Pustaka
Bahasa Indonesia

Cinta lama bertemu lagi

11.0K · Ongoing
LeeNayri
11
Bab
19
View
9.0
Rating

Ringkasan

Perpisahan membuat dua orang menjadi asing. Bukan itu saja tapi perpisahan itu juga menyisakan kebencian di salah satu hati. Begitulah kisah cinta Azra Mandragara dan Arlena selena, beberapa tahun kemudian mereka bertemu lagi. Tapi Azra begitu membenci Arlena, hingga Azra begitu ingin membalas dendam pada Arlena karena dahulu pernah meninggalkan Azra hanya demi pria kaya. Bagaimana kisah mereka? Akankah mereka bisa bersama lagi?

RomansaMantanPengkhianatanBalas DendamCinta PertamaDewasa

1

Dibawah rindangnya pohon terlihat dua remaja yang tengah duduk bersama, kedua remaja itu baru saja lulus sekolah menengah atas. Mereka masih memikirkan universitas mana yang akan mereka pilih nantinya.

"Len, menurutmu bagaimana kalau kita ke luar negeri saja?" tanya Azra memberikan ide.

Arlena menggelengkan kepalanya, "Ke luar negeri? Aku gak mau, aku gak mau jauh dari orang tua aku." Arlena menolak ajakan Azra sang kekasihnya.

"Kenapa? Orang tuamu pasti mengijinkannya," sahut Azra.

"Tidak Azra, aku akan kuliah di sini saja." Arlena kembali membaca buku yang ada di tangannya.

Arlena adalah gadis yang sangat pintar, bahkan semua pelajaran bisa Arlena selesaikan dengan mudah. Sedangkan Azra seperti pria pada umumnya, dia kurang suka belajar tapi Azra adalah seorang pewaris tunggal dari keluarganya.

Azra menatap wajah Arlena yang begitu cantik dan manis, saat ini Azra begitu beruntung karena bisa menjadi kekasih Arlena. Cinta mereka tumbuh sejak mereka masih duduk di bangku sekolah dan mereka sudah merencanakan akan menikah setelah lulus kuliah.

"Baiklah, aku juga akan kuliah di sini." Azra mengatakan itu padahal orang tuanya meminta Azra untuk kuliah di luar negeri.

"Aku akan cari dulu universitas mana yang cocok untuk kita," ucap Arlena.

"Len, aku janji akan terus bersama kamu. Bagaimana pun caranya," ujar Azra.

"Janji?" tanya Arlena.

"Aku janji!" Azra mengatakan itu dengan sungguh-sungguh, seolah cintanya sudah habis untuk Arlena saja.

~

Arlena pulang ke rumahnya ternyata rumahnya begitu ramai, Arlena penasaran tanpa lama dia langsung masuk dan ternyata saat ini Ayahnya pingsan, sedangkan Ibunya menangis disamping tubuh Ayahnya.

Buku yang Arlena pegang di tangannya langsung terjatuh saat melihat pemandangan itu, Arlena mendekat pada Ibunya yang masih terus menangis.

"Ada apa Bu? Ayah kenapa?" tanya Arlena.

Ibunya memeluk Arlena dengan erat, walaupun Arlena tidak tau apa yang sedang terjadi tapi dia berusaha untuk menguatkan Ibunya yang sangat rapuh itu.

Arlena menatap pada kondisi rumahnya yang terlihat berantakan bahkan barang-barangnya pun sudah tidak ada.

"Keluarga kalian bangkrut!" Bibi Arlena yang bernama Weni mengatakan itu dengan nada ketus.

"Benarkah?" tanya Arlena pada Ibunya.

Di saat seperti ini Arlena tidak boleh lemah karena kalau Arlena lemah maka siapa yang akan menguatkan Ibu dan Ayahnya.

"Sudahlah Bu, jangan nangis lagi." Arlena mengemasi pakaian orang tuanya yang berserakan dilantai.

"Rumah ini sudah disita dan kamu sudah gak punya tempat tinggal, aku gak mau menanggung beban keluarga kalian!" Weni angkat tangan padahal selama Ayah Arlena masih punya segalanya, biaya keluarga Weni ditanggung oleh Ayahnya Arlena.

"Maka aku gak akan membiarkan keluarga aku menginjakkan kaki ke rumah Bibi!" Arlena tersulut emosi karena ucapan Bibinya itu.

"Kamu pikir hidup tanpa uang itu mudah?" tanya Weni.

"Kenapa? Bibi menyangka karena bangkrut kami akan minta bantuan Bibi? Gak mungkin! Orang munafik seperti Bibi ini tidak mungkin bisa bersama keluarga aku," sahut Arlena.

"Arlena!" bentak Weni.

"Kenapa? Marah? Harusnya aku yang marah karena Bibi selalu meminta uang pada kami tapi setelah kami bangkrut, Bibi meninggalkan kami. Dasar tidak tau berterima kasih!" sahut Arlena.

"Jaga ucapan mu, Lena!" geram Weni.

Ibunya Arlena mendekat dan mencoba menenangkan putrinya itu, pertengkaran itu juga di saksikan oleh adik Arlena yang bernama Liam. Saat ini usia Liam sudah 15 tahun, dia sudah paham pada apa yang sedang terjadi tapi Liam memilih untuk diam sambil menunggu Ayahnya bangun dari pingsannya.

"Lihat Kinar, anak mu itu memang sangat kurang ajar!" teriak Weni.

"Maafkan Arlena, Weni. Dia masih anak-anak mungkin dia tersulut emosi." Kinar Ibunya Arlena meminta maaf karena ucapan Arlena.

Arlena mengambil ponselnya, dia mencari rumah sewa yang murah dan dekat dari sana. Arlena menemukan sebuah rumah dan menyewanya, Arlena hanya tinggal menunggu Ayahnya bangun dari pingsan setelah itu mereka akan pindah ke sana.

Lama menunggu akhirnya Yesan (Ayahnya Arlena) bangun juga, Yesan merasa sangat bersalah pada istri dan kedua anaknya karena harus menerima kebangkrutan. Padahal perusahaannya masih berkembang hanya saja entah kenapa tiba-tiba perusahaan itu mengalami kebangkrutan.

"Baiklah sekarang Ayahmu sudah bangun, aku akan pulang dan jangan ganggu aku lagi!" ketus Weni yang langsung pergi dari sana.

Yesan bangun dari tempatnya, tanpa ragu dia langsung berlari mengejar Weni padahal Yesan baru saja bangun dari pingsannya. Yesan memohon pada Weni agar Weni mau menolongnya, hidup tanpa sepeser uang akan sangat sulit di kota itu.

"Bantulah aku, Weni." Tangan Yesan sampai memohon kepada Weni.

"Aku tidak sudi!" teriak Weni.

"Weni, tolong keluarga aku. Saat ini mereka butuh uang, pinjamkan aku uang berapa pun asal bisa untuk kami mencari tempat. Aku akan bekerja dengan giat untuk membayarnya," sahut Yesan masih memohon pada Weni.

"Aku tidak punya uang, lagi pula kalau pun aku pinjamkan uang. Kapan kamu akan mengembalikannya? Miskinlah sendirian aku tidak mau hidup miskin!" Weni meninggalkan mereka tanpa berbelas Kasihan.

Arlena mendekat pada Yesan yang masih memohon sambil bersedih pada Weni, Arlena membantu Ayahnya itu untuk berdiri tegak. Arlena begitu kesal pada Bibinya karena Bibinya menjadi orang yang tidak tau berterima kasih padahal Yesan selalu membantunya.

"Aku bersumpah untuk menghapus keluarga kalian dari kehidupan kami!" geram Arlena.

"Aku tidak peduli!" timbal Weni yang sudah menjauh pergi.

Arlena membantu Ayahnya untuk duduk di sofa, "Sudahlah Ayah, aku sudah sewa rumah. Sekarang kita akan ke sana, jangan meminta belas kasihan dari orang-orang munafik itu!" Arlena mengucapkan itu dengan kesedihan.

"Tapi mereka Keluarga kita, Len." Yesan begitu naif padahal adiknya itu sudah sangat keterlaluan tapi tidak ada sedikit pun rasa benci dari Yesan untuk Weni.

"Sekarang bukan lagi!"

Mereka pergi dari sana menuju ke rumah yang sudah Arlena sewa, Arlena mungkin harus mengubur niatnya berkuliah. Karena dia yakin Ayahnya tidak akan punya Uang untuk membiayai Arlena kuliah. Bukan itu saja Liam juga masih sekolah dan membutuhkan banyak biaya.

"Aku akan bekerja agar ekonomi keluarga aku stabil lagi." Arlena bertekad dengan sungguh-sungguh.

**

"Mama sudah pilihkan universitas yang bagus diluar negeri," sahut Liana (Ibunya Azra)

Azra menatap pada Mamanya, padahal Azra ingin kuliah di sana bersama Arlena. Tapi keluarganya selalu saja meminta Azra untuk kuliah diluar negeri, untuk kali ini Azra harus menolak permintaan Mamanya karena kalau dia ke luar negeri maka dia akan kehilangan Arlena.

"Ma, bisakah aku kuliah disini saja?" tanya Azra.

"Kenapa?" tanya Mamanya dengan bingung, padahal dari awal juga Azra setuju untuk kuliah di luar negeri. "Kemarin kamu setuju?" tambahnya.

"Tapi Arlena kuliah di sini, jadi aku mau di sini bersama dia." Azra mengatakan itu dengan penuh harap agar Mamanya itu setuju.

"Kenapa harus sama Arlena?" tanya Liana.

"Karena aku gak mau kehilangan Arlena!"

Azra pergi dari sana meninggalkan Mamanya yang kesal karena Azra lebih memilih Arlena dari pada permintaan Mamanya.

"Aku akan urus Arlena!" gumam Liana.