Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 13, Baru saja

Zahra rasanya ingin mencokel ke bola mata Guntur yang menatap tajam menghunus ke arahnya. Seolah-olah dia seorang penjahat yang tengah di introgasi.

Ekspresi wajah Guntur sangat sulit diartikan. Rahang yang kokoh terlihat mengeras. Dadanya naik turun, demi deru nafasnya yang tak beraturan. Bayangan Zahra yang tengah tertawa lepas bersama seorang pria melintas dibenaknya.

Ingin menepis segala pemikiran negatif mengenai Zahra, namun rasa penasarannya yang tinggi mendorong Guntur untuk mengoreknya lebih lanjut.

"Zahra cepat katakan siapa lelaki yang bersamamu sewaktu siang?" Guntur berusaha berbicara dengan nada suara yang rendah, karena dia tau Zahra akan melawan balik jika dirinya berkata kasar.

Sejenak Zahra tertegun, lalu memahami pertanyaan suaminya itu. Sejurus kemudian dia teringat sosok Afkan sahabat di masa kecilnya sekaligus menjadi atasan di tempatnya bekerja. Mungkinkah dia yang menjadi bahan pertanyaan suaminya itu? mungkinkah Guntur melihat dirinya dan Afkan ketika makan siang di restoran? tapi kenapa Guntur harus semarah itu menanyai Zahra? semuanya berkelebatan dalam pemikiran Zahra.

"Dia Afkan sahabat masa kecilku." Zahra melepaskan tangan Guntur yang berada di kedua bahunya, karena bersamaan usai Zahra menjawab, cengkraman tangan Guntur melemah. Kedua netra mata Guntur pun kembali normal, tak seseram sewaktu menanyai Zahra.

Guntur yang mendengar jawaban dari mulut Zahra sendiri. Terlihat guratan wajahnya kembali tenang. Seakan-akan jawaban Zahra bagaikan air yang menyejukkan hatinya. Entah kenapa Guntur merasakan perasaan asing yang hadir dalam hatinya untuk Zahra? yang sebelumnya tak pernah ada, walaupun sekecil butiran debu pun.

"Lalu kenapa dia bisa bersamamu?" Guntur ingin melihat kejujuran di kedua bola mata Zahra. Dia menatap kedua mata teduh Zahra.

"Dia atasanku." Zahra menatap aneh suaminya. Kenapa Guntur menanyainya seintens itu. Bukankah dulu dia tak pernah peduli dengan kehidupan Zahra.

"Atasanmu?" Guntur menautkan kedua alisnya.

"Iya Afkan atasanku, kepala bagian marketing." Zahra memberikan penegasan akan jawabannya.

Wajah Guntur yang beberapa menit sempat terlihat tenang, kini kembali terlihat gusar dan cemas. Ada perasaan takut jika yang bernama Afkan itu akan menggoda Zahra, secara mereka berada dalam satu tempat kerja, yakni bawahan dan atasan.

"Sekarang sudah jelas. Apalagi yang ingin kamu tanyakan?" tanya Zahra ketus. Lalu dia beranjak, merasa jengah karena Guntur tak kunjung berbicara lagi, malah diam membisu. Hanya kedua bola matanya saja yang bergerak melihat apa yang dilakukan Zahra.

Zahra membuka lemari dan mengambil baju. Berencana akan berganti baju di kamar mandi, sekaligus akan langsung membersihkan tubuhnya yang sudah terasa lengket, karena seharian berkutat dengan segudang pekerjaan.

"Tunggu sebentar," Guntur mencekal tangan Zahra.

"Apalagi?" Zahra berusaha melepaskan tangannya dari cekalan tangan Guntur. Namun Guntur semakin mempererat.

"Emmm, berjaga jaraklah sedikit dengannya! jangan terlalu dekat!"

"Memangnya kenapa? dia sahabatku," tanya Zahra, yang akhirnya menyerah tangannya terpegang erat oleh Guntur, tak berontak lagi.

"Dia lelaki dan kamu perempuan. Seharusnya kamu mengerti," jawab Guntur yang terlihat mulai kesal, karena Zahra terus membantah perkataannya.

"Ah, sudahlah aku tak mau berdebat lagi denganmu. Lepaskan!" Zahra berusaha melepaskan tangannya. Tak ingin berlama-lama berhadapan dengan Guntur.

Bukan tanpa alasan Zahra enggan bertatap muka dengan Guntur. Perbincangannya tadi pagi dengan Luna masih terngiang jelas di telinga Zahra. Hingga Zahra muak dan kesal akan ketiadak adilan suaminya itu.

"Baiklah aku tidak akan membahas itu lagi, tapi buatkan aku makanan. Aku lapar." Akhirnya Gunturkan melepaskan tangan Zahra. Raut wajah Guntur terlihat pasrah.

Zahra mengerutkan keningnya, merasa aneh apa yang dia dengar. Apa mungkin Guntur sedang kesambet setan atau hilang ingatan? bukankah dia yang tidak mau dilayani Zahra? kenapa dia mendadak berubah.

"Apa aku tidak salah dengar?" Zahra mendengus dan mencebikkan bibirya.

"Iya aku lapar. Apa kamu tuli?"

"Buatkan saja sama istri kesayanganmu itu. Bukankah dulu kamu tidak ingin dilayani olehku?" sindir Zahra, yang membuat wajah Guntur terlihat masam.

"Jangan ungkit lagi! ayo!" Guntur beranjak dan tanpa meminta pada sang pemilik tubuh, dia langsung menarik tangan Zahra.

"E-eh, lepaskan! aku mau mandi." Zahra berucap sembari menahan langkahnya.

"Nanti saja, aku lapar." Guntur terus menarik tangan Zahra, tanpa memperdulikan penolakan dari istrinya.

"Mau makan saja minta tolong sama aku. Giliran mobil, Luna yang dibeliin." Tanpa sengaja, Zahra menggerutu seperti itu. Meskipun pelan, tapi jelas Guntur pasti mendengarnya, karena jarak di antara mereka sangat berdekatan.

"Jadi kamu juga ingin dibelikan mobil seperti Luna?" Guntur menghentikan langkahnya yang hampir tiba di ambang pintu, dan melirik ke arah Zahra dengan memicingkan sedikit matanya.

"Ah, tidak. Aku tidak akan mengemis padamu. Itu tidak penting bagiku," jawab Zahra tanpa menoleh ke arah Guntur, memandang ke barisan anak besi yang menjadi pagar lantai dua.

Sungguh Zahra merutuki kebodohannya. Kenapa kata-kata itu bisa lolos dari mulutnya.

"Jangan menyindirku! cukup!. Jika kamu menginginkannya, akan kubelikan," sahut Guntur ketus. Tatapannya begitu dingin. Hingga jika saja Zahra bisa menyelami kedua bola mata Guntur, maka seketika tubuh Zahra akan membeku.

"Hahhh, maaf aku tidak membutuhkannya." Zahra sekilas melirik sinis ke arah Guntur, lalu memalingkan kembali wajahnya.

Guntur menarik nafasnya, berusaha meredam amarah, jengah dan bosan dengan keadaan yang selalu memanas antara dirinya dan Zahra. Perlahan dia akan mencoba menjadi suami yang bijaksana untuk Zahra dan Luna.

"Sudahlah, ayo!" Guntur mengibaskan tangannya dan menarik kembali tangan Zahra, membawanya ke arah dapur.

Dengan langkah terpaksa Zahra mengikuti langkah Guntur menuruni anak tangga. Sembari melangkah Zahra terus memandang tangannya yang sedang dipegang Guntur. Entah kenapa tiba-tiba hati Zahra menghangat diperlakukan seperti itu oleh Guntur. Awalnya dia risi, tapi akhirnya dia terbiasa, menikmatinya.

Dan Guntur pun menyadari jika Zahra akhirnya menerima perlakuannya, membiarkan tanggannya terpegang. Segurat senyuman pun terukir di wajah Guntur. Perlahan tapi pasti dia akan menaklukan hati Zahra, melupakan semua luka yang diberikan oleh dirinya.

"Mau makan apa?" tanya Zahra yang terlihat kikuk, karena Guntur tak melepaskan pandangan ke arahnya.

"Terserah apa saja?" jawab Guntur dengan senyuman yang terbingkai di wajahnya.

"Baiklah, aku akan memasak opor ayam dan udang saos tiram saja, mau"? tanya Zahra. Akhirnya saat ini dia membiarkan hatinya berdamai dengan Guntur, tapi entah selanjutnya? hanya sang waktu yang mampu menjawab.

"Ya, apa saja, aku mau." Guntur melepaskan tangan Zahra, membiarkan istri pertamanya itu berkutat di dapur.

Lalu Guntur beranjak, sembari duduk di kursi meja makan, pandangannya tak lepas memperhatikan Zahra. Ada desiran hangat yang menjalar di tubuhnya. Senang dan bahagia itu yang terjadi.

Tanpa Guntur sadari, dia mengagumi kesederhanaan Zahra. Wajah yang cantik alami dan penampilan yang tak berlebihan, membuat Zahra semakin mempesona di matanya. Ah, kenapa dulu dia tak menyadarinya. Bodoh, terlalu dimabukkan oleh cinta Luna.

Guntur tersenyum sendiri, demi hatinya yang sudah berdamai. Pemandangan di depan pun menentramkan hatinya. Namun baru saja Guntur merasakan kenyamanan hatinya. Tanpa dia sadari ada satu kecupan bibir sudah mendarat di pipi kirinya. Dan Guntur sudah hapal betul wangi yang menyeruak di aroma tubuhnya.

"Sayang." Kata itu terbisik di telinganya.

"Luna," bisik hati Guntur. Dia menoleh dan benar apa yang dibisikkan hatinya itu. Seorang Luna sudah memeluknya dari belakang.

Guntur menghela nafasnya. Baru saja dia sedang menikmati hatinya bersama Zahra. Namun kehadiran Luna membuat kenyamanan itu hilang, karena dia tau genderang permusuhan akan segera dimulai.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel