
Ringkasan
Bagaimana rasanya jika dua jiwa dari dunia yang berbeda disatukan dalam satu ikatan cinta yang tak terpisahkan. Itulah yang dirasakan oleh Rakha, manusia biasa, yang berasal dari dunia, bertemu dengan Lintang, si Ratu Ular Putih, yang berasal dari Dunia Bawah. Seiring berjalannya waktu, Rakha jatuh cinta pada Lintang. Sejak mengenal Lintang, dunia Rakha berubah total. Hingga Rakha merasa dia sedang berada di antara kenyataan atau mimpi.
Bab 1
Hujan sore itu turun tanpa aba-aba. Langit yang tadinya cuma mendung saja, perlahan tiba-tiba seperti jungkir balik, menumpahkan air, seolah-olah sudah lama menahan rindu pada bumi.
Rakha yang sedang memotret di tengah jalan tanah becek, mau tak mau harus menepi terlebih dahulu.
Motor Rakha terparkir di pinggir sawah, di depan papan kayu yang bertuliskan : ‘Selamat datang di Desa Sumberjaya’.
Tulisan itu sudah hampir pudar. Sepertinya desa ini seolah-olah juga dengan perlahan akan dilupakan oleh dunia luar.
Rakha menatap kamera yang ada di tangannya. Lensanya basah terkena cipratan air hujan. Tapi, foto terakhir yang diambil oleh Rakha menampilkan sesuatu yang aneh. Di tengah petak sawah, di antara kabut hujan, ada sesuatu yang bergerak. Bukan petani dan juga bukan pula hewan. Bentuknya panjang, berkilauan putih, dan menghilang begitu saja saat Rakha mencoba memperbesar gambarnya.
Awalnya Rakha berpikir itu cuma bayangan air, tapi rasanya dia jadi penasaran menancap di kepala seperti sebuah paku.
Rakha turun dari motornya, menutup kepalanya dengan jaket dan melangkah ke arah sawah. Lumpur menciprat ke celananya, namun dia tidak peduli. Semakin dekat dengan batas jalan, semakin jelas suara gemericik air yang bercampur dengan desiran yang samar-samar.
Lalu, Rakha melihatnya. Seorang wanita berdiri seorang diri di tengah derasnya hujan, tanpa payung, dan tanpa alas kaki. Rambutnya hitam panjang, menempel di pipi pucatnya dan kain putih yang membungkus tubuhnya menempel rapat oleh air hujan. Dia tidak menoleh ke arah Rakha, hanya menundukkan kepalanya, seperti sedang berbicara dengan tanah.
Entah mengapa, Rakha jadi terpaku melihatnya. Wanita itu bukan sekedar cantik. Ada sesuatu pada dirinya yang berbeda daripada yang lain.
Matanya memantulkan cahaya kehijauan. Akhirnya wanita itu mendongak menatap Rakha dan untuk sepersekian detik, Rakha merasa seluruh dunia di sekitarnya jadi berhenti mendadak.
“Mas…… Sebaiknya tidak datang ke sini.” Suaranya terdengar sangat lembut, tapi dingin. Hampir seperti bisikan suara angin, yang baru keluar dari lubang goa. “Hujannya belum mau berhenti.” Lanjutnya.
Rakha sempat bingung mau menjawab apa. “Eh, iya…… Tadi saya cuma mau lihat, ada sesuatu di sawah.”
“Maksudnya mas sesuatu yang bagaimana?” Wanita itu tersenyum tipis. “Mungkin itu cuma bayangan saja. Desa ini suka mempermainkan mata baru.”
Rakha tersenyum canggung. “Perkenalkan, nama saya Rakha. Saya seorang fotografer. Baru saja pindah ke sini, mau buat proyek untuk dekomentasi.”
Wanita itu hanya menganggukkan kepalanya. “Oh, ternyata kamu suka mengambil gambar-gambar yang bagus?”
“Ya, terkadang juga ada hal yang aneh.” Kata Rakha.
“Kalau begitu, hati-hati! Di sini, kadang yang indah, justru bukan untuk dilihat terlalu lama.” Kata wanita itu.
Kemudian wanita itu berjalan menjaug dan pergi menyusuri jalan setapak di tepi sawah yang menuju ke arah hutan kecil. Langkahnya nyaris tak menimbulkan suara, padahal tanah di sana sedang becek.
Rasanya Rakha ingin sekali bertanya nama wanita itu, namun suaranya seolah tertelan oleh derasnya hujan. Rakha baru sadar kalau tangannya sedang gemetar. Bukan karena dingin, tapi karena mata wanita tadi. Ada sesuatu di sana. Seperti mata yang pernah dilihatnya, tapi bukan mata milik manusia biasa.
*****
Malamnya, Rakha menginap di sebuah rumah sewa yang berukuran kecil di pinggir desa. Bangunan tua milik pasangan lansia yang ramah. Surti, nama pemilik rumah itu, sedang sibuk menyiapkan teh hangat untuk Rakha.
“Mas Rakha, berasal dari kota ya? Wah, mas berani juga datang sendirian ke sini.” Kata Surti sambil tersenyum.
“Saya lagi ada proyek kecil-kecilan, bu. Saya hanya butuh beberapa foto alam dan suasana di desa.” Jawab Rakha.
“Itu bagus. Tapi, jangan terlalu sering datang ke arah Timur ya. Orang-orang percaya kalau tempat itu keramat.” Kata Surti.
“Arah Timur? Maksud ibu, arah hutan kecil di belakang sawah itu, bu?” Tanya Rakha bingung.
Surti menatap Rakha dengan tajam. Kini, senyumnya sudah hilang. “Apa mas ada lihat sesuatu di sana tadi?” Tanyanya.
Rakha terlihat ragu-ragu untuk menjawabnya. Tapi, akhirnya dia mengatakannya juga, “Tadi saya bertemu dengan perempuan sendirian, di tengah sawah. Dia cantik sekali. Seperti……” Rakha tertawa kecil. “Sepertinya tidak nyata, bu……..”
Raut wajah Surti langsung terlihat berubah. Dia meletakkan cangkir teh itu dengan tangan yang sedikit gemetar.
“Apakah perempuan itu memakai baju putih?” Tanya Surti.
Rakha menganggukkan kepalanya.
“Mas…… Kalau bertemu lagi, jangan disapa. Dan jangan menatap matanya lama-lama, mas!” Kata Surti lirih.
Rakha tersenyum. Dia mengira hanya takhayul desa saja. Tapi malam itu, Raditya baru tahu bahwa senyum itu mungkin satu-satunya hal bodoh yang pernah dia lakukan hari itu.
Hujan turun lagi menjelang tengah malam. Rakha terbangun mendengar suara air menetes dari atap yang bocor. Listrik sempat padam sebentar, menyisakan suara jangkrik dan aroma tanah basah yang kuat dari luar.
Rakha melangkah ke jendela, kemudian dia menyingkap tirai yang tipis. Hampir saja dia menjatuhkan senternya.
Di luar, di tepi sawah, Rakha melihat sosok wanita yang tadi dia jumpai, sedang berdiri di bawah pohon pisang dan menatap ke arah rumah Rakha. Hujan turun sangat deras sekali, tapi kain putih yang dipakai wanita itu tetap terlihat bersih, nyaris berpendar dalam gelap.
Rakha memejamkan kedua matanya sebentar. Dia berpikir mungkin hanya mimpi saja. Tapi, saat membuka kedua matanya kembali, wanita itu tersenyum pada Rakha.
*****
Pagi harinya, Rakha mencoba untuk menyakinkan dirinya sendiri, bahwa semua itu hanyalah halusinasi karena kelelahan saja. Tapi entah mengapa, langkah Rakha kembali membawanya kembali ke tempat itu. Di tepi sawah, jalan setapak, dan hutan kecil di belakangnya.
Hutan itu tak begitu lebat, tapi entah mengapa terasa lebih sepi dibandingkan yang seharusnya. Rakha mengambil beberapa foto, kemudian dia duduk di batu besar sambil memeriksa hasil jepretannya tadi. Saat itulah, Rakha mendengar seperti ada suara langkah kaki di belakangnya.
“Aku kira, kamu tidak akan kembali.” Suara itu berkata.
Rakha menoleh dan tentu saja….. Dia, wanita yang bergaun putih. Kali ini rambutnya terlihat kering dan diikat rapi. Dia tampak biasa saja. Tapi, matanya tetap sama, berkilau kehijauan, tenang, tetapi mengandung sesuatu yang dalam.
“Aku hanya penasaran saja.” Jawab Rakha dengan jujur. “Kamu waktu itu…… Muncul begitu saja. Aku kira kamu warga sini juga.”
Wanita itu tertawa kecil. “Apa kamu pikir, aku bukan warga sini?”
“Entahlah. Tapi, aku belum pernah melihatmu di desa sebelumnya.” Jawab Rakha.
“Karena aku tidak tinggal di desa.” Kata wanita itu.
“Lalu, dimana kamu tinggal?” Tanya Rakha penasaran.
Wanita itu menatap ke arah hutan, ke jalur yang mengarah lebih dalam lagi. “Di ujung sana. Dekat danau kecil.”
“Kamu sendirian tinggal di sana?” Tanya Rakha bingung.
Wanita itu menganggukkan kepalanya.” Ya. Aku tinggal di sana sudah lama sekali.”
Entah mengapa, kalimat wanita itu terdengar sedih sekali oleh Rakha.
Rakha memotret wanita itu diam-diam. Saat layar kamera menampilkan hasilnya, hatinya berdegup lebih cepat dari biasanya. Di dalam foto itu, latar belakangnya terlihat buram, seperti bergetar. Tapi, yang lebih aneh lagi, di sisi kaki wanita itu terlihat samar-samar seperti bentuk tubuh panjang dan bersisik putih.
Rakha menatap wanita itu, kemudian ke kamera, lalu kembali lagi ke arah wanita itu. Dan seolah-olah, Rakha sedang menyadari sesuatu. Wanita itu tersenyum pelan.
“Namaku Lintang, kalau kamu ingin tahu.” Kata Lintang.
Sore itu, mereka berbicara lama sekali, di bawah pohon besar yang tumbuh di tepi hutan itu. Lintang bercerita sedikit tentang dirinya. Kata Lintang, dialah yang menjaga tempat itu agar tetap ‘hidup’.
Rakha tidak paham maksud dari Lintang itu. Tapi, dari nada bicara Lintang, Rakha membuatnya yakin kalau Lintang tidak sedang bercanda.
“Aku sangat suka dengan tempat ini.” Kata Rakha sambil melihat ke arah sawah dan danau dari kejauhan. “Tempat ini sangat tenang, tapi agak menakutkan juga……” Lanjutnya.
“Semua yang tenang menyimpan ketakutan.” Balas Lintang dengan lembut. “Hanya saja, kamu belum tahu bentuknya seperti apa.” Katanya lagi.
Hujan mulai turun rintik-rintik. Lintang berdiri, kemudian berjalan menuju arah hutan.
“Eh, tunggu dulu!” Panggil Rakha. “Apa aku boleh memotret kamu lagi?” Tanyanya.
Lintang berhenti. “Untuk apa?” Tanyanya.
“Entahlah. Karena kamu sangat menarik, menurut pandanganku. Ada sesuatu yang ingin aku tangkap dari mataku.” Kata Rakha.
Lintang menatap Rakha lama sekali. Hujan semakin deras, tapi Rakha tidak bisa mengalihkan pandangannya dari Lintang.
“Kalau begitu…..” Kata Lintang akhirnya. “Pastikan kamu sudah siap dengan apa yang akan kamu lihat nanti, Rakha.”
Kemudian Lintang melangkah pergi, menembus hujan dan menghilang di balik pepohonan. Rakha langsung memeriksa layar kameranya lagi.
Foto terakhir, wajah Lintang yang tersenyum, tapi di belakangnya samar-samar terlihat bentuk ular besar melingkar di tanah. Sisiknya memantulkan cahaya berwarna hijau. Dan kali ini, Rakha tahu, kalau dia tidak salah lihat.
Malam berikutnya, Rakha bermimpi. Dia sedang berdiri di tengah danau. Airnya sangat tenang, tapi dinginnya menusuk. Kabut tebal menyelimuti sekitarnya. Dari bawah air muncul seekor ular putih raksasa, matanya berwarna hijau, sambil menatap Rakha tanpa berkedip.
Lalu, dari balik kabut muncullah Lintang, mengenakan gaun panjang seperti sutra yang berkilau. Dia mendekat, menyentuh dada Rakha dengan jemarinya yang dingin.
“Sudah waktunya!” Bisik Lintang.
“Waktu apa?” Tanya Rakha bingung.
“Untuk mengingatkan.” Jawab Lintang.
Saat itu juga , ular yang berada di bawah air mengangkat kepalanya. Kemudian, Rakha terbangun dengan napas yang tersengal-sengal. Tubuhnya dibasahi oleh keringat.
Di luar jendela, terlihat hujan sudah berhenti. Tapi, Rakha mendengar ada suara desisan samar dari bawah ranjangnya.
Rakha mengalihkan senternya ke arah sana. Tak ada apa-apa, hanya ada bayangan. Tapi, saat dia menatap lebih lama, Rakha bersumpah melihat sesuatu yang bergerak perlahan, seperti sisik yang meluncur di atas lantai kayu.
Rakha menutup matnya, mencoba untuk menenagkan dirinya. Tapi, di dalam kepalanya, terdengar suara Lintang yang terus mengingatkannya.
“Pastikan kamu sudah siap dengan apa yang akan kamu lihat nanti, Rakha.”
Bersambung………..
