3
Brugh!!
Tubuh Arlena jatuh ketanah, rasanya dia sangat lemah karena mengatakan itu pada Azra. "Entah apa yang akan Azra pikirkan tentang aku, tapi ini semua demi kebaikan kamu, Azra!" Tangis Arlena pecah dihadapan Kei.
Kei adalah teman Ayahnya Arlena, mereka kenal cukup dekat dan Arlena meminta Kei untuk menjadi pemain dalam sandiwara ini. "Kenapa kamu menangisi dia? Len, bukannya kamu yang menginginkan ini?" tanya Kei heran dengan sikap Arlena.
"Kei, aku hanya sedih saja. Azra adalah pria yang sudah lama aku suka, dan dia sangat baik padaku. Tapi aku harus melakukan ini karena ini juga demi kesuksesan Azra." Arlena mengusap air matanya yang semakin deras mengalir.
"Kamu bodoh, Len. Kenapa kamu gak bilang pada Azra kalau semua ini karena permintaan Mamanya dan kamu juga terpaksa karena kamu mengalami kebangkrutan." Kei mengatakan itu seolah semuanya mudah bagi Kei.
"Aku mau mengatakan itu tapi Azra tidak akan belajar sungguh-sungguh di sana, aku mau dia sukses tanpa memikirkan aku," sahut Arlena.
"Kamu terlalu naif, dia laki-laki. Tidak ada kamu maka dia akan mencari wanita lain di luar sana," papar Kei.
"Setidaknya pilihan Azra setara dengan kehidupan Azra, bukan seperti aku yang tidak punya apa-apa." Arlena merendahkan diri karena dia merasa Azra tidak akan setara dengannya.
"Terserah!" Kei pergi dari sana meninggalkan Arlena yang masih menangis meratapi nasibnya.
**
Tok
Tok
Liana masuk kedalam kamar Azra, semenjak kejadian itu. Azra tidak semangat bahkan Azra juga jarang keluar dari kamarnya. Terkadang Liana merasa kasihan pada putranya itu karena setelah ditinggalkan Arlena, setengah kehidupan Azra juga hilang.
Liana hampir saja ingin mengatakan kalau semua itu adalah ulahnya tapi Liana berpikir kembali karena tujuannya hampir tercapai.
"Azra, makanlah kamu sudah 3 hari tidak makan," bujuk Liana sambil membawa makanan untuk Azra.
"Aku tidak ingin makan," jawab Azra.
"Kamu mau sampai kapan terpuruk seperti ini? Lena sudah bahagia sekarang," ucap Liana.
"Ma, aku siap ke luar negeri. Kalau bisa besok aku ingin pergi ke sana," ujar Azra.
Liana tersenyum karena akhirnya Azra memutuskan untuk pergi ke luar negeri, padahal sebelumnya Azra menolak untuk pergi. Tapi tetap saja Liana merasa Azra seperti bukan Azra yang Liana kenal, karena Azra putranya itu dulunya sangat murah senyum dan begitu hangat. Tapi sekarang Azra terlihat dingin dan tidak bersemangat.
"Aku harap diluar negeri sana Azra bisa kembali menemukan semangat hidupnya," gumam Liana.
KEESOKAN HARINYA.
Azra akan berangkat ke luar negeri, keluarga Azra sudah berada di bandara untuk mengantar kepergian putranya belajar di negri orang.
Sedangkan disisi lain saat ini ada Arlena yang tengah menatap kepergian Azra, Arlena begitu bahagia karena akhirnya Azra mau keluar negeri.
Arlena yakin kalau suatu saat nanti Azra pasti akan sukses dan Arlena akan bahagia saat waktunya tiba.
"Bahagia di sana Azra, aku akan selalu merindukan kamu." Arlena membatin sambil menatap Azra dari kejauhan.
"Kamu hati-hati di sana, Azra." Tangan Mandra (Papanya Azra) mengusap pelan kepala Azra.
Azra mengangguk, "Jaga diri kalian juga," ucap Azra.
Liana memeluk erat putranya itu, sebenarnya berat bagi Liana untuk melepaskan putranya itu. Tapi suatu saat nanti mereka juga akan bangga karena Azra di sana akan diajarkan cara mengelola keuangan dan cara mengelola perusahaan. Azra adalah seorang pewaris tunggal di keluarga Mandragara, jadi sudah seharusnya Azra melakukan itu.
"Mama akan sangat merindukan kamu," ucap Liana.
**
Arlena sedang melakukan interview kerja di perusahaan Mandragara group, dengan diantar oleh Liana sudah pasti Arlena di terima. Mereka melakukan Interview untuk mencarikan posisi apa yang pantas untuk Arlena, karena kecerdasan Arlena perusahaan menerima Arlena sebagai karyawan.
Liana sudah sangat yakin kalau Arlena akan diterima karena Arlena sangat pintar, hanya saja Liana ragu di ijasah Arlena yang hanya lulusan sekolah menengah atas. Liana senang karena Arlena diterima di sana, bahkan Liana juga berharap Arlena juga bisa kuliah seperti Azra.
"Kamu harus bahagia Arlena," ucap Liana.
"Terima kasih, Tante." Arlena tak henti-hentinya berterima kasih pada Liana karena sudah membantunya.
"Sekarang kamu kerja dan maaf karena hanya ini saja yang mampu aku berikan padamu." Liana mengatakan itu sambil mengusap lembut kepala Arlena.
"Ini sudah lebih dari cukup, aku bahagia kalau Azra sukses di sana."
**
5 TAHUN KEMUDIAN ...
16 SEPTEMBER 2025
Seorang wanita cantik berusia 23 tahun itu tengah menunggu jemputan karena akan pulang, Arlena yang dahulu anak remaja sekarang sudah beranjak dewasa. 5 tahun sudah berlalu dan banyak sekali hal yang merubah Arlena.
Sebuah motor berhenti tepat dihadapan Arlena yang masih menenteng tas di tangannya.
"Kenapa lama sekali?" tanya Arlena.
"Aku baru pulang kuliah," jawab Liam.
Arlena kesal karena adiknya itu baru menjemputnya padahal Arlena sekarang harus bekerja lagi, Arlena bekerja di perusahaan Mandragara group dan malamnya Arlena bekerja di salah satu cafe. Semua ini Arlena lakukan agar orang tuanya tidak merasa kesusahan, biaya kuliah Liam sangat besar. Walaupun Liam dan Yesan bekerja tapi tetap saja tidak mencukupi untuk membayar biaya kuliah Liam.
"Kamu mau pulang dulu?" tanya Liam.
"Gak perlu, antar aku ke cafe saja. Aku sudah terlambat."
Liam mengendarai motornya membelah jalanan ibu kota yang cukup ramai, setengah jam berlalu Arlena sampai ke cafe tempat dia bekerja freelance.
Arlena masuk kedalam tanpa mengatakan apa pun pada adiknya itu, sedangkan Liam tidak perduli karena memang begitulah sikap adik kakak itu.
"Maaf bos, saya terlambat." Arlena menundukkan kepalanya karena merasa salah.
"Sekarang kamu ganti baju dan langsung layani tamu diruang VIP," titah bosnya.
"Baiklah," ucap Arlena.
Arlena masuk ke salah satu ruangan VIP yang tadi bosnya minta, Arlena membawa satu nampan berisi minuman. Sepertinya sekarang sedang ada acara dan dari yang Arlena dengar kalau ruangan ini tengah merayakan acara kepulangan seseorang dari luar negeri.
"Permisi tuan, ada yang bisa saya bantu?" tanya Arlena pada orang-orang yang ada di sana.
Tapi ada seseorang yang membuat Arlena terkejut saat melihatnya, "Kamu," gumam Arlena menatap pada pria yang ada dihadapannya itu.
Rasa sakit masa lalu rasanya terasa lagi, Arlena ingin sekali menghilang dari sana. Tapi dia tidak mungkin pergi karena sekarang pria itu sudah terlanjur menatapnya.
"Aku akan segera kembali," ujar Arlena.
