Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

4

"Jangan pergi!" Azra menatap pada wanita yang lima tahun lalu menyakitinya itu.

Arlena hanya diam sambil memunggungi Azra dan semua teman-teman Azra. Sedangkan Azra bangkit dari duduknya, mendekat pada Arlena yang terlihat sangat panik saat bertemu dengannya. Tidak Azra sangka kalau wanita yang dulu meninggalkannya demi pria lain sekarang menjadi seorang pelayan cafe.

Azra menatap pada Arlena yang terlihat panik, seringai mengejek terlihat jelas di bibirnya. Arlena hanya bisa menundukkan kepalanya, rasanya Arlena malu pada Azra karena kejadian 5 tahun lalu. Tapi Arlena juga bahagia melihat kalau sekarang Azra sudah sukses.

"Kenapa, sayang?" tanya seorang wanita yang langsung bergelayut manja ditangan Azra.

Arlena tersenyum tipis saat melihat kedekatan antara Azra dan wanita itu, walaupun sakit tapi Arlena harus tegar menerima. Jika semua ini membuat Azra bahagia maka Arlena ikhlas menerimanya.

"Aku tidak menyangka kamu kerja di sini?" tanya Azra mengejek pada Arlena.

"Senang melihat kamu lagi," ucap Arlena dengan tatapan menunduk.

"Dimana suami kamu itu?" tanya Azra.

Arlena menatap pada Azra yang menatapnya dengan tatapan kebencian, Arlena hanya diam tanpa mengatakan sepatah kata pun. Azra kesal dia mendekat pada Arlena membantu Arlena sedikit memundurkan langkahnya karena takut terlalu dekat dengan Azra.

Arlena memberikan buku menu pada Azra berharap Azra bisa melupakan pertanyaan itu.

Tapi sayangnya tangan Arlena digenggam dengan sangat erat oleh Azra, membuat buku menu itu jatuh ke lantai. Arlena meringis kesakitan tapi tidak membuat Azra iba melihatnya. Arlena berusaha untuk melepaskan tangannya tapi semakin Arlena berusaha melepaskan maka Azra juga semakin erat menggenggam tangan Arlena.

"Kamu menyakiti aku!" geram Arlena.

Azra melepaskan tangan Arlena, "Sekarang bawakan makanan yang paling mahal kesini," titah Azra.

Arlena pergi dari sana untuk membawakan apa yang Azra minta, Arlena tidak ingin melihat Azra lagi tapi sayangnya malam ini semua pelayan juga sibuk dengan pekerjaannya.

"Lili, mau bertukar ruangan gak?" tanya Arlena.

"Kenapa? Bukannya kamu bagus di ruang VIP? Lumayan di sana uang tipnya banyak," ujar Lili.

"Ya, tapi aku gak mau ke sana." Arlena sedikit memohon pada Lili agar bertukar ruangan tapi sayangnya Lili tidak mau karena memang sudah tanggung untuk bertukar ruangan sekarang.

"Sudah kamu bekerja saja dengan sepenuh hati, aku akan ke sana." Lili pergi meninggalkan Arlena sendirian.

Hanya helaan nafas yang Arlena lakukan, dia mungkin masih bisa menerima kenyataan kalau Azra sudah punya pacar tapi Arlena tidak bisa menerima kenyataan kalau Azra menatap padanya dengan tatapan benci.

"Apa Azra benci padaku? Tapi aku melakukannya demi dia juga. Apa aku harus mengatakan kalau aku melakukan ini karena permintaan Mamanya? Tidak, Tante Liana begitu banyak membantu aku." Arlena membatin memikirkan semua itu.

Pesanan untuk ruangan VIP sudah siap, Arlena langsung membawa makanan itu menggunakan troli makanan. Arlena masuk lagi ke sana dan melihat Azra yang tengah bermesraan bersama wanita itu.

Arlena menyajikan makanan di meja itu, semua orang kagum karena banyak sekali makanan yang datang. Tanpa lama-lama mereka langsung menyantap makanan itu.

Arlena berpikir Arlena sudah tidak akan dibutuhkan lagi, tapi ternyata Azra memanggilnya dan meminta Arlena untuk duduk di kursi dekat dengannya. Mau tidak mau Arlena menyetujuinya, Azra sepertinya ingin sekali balas dendam pada Arlena bahkan sekarang juga Azra meminta Arlena untuk menyuapinya.

"Suapi aku!" perintah Azra.

Arlena mengambil sebuah piring yang berisi steak diatasnya, Arlena memotong steak itu dan memberikannya pada Azra. Arlena terus menyuapi Azra padahal di samping Azra ada kekasih Azra yang kesal melihat keberadaan Arlena.

Kalau bukan karena pekerjaan, mungkin Arlena sudah ingin menolak tapi kalau menolak maka akan membahayakan pekerjaannya.

Azra mengambil satu piring kue yang ada di atas meja, Azra melemparnya ke lantai hingga makanan itu berserakan. "Ambil dan makan kue itu!" titah Azra.

Arlena terkejut mendengarnya, dia menggeleng menolak permintaan Azra yang menurutnya sangat keterlaluan itu.

"Aku tidak mau," bantah Arlena.

"Makan atau kamu dipecat dari pekerjaan kamu!" Azra mendesak Arlena.

Arlena bangkit dari duduknya, dia mendekat pada kue yang hancur itu. Arlena memungutnya dengan hati-hati karena piringnya pecah, Arlena melihat dengan teliti kue itu karena takutnya pecahan kaca itu menempel di kuenya.

Arlena memakan kue itu tanpa ragu, walaupun Arlena merasa jijik tapi dia paksa untuk menelannya.

"Memang itu yang pantas untukmu, Len!" sahut Azra.

Arlena mendekat pada Azra yang sudah keterlaluan itu. "Kamu dendam padaku? Sampai-sampai kamu melakukan ini? Apa ini yang diajarkan luar negeri padamu? Apa pendidikan membuatmu menjadi orang jahat? Ini bukan Azra yang aku kenal, kamu adalah monster yang begitu jahat. Waktu mengubah Azra menjadi orang jahat ...."

Plak!

Ucapan Arlena terhenti karena Azra menamparnya, Arlena memegang pipinya yang terasa begitu perih dan sakit. Arlena menatap Azra yang penuh dengan amarah bahkan dadanya naik turun saking marahnya.

"Katakan sekali lagi!" bentak Azra.

"Kenapa? Aku benar, kan?" tanya Arlena mendekat pada Azra menantang Azra.

"Setidaknya aku punya harga diri tidak seperti kamu yang matre," ujar Azra.

Azra mengambil dompet dari saku celananya, Azra mengeluarkan semua uang yang ada di dompetnya.

"Berapa banyak uang yang kamu mau?" tanya Azra melemparkan uang itu tepat ke wajah Arlena.

Azra menunjuk Arlena tepat di depan wajah Arlena, "Wanita murahan seperti kamu tidak pantas hidup di dunia ini!"

"Benarkah? Andai kamu tau yang sebenarnya terjadi, aku jamin kamu tidak akan melakukan ini padaku!" geram Arlena.

"Kenapa tidak? Kamu meninggalkan aku hanya demi menikahi pria kaya itu? Sekarang siapa yang menderita? Arlena, gadis yang paling pintar di sekolah sekarang menjadi gadis yang paling tersiksa karena memilih pria kaya. Apa pria itu tidak memperlakukanmu dengan baik? Aku kasihan padaku!"

"Jangan urusi kehidupan aku! Yang lalu sudah berlalu," ucap Arlena.

"Hei! Kenapa kamu begitu pada Azra?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah kekasih Azra.

Gadis itu bernama Reya, dia adalah putri dari seorang pengusaha ternama. Reya baru satu bulan menjalin hubungan dengan Azra, selama di sana Azra tidak tertarik pada wanita mana pun. Sekarang hubungan mereka pun terjadi karena sebuah kesepakatan bisnis antara keluarganya.

"Jangan ikut campur!" teriak Arlena.

Prakk!

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel