Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 7, Tak peduli

Guntur kembali melangkahkan kakinya menuju ke kamar Zahra yang ada di lantai dua, tanpa memperdulikan Luna yang menatapnya dengan penuh kekesalan.

Brakk, Guntur membuka pintu secara kasar. Rasa marah dan kesalnya kepada Zahra mendorong Guntur untuk menorobos kamar Zahra tanpa permisi.

Terlihat Zahra sedang duduk terpekur di tepi pembaringan.

"Zahra aku ingin berbicara serius denganmu," ucap Guntur yang berjalan menghampiri ke arah Zahra, lalu duduk di sampingnya.

Zahra tak mengubris perkataan Guntur. Dia asyik dengan keterdiamannya.

"Zahra," ucap Guntur yang nada suaranya terdengar lembut. Tak seperti biasanya Guntur berbicara dengan nada suara lembut. Biasanya dia selalu berbicara dengan nada suara yang tinggi. Menghina dan meremehkan Zahra itulah kegemaran Guntur sejak dia menikahinya.

Namun untuk yang kedua kalinya Zahra tak menggubris perkataan Guntur. Entah kekuatan dari mana? Zahra semakin berani membangkang kepada Guntur.

"Zahra tolong dengarkan aku bicara! ini untuk kebaikan kita semua," Guntur meraih tangan Zahra, berharap dia akan mendengarkan perkataannya.

Sentuhan tangan Guntur, seketika memberikan desiran yang menyengat kepada Zahra. Kejadian di waktu malam itu, ternyata memberikan efek trauma kepada Zahra.

Zahra langsung menepis tangan Guntur dan bergeser menjauh darinya.

"Cepat katakan padaku! apa yang ingin kamu bicarakan denganku? aku lelah, aku ingin istirahat," ucap Zahra dengan raut wajah sedikit ketakutan. Dia mengerutkan tubuhnya, dan memalingkan wajahnya dari tatapan Guntur.

Guntur menghela nafasnya, demi melihat perubahan sikap Zahra yang terkesan takut kepadanya. Dia tau Zahra pasti trauma akan perlakuannya di saat malam itu.

"Aku ingin kamu dan Luna hidup bersama di rumah ini secara rukun dan damai. Kita mulai lagi dari awal. Aku berjanji akan berbuat adil kepada kalian berdua. Aku akan akan bertanggung jawab atas hidupmu, Zahra," ucap Guntur yang menatap lekat ke arah wajah Zahra.

Zahra menarik nafasnya, menetralisir kembali kondisi hatinya. Lalu Zahra mulai berucap kembali, tanpa menatap ke arah Guntur. Sengaja dia memandang ke arah depan, tak ingin dia terjebak dalam wajah Guntur yang dapat meluluh lantakkan pertahanannya.

"Apa aku tak salah dengar? kamu menyuruhku hidup berdamai dengan Luna, setelah apa yang kamu lakukan kepadaku." Suara Zahra terdengar bergetar. Rasa sedih, marah dan kesal bercampur aduk menjadi sati dalam hatinya.

"Kita akan mencobanya dari awal. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kalian berdua." Guntur bergeser, mendekat ke arah Zahra. Dia berusaha meraih tangan Zahra, namun lagi dan lagi Zahra menepisnya.

"Iya kamu akan menjadi suami yang baik untuk Luna, tapi bukan untukku. Kamu tidak mencintaiku, kamu hanya mencintai Luna." Zahra menundukkan wajahnya, sembari meremas jari jemarinya. Tak terasa ada setetes air mata yang jatuh dari matanya, meleleh di pipi Zahra. Rasanya tenggorokannya tercekat sakit, bersamaan dengan usainya dia berkata.

"Aku akan berusaha mencintaimu, Zahra. Hanya waktu yang aku perlukan." Guntur menatap nanar wajah yang tertunduk itu. Entah kenapa hatinya merasa iba, melihat Zahra yang tertunduk lemah seperti itu.

"Kamu tak usah belajar mencintaiku! cukup biarkan aku hidup dengan caraku sendiri! Aku tak akan mengganggu hidup kalian." Zahra beberapa kali menyeka air mata yang membasahi pipinya.

Jujur hati Zahra terluka saat suaminya berterus terang akan menikah dengan Luna. Zahra pikir hanya sebatas perlakuan dingin Guntur saja yang dia terima, tapi nyatanya Guntur lebih dari itu. Guntur Menikah dengan Luna adalah titik final dari sakit hati Zahra.

"Tapi setidaknya tetaplah tinggallah bersamaku di rumah ini! agar aku bisa menjagamu." Rasa bersalah dalam diri Guntur semakin besar. Merenggut kesucian Zahra dan kini menikah dengan Luna, benar-benar membuat Guntur diserang rasa bersalah yang sangat amat luar biasa.

Ingin rasanya Guntur memeluk tubuh mungil Zahra dan meminta maaf. Namun rasa egois dan harga dirinya lebih besar dibanding naluri hatinya.

"Iya, untuk sementara waktu aku akan tinggal di sini, tapi suatu saat aku akan pergi. Aku tak ingin menjadi duri dalam pernikahan kalian." Zahra berusaha menahan isak tangisnya, tak ingin Guntur melihat dirinya serapuh itu.

Guntur merebahkan tubuhnya diatas pembaringan. Menatap langit-langit kamar Zahra. Mengingat kembali kejadian di malam tersebut, yang membuat dia terlena dalam rasa bersalahnya.

Dia ingat betul malam itu, Zahra meronta dan menangis, tapi Guntur tak menggubrisnya. Dia terlalu asyik dengan lautan birahinya yang telah memuncak. Memang tak ada yang salah bagi Guntur melakukan itu, karena seorang suami berhak meminta haknya kepada istrinya. Hanya saja yang salah adalah Guntur yang tak mencintai Zahra, akan tetapi menginginkan tubuhnya. Ya, Zahra saat itu ibarat seorang wanita jalang pemuas nafsu birahi Guntur.

"Kembalilah ke kamarmu! aku ingin tidur." Perkataan Zahra mengejutkan Guntur yang tengah melamun. Kemudian Guntur bangkit dari tidurnya.

"Bolehkan sewaktu-waktu aku tidur di sini?" Iseng Guntur bertanya seperti itu. Entah kenapa dia menginginkan kejadian malam itu terulang kembali.

"Hahhh, buat apa kamu tidur di kamarku? tidurlah di kamar wanita yang kamu cintai!" sindir Zahra tajam dan itu sukses membuat Guntur bungkam, tak berkata lagi.

Untuk sesaat tak ada suara yang terdengar. Baik Zahra maupun Guntur sama-sama terdiam. Sibuk dengan pikirannya masing-masing. Namun sesaat kemudian terdengar Guntur berucap kembali.

"Zahra aku suamimu berhak menginginkanmu." Guntur menatap tajam ke arah Zahra. Dan Zahra tak mampu menghindar dari tatapan tajam seorang Guntur. Mungkin jika ini ada dalam situasi Luna, mungkin dia sudah luluh bertekuk lutut mengikuti kemauan Guntur. Namun berbeda dengan Zahra yang masih kuat dalam pertahanannya.

"Sudah aku bilang kamu tidak mencintaiku. Jadi tak akan terjadi apa pun lagi di antara kita." Perkataan Zahra sungguh tajam menusuk hati Guntur.

Zahra sudah jengah berbicara dengan Guntur. Percuma berbicara apa pun jika hati tak mencintai, semua akan terasa palsu dan kesandiwaraan saja yang terlihat.

Zahra beranjak dan melangkah ke arah pintu yang sejak dari tadi dibiarkan terbuka begitu saja.

"Cepatlah pergi dari sini! akan kututup kembali pintunya. Aku lelah, aku mau tidur," ucap Zahra beralasan. Sengaja dia berdiri dekat daun pintu, berharap Guntur mengerti akan maksudnya.

Guntur berdengus kesal, merasa keinginannya diabaikan oleh Zahra. Namun dia pun sadar dan masih waras, tak memaksa Zahra yang tak mau. Bisa-bisa itu akan meruntuhkan harga dirinya.

Dengan malas Guntur pun beranjak dan melangkah ke arah pintu. Namun diambang pintu dia menghentikan langkah kakinya dan menoleh ke arah Zahra, yang tengah berdiri di dekat daun pintu.

"Zahra aku akan memulai lagi dari awal dan kuharap kamu dapat mempertahankan pernikahan ini," Lagi dan lagi Guntur berbicara seperti itu. Hingga Zahra pun bosan mendengarnya.

Ternyata senjata makan tuan. Hati Guntur yang dingin kini menuai akibatnya. Perlahan hati Guntur terbuka untuk Zahra. Namun seperti biasanya hati Guntur tak mau mengakuinya, jika dirinya sudah terbiasa dengan kehadiran Zahra.

"Entahlah," hanya kata singkat yang terucap dari bibir Zahra.

Zahra menatap punggung Guntur yang berlalu dari hadapannya. Ada rasa nyeri dan sesak di dadanya. Menerima kenyataan, jika hari ini dia sudah resmi menyandang istri pertama yang tak dicintai suaminya.

Ya, Zahra maupun Guntur sibuk dengan asumsinya masing-masing. Zahra selalu berasumsi jika Guntur tetap tak mencintainya, sedangkan Guntur berada dalam tingkat keegoisan yang sangat tinggi, selalu menyangkal jika hatinya perlahan terbuka untuk Zahra.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel