Bab 14, kalah bersaing
Guntur melihat gelagat Luna yang siap menabuh genderang dengan Zahra. Meskipun Luna bergelayut manja di tangan Guntur, namun dia tau lirikan mata Luna terarah kepada Zahra yang tengah memasak.
Sorotan kedua bola mata Luna memancarkan kebencian. Terlihat amarahnya tertahan, karena adanya Guntur.
"Mas, kamu lagi apa di sini?" tanya Luna yang sekarang sudah duduk dipangkuan Guntur. Meskipun Guntur kerap ingin melepaskan Luna dari tubuhnya, tapi Luna selalu memaksanya. Seperti tak ingin suaminya beralih ke Zahra.
"Aku di sini mau makan," ucap Guntur tak banyak bicara.
"Oh, sekarang aku bikinin, ya?" Luna beranjak dan siap melangkah ke arah dapur.
"Nggak usah! Zahra sedang memasak buatku. Lebih baik kita tunggu saja. Kita makan bersama," ucap Guntur.
"Apa? memasak untukmu, Mas?" tanya Luna setengah tak percaya apa yang telah didengarnya itu. Telunjuknya bergantian menunjuk Zahra dan Guntur.
"Iya, duduklah kembali! sebentar lagi dia selesai memasak," perintah Guntur penuh penekanan. Hingga mau tidak mau Luna menurutinya, meskipun hatinya dongkol.
Terlihat wajah Luna merenggut, karena dia merasa Zahra telah berani melanggar aturannya. Jika yang berhak melayani Guntur adalah dirinya seorang.
Guntur membiarkan hati Luna kesal. Malas untuk beradu mulut, yang berujung dirinyalah yang selalu tersudutkan.
Sedangkan Zahra yang berada di dapur sedang memasak, hanya bisa melihat dari kejauhan dua orang yang sedang bersitegang tersebut. Dia tau jika Luna pasti akan siap menabuh genderang dengannya. Jika saja dia belum memulai memasak, rasanya ingin berlalu dari tempat itu.
Sembari mengiris cabe, pikiran Zahra jauh mengembara ke mana-mana. Hatinya sedikit miris, menerima kenyataan jika nasib hidupnya harus merasakan hidup dimadu dalam usianya yang masih muda. Harusnya waktu 3 bulan setelah hari pernikahannya, adalah masa-masa bahagianya merasakan cinta dan kasih sayang yang masih mengebu-ngebu. Akan tetapi berbeda dengan Zahra, dalam waktu sesingkat itu dia harus menerima kenyataan pahitnya hidup dimadu. Hingga tak terasa jari telunjuknya teriris pisau.
"Awww." Repleks Zahra mengaduh. Mengeluarkan suara yang sedikit keras, saking sakitnya yang dia rasakan di area jari telunjuknya.
Guntur yang tengah diam sembari memainkan ponselnya, langsung tersentak dan entah kenapa tubuhnya repleks begitu saja? langsung menyadari jika yang tengah mengaduh itu adalah Zahra. Dia segera beranjak menghampiri dan menghampiri Zahra. Tanpa memperdulikan tatapan benci seorang Luna.
"Kamu kenapa?" Guntur langsung meraih jari telunjuk Zahra, dan tanpa dikomando dia langsung menghisap darah Zahra yang menetes keluar dari jari telunjuk.
"E-eh, aku tak apa-apa, lepas!" Zahra sedikit kikuk. Lagi dan lagi Zahra selalu menolak perlakuan Guntur.
"Diamlah! aku akan mengobatinya." Dengan lembut Guntur mengusap jari telunjuk Zahra dengan tangannya. Kemudian dia bergegas mencari obat luka, di kotak p3k yang berada tak jauh dari ruangan dapur.
"Jangan! biar aku sendiri yang mengobati lukaku," larang Zahra sembari antara sadar dan tak sadar dia mencekal tangan Guntur, bertujuan untuk menghentikan langkah suaminya. Untuk baru pertama kalinya Zahra yang memegang tangan suaminya.
"Kenapa kamu keberatan, aku akan mengobati lukamu?" Guntur membalikkan tubuhnya dan memandang tangannya yang tercekal oleh Zahra. Senyum manis mengembang di wajahnya, merasa senang akan sikap istri pertamanya itu. Meskipun dia tau Zahra melakukannya pasti secara tidak sengaja.
"Aku tak mau merepotkanmu. Aku sudah terbiasa melakukan sendiri." Untuk sementara waktu Zahra tak menyadari jika tangannya tengah menyentuh tangan orang yang selama ini sudah membuat hatinya terluka. Akan tetapi untuk beberapa saat kemudian Zahra menyadarinya. Langsung dia melepaskan tangan Guntur dari cekalannya.
"Maaf," imbuh Zahra dengan raut wajah yang memerah, menahan rasa malu yang kini tengah menderanya.
"Maaf? memang apa salahmu?" tanyanya sembari tersenyum di sudut bibirnya. Sikap malu-malu Zahra sukses membuat hati Guntur merasa tergelitik.
Tanpa menunggu jawaban istrinya, Guntur langsung bergegas melangkah mencari obat luka.
Untuk sementara waktu Zahra tertegun dan merutuki kebodohannya. Kenapa dia sampai bisa melakukan hal yang memalukan seperti itu. Meskipun itu adalah suatu hal yang wajar. Dan jujur di dalam hati Zahra yang paling dalam, dia menikmatinya.
Tak lama kemudian Guntur sudah kembali dengan membawa kotak p3k di tangan kanannya.
"Ayo, aku obatin lukamu!" Guntur menarik pelan tangan Zahra. Waktu ke waktu, sepertinya Guntur sudah semakin terbiasa berinteraksi dengan Zahra, dan entah kenapa? seolah-olah itu menjadi kesenangan tersendiri dalam hati Zahra.
"Emmm, tidak, di sini saja." Zahra menahan tangannya, agar tak mengikuti langkah Guntur, karena Zahra sadar jika dia mengikuti Guntur, sama saja mengajak perang kepada sosok wanita yang menatap geram ke arahnya, yang tak lain adalah Luna.
"Tak apa-apa ada aku." Guntur melirik ke arah Luna, lalu kembali menatap Zahra. Dia tau jika penolakan Zahra di karenakan ada sosok istri keduanya yang siap menghadangnya.
"Ti-tidak," tolak Zahra sembari menggerakkan kedua tangannya, menandakan penolakan darinya.
Namun Guntur tak menggubris penolakan Zahra. Dia kembali melangkahkan kakinya sembari menarik pelan tangan Zahra.
Luna melihat suaminya bersama Zahra, dengan keadaan tangan yang saling terpegang. Seketika membuat hatinya panas, seolah-olah ada aliran api dalam tubuhnya. Jika tidak mengingat dia sedang memainkan perannya sebagai istri yang berhati lembut, mungkin saat ini juga dia sudah menjabak rambut Zahra dan melemparnya ke luar. Namun jika hal itu terjadi maka image dirinya akan ternilai buruk di mata Guntur. Sebisa mungkin dia menahan amarahnya, tanpa bisa menjamin rasa emosinya akan meledak kapan saja.
Luna menatap sinis ke arah Zahra, tak ada senyuman maupun sapaan yang terucap.
"Mana jari yang terluka itu? aku obatin." Setelah Guntur mendudukkan Zahra, lalu dia meraih jari telunjuknya, bermaksud untuk memberi obat luka.
"Tak apa-apa aku bisa sendiri." Zahra malah mengambil obat luka tersebut dari tangan Guntur dan berniat mengobati lukanya sendiri.
"Diam! jangan keras kepala!" Guntur meraih kembali jari telunjuk Zahra. Dengan telatennya dia mengobati luka Zahra.
Zahra hanya bisa pasrah saja, diam, membiarkan Guntur melakukan semua itu.
"Manja, hanya luka seperti itu saja sampai merepotkan suami," gerutu Luna sembari mencebikkan bibirnya.
"Siapa yang manja? jangan asal bicara!" bantah Zahra.
"Sudah! kalian ini seperti anak kecil saja, bertengkar masalah sepele," timpal Guntur menengahi perbincangan yang memanas antara kedua istrinya tersebut.
Setelah di olesi obat luka, kemudian luka Zahra di pasang plester. Tak luput pula Guntur meniup-niup jari telunjuk Zahra. Hingga menimbulkan kecemburuan yang amat luar biasa bagi Luna.
"Terima kasih, Mas." Tak sadar Zahra menyebut Guntur dengan sebutan yang patut diucapkan seorang istri kepada suami.
Spontan reaksi Zahra salah tingkah, malu dan kaget bercampur menjadi satu. Sedangkan Guntur terus tersenyum ke arah Zahra. Merasa keberadaan dirinya sebagai suami perlahan diterima dihati Zahra, meskipun itu hanya sebesar butiran debu.
Berbeda dengan Luna yang amarahnya siap meledak saat itu juga, demi melihat kedekatan antara Guntur dan Zahra yang semakin terjalin.
Brakk ... dengan tanpa alasan Luna menggebrak kasar meja. Terlihat raut wajahnya murka dan geram. Tatapannya terarah kepada Zahra. Sorot kebencian dan amarah terlihat jelas dikedua matanya. Lalu dia beranjak, dan berjalan cepat ke arah kamarnya.
Terdengar pintu dibanting keras. Dan itu membuat Zahra terlonjak kaget. Dia mengusap dadanya berkali-kali, dan beristigfar, meminta perlindungan pada sang khalik agar dirinya dijaga dari orang seperti Luna.
Guntur tahu apa yang ada dihati Zahra. Susah baginya untuk menenangkan kedua hati istrinya itu. Terselip rasa penyesalan, kenapa dia sebodoh itu mempermainkan sebuah pernikahan?
