Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 10, Pertemuan yang tak disengaja

Perusahaan di mana dia bekerja sudah tampak di depan mata Zahra. Sepeda motor Zahra melewati deretan mobil yang berbaris rapi di depan gedung kantor Altarna Group.

Ya, begitu ironis terlihat, di saat orang lain keluar masuk di gedung ini menggunakan sebuah mobil. Akan tetapi berbeda dengan Zahra yang hanya menggunakan sepeda motor lamanya.

Sungguh miris bila melihat pemandangan seperti ini. Dan jika saja orang lain tau, bahwa Zahra adalah istri seorang pengusaha yang bernama Guntur Adiguna, maka yang pertama kali mereka katakan pasti adalah 'TIDAK MUNGKIN'. Ya, tidak mungkin istri seorang pengusaha Guntur Adiguna harus bekerja sebagai karyawan biasa dan hanya menggunakan sepeda motor saja sebagai kendaraannya. Bahkan Meta yang sekalipun masih single menggunakan mobil. Sungguh kelayakan hidup Zahra tak sebanding dengan keadaan suaminya yang tak diragukan lagi dalam masalah finansialnya.

Zahra masuk melangkah menuju pintu utama. Berjalan dengan langkah gontai dan wajah yang sembab, sangat terlihat jika Zahra habis menangis.

Ruangan di mana dia bekerja ada di lantai dua, tepatnya di ruang bagian marketing Zahra bekerja.

Terlihat Meta sedang duduk di kursinya sembari menatap layar laptop, namun demi melihat sosok Zahra masuk dan menghampirinya, Meta pun sejenak menghentikan aktivitasnya.

"Pagi-pagi sudah lesu," tanya Zahra yang menatap heran sikap sahabatnya itu.

Zahra tak langsung menjawab pertanyaan Meta. Sengaja dia membirkan sahabatnya itu larut dalam kepenasaran. Zahra menjatuhkan tubuhnya di atas kursi dan meletakkan tasnya di atas meja.

"Kamu bertengkar dengan Guntur?" Meta bertanya lagi. Sengaja dia memutar kursinya menghadap ke arah Zahra.

"Sudah dua hari dengan hari ini, aku sudah resmi menjadi istri pertamanya. Guntur sudah menikah dengan Luna," jawab Zahra serak sembari menyalakan laptopnya, demi menghindari tatapan Meta yang begitu lekat menatapnya. Antara malu dan sedih jika dia harus berbagi kesedihan dengan Meta.

Meta menarik nafasnya, dia mengerti betul akan perasaan Zahra saat ini.

"Dan wanita itu serumah denganmu?" Akhirnya Meta menatap sendu Zahra, tak menyangka jika sahabat baiknya ini akan bernasib seperti itu.

"Iya, Met." Zahra mengangguk pelan bersamaan dengan air matanya yang jatuh di pipinya. Cepat dia mengusap air mata itu, karena Zahra sadar jika keadaannya terlihat sangat menyedihkan bagi siapa pun yang melihatnya termasuk Meta.

"Dasar lelaki brengsek!" Meta geram. Dia menggepalkan kedua tangannya, merutuki sikap Guntur yang tak bisa menjaga perasaan Zahra. Meta merasakan apa yang di rasakan sahabatnya itu. Wanita mana yang tak akan sedih dan marah jika serumah dengan madunya.

"Zahra, maaf jika waktu itu aku pernah memberimu saran yang gila, agar bisa mengambil hati suamimu. Padahal waktu itu kamu pergi saja dari rumahnya, mungkin hatimu tak akan sekacau ini. Sungguh maafkan aku, Zahra." Meta memegang punggung tangan Zahra. Merasa bersalah jika dia pernah memberi saran yang salah, dan tak disangka akhirnya keadaan hati Zahra semakin kacau.

"Itu bukan salahmu, Met, tapi salahku. Aku yang bodoh, aku terlalu lemah." Zahra menggelengkan kepala. Lalu menundukkan wajahnya, menutupi kekacauan di wajahnya.

Sembari tertunduk, Zahra terus menyeka air matanya, yang tak henti-hentinya keluar dari matanya.

"Sekarang kamu jangan terlalu banyak pikiran! Jangan biarkan mereka terus menerus merongrong pikiranmu! kamu masih muda, Zahra." Meta mengusap-ngusap punggung tangan Zahra, memberikan kekuatan dan semangat kepadanya.

Zahra hanya membalas dengan anggukkan kecil kepalanya, yang diikuti dengan senyum manis yang mulai terlihat lagi di wajahnya. Dan itu membuat Meta senang, melihat kembali wajah manis Zahra.

Zahra maupun Meta kemudian memulai segala aktivitasnya, berkutat dengan setumpuk berkas-berkas yang ada di hadapannya. Dan layar laptop menjadi teman yang setia menemani pekerjaan dua wanita yang sudah bersahabat sejak lama itu.

Namun bersamaan dengan itu, derap langkah kaki seseorang menghampiri dua wanita cantik yang tengah sibuk di layar komputernya. Sedangkan Zahra maupun Meta tak menyadari jika ada seseorang yang masuk ke ruangan tersebut, saking sibuknya mereka dalam bekerja.

"Ehemmm, maaf mengganggu." Suara deheman kecil itu membangunkan Zahra dan Meta dalam kosentrasi pekerjaan mereka. Hampir bersamaan Zahra dan Meta mendongakkan kepala dan sejenak menghentikan aktivitas mereka.

Namun alangkah terkejutnya Zahra jika seseorang yang ada di hadapannya adalah sosok yang dia kenal. Ya, yang berdiri di hadapannya adalah Afkan, teman sekolahnya semasa SMP dulu.

Bersamaan dengan itu pula sosok pria yang berpostur tubuh tinggi tegap itu, memandang terkejut ke arah Zahra. Rupanya baik Afkan maupun Zahra sama-sama terkejut akan ketidak sengajaan pertemuan tersebut.

"Afkan," ucap Zahra ragu.

"Zahra," sahut Afkan yang diikuti dengan senyuman manis di wajahnya.

Sedangkan Meta hanya melongo, melihat Afkan dan Zahra saling mengenal, karena yang Meta tau Afkan adalah kepala bagian marketing.

"Kalian saling kenal?" tanya Meta melirik Zahra dan Afkan secara bergantian.

"Ya, Afkan adalah teman sekelasku sewaktu di SMP dulu," sahut Zahra, lalu beranjak dan mendekat ke arah Afkan, bermaksud untuk menyapanya.

"Iya, kami dulu teman satu kelas. Sudah lama aku tak berjumpa dengan Zahra," timpal Afkan sembari melirik ke arah Zahra, dengan lirikan mata yang penuh makna.

"Oh, pantesan." Meta membulatkan mulutnya membentuk huruf O.

"Bagaimana kabarmu? lama sudah tak jumpa." Zahra mengulurkan tangannya, dan Afkan pun menyambut uluran tangan Zahra dengan penuh suka cita.

"Emmm, baik," jawab Afkan singkat yang tak melepas senyumannya.

"Sudah lama kerja di sini?" Zahra sedikit grogi untuk berkata lagi, demi melihat tatapan Afkan yang begitu lekat menatapnya hingga tak berkedip.

"Zahra." ucap Meta dengan nada suara yang setengah berbisik, seraya mencubit pinggang ramping Zahra.

"Apa?" Zahra melirik ke arah Meta, dengan sepasang mata yang berkerut.

"Afkan itu kepala bagian marketing. Dia itu atasan kita. Jangan panggil dia nama! sopan sedikit," bisik Meta di telinga Zahra.

"Apa?" Zahra membelakkan ke dua matanya, terkejut dengan apa yang dibisikkan Meta tersebut.

Zahra sedikit salah tingkah. Antara takut dan malu bercampur menjadi satu.

"Maaf Pak, aku tak sopan," ucap Zahra nyengir kuda seraya membungkukkan tubuhnya ke arah Afkan.

"Tak apa-apa. Biasa saja jangan seperti itu. Anggap saja aku teman sekaligus temanmu." Afkan menanggapi permintaan maaf Zahra biasa-biasa saja, tak dianggap serius. Memang sejak dulu Afkan adalah tipe orang yang ramah dan mudah bergaul dengan siapa saja.

"Sekali lagi aku minta maaf. Aku baru beberapa minggu kerja di sini, maaf." Lagi dan lagi Zahra membungkukkan tubuhnya. Tetap dia tak enak hati atas kelancangan sikapnya.

"Sudah, jangan begitu! Oh, ya ini ada beberapa berkas yang harus kalian selesaikan hari ini juga, karena atasan kita meminta laporannya hari ini juga." Afkan tersenyum geli atas kepolosan wanita bertubuh ramping yang ada di hadapannya itu. Sikapnya semenjak SMP dulu tak pernah berubah, Zahra yang polos dan lugu. Itu yang ada di mata Afkan tentang diri Zahra.

Kemudian Afkan menyerahkan berkas-berkas tersebut ke tangan Zahra, yang diiringi dengan sebuah perkataan yang membuat Zahra tersenyum samar.

"Kalau tidak keberatan nanti kita makan siang bersama, ya," ucap Afkan dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

"Emmm, iya baiklah." Zahra tak kuasa untuk menolaknya, karena famor seorang atasan mampu menghipnotis seseorang untuk menuruti segala keinginannya. Begitu pula dengan Zahra, takut dan malu itulah yang ada di hatinya.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel