Bab 5
Sudaht tiga malam, Rakha tidak bisa tidur dengan tenang. Setiap kali matanya terpejam, dia selalu bermimpi berada di tengah lingkaran api.
Di sekeliling Rakha, ada puluhan ekor ular putih sedang menari-nari dengan mata hijau menyala. Di tengah-tengah mereka, Lintang berdiri sambil menatap Rakha. Dan di belakanynya ada bayangan tinggi, kurus, dan tua. Sosok yang belum pernah Rakha lihat sebelumnya.
Setiap kali Rakha terbangun, jantungnya selalu berdetak kencang. Dan selalu saja ada aroma kemenyan yang tercium samar-samar di udara.
Hari itu, sore menjelang magrib, Rakha duduk di teras rumahnya sambil menyeruput secangkir kopi. Langit terlihat mendung, tapi tidak hujan.
Suasana terasa aneh, terlalu sunyi. Burung-burung berhenti berkicau, bahkan suara anak-anak di gang sebelah pun tak terdengar.
Lalu, di ujung jalan, muncul seorang laki-laki tua berjalan dengan perlahan. Tubuhnya bungkuk. Rambutnya putih panjang. Matanya tajam seperti menembus pikiran Rakha. Dia membawa sebuah tongkat dari kayu hitam dan mengenakan jubah lusuh yang basah oleh embun. Laki-laki tua itu berhenti tepat di pagar rumah Rakha.
“Rakha…..?” Suara laki-laki tua itu terdengar serak, tapi tegas.
Rakha mengernyitkan keningnya. “Iya. Saya?”
Laki-laki tua itu tersenyum tipis. “Kamu…… Sudah jadi pilihan?”
Rakha bingung. “Maksudnya?”
“Boleh aku masuk? Ada hal yang perlu aku bicarakan denganmu.” Kata laki-laki tua itu dengan pelan.
Entah mengapa, meskipun alarm dalam diri Rakha menjerit supaya tidak membiarkan laki-laki tua itu masuk ke dalam rumahnya, tapi bibirnya justru berkata, “Silahkan masuk.”
Di ruang tamu, lelaki tua itu duduk di kursi rotan, sambil mengeluarkan sebatang dupa dari dalam saku bajunya, kemudian menyalakannya tanpa seizin Rakha.
Asapnya melingkar pelan, membentuk simbol aneh di udara.
“Namaku Ki Prana.” Kata lelaki tua itu akhirnya. “Aku sudah lama mencari anak muda seperti kamu.”
“Anak muda seperti saya? Maksud Ki Prana apa?” Tanya Rakha bingung.
“Yang bisa disentuh oleh Dunia Bawah.” Lanjut Ki Prana.
Rakha tercekat. “Apa kamu tahu mengenai Lintang?”
Lelaki tua itu tersenyum. Senyuman itu dingin. “Ya, dia itu sang Ratu Ular. Sang penguasa air dan tanah. Aku tahu banyak mengenai dia, termasuk apa yang akan dia lakukan padamu nanti.”
Rakha menelan salivanya dengan kasar. “Apa maksud perkataanmu itu?”
“Dia tidak mencintaimu, anak muda.” Kata lelaki itu dengan datar. “Dia hanya menandaimu saja. Kamu bukan kekasihnya. Kamu adalah tumbalnya!”
Rakha langsung berdiri dengan spontan. “Omong kosong!” Ucapnya marah.
Ki Prana menatap Rakha dengan tajam. “Apa kamu pernah berpikir, kenapa tubuhmu mulai berubah? Itu bukan cinta, tapi itu penyerapan.”
Rasanya Rakha ingin berteriak, tapi tak bisa. Suara Ki Prana terdengar semakin berat, seperti menggema dari dalam tanah.
“Jika tidak segera diputus, Lintang akan mengambil seluruh jiwamu. Dan saat itu terjadi, tubuhmu akan menjadi pintu antara Dunia Manusia dan Dunia Ular.”
Kata-kata itu menusuk di kepala Rakha. Namun, di tengah-tengah ketakutannya, terdengar suara lain muncul dalam benak Rakha. Suara itu terdengar sangat lembut dan berdesis. Suara yang tak asing lagi bagi Rakha.
“Jangan dengarkan dia, Rakha……..”
Rakha terhuyung. “Pergi dari kepalaku!” Bisiknya.
Ki Prana memejamkan matanya sambil mengangkat tongkatnya. “Lihat! Dia bahkan sedang mendengarkanmu sekarang. Separuh jiwamu sudah menjadi miliknya.”
Asap dupa itu tiba-tiba berubah menjadi lebih tebal, membentuk bayangan wajah ular raksasa di langit-langit.
Rakha mundur. Dia jadi panik. “Apa yang sedang kamu lakukan?!”
Ki Prana berbisik cepat dalam bahasa yang tidak dimengerti oleh Rakha. Udara di sekitarnya mendadak membeku.
Tiba-tiba cincin di jari Rakha berdenyut panas. Rakha menjerit. Api biru muncul secara tiba-tiba dari permukaan cincin itu.
Dari api itu, suara Lintang terdengar. Kali ini suaranya terdengar keras, menggema di seluruh ruangan.
“Berhenti, pak tua!”
Lampu di rumah Rakha menjadi padam seketika. Asap dupa meledak seperti di sapu oleh angin besar.
Di hadapan Rakha, muncul bayangan Lintang. Matanya yang berwarna hijau menyala, rambutnya terurai, dan wajahnya terlihat sangat marah.
Ki Prana tak bergeming. “Keluar dari sini, makhluk bawah!” Bentaknya.
Tapi, Lintang hanya menatap Ki Prana dengan dingin. “Kau terlalu berani mencampuri urusanku, dukun tua!”
Dalam sekejap saja, angin berputar di ruang tamu. Tirai dan kertas jadi berterbangan. Ki Prana menggenggam tongkatnya dengan erat sambil membacakan mantra. Sementara bayangan ular besar itu muncul di belakang Lintang, melata di sepanjang dinding rumah.
Rakha hanya bisa mematung menyaksikan pertarungan yang tak masuk akal itu. Energi Ki Prana dan Lintang bentrok, seperti dua badai, dingin dan panas bercampur jadi satu.
Ki Prana sempat terdorong, tapi dengan cepat dia menancapkan tongkatnya ke lantai. Dari tanah keluar cahaya kuning yang menyilaukan, membentuk lingkaran pelindung di sekitarnya.
“Rakha!” Teriak Lintang. “Jangan biarkan dia menyentuhmu!”
Tapi, sudah terlambat. Ki Prana sudah mengangkat segenggam abu dupa dan menaburkannya ke arah Rakha. Tubuh Rakha seketika menjadi kaku. Dia tidak bisa bergerak dan tidak bisa bicara.
“Maafkan aku, anak muda.” Kata Ki Prana. “Ini untuk menyelamatkan dunia manusia. Tumbal harus segera ditutup, agar portal tidak terbuka.”
Rasanya Rakha ingin melawan, tapi tubuhnya seperti membeku. Di mata Rakha, semuanya mulai kabur. Hanya terlihat bayangan Lintang yang berusaha untuk menembus cahaya pelindung. Lintang meneriaki nama Rakha dengan suara yang pecah di udara.
Saat Rakha sadar kembali, dia sudah berada di sebuah gubuk tua di tengah hutan. Tangan dan kakinya terikat dengan tali dari akar pohon.
Di depan Rakha ada Ki Prana sedang menyiapkan lingkaran ritual dari garam, darah ayam dan bunga-bunga kering.
“Ini untuk menutup pintu dunia ular.” Kata Ki Prana tanpa menatap Rakha. “Harus ada perantara manusia yang sudah ditandai oleh mereka. Dan kamu, Rakha….. Adalah manusia yang terpilih itu!”
Rakha berusaha untuk melepaskan ikatan itu, tapi semakin ditarik, akar itu malah semakin menjerat lebih kuat.
“Jangan lakukan ini padaku!” Teriak Rakha. “Aku masih mau hidup!”
“Tak lama lagi.” Jawab Ki Prana dengan tenang.
Kemudian Ki Prana menyalakan dupa lagi. Kali ini ada tiga batang dupa. Aroma kemenyan bercampur dengan bau amis darah memenuhi udara sekitar mereka.
Mantra-mantra Ki Prana terdengar berat dan lama. Seperti ribuan suara berbicara secara bersamaan.
Di luar gubuk, angin kencang berhembus. Suara desisan ribuan ular terdengar seperti badai.
Ki Prana tersenyum dengan puas. “Dia sudah datang! Ratu ular itu datang untuk mengambilmu. Dan saat itu, aku akan mengurungnya.”
Rakha menatap Ki Prana dengan panik. “Kau sudah gila! Dia akan membunuhmu!”
“Kalau itu harga yang harus aku bayar, demi menutup pintu bawah tanah, ya biarkan saja.”
Pintu gubuk tiba-tiba terbuka lebar bersamaan dengan suara keras. Angin dingin menerpa wajah Rakha.
Lintang berdiri di ambang pintu. Kini matanya menyala merah terang. Rambunya melayang seperti di bawah air.
“Lepaskan dia, Ki Prana!” Suara Lintang menggema.
Dukun tua itu tertawa. “Sudah terlambat, ratu! Lingkaran sudah terbentuk. Jika kau melangkah selangkah lagi, maka tubuh manusiamu itu akan terbakar!”
Lintang berhenti. Rakha melihat raut wajah Lintang terlihat sangat marah, namun Lintang juga sangat ketakutan.
“Rakha, tutup matamu!” Perintah Lintang.
“Aku tidak bisa!” Suara Rakha terdengar parau.
Ki Prana menancapkan tongkatnya ke tanah sambil berteriak. “Dengan darah manusia dan api bumi, aku kembalikan makhluk bawah tanah ini ke tempat asalnya!”
Cahaya kuning semakin membesar, memantul ke seluruh ruangan. Tubuh Rakha terasa panas luar biasa. Tapi, detik berikutnya, Lintang yang berteriak. Suaranya panjang, membuat udara bergetar.
Dari tubuh Lintang keluar cahaya hijau pekat, menelan seluruh gubuk. Suara ular mendesis dimana-mana.
Ki Prana menjerit. Tongkatnya retak dan lingkaan pelindungnya pecah berantakan. Rakha terlepar ke sudut ruangan. Saat debu mereda, Rakha melihat Ki Prana sudah tersungkur di lantai, tak bergerak.
Lintang berdiri di tengah-tengah ruangan. Matanya masih menyala, tapi kini terlihat berair. Dia berjalan ke arah Rakha, menunduk, kemudian menyentuh pipi Rakha.
“Maafkan aku….. Aku tidak bisa biarkan dia mengambilmu dariku.” Kata Lintang dengan lirih.
Rakha menatap Lintang, nyaris tak bisa berbicara. “Kamu sudah….. Membunuhnya?”
Lintang menggeleng. “Tidak. Aku hanya menidurkannya….. Untuk selama-lamanya.”
Lintang membantu Rakha melepaskan ikatannya. Begitu bebas, Rakha langsung memeluk Lintang.
Tubuh Lintang terasa dingin, tapi pelukannya membuat dunia di sekitar Rakha terasa berhenti berputar.
“Kamu seharusnya tidak datang ke dunia ini lagi.” Kata Lintang dengan lirih. “Para penjaga akan mencariku. Dan mereka tidak akan berhenti sampai salah satu dari kita lenyap.”
“Kalau begitu, biarkan aku ikut kamu.” Kata Rakha tanpa berpikir terlebih dahulu.
Lintang memejamkan matanya, seolah sedang menahan emosinya. “Kamu tidak tahu, apa yang sedang kamu katakan, Rakha.”
Rakha menggenggam tangan Lintang dengan erat. “Aku tahu. Aku sudah terlibat sampai sejauh ini. Aku hanya tidak mau kamu sendirian.”
Lintang menatap Rakha lama, kemudian tersenyum tipis, dengan mata yang penuh luka. “Kalau begitu, bersiaplah! Karena setelah malam ini, dunia manusia tak akan sama lagi.”
Bersambung…………
