Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 11, Seperti dulu lagi

Jam dua belas siang, Zahra maupun Meta sama-sama sudah bersiap untuk pergi makan siang. Rasanya perut sudah minta untuk segera diisi. Maklum tadi pagi Zahra makan hanya sedikit, terhenti karena sakit hati mendengarkan ocehan mesra Luna kepada Guntur. Hingga hatinya tercabik-cabik menjadi potongan-potongan kecil yang tak utuh lagi.

"Kamu akan makan siang bersama Pak Afkan, kan?" tanya Meta seraya merapikan berkas-berkas yang masih berceceran di atas meja.

"Iya, sepertinya begitu. Habis aku tak bisa menolaknya," jawab Zahra yang raut wajahnya terlihat enggan.

"Tak apa hanya sekedar makan siang saja. Mudah-mudahan Pak Afkan akan jadi jodoh kamu untuk selanjutnya," goda Meta seraya ngedipkan sebelah matanya.

"Huss, ngawur ngomong sembarangan saja. Gimana coba kalau dia dengar. Lagian mana ada lelaki yang mau bekas istri orang." Zahra memukul pelan pundak Meta, kemudia diikuti gelak tawa dari dua orang wanita yang bertubuh ramping itu.

Sejenak Zahra terlupakan akan kemelut hidupnya bersama Guntur, dan sekarang dia merasa kembali lagi ke masa-masa di mana dirinya belum terikat ikatan suci bersama sosok pria yang telah memberinya seribu luka. Kehadiran Meta setidaknya mengembalikan senyum Zahra yang nyaris hilang selama tiga bulan lamanya. Terkubur oleh luka yang diberikan Guntur kepadanya.

"Biarkan dia dengar, agar dia mengejarmu. Emmm, Pak Afkan kan seorang duda. Duda keren." Meta tergelak tawa kencang, nyaris suaranya terdengar sampai keluar, saking kerasnya dia tertawa.

"Issshhh, Metaaa." Zahra mencubit keras pinggang Meta.

Meta berlari ke arah pintu, menghindari cubitan susulan dan Zahra pun mengejarnya, tanpa melihat kanan-kiri, karena tujuannya adalah mengejar dan mencubit Meta. Hingga tanpa dia sadari wajahnya sudah mencium dada bidang seseorang, yang datangnya dari arah sebelah kiri.

"Aduhh." Zahra mengusap keningnya yang terasa nyeri, karena saking kerasnya bertubrukkan dengan dada bidang seseorang tersebut.

"Kalau jalan hati-hati. Untung cium dada aku. Gimana coba kalau cium tembok, bisa hancur wajah cantikmu." Afkan mencoba menggoda Zahra yang saat ini wajahnya merah bak kepiting rebus.

"Ma-maaf," ucap Zahra sembari menahan rasa malunya. Sedangkan Meta yang sudah jauh dari Zahra, yang hanya menjulurkan lidahnya saja, meledek dan menertawakan aksi sembrono Zahra. Dan itu membuat Zahra geram dibuatnya.

"Nggak apa-apa, ayo kita makan siang di luar." Afkan meraih tangan Zahra, namun Zahra menepisnya dengan sopan. Afkan hanya menggelengkan kepalanya saja, demi melihat penolakan dari Zahra.

Rupanya Afkan meskipun baru sehari bertemu dengan Zahra, namun dia tidak merasa canggung, tampak biasa-biasa saja. Maklum semasa sekolah dulu Afkan terbilang teman dekat Zahra. Kedekatan persahabatan mereka bermula dari sipat iseng Afkan yang selalu menggoda Zahra. Saling pukul, saling mengejek, dan saling bertukar cerita tentang keadaan masing-masing, itulah keadaan persahabatan yang mereka jalin. Jadi tak aneh jika sekarang Afkan bersikap tak cangggung lagi kepada Zahra. Dia merasa Zahra adalah Zahranya yang dulu. Teman yang bisa diusilin, teman yang selalu jadi sasaran lemparan batu kerikilnya, sungguh Afkan ingin memperlakukan Zahra seperti dulu lagi.

Namun lain Afkan, lain Zahra. Kini Zahra bersikap tak seperti dulu lagi. Dia terkesan canggung dan menjaga jarak kepada Guntur. Hal ini dikarenakan sakit hatinya atas perlakuan Guntur, hingga dia sedikit trauma jika berteman dengan seorang pria. Menganggap semua pria hanya bisa menghina dan merendahkannya saja.

Akhirnya Zahra dan Afkan berjalan beriringan melangkah ke arah luar gedung kantor Altarna Group.

Zahra hanya mengikuti kemauan Afkan saja, kemana dia akan makan siang.

Zahra naik mobil Afkan, tak enak hati jika dia harus menggunakan kendaraan yang terpisah.

Afkan mengajak Zahra makan siang di restoran jepang langganannya. Mobil pun melaju meninggalkan gedung perkantoran.

Mobil pun menepi di sebuah restoran mewah ala jepang. Afkan dan Zahra turun dari mobil, kemudian melangkah menuju ke dalam restoran.

Zahra memesan menu yang sama dengan Afkan, karena memang Zahra tak tau makanan jepang yang enak di lidah. Membiarkan Afkan untuk yang memilih.

Awalnya tak ada perbincangan di antara Zahra dan Afkan. Hanya dentingan sendok dan garfu saja yang saling bersahutan. Namun sesaat kemudian rupanya Afkan jengah dengan keadaan yang membosankan seperti ini. Dia berniat mengawali perbincangannya dengan Zahra.

"Emmm, Zahra ngomong-ngomong kamu sudah menikah, ya?" tanya Afkan disela-sela kunyahannya.

"Tau dari mana?" Zahra balik bertanya. Sebenarnya dia enggan membicarakan pernikahannya dengan Afkan. Namun Afkan telah mendahuluinya, menanyakan tentang pernikahannya.

"Kan aku baca data kamu, hehehe ...," jawabnya seraya tertawa kecil.

"Oh," sahut Zahra datar. Dia tetap mengunyah makanannya, tak terlalu memperdulikan pertanyaan Afkan.

"Dengan siapa?" Afkan mulai tertarik tentang kehidupan Zahra yang telah belasan tahun menghilang dari hidupnya.

"Dengan oranglah, masa dengan alien." Zahra sengaja mengajak bercanda Afkan, agar tidak terlalu serius membicarakan hal pribadinya itu.

"Dikira menikah sama alien. Habis nikah nggak undang-undang sih." Gelak tawa pun terdengar renyah antara Zahra dan Afkan. Sama-sama saling bercanda. Bernostalgia di masa kanak-kanak belasan tahun lamanya, yang sempat ditelan oleh waktu dan usia.

"Sedangkan Pak Afkan sendiri sudah menikah belum?" tanya Zahra yang sudah menuntaskan aktivitas makannya, lalu meneguk minuman yang sudah tersedia di hadapannya. Zahra pura-pura tak tau tentang status Afkan yang sekarang.

Afkan menghela nafas sejenak, lalu menatap Zahra dengan kedua sorot matanya yang terlihat sendu. Seakan-akan ada kesedihan di balik sorotan mata tersebut.

"Aku sudah menikah, tapi istriku meninggal karena kecelakaan." Terdengar suara Afkan serak, seperti sedang menahan tangis.

"Maaf, pak." Zahra merasa bersalah telah membangkitkan kesedihan di hati Afkan. Terlihat jelas jika Afkan bersedih.

"Nggak apa-apa itu sudah takdir hidupku. Hemmm, di luar jam kerja jangan panggil aku 'Pak' ya! cukup di dalam kantor saja kamu memanggilku seperti itu." Kini terlihat kembali senyum manis di wajah Afkan, karena dia sengaja mengalihkan pembicaraannya mengenai mendiang istrinya itu.

"Memang Pak Afkan sudah bapak-bapak, kan?" Zahra berusaha menahan tawanya.

"Enak saja aku udah bapak-bapak. Gini-gini juga usiaku baru 26 tahun. Cuman beda setahun saja denganmu," balas Afkan sembari mengacak-ngacak rambut Zahra, dan Zahra pun membalasnya dengan mengacak-ngacak rambut Afkan pula.

Saling cubit, saling pukul pun kembali lagi di masa-masa saat ini. Kini rasa trauma dalam diri Zahra mengenai sosok pria perlahan memudar. Tak ada lagi kata canggung antara Zahra dan Afkan. Mereka kembali lagi seperti dulu, dekat dan akrab.

Tanpa Zahra dan Afkan sadari ada sepasang mata yang memperhatikan akan keakraban mereka. Ya, dia adalah Guntur yang sejak tadi memperhatikan mereka berdua.

Kebetulan Guntur pula makan siang di tempat yang sama dengan Zahra. Hanya saja Guntur duduk di sudut pojok hingga tak terlihat oleh Zahra.

Guntur memandang dari kejauhan istrinya sedang tertawa bahagia bersama lelaki yang sama sekali tak dikenalnya. Pemandangan itu sungguh sangat menyakitkan mata Guntur. Nafasnya bergemuruh tak beraturan, menahan rasa amarah yang sebentar lagi akan meledak

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel