Bab 6, Hati yang mulai goyah
Jam Lima sore Zahra baru pulang kerja. Dia masukkan sepeda motornya ke garasi mobil. Terlihat mobil Guntur sudah ada, berarti sang pemiliknya ada di dalam rumah.
"Guntur dan Luna pasti sudah ada di rumah. Malas aku harus berhadapan dengan mereka," gumam Zahra pelan sembari membuang nafas beratnya.
Zahra melangkah ke arah pintu, dan memang pintu tidak terkunci, berarti memang benar mereka sudah ada di dalam rumah. Ya, mungkin mereka sedang bermesraan di dalam kamar. Memikirkannya saja, membuat Zahra muak. Mengingat perlakuan Guntur yang dengan mudahnya menikahi Luna, setelah dia merenggut kesuciannya.
Sengaja Zahra memelankan langkah kakinya, agar tidak terdengar oleh dua orang yang tengah bermadu kasih di dalam kamar.
Sebelum menaiki tangga, Zahra sengaja berbelok ke arah dapur, mengambil air minum di dalam lemari es, karena sungguh dia merasa haus.
Zahra meneguk segelas air minum hingga tandas masuk ke dalam kerongkongannya yang terasa kering. Lalu Dia pun mencomot kue sisa tadi pagi. Namun baru saja Zahra akan mencomot kue untuk yang kedua kalinya, tiba-tiba saja ada suara lelaki yang mengagetkannya. Hingga Zahra menghentikan pergerakan tangannya.
"Kamu sudah pulang?" Suara itu terdengar lemah. Seketika Zahra terlonjak kaget dan langsung menengok ke arah suara itu berasal. Ternyata pemilik suara itu adalah Guntur yang sudah berdiri di belakangnya.
"Sejak kapan dia berdiri di sana?" batin Zahra bertanya-tanya. Dia tak langsung menjawab pertanyaan Guntur. Malah Zahra memandang Guntur dengan tatapan aneh. Guntur terlihat murung, tidak seperti waktu pagi yang terlihat bahagia dan bersemangat.
"Aku bertanya kepadamu, bukan bertanya pada patung," imbuh Guntur yang terlihat kesal, karena pertanyaannya tak lekas dijawab Zahra.
"Eh, i-iya aku baru pulang. Memang masalah buatmu?" jawab Zahra sedikit kaget, karena dia tengah memperhatikan Guntur. Kemudian Zahra pun balik bertanya kepada Guntur dengan ketus.
"Tentu itu masalah buatku, karena kamu istriku. Dan mulai besok kamu harus pulang lebih awal sebelum aku pulang! ingat itu!" Guntur menatap tajam, dengan diikuti langkah kakinya yang mulai mendekat ke arah Zahra.
"Hah, sejak kapan aku kamu anggap istri? bukankah aku ini hanya boneka pernikahan saja? sudah urusi saja istri barumu itu," balas Zahra sinis.
"Zahra kamu juga istriku," Guntur terus melangkah mendekat ke arah Zahra. Sedangkan Zahra mundur beberapa langkah ke belakang, menghindar dari Guntur.
Namun baru saja Guntur sudah selangkah lagi akan memegang kedua bahu mungil Zahra, namun teriakan suara Luna menghentikan pergerakan tangan Guntur.
"Sayang kamu lagi apa di sana?" Teriak Luna sembari berlari ke arah Guntur, dan dengan gesitnya menyambar tangan Guntur. Hingga tubuh Guntur tertarik ke belakang. Genderang permusuhan sudah terlihat dari raut wajah Luna. Rupanya dia sudah menunjukan rasa tidak sukanya kepada Zahra.
"Emmm, aku sedang tidak apa-apa. Aku hanya lapar saja," ucap Guntur dengan sikapnya yang sedikit kikuk, berada di antara dua istrinya, yakni Zahra dan Luna.
Sedangkan Zahra tak mau ambil pusing dengan keberadaan dua orang yang membuat suasana hatinya mulai memanas. Segera dia menjauh dari dua orang tersebut.
"Tunggu sebentar!" cegah Luna dengan nada suara yang cukup tinggi.
"Ada apa?" Zahra membalikkan tubuhnya. Dia membalas tatapan tajam Luna.
Luna melepaskan tangang Guntur dari pegangannya, kemudian melangkah mendekati Zahra.
"Aku lupa bilang kepadamu, jika segala kebutuhan Mas Guntur biar aku yang urus. Kamu tak usah-usah repot mengurusinya." Sorot matanya sungguh memperlihatkan kebencian, tidak ada kesan baik di mata Zahra. Dipertemuannya yang pertama sungguh membuat Zahra muak. Perkataan Luna memang terdengar lembut, tapi maknanya begitu tajam menusuk hati Zahra. Mungkin Luna mengira jika Zahra dan Guntur sengaja sedang berduaan.
"Dengan senang hati aku tak akan repot-repot mengurus suamimu. Dia bukan seleraku," jawab Zahra sinis, seraya melirik ke Guntur. Sedangkan Guntur yang mendengar jawaban Zahra seperti itu, raut wajahnya seketika memerah, menahan amarah yang tak bisa dia luapkan.
Zahra rupanya sudah siap menerima genderang permusuhan dari Luna. Ya, dia akan menghadapi dua orang berwajah malaikat ini tapi berhati iblis demi kehormatan kedua orangtuanya.
"Emmmm, baguslah. Ya, memang Mas Guntur hanya ingin dilayani olehku saja. Iya kan, mas?" Luna mencebikkan bibirnya ke arah Zahra, lalu bergelayut manja di tangan Guntur. Seolah-olah ingin memamerkan kemesraannya dengan Guntur di hadapan Zahra.
"Sudahlah kalian jangan kekanak-kanakkan seperti itu! aku pusing mendengarnya," sahut Guntur melirik Luna dan Zahra bergantian.
"Hanya menjadi istri siri saja bangga," Zahra menyungginggkan senyum sinis di bibirnya. Tak ingin kalah berbicara dengan Luna.
"Zahra Jaga bicaramu! hormatilah Luna! dia juga istriku," bentak Guntur kepada Zahra. Rasanya kepalanya mau pecah menghadapi kedua istrinya tersebut, yang tak ada habisnya beradu mulut.
Luna merasa di atas angin, karena ada pembelaan dari Guntur. Dia melirik Zahra dari sudut ekor matanya, dan tak henti-hentinya bergelayut manja di tangan Guntur.
"Maaf kamu tak berhak menyuruhku untuk menghormati istri barumu itu. Dia ya dia, aku ya aku," jawaban Zahra sungguh luar biasa mantapnya. Hingga membuat dua orang yang ada di hadapannya merasa kesal bukan main.
Kini sikap Zahra telah kembali seperti semula, akan melawan dan berontak jika hatinya tersinggung, yang beberapa hari sempat terlihat peduli tak peduli akan sikap Guntur tersebut.
"Zahraaa! tutup mulutmu!" pekik Guntur dengan suara yang meninggi, hingga menggema di ruangan tersebut. Terlihat nafasnya memburu tak beraturan dengan netra kedua mata yang berapi-api.
"Sudah, mas, sabar. Jangan ladeni dia! apa kataku, cepat singkirkan dia!" bisik Luna di telinga Guntur seraya mengusap-ngusap dada Guntur, berakting memberikan ketenangan kepada diri Guntur.
"Hah, terserah aku. Memang kalian siapa,?" gumam Zahra pelan. Sengaja dia tidak menggubris perkataan Guntur. Rasanya membuang-buang energi saja, meladeni orang yang tak tak behati seperti suaminya tersebut.
Kemudian dengan santainya Zahra melenggang berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya, tanpa memperdulikan dua orang yang menatapnya dari belakang.
"Luna kamu masuk saja dulu ke dalam kamar! aku mau menemui Zahra sebentar." Guntur melepaskan tangan Luna, yang sedari tadi terus bergelayut manja di tangannya, dan bergegas melangkah berjalan ke arah kamar Zahra yang ada di lantai dua.
"Aku ikut, mas," ucap Luna sembari menarik tangan Guntur. Hingga langkah kaki Guntur pun terhenti.
"Sudah kubilang kamu tunggu saja di dalam kamar. Ini urusanku dengan Zahra. Cepat masuklah ke kamar!" seru Guntur dengan suara yang sedikit meninggi. Baru pertama kalinya Guntur berbicara dengan suara seperti itu kepada Luna, karena selama berhubungan dengannya dia selalu memperlakukan Luna dengan sangat lembut. Entah kenapa sejak dia merenggut kesucian Zahra, sikap dan hatinya sedikit berubah kepada Luna. Ya, meskipun Guntur menepati janjinya untuk menikahi Luna.
Luna tertegun, hatinya terasa memanas, mendapat perlakuan seperti itu dari Guntur. Rasa bencinya kepada Zahra semakin menjadi, karena dia meyakini perubahan sikap Guntur adalah karenanya.
