Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 8, Siap menabuh genderang

Udara yang dingin membuat Zahra terbangun. Dilihatnya jam sudah menunjukkan pukul setengah empat pagi, berarti sudah waktunya menunaikan solat subuh. Bergegas Zahra masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Selepas itu Zahra langsungkan menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim, solat subuh.

Zahra tak langsung mengenakan pakaian kerjanya, karena waktu masih terlalu pagi. Untuk menunggu waktu berangkat kerja, Zahra tak ingin membuang waktunya. Dia berniat akan memasak. Ya, walaupun itu untuk dirinya sendiri. Menyandang status sebagai seorang istri, tak membuat Zahra harus melayani kebutuhan Guntur. Semenjak hari pertama dia menikah, secara terang-terangan Guntur tak ingin dilayani Zahra. Apalagi sekarang sudah ada Luna istri keduanya, sudah barang tentu segala kebutuhan Guntur, Lunalah yang melayani.

Zahra melangkah ke arah dapur untuk memasak. Namun baru saja langkah kakinya menepi di ruangan dapur. Sungguh telinganya mendengar suara yang membuat diri Zahra seakan sulit bernafas. Suara desahan seorang wanita yang diikuti dengan suara erangan penuh kenikmatan dari seorang lelaki jelas terdengar di telinga Zahra, dan itu berasal dari kamar Luna dan Guntur. Sudah jelas mereka sedang melakukan ritual malam pertama.

Kebetulan sekali kamar mereka sangat berdekatan dengan dapur. Jadi suara apapun itu pasti terdengar jelas ke arah dapur.

Zahra menghela nafas sejenak, berusaha setenang mungkin agar dia bisa menguasai hati dan jiwanya. Walau bagaimanapun juga Zahra tetaplah seorang manusia yang hatinya tak akan sekokoh dan sekuat batu karang. Apalagi sekarang percintaan itu dilakukan seatap dengannya. Sedangkan dirinya sendiri disentuh oleh Guntur baru sekali, dan itu pun dilakukan secara paksaan bukan berlandaskan cinta, seperti halnya Luna dan Guntur.

Zahra mengatur nafasnya, memaksakan diri untuk memasak, walapun tubuhnya terasa lemah dan tak punya kekuatan untuk beraktivitas. Separah inikah pengaruh hati yang terluka?

Kemudian Zahra membuaka lemari pendingin mengeluarkan segala sesuatu yang bisa dimasak. Zahra hanya memasak sedikit , cukup untuk dirinya sendiri.

Suara dari penggorengan mengalahkan suara percintaan Guntur dan Luna. Dan Zahra sangat bersyukur sudah tak mendengar suara-suara yang mengganggu telinganya lagi. Mungkin setengah jam lamanya Zahra mendengar suara desahan sialan itu.

Terdengar gagang pintu terbuka, dan Zahra meyakini itu adalah salah satu dari mereka yang akan keluar dari dalam kamar.

Zahra berusaha tak terpengaruh dengan keadaan dan akan bersikap setenang mungkin di hadapan Guntur atau Luna, tak ingin mereka tahu jika hatinya sedang terluka.

Zahra terus memasak, membolak-balik ikan yang sedang digorengnya. Padahal tak dibolak-balikpun ikan tersebut akan matang. Itu semata-mata drama Zahra saja, menutupi sikapnya agar tidak terlalu kaku.

"Zahra kamu sedang memasak?" Suara lelaki itu terdengar mendekat ke arah Zahra. Sedangkan Zahra tak menoleh sedikit pun ke arah suara tersebut, karena Zahra meyakini pemilik suara itu adalah Guntur. Dia asyik menggoreng saja, tak menggubris pertanyaan Guntur.

"Hemmm, wanginya enak." Lagi dan lagi Guntur berucap.

Guntur tahu, jika Zahra pasti akan bersikap seperti itu. Ya, Zahra belum memaafkannya. Namun bukan namanya Guntur, jika dia harus menyerah dengan sosok Zahra yang berperawakan tinggi dan ramping itu.

Guntur menyibak rambut Zahra dari belakang, berusaha mecium ceruk leher Zahra.

"Kamu mau apa?" Zahra terkejut karena ada sentuhan di kulit lehernya, tak menyangka Guntur akan seberani itu. Langsung dia menghindar dan menjauh dari Guntur.

"Aku hanya ingin dekat denganmu saja," ucap Guntur santai dengan senyum manis yang mengembang di wajahnya. Terlihat raut wajahnya berseri-seri. Ya, mungkin karena hasrat biologisnya sudah terpenuhi bersama Luna. Rambutnya pun terlihat masih basah, menandakan memang benar dia sudah selesai bercinta. Dan itu membuat sukses hati Zahra tercabik-cabik menjadi potongan yang tak utuh lagi.

"Buat apa dekat denganku? bukankah sudah ada istri barumu?" tanya Zahra sinis dan dingin. Sedangkan kedua matanya terus memandang ke arah rambut Guntur yang masih basah.

Zahra membuang kasar wajahnya dan kembali melanjutkan aktivitas menggoreng ikannya.

"Tapi kamu juga istriku. Wajar jika aku ingin dekat denganmu." Guntur berdengus kesal, demi melihat penolakan dari Zahra. Berbeda dengan Luna, yang tanpa didekati terlebih dahulu oleh Guntur pun, dia bisa langsung menyerangnya habis-habisan. Agresif dan liar itulah Luna.

"Ya, aku istri bonekamu," sahut Zahra santai seraya mematikan kompor. Lalu mengambil ikan dari wajan dan menaruhnya di atas piring. Menyibukkan dirinya, apa saja dibersihkan. Bahkan yang tampak sudah bersih pun, Zahra bersihkan. Dan itu bukan tanpa alasan, semata-mata ingin menghindari Guntur saja.

Guntur tersentak dengan perkataan Zahra tersebut. Sejenak Guntur terdiam, tak berceloteh lagi. Hanya tatapannyalah yang begitu tajam menatap Zahra yang sedang bersih-bersih.

Zahra membawa semua yang dia masak ke meja makan. Biar nanti dia memakannya, saat akan berangkat kerja.

Dengan santainya Zahra berjalan melenggang melewati Guntur yang tengah menatap tajam ke arahnya.

"Sudah aku bilang, kita akan memulainya dari awal lagi. Kamu jangan bersikap begitu kepadaku!" Guntur menarik tangan Zahra, namun tangan tersebut menggeliat, menolak Guntur.

"Itu berlaku bagimu tapi tidak untukku." Lagi dan lagi Zahra berkata sinis, seakan Guntur tak tampak lagi di hatinya.

"Cukup Zahra!" Guntur langsung meraih kedua bahu mungil Zahra, dan menatapnya lekat. Hingga hembusan nafas Guntur terasa di wajah Zahra, saking dekatnya jarak antara mereka berdua.

Namun di ambang pintu ada dua sorot mata yang menatap benci akan kedekatan Guntur dan Zahra, yakni tak lain adalah Luna yang sedari tadi memperhatikan mereka.

Sehabis melakukan ritual percintaannya dengan Guntur, Luna langsung tertidur. Dan terbangun di saat Guntur tak ada di sampingnya. Lalu Luna bergegas membersihkan dirinya, dan sehabis itu berniat mencari Guntur. Dan alangkah terkejutnya ketika mendapati Guntur sedang berduaan di dapur dalam jarak yang begitu dekat.

"Mas Guntur!" teriak Luna.

Sontak Guntur dan Zahra pun bersamaan menoleh ke arah suara itu berasal. Zahra langsung melepaskan tangan Guntur dari bahunya. Sedangkan Guntur bersikap biasa-biasa saja, tak memperlihatkan sikap takut kepergok istri keduanya itu. Toh, dia kepala keluarga apa yang harus dia takutkan. Baik Zahra maupun Luna sama-sama ada dalam genggamannya.

"Mas, lapar? aku bikinin nasi goreng, yah," ucap Luna kepada Guntur namun lirikan matanya mengarah kepadan Zahra. Seolah-olah ingin memamerkan kemesraannya kepada Zahra. Rambutnya yang masih basah pun sengaja dia kibas-kibas, menunjukkan kepada madunya itu, jika dia habis bercinta dengan Guntur.

"Aku belum lapar, nanti saja," ucap Guntur.

"Ya, sudah, mas, istirahat lagi. Pasti capek kan? semalam kan kita nggak henti-henti." Rayu Luna.

"Buatkan aku kopi saja," ucap Guntur seraya melangkah ke arah meja makan. Lalu dia duduk memperhatikan kedua istrinya tersebut.

Luna melirik sinis ke arah Zahra. Namun Zahra tak terpengaruh dengan keadaan. Dia sungguh tak peduli dengan keberadaan Luna dan Guntur. Zahra sibuk dengan dunianya sendiri. Meski hatinya sakit, dia akan memendam sindirian.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel