pipi kanan dan pipi kirinya.

“Makasih banyak ya Neng Andien. Bibik doain menang beneran, Neng.”

“Enggak sarapan dulu, Neng?” Bik Imah nanya.

“Enggak, Bik!”

“Assalamu’alaikum, Bik!”

Baru beberapa langkah meninggalkan Bik Imah, Bu Lina memanggilnya.

“Sayang, kamu mau ke mana sekarang?” Bu Lina bertanya.

“Eh, Mama.” Andien menoleh ke belakang. Andien menghentikan kedua kakinya melangkah. “Andien mau ke sekolah, Ma.” Andien sekarang memutar badan menghadap ke Mamanya di depannya.

“Kamu nggak sarapan dulu, sayang? Ini masih jam berapa?” Mamanya nanya dengan perasaan kuatir.

“Enggak, Ma. Andien sarapan di luar bersama temen-temen Andien, Ma.”

“Sarapan di mana, sayang?” Mamanya nanya.

“Di resto, Ma.”

“Udah telat nih, Ma, Pa! Andien berangkat ya Ma, Pa!”

Andien pamit ke kedua orang tuanya dengan mencium telapak tangannya masing-masing dan mencium pipi kanan dan pipi kirinya juga masing-masing. Pak Yana terdiam. Pak Yana dan Bu Lina sudah tahu Andien memberikan sejumlah uang ke Bik Imah tadi. Mereka berdua masih diam.

“Tumben masih jam 6 udah ke sekolah, Neng?” Mang Parjo nanya sambil mencuci mobil pribadinya Andien.

“Iya, Mang. Andien ada perlu dengan temen-temen Andien di luar. Sekarang Andien ditunggu.” Andien menjawabnya dengan membuka pintu mobilnya.

“Bentar dulu atuh, Neng. Mang Parjo cuci dulu mobilnya, Neng. Kan masih kotor, Neng.” Mang Parjo berusaha mencegahnya.

“Entar aja kalo Andien udah pulang sekolah, Mang. Andien sekarang terburu-buru, Mang.” Andien menjawab dengan menutup pintu mobilnya.

Tidak beberapa lama kemudian, Andien segera berangkat. Si sopir pribadi merangkap sebagai tukang taman dan kebersihan itu pun menyaksikannya tanpa berkata sepatah katapun. Mang Parjo beralih mencuci mobilnya Pak Yana yang selalu dipakainya ke kantor.

Andien menjemput Sisil terlebih dahulu sebelum menjemput Mila, karena letak rumahnya Sisil lebih dekat dengan rumahnya Andien. Mereka bertiga sarapan di sebuah resto kesukaannya Andien di tepi sebuah jalan raya. Sekarang mereka bertiga sudah berada di dalam resto itu yang open menyediakan menu sarapan, makan siang, dan makan malam khasnya berbeda dengan resto lainnya. Resto itu termasuk resto favorit kalangan orang berkantong tebal.

“Waahh…kalo lomba cerpen di sekolah diadain setiap bulan sekali dan Andien menang, kita berdua pasti makan enak terus ya Sil.” Mila berkata dengan hepinya sambil menunggu pesanan-pesanan datang. Andien tersenyum-senyum.

“Iya, betul.” Sisil setuju dengan pendapatnya Mila.

“Gimana kalo nanti gue ama Mila usul ke Bu Endah?” Sisil nanya ke Mila.

“Ide yang bagus tuh, Sil.” Mila menjawabnya. Andien menyaksikan kedua sahabat karibnya itu dengan tersenyum-senyum.

“Udah gue dug aloe pasti setuju!” Sisil berkata setengah bercanda.

“Dasar loe, Sil!” Mila menyeletuk.

“Emang!!” Andien menambah dengan tersenyum-senyum lagi. Mereka bertiga pun tertawa-tawa sambil melihat dua orang pelayan menaruh pesanan-pesanan ke atas meja.

“Apa cerpen-cerpen loe udah selesai semua, Ndien?” Sisil nanya ke Andien.

“Tinggal dua cerpen lagi.” Andien menjawab.

“Loe nggak ikutan, Mil?” Sisil nanya ke Mila yang lebih dulu makan setelah dua pelayan selesai menaruh pesanan-pesanannya di hadapannya.

“Gue pasti KO ama Andien, Sil!” Mila menjawabnya sambil makan. “Loe gimana sih?”

“Betul nggak, Sil?” Mila nanya ke Sisil yang duduk di sampingnya.

“Betul sekali, Mila.” Sisil menjawab sambil mulai makan setelah dua pelayan barusan selesai menaruh pesanan-pesanannya di hadapannya.

“Loe ikutan nggak, Sil?” Mila nanya ke Sisil.

Barusan dua pelayan selesai menaruh pesanan-pesanannya Andien di atas meja di hadapannya. Andien pun mulai menikmatinya.

“Enggak!” Sisil menjawabnya singkat.

“Kenapa, Sil?” Mila nanya lagi seperti sangat ingin tahu.

“Nanya terus sih loe.” Sisil menjawabnya singkat dengan setengah marah dan setengah bercanda.

“Kan gue pengin tahu aja alesan loe nggak ikutan.” Mila mendesak Sisil. “Jawab dong, Sil!”

“Alesan gue sama seperti loe, Milaa!” Sisil menjawab. Mereka bertiga segera tertawa-tawa.

“Udah puas loe dengan jawaban gue, Mil?” Sisil nanya ke Mila.

“Belum habis makanan-makanan gue nih, Sil. Jadi, gue belum puas!” Mila menjawabnya dengan bercanda.

“Udah gue duga sebelumnya.” Sisil menyahut dengan bercanda juga. Mereka bertiga pun tertawa-tawa.

Di saat mereka bertiga akan selesai makan, pacarnya Andien, Rio, menelponnya. Rio ingin menjemput Andien berangkat bareng ke sekolah. Andien menolaknya. Setelah selesai makan-makan dan dibayar Andien di kasirnya, mereka bertiga segera menuju ke sekolah.

Di jam istirahat pertama, Andien memimpin rapat bersama anggota-anggota redaksinya di ruang Sekretariat Majalah Sekolah mengenai lomba menulis cerpen sekolah yang kali ini temanya tentang cinta. Andien membagi tugas kepada masing-masing anggotanya. Setelah rapat selesai, semua dinding kelas pun tertempel tentang lomba menulis cerpen sekolah ini. Sebelum rapat, Andien sudah membangga-banggakan diri di hadapan teman-teman sekelasnya dan berjanji akan menraktir mereka jika Andien berhasil menjadi juara pertama lagi. Mulai besok hingga dua minggu ke depan, siswa dan siswi kelas 1 sampai 3 yang ikut lomba menulis cerpen ini harus memasukkan cerpennya ke dalam sebuah loker khusus di dalam ruang Sekretariat Majalah Sekolah. Di jam istirahat kedua setiap hari efektif sekolah, berapapun cerpen yang terkumpul akan dimasukkan ke dalam loker miliknya Bu Endah sebagai perwakilan jurinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel