Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 12, Siapa dia?

"Guntur kamu kenapa?" tanya Adnan yang menatap heran ke arah Guntur.

"Lihatlah di belakangmu! menjijikkan!" Guntur berdecak sebal, sedangkan kedua matanya tetap menatap tajam ke arah sepasang insan yang tengah bercanda tertawa lepas.

Adnan menengok ke arah belakang. Terlihat Zahra istrinya Guntur tengah berdua dengan seorang pria yang usianya tak jauh berbeda dengan Zahra.

"Sudah jangan bersikap begitu! bukankah kamu tak mencintai Zahra?"

"Tapi dia tetap istriku. Tak seharusnya dia berduaan dengan pria lain," ucap Guntur yang raut wajahnya terlihat memerah, rahangnya pun mengeras.

"Itu kesempatanmu untuk bisa menceraikannya. Bukankah itu bisa dijadikan alasan yang kuat dihadapan kedua orangtuamu jika Zahra berselingkuh," usul Adnan yang mengambil ponselnya di dalam saku celana, siap memoto Zahra dan Afkan.

Namun baru saja Adnan membalikkan tubuhnya kebelakang dan memposisikan ponselnya di antara kedua tangannya, dan siap menekan tombol kamera. Bersamaan dengan itu Guntur langsung mengambil ponsel milik Adnan dan meletakkannya secara kasar di atas meja, nyaris ponsel Adnan ruksak.

"Aku tak butuh bukti itu. Zahra sudah berduaan dengan pria lain pun, itu sudah cukup bukti untukku. Masalah kedua orangtuaku, biarlah mereka tidak tau menau bagaimana pernikahanku yang sebenarnya."

"Iya, lalu apa yang akan kamu pada istrimu itu." ucap Adnan ketus. Dia tampak tak suka akan sikap sahabatnya itu. Ditolong malah meruksak.

"Biar nanti akan kutanyai dia saja di rumah," ucap Guntur datar dan dingin, dengan ekspresi wajah yang sulit diartikan.

Entah kenapa ada perasaan asing yang menyeruak dalam hatinya. Rasa tidak rela jika Zahra berdekatan dengan pria lain selain dirinya. Padahal sudah jelas dia adalah seorang suami yang sudah menorehkan seribu luka dalam hati Zahra. Membiarkan dan mengabaikan keberadaan istri pertamanya itu. Namun kenapa sekarang dia takut kehilangan Zahra? bukankah Guntur sendiri yang menginginkan jika Zahra menghilang dari kehidupannya? sungguh pergulatan batin yang membuat Guntur frustasi.

Ingin rasanya Guntur menghampiri dan menghajar pria yang tersenyum manis ke arah istrinya itu. Namun sekuat tenaga Guntur bersikap tenang, tak ingin harga dirinya jatuh di hadapan Zahra. Bisa-bisa istri pertamanya itu besar kepala.

***

Sedangkan di seberang sana Zahra dan Afkan terus bercanda ria disela-sela menikmati makanannya masing-masing. Seakan-akan tidak ada lagi orang selain mereka berdua. Menganggap orang-orang yang ada disekitarnya hanyalah patung yang tak bernyawa. Padahal sepasang mata tengah mengawasi mereka, yang kapan pun juga siap memangsanya.

"Ayo, kita kembali lagi ke kantor." Afkan merapikan bajunya, lalu beranjak dan mengulurkan tangannya ke arah Zahra, berharap sahabat kecilnya yang kini menjelma menjadi sosok wanita yang cantik menyambutnya dengan manis. Namun semuanya hanyalah harapan saja, nyatanya Zahra menepis uluran tangan Afkan secara halus.

"Iya, ayo." Zahra beranjak pula dari tempat duduknya. Membiarkan tangan Afkan tak tersambut.

Afkan menghela nafas, menetralisir perasaannya yang sedikit terusik, karena penolakan sikap Zahra yang terkesan halus itu.

Namun Afkan tak mau larut dalam pemikirannya yang terlalu jauh berharap lebih akan sosok Zahra.

"Hei, kenapa diam saja? tadi kamu yang ngajakin. Kenapa sekarang kamu yang diam?" Zahra menghentikan langkahnya dan menengok ke belakang. Aneh dan heran melihat Afkan yang berdiri mematung.

"Eh, i-iya, ayo!" Suara Zahra membangunkannya dari lamunan yang tengah jauh berkelana ke mana-mana.

Zahra menanggapinya dengan senyuman manis yang tak surut dari wajahnya.

Lalu Zahra dan Afkan berjalan beriringan melangkah meninggalkan tempat di mana Guntur sedang mengawasinya, dengan sepasang mata tajam menghunus.

***

Jam lima sore sudah berakhir masa jam kerja Zahra. Dia bergegas keluar meninggalkan kantor gedung Altarna group. Sengaja Zahra langsung pulang ke rumah, menolak ajakan Meta untuk pergi mencuci mata di pusat perbelanjaan ibu kota.

Sepeda motor Zahra melaju memasuki pekarangan rumah Guntur. Terlihat mobil mewah Guntur sudah ada menghiasi depan rumah.

Sebenarnya Zahra enggan malas masuk ke dalam rumah, yang pasti akan berujung bertemu dengan dua orang yang sangat tak ingin dia jumpai, yakni Guntur dan Luna.

Zahra mendorong pelan pintu, agar tak mengeluarkan suara.

Berjalan setengah berjinjit, layaknya seorang maling. Namun seberapun usaha Zahra untuk berjalan tak mengeluarkan suara, tapi sepertinya alam sudah sinkron. Pintu kamar Guntur perlahan terbuka, menandakan si pemilik kamar tersebut akan keluar.

"Hemmm, sudah pulang?" suara deheman kecil tersebut mengejutkan Zahra yang tengah berjalan berjinjit.

Zahra menghentikan langkahnya, dan sejenak memejamkan mata, mengatur hatinya agar tak mengingat kejadian di waktu pagi.

"Iya." Zahra terpaksa menengok ke arah suara itu berasal. Dan terlihat Guntur sudah berdiri dengan melipatkan kedua tangan di depan dadanya.

Entah kenapa jantung Zahra berirama kencang. Manakala bertatapan dengan sepasang mata coklat itu. Aura Guntur menghipnotis mata Zahra. Wajah tampan suaminya, jika lama-lama dipandang akan melenakan siapapun yang melihatnya, termasuk Zahra. Rambut yang masih basah serta pakaian rumah yang sederhana namun keren di tubuh atletis seorang Guntur, membuat Zahra sejenak meneguk salivanya.

Namun semua itu tak berlangsung lama, karena Zahra dapat menguasai dirinya sendiri. Tak ingin masuk dalam kubangan cinta yang tak pasti.

"Sudah kubilang pulanglah sebelum aku pulang." Perkataan Guntur seakan terdengar mengintimidasi Zahra.

Guntur melangkah ke arah Zahra yang berdiri mematung tak bergeming.

"Memangnya tempatku bekerja milik orangtuaku, yang bisa semaunya kapan pulang. Itu sudah ketetapan waktu yang diberikan untuk semua pegawai." Zahra sejenak menatap Guntur yang terus melangkah ke arahnya, lalu memalingkan wajahnya ke arah depan. Sengaja menghindari tatapan tajam seorang Guntur.

"Alasan saja, bukankah kamu senang bisa bebas berkeliaran di luar sana." Guntur mengingat kembali pikirannya yang mengarah ke Zahra dan Afkan yang terlihat begitu akrab di matanya.

"Bukannya kamu seorang pengusaha dan memiliki banyak pegawai? seharusnya kamu lebih mengerti dari pada aku. Sudahlah aku capek, lelah. Aku mau istirahat." Zahra mengibaskan tangannya. Merasa pertanyaan Guntur begitu konyol terdengarnya.

Zahra berniat meninggalkan Guntur. Namun baru beberapa langkah saja Zahra berjalan, Guntur menarik tangannya dan mau tak mau Zahra masuk dalam dekapannya.

"Lepaskan!" Zahra menggeliat dan meronta. Namun Guntur semakin menjadi, dekapannya begitu erat.

"Tak akan kubiarkan kamu seenaknya masuk pergi masuk begitu saja di dalam rumahku." Guntur menarik tangan Zahra agar mengikuti langkahnya.

"Kamu akan bawa aku ke mana? aku bisa berjalan sendiri." Zahra berusaha melepaskan pegangan tangan erat Guntur.

"Diam! ikuti saja aku!" seru Guntur penuh penekanan. Guntur terus menarik tangan Zahra dan membawanya ke sebuah ruangan yang berada di belakang rumahnya.

Guntur membuka pintu dan menyeret Zahra masuk ke dalam, lalu mengunci pintu.

"Kamu mau apa? cepat katakan!" Zahra sedikit ketakutan melihat raut wajah Guntur yang sudah memerah.

"Duduklah di sini! jangan menjauh dariku." Guntur menepuk sisi kirinya, demi melihat Zahra yang terus bergeser ke ujung lemari.

Zahra mengatur nafasnya agar dia bisa bersikap setenang mungkin.

"Cepat katakan! apa yang kamu ingin bicarakan denganku?" entah kenapa bayangan kejadian di malam itu muncul tiba-tiba dibenaknya. Zahra tak bisa membohongi dirinya sendiri, jika dia takut kejadian itu terulang lagi.

"Siapa lelaki itu?" Guntur mencengkram kedua bahu mungil Zahra.

"Apa? le-lelaki?" Zahra membelalakkan kedua matanya. Heran bercampur kaget.

Pertanyaan Guntur seakan otak Zahra pecah. Sikap apa yang ditunjukkan suaminya itu? sungguh Zahra tak mengerti. Terkadang dingin bagaikan bongkahan es, terkadang terkesan pencemburu berat seolah-olah dia mencintai Zahra.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel