Pustaka
Bahasa Indonesia

Cinta Yang Terbagi

153.0K · Tamat
Intang
120
Bab
1.0K
View
8.0
Rating

Ringkasan

Novel ini menceritakan tentang pernikahan yang tidak didasari oleh cinta, tepatnya karena perjodohan kedua orang tua. Hingga sang suami memutuskan untuk menikah lagi dengan kekasihnya. Namun dengan seiringnya waktu cinta pun hadir dari hati sang suami kepada sang istri pertama. Tapi sanggupkah sang istri pertama hidup di madu, dan mempertahankan mahligai pernikahannya? dan dapatkah sang suami mengembalikan lagi cinta sang istri pertama? Marah, benci, dan cinta hadir dalam novel CINTA TERBAGI

RomansaIstriLove after MarriagePerselingkuhanKeluargaPernikahanTuan Muda

Aku akan menikah lagi

Zahra menatap nanar semangkuk bubur yang ada di hadapannya. Tanpa sedikit pun dia berniat untuk memakannya. Rasa lapar yang sedari tadi dia rasakan, kini hilang lenyap seketika. Perkataan pedas Guntur tadi pagi masih terngiang di telinganya.

"Zahra, sebentar lagi aku akan menikahi Luna. Setuju atau tidaknya dirimu, aku akan tetap menikah dengannya, karena dia wanita yang aku inginkan," ucapnya dengan nada suara yang datar dan raut wajah yang dingin. Sedangkan saat itu Zahra hanya bisa terdiam, tanpa mengeluarkan kata sepatah pun. Hanya isakan tangis yang mewakili perasaannya saat itu, jika dia sedang terluka.

Guntur adalah suami Zahra yang telah menikahinya tiga bulan yang lalu. Pernikahannya atas keinginan kedua orang tuanya. Zahra tidak bisa menolak, hanya bisa pasrah dan manut saja.

Kedua orang tua Zahra dan kedua orang tua Guntur sudah menjalin hubungan dekat sejak lama. Sehingga kedekatan mereka, terjadi kesepakatan perjodohan antara Zahra dan Guntur.

Zahra saat itu percaya saja akan pilihan orang tuanya, pasti akan yang terbaik untuk dirinya. Tanpa semua tau, ternyata Guntur sudah memiliki seorang kekasih yang sudah dia jalin sejak lama.

Kehidupan zahra yang seperti di neraka pun tercipta sejak dia sudah berstatuskan menjadi istri Guntur. Guntur hanya menjadikan Zahra sebagai boneka pernikahannya saja, tanpa menganggap Zahra sebagai istrinya. Tak ada kontak fisik atau tanggung jawab yang diberikan Guntur kepada Zahra.

Bahkan untuk masah materi pun, kerap Guntur tak memenuhinya. Bukan tanpa alasan Zahra masih bertahan dengan Guntur, tak lain adalah kehormatan kedua orang tuanya yang dia junjung tinggi. Tak ingin membuat malu dan mengecewakan hati kedua orang tuanya.

Lama Zahra berada dalam lamunannya. Hingga tanpa Zahra sadari ada pergerakan tangan yang memegang kasar pundaknya dari belakang.

"Apakah kamu melihat berkas-berkasku?" Suara itu membuat Zahra terkejut, karena telah membangunkan dia dari lamunannya. Zahra menengok ke belakang, ternyata pemilik suara itu adalah Guntur, dan seperti biasa wajah dingin dan sinis yang selalu Zahra dapati dari Guntur.

"Aku tidak tahu." Zahra menepis tangan Guntur dari pundaknya. Rasanya dia enggan untuk meladeni perkataan suaminya itu. Zahra belum bisa melupakan perkataan Guntur sewaktu pagi, yang begitu terasa menyesakkan dada. Kemudian membuang kasar wajahnya, kembali menatap semangkuk bubur.

"Aku berbicara denganmu. Apakah kamu tuli?" Bentak Guntur dengan wajahnya yang mulai memerah, demi menahan rasa marah dan emosi kepada Zahra.

"Sudah aku bilang aku tidak tahu," ucap Zahra datar, tanpa sedikit pun menoleh ke arah Guntur. Malah dia asyik menyantap bubur yang sudah terasa dingin di lidahnya. Memang pada kenyataannya semenjak Guntur memperlihatkan sikap tak sukanya kepada Zahra, semenjak itu pula Zahra tak pernah melayani segala kebutuhan suaminya. Lagi pula Guntur pun menolak segala pelayanan yang diberikan Zahra.

"Zahra lihat aku! kamu jangan bersikap kurang ajar! ingat aku ini suamimu." Guntur menarik kasar tangan Zahra. Sehingga mau tidak mau Zahra beranjak dari duduknya, dan kini dia berhadapan langsung dengan Guntur. Tatapan Guntur begitu menghunus, tajam menusuk sampai ke hati.

"Hah, sejak kapan aku punya suami? dan sejak kapan pula kamu menganggapku sebagai istrimu? bukankah aku hanya boneka pernikahanmu saja?" sindir Zahra dengan raut wajah yang tak kalah sinisnya dengan Guntur. Dia menepis cengkraman Guntur dari tangannya.

"Jangan sombong kamu Zahra! di sini kamu bukan siapa-siapa. Kamu ada di rumahku hanya keinginan kedua orang tuaku saja. Entah setan apa yang merasuki hati orang tuaku, hingga menjodohkanku dengan wanita yang tak berguna sepertimu," ejek Guntur yang sikapnya sudah di luar batas kewajaran, dan itu membangunkan amarah Zahra.

Zahra sejenak memejamkan kedua matanya, merasakan penghinaan yang amat luar biasa dari Guntur. Kemudian membuka kembali kedua matanya, bersamaan dengan gemuruh nafasnya yang sudah tak beraturan.

"Cukup kamu selama ini menjadikanku sebagai boneka pernikahanmu. Dan sekarang kamu tak berhak menghinaku, karena kamu bukan siapa-siapa bagiku. Perlu kamu tau, aku pun tak sudi mempunyai suami berhati dingin sepertimu." Ke dua netra Zahra berkaca-kaca. Perlahan air mata itu menerobos keluar dari kedua mata Zahra dan meleleh di pipinya. Sungguh tak kuasa dia menahan rasa sesak di dadanya.

"Dasar wanita tak tahu diri. Jika saja pernikahan ini bukan kemauan orang tuaku, sudah kuceraikan kamu saat ini juga." Guntur mengepalkan kedua tangannya, dan rahangnya pun terlihat mengeras.

"Hahhh, ceraikan saja aku saat ini juga! itu akan lebih baik bagiku, daripada harus hidup bersama dengan lelaki yang tak punya hati sepertimu." Zahra berucap sembari terisak, nafasnya pun terengah-engah, demi rasa sedih yang sudah tak bisa dibendung lagi.

"Ka-kamuuu ...!" hardik Guntur. Dia melayangkan tangannya menampar pipi Zahra yang putih. Bersamaan dengan itu tangan Guntur pun bergetar hebat, raut wajahnya pucat seperti mayat, tak sadar dia telah menampar pipi istrinya. Rasa penyesalan pun datang di hati Guntur.

"Ah, bagaimana kalau dia mengadu kepada orang tuanya dan orang tuaku? bagaimana kalau dia benar-benar minta cerai? habislah aku," sambung batin Guntur cemas. Bagaimana pun juga Zahra adalah menantu kesayangan orang tuanya. Jika saja dia bercerai dengan Zahra, maka tak segan-segan kedua orang tuanya, tak akan menganggap Guntur sebagai anak lagi.

Zahra tak mampu berkata-kata lagi, sudah hilang rasa hormatnya kepada Guntur. Dia memegang pipinya yang terasa sakit. Langsung Zahra berlari ke arah kamar. Terdengar suara pintu dibanting keras.

Sedangkan Guntur hanya berdiri mematung, sembari merasakan tangannya yang terasa panas, saking kerasnya dia menampar pipi Zahra. Dia tak berniat menyusul istrinya, membiarkan Zahra menangis seorang diri.

Guntur langsung mencari berkas-berkas tersebut, ternyata dia lupa menaruhnya. Dia mendapatkannya di tumpukan buku-buku.

Dia melangkah pergi, bergegas kembali masuk ke dalam mobilnya. Sepanjang jalan Guntur memikirkan kejadian tersebut, ada rasa cemas yang hinggap di dalam hatinya. Takut kedua orang tuanya mengetahui perilaku kasarnya kepada Zahra.

Sebenarnya watak Guntur tak sekasar itu, malah semua orang yang dekat dengan dirinya menganggap Guntur mempunyai sikap yang cenderung lembut, hanya saja pernikahan yang tak diinginkannya itu, membuat perilaku Guntur sedikit berubah. Hatinya masih terpaut dengan sosok sang kekasih Luna, yang telah terjalin lama. Sampai saat ini pun Guntur masih berhubungan baik dengan Luna, meskipun itu tanpa sepengetahuan kedua orang tuanya.

Sepeninggal Guntur, Zahra menangis sejadi-jadinya. Meratapi nasib dirinya yang begitu malang, bersuamikan lelaki yang tak pernah menganggapnya sebagai seorang istri. Apalagi sebentar lagi Guntur berencana akan menikah lagi dengan Luna, wanita yang dia cintai.

"Bu, apa yang harus Zahra lakukan? sungguh aku tak sanggup meneruskan lagi pernikahan ini," lirih Zahra sambil terisak.

Zahra menerawang menatap langit-langit kamar, mengingat akan perlakukan kasar Guntur kepadanya. Rasa sakit di pipinya tak sebanding dengan rasa sakit di hatinya, yang ditorehkan Guntur kepadanya. Tak menyangka sosok Guntur yang selalu di bangga-banggakan kedua orang tuanya, karena kelembutan Guntur, tapi nyatanya dia begitu kasar dan kejam kepadanya.