Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 9, Luka hati yang tak bertepi

Zahra bergegas kembali ke dalam kamarnya. Bersiap-siap untuk berangkat kerja, karena waktu pun sudah semakin siang. Sia-sia jika harus meladeni kegilaan Luna. Bisa-bisa dia ikut tidak waras seperti Luna, memperebutkan sosok Guntur. Oh, itu tidak ada kamusnya dalam hidup Zahra, merebutkan satu lelaki. Lebih baik dia pendam sendiri segala rasanya, dari pada harus buang-buang energi bertarung dengan Luna.

Zahra sudah siap, dengan mengenakan kemeja biru berlengan pendek dan rok selutut yang senada dengan warna kemeja birunya, membuat Zahra terlihat lebih segar dan sedap dipandang mata.

Tak lupa dia menyemprotkan minyak wangi aroma vanilanya ke seluruh tubuh dan menyelipkan tas kerja di tangannya. Menambah aura kecantikan dari sosok Zahra. Entah kenapa sejak Zahra bekerja bersama Meta di perusahaan kecantikan, dia senang memperindah dirinya. Selain tuntutan pekerjaannya yang notabene bergelut di dunia kecantikan. Faktor hati juga yang mendorong Zahra untuk melakukannya, agar kemelut dalam dalam hidupnya tak terlihat oleh orang lain.

Zahra menuruni anak tangganya, dan melangkah ke arah meja makan. Berniat untuk menyantap makanannya yang telah dia masak.

Di meja makan ternyata sudah ada Luna yang tengah menyuapi Guntur, layaknya bocah 5 tahun yang sedang disuapi ibunya.

Zahra hanya melirik pemandangan penuh romantis itu dengan sudut ekor matanya saja. Tanpa menyapa Guntur dan Luna sebelumnya, Zahra langsung menjatuhkan tubuhnya di atas kursi. Ternyata rasa sakit di hatinya selama ini telah membuat diri Zahra kebal akan sikap Guntur dan Luna yang seperti itu. Seolah-olah Zahra tak menganggap akan keberadaan Luna dan Guntur di sampingnya.

Zahra mengambil nasi dan lauk pauk yang telah dia masak sendiri. Lalu menyantapnya dengan santai.

"Usahakan sehabis pulang kerja jangan kemana-mana! langsung pulang ke rumah!" ucap Guntur yang terdengar serius dan penuh penekanan.

"Memangnya aku sehabis kerja, suka ke mana? ke rumah ,kan?" sahut Zahra datar, yang terus mengunyah makanan tanpa sedikit pun melirik ke arah Guntur.

"Aku tak ingin kamu keluyuran di luaran. Tak baik wanita yang telah bersuami berada di luar berlama-lama," ucap Guntur yang memandang terus ke arah Zahra. Memperhatikan setiap jengkal penampilan Zahra, yang terkesan modis dan cantik. Berbeda di awal-awal pernikahannya yang terlihat cuek dan apa adanya. Dan itu membuat kekhawatiran tersendiri bagi Guntur, takut Zahra akan berpaling darinya.

"Aku di luar sana bekerja, bukan bermain," sahut Zahra yang mulai dongkol akan perkataan Guntur yang terlalu mengintimidasinya.

"Iya, aku tau. Aku hanya sekedar mengingatkanmu saja." Guntur juga mulai merasa jengah akan sikap Zahra yang kian hari semakin berani dan membangkang kepadanya, tapi sebisa mungkin Guntur bersikap tenang, tak ingin dia terlihat posesif pada istri pertamanya itu.

Sedangkan Luna yang sedari tadi mendengarkan perbincangan Zahra dan Guntur, hatinya mulai kesal dan panas, karena Guntur terlihat perhatian kepada Zahra. Dan Luna pun sama seperti Guntur yang memperhatikan penampilan Zahra hari ini, sangat cantik sekali.

"Apa mungkin wanita ini berdandan seperti ini hanya untuk menarik perhatian Mas Guntur saja?" batin Luna cemas.

Luna mengambil segelas air minum untuk Guntur dan mengusap air yang tertinggal di bibir Guntur. Luna terus memanjakan Guntur. Dimulai dari makan sampai minum pun dia yang melayaninya. Luna benar-benar ingin terlihat menjadi istri yang sempurna untuk Guntur. Berbeda dengan Zahra yang terkesan membiarkan Guntur begitu saja.

"Sayang hari ini aku minta izin untuk pergi berbelanja kebutuhan kita sehari-hari. Kalau bukan aku siapa lagi yang akan belanja," sindir Luna kepada Zahra. Sengaja dia mencebikkan bibirnya, terlihat jelas dia sangat memusuhi Zahra. Sedangkan Zahra sendiri menanggapinya biasa-biasa saja.

"Ya, belanjalah, tapi ingat jangan lama-lama! aku tak suka jika istriku berkeliaran di luaran tanpa denganku." Sepertinya Guntur dan Luna kompak menyerang Zahra. Seolah-olah Zahra adalah istri yang berperilaku buruk.

"Ya, baik sayang," sahut Luna dengan senyuman manis yang mengembang di wajahnya. Satu kecupan pun mendarat di pipi Guntur. Dan Guntur membalasnya dengan senyuman manis.

Zahra bukannya tidak melihat, tapi berusaha menghindar untuk melihatnya. Dia tak ingin terperangkap dalam kesakit hatian yang tidak berkesudahan.

Zahra semakin mempercepat menguyah makanannya. Ingin cepat-cepat berlalu dari dua orang yang telah membuat hatinya teriris perih.

"Emmmm, Mas, boleh kan bulan depan aku beli mobil. Aku males bila harus menunggu taxi terus, jika aku keluar rumah," pinta Luna dengan wajahnya yang penuh akting. Memasang wajah memelas dan suara mendayu-dayu mungkin itu trik yang dia gunakan untuk meluluhkan hati seorang Guntur.

"Ya, terserah kamu. Nanti aku transfer uangnya ke rekening kamu." Dengan mudahnya Guntur mengiyakan segala keinginan Luna. Tak tahukah dia, jika ada dua pasang mata yang tertunduk sendu yang siap menangis.

Hati Zahra bagaikan teriris sembilu, mendengar perkataan Guntur seperti itu. Dengan mudahnya Luna mendapatkan segala keinginannya dari Guntur, sedangkan dia harus berjuang bekerja keras untuk memenuhi segala kebutuhan hidupnya.

Apakah ini yang namanya berusaha menjadi suami yang baik dan adil? dan apakah ini yang namanya akan memulai semuanya dari awal? ternyata semuanya dusta dan palsu. Guntur hanya berucap saja tanpa membuktikannya.

Zahra berusaha untuk tidak menangis, walaupun matanya sudah perih dan memanas.

"Aku kuat, aku kuat." Itu yang Zahra katakan dalam hatinya.

"Ah, Mas sayang, kamu memang suami yang paling baik. Aku semakin sayang sama kamu, Mas." Luna memeluk erat tubuh Guntur dan menghujaninya dengan beribu-ribu ciuman di wajah Guntur. Sedangkan sang suami tak menolak dan tak merasa risi akan perlakuan Luna seperti itu. Sama sekali tak menghargai perasaan Zahra yang mungkin akan terluka dengan pemandangan seperti itu.

Sungguh Zahra tak bisa menahan diri lagi. Brakk, dia meletakkan sendok garfu secara keras, memprotes akan ketidak adilan suaminya itu. Menghentikan aktivitas makannya.

Tanpa menoleh lagi Zahra langsung beranjak dan bergegas keluar rumah. Bersamaan dengan itu air matanya tumpah tak bisa dia bendung lagi.

"Zahraa!" teriak Guntur yang menatap aneh akan sikap Zahra yang seperti itu. Akan tetapi Zahra tak menggubrisnya, terus melangkah meninggalkan Guntur dan Luna.

"Sudahlah, mas, biarkan saja dia begitu. Zahra memang istri yang tak sopan," hasut Luna seraya menarik tangan Guntur yang siap beranjak menyusul Zahra.

Guntur mengatur nafasnya, merasa kesal karena keberadaannya diabaikan oleh Zahra. Dia tidak menyadari jika perlakuannya kepada Luna itu menyinggung perasaan Zahra dan menorehkan luka di hatinya.

Sedangkan Zahra mempercepat langkahnya menuju sepeda motor yang ada di garasi mobil. Dia ingin cepat berlalu dari rumah itu. Ingin menangis sekencang mungkin, meluapkan segala kesedihan di hatinya.

Zahra menyalakan sepeda motornya dan melaju meninggalkan rumah Guntur. Sepanjang perjalanan tak henti-hentinya dia menangis, perbincangan Luna dan Guntur masih terngiang di telinganya.

Rasanya Zahra ingin mengakhiri semuanya. Sungguh dia sudah lelah menghadapi segala derita ini.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel