Bab 6
Rakha tidak tahu lagi, sudah berapa lama dia pingsan. Yang dia tahu, saat matanya terbuka, tubuhnya terasa dingin luar biasa. Bukan dingin karena udara, tapi dingin yang berasal dari tanah yang lembab di bawah punggungnya.
Rakha berada di dalam sebuah goa. Cahaya remang-remang datang dari obor yang menempel di dinding batu. Asapnya membuat udara berbau belerang dan darah.
Tangan dan kaki Rakha kembali terikat. Suara tetesan air menetes pelan, bergema panjang, seolah waktu berjalan sangat lambat di tempat itu. Kemudian Rakha melihatnya.
Di tengah-tengah goa, Ki Prana sedang berdiri. Tubuhnya masih bungkuk. Tapi, kini matanya memancarkan cahaya aneh, merah keemasan. Di sekelilingnya, terlihat ada simbol-simbol dari darah ular tergambar di lantai.
“Aku sudah mati, Rakha!” Kata Ki Prana tanpa menoleh sedikit pun. “Tapi, ada harga untuk kehidupan kedua.”
Rakha menatap Ki Prana dengan kengerian. ”Apa yang akan kau lakukan?”
“Ritual pesugihan. Ini adalah kesempatan kedua. Dunia bawah memberi tawaran yang tak bisa kutolak.” Ki Prana tertawa kecil. Suaranya terdengar parau dan menggema di seluruh goa.
“Kau pikir aku ingin menutup portal itu, bukan? Tidak! Aku tidak mau membukanya. Aku ingin kekuatan Lintang.”
Rakha berusaha membuka ikatannya, tapi tali itu seperti hidup, menggeliat setiap kali ditarik.
“Dia akan datang mencarimu.” Kata Ki Prana lagi. “Dan saat itu terjadi, aku akan menyegel jiwanya untukku.”
Rakha menelan salivanya dengan kasar. “Apa kau sudah gila?! Dia akan membunuhmu!”
“Kalau aku bisa menangkap ratu ular itu, maka akulah yang akan jadi penguasanya.” Kata Ki Prana dengan nada dingin.
Suara gemuruh datang dari luar goa. Tanah bergetar. Butiran pasir jatuh dari langit-langit. Udara berubah menjadi dingin sekali. Tanda yang kini sudah dikenal betul oleh Rakha.
“Dia sudah datang!” Kata Ki Prana pelan, sambil tersenyum puas.
Dari mulut goa, kabut putih mulai masuk. Cahaya obor meredup, seolah takut. Dan dari kabut itu, sosok Lintang tiba-tiba muncul, berjalan dengan pelan, anggun, tapi aura di sekitarnya seperti badai. Rambutnya melayang, seolah dia berjalan di dasar laut. Dan di belakangnya, ada bayangan ular putih melingkar besar, matanya bersinar terang.
“Lintang!” Bisik Rakha.
Lintang menatap Rakha sejenak, kemudian pandangannya beralih ke Ki Prana.
“Lepaskan dia!” Kata Lintang pelan, tapi suaranya menggema, seperti ribuan suara perempuan berbicara bersamaan.
Ki Prana tertawa. “Akhirnya, ratu ular yang perkasa datang juga! Tapi, kali ini kau bukan penguasa di sini. Aku sudah menguasai tanah dan darah di tempat ini!”
Ki Prana menancapkan tongkat hitamnya ke atas tanah. Simbol di lantai langsung menyala merah. Dari balik goa, muncullah ratusan ular kecil, matanya merah dan kulitnya hitam berkilau. Mereka bukan milik Lintang. Ular-ular itu milik Ki Prana.
“Lihat, ratu! Bahkan, anak-anakmu kini sudah tunduk padaku!” Kata Ki Prana.
Ular-ular itu melata ke arah Lintang, mendesis dan menyerang seperti gelombang hitam. Lintang hanya mengangkat tangannya.
Dari telapak tangan Lintang keluar cahaya hijau yang menyilaukan. Ular-ular itu langsung terbakar jadi abu.
“Anak-anakku tak akan tunduk pada kegelapan!” Kata Lintang dingin.
Pertarungan sengit pun dimulai. Ki Prana mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Dari puncak tongkatnya keluar semburan api hitam.
Lintang membalas dengan gelombang air yang muncul entah dari mana. Air itu berputar dengan cepat, membentuk dinding pelindung di depannya.
Rakha menutup kedua matanya, tapi suara mereka terus saja menggema. Teriakan mantra dari Ki Prana dan suara mendesis dari Lintang. Bumi jadi bergetar setiap energi mereka bentrok.
Rakha melihat kejadian itu dengan mata terbuka setengah. Cahaya hijau dan merah saling beradu di udara seperti dua naga yang saling membelit.
Ki Prana melompat ke belakang. Darah menetes dari hidungnya. Tapi, dia tersenyum. “Kau tidak bisa menang dariku, Lintang. Tempat ini aku bangun dari darah keturunanmu sendiri!”
Lintang membeku sejenak. “Darahku?”
“Ya!” Ki Prana mengangkat sebuah botol kecil berisi cairan putih. “Darah ular suci dari generasimu. Aku mendapatkannya dari goa bawah danau, tempat kelahiranmu.”
Mata Lintang berubah menjadi semakin terang, penuh amarah. “Beraninya kau mencemari darah suci kami!”
Suara desis Lintang memecah udara. Ratusan ular putih muncul dari lantai goa, menembus batu dan tanah, menyerang balik ke arah Ki Prana.
Namun, dukun tua itu sudah siap menancapkan botol darah itu ke lingkaran ritual. Tanah bergetar kembali. Dari bawah tanah muncul tangan-tangan hitam, seperti akar hidup yang langsung membelit tubuh Lintang.
Rakha langsung berteriak, “Lintang!”
Lintang berusaha melepaskan dirinya. Tapi, semakin dia lawan, maka semakin erat lilitan itu.
“Lihatlah!” Kata Ki Prana sambil tertawa. “Ratu ular dikurung oleh akar dunia manusia. Sekarang aku akan mengambil jiwanya!”
Ki Prana mendekat, mengangkat tongkatnya. Cahaya hitam keluar dari ujung tongkat itu. Cahaya itu menembus tubuh Lintang, membuatnya menjerit pelan. Suara jeritan itu membuat dada Rakha sesak.
Rakha berusaha keras melepaskan dirinya. Tali di tangannya mulai longgar. Mungkin karena air yang menetes dari langit-langit membuatnya jadi licin.
Saat Rakha berhasil melepaskan satu tangannya, dia langsung meraih batu di dekatnya dan melemparkannya ke arah Ki Prana.
Batu itu mengenai bahu Ki Prana, membuatnya jadi kehilangan konsentrasinya sesaat. Cahaya hitam yang mengikat Lintang meredup.
Dengan sekuat tenaga, Rakha berteriak, “Sekarang, Lintang!”
Lintang membuka matanya. Dalam sekejap saja, tubuhnya berubah dari pinggang ke bawah menjadi ular raksasa berwarna putih keperakan.
Dengan kekuatan yang luar biasa, Lintang menghancurkan akar pohon yang melilitnya dan langsung melesat ke arah Ki Prana.
Satu lilitan ekor Lintang menghantam tongkat hitam milik Ki Prana hingga patah menjadi dua bagian.
Ki Prana langsung berteriak, “Tidak! Tidak mungkin! Ini belum berakhir!”
Ki Prana mencoba mengambil botol darah, tapi Lintang sudah lebih cepat. Lintang mengulurkan tangannya dengan kekuatan gaib, kemudian menghancurkannya ke udara. Cairan putih di dalamnya berubah jadi kabut bercahaya yang mengelilingi tubuh Lintang sendiri.
“Darahku kembali padaku. Kekuatanmu sudah berakhir, hai manusia!” Kata Lintang pelan.
Ki Prana memundurkan langkahnya. Wajahnya terlihat sangat ketakutan. “Tidak! Aku sudah memberikan jiwaku untuk kekuatan ini!”
“Dan kini aku menagihnya!” Kata Lintang dingin.
Dari dalam tanah, ribuan ular putih muncul dan merayap naik ke tubuh Ki Prana. Dia menjerit. Tapi, suaranya cepat tenggelam di antara suara desisan ular.
Dalam beberapa detik saja, tubuh Ki Prana sudah hilang. Hanya tersisa jubah lusuh dan tongkatnya yang patah.
Hening……..
Suara tetesan air kembali terdengar. Lintang berdiri di tengah-tengah lingkaran ritual. Dengan perlahan tubuhnya kembali menjadi manusia.
Rakha mencoba mendekat, meskipun lututnya gemetar. “Lintang …..” Panggilnya.
Lintang menatap Raditya dengan mata yang lembut, namun terlihat lelah.
“Sudah berakhir!” Kata Lintang dengan pelan. “Tapi, aku menggunakan kekuatanku terlalu banyak.”
Rakha meraih tangan Lintang. Tangan Lintang terasa dingin, tapi lembut.
“Jangan bicara lagi! Kita keluar dari sini.”
Lintang tersenyum tipis. “Kamu benar-benar keras kepala!”
Rakha menuntun Lintang keluar dari dalam goa. Langit di luar mulai terlihat cerah, meskipun matahari belum muncul sepenuhnya. Kabut putih menari diantara pepohonan, sepertinya menyambut mereka.
Saat mereka berdiri di depan goa, Lintang menatap langit.
“Dia sudah pergi.” Kata Lintang dengan lirih. “Tapi, pintu yang dia buka tidak akan tertutup selamanya.”
“Apa maksudmu?” Tanya Rakha bingung.
“Suatu hari nanti, manusia lain akan mencoba hal yang sama. Keinginan akan kekuasaan tidak akan pernah padam.”
Rakha menatap Lintang lama. “Kalau begitu, aku akan di sini. Untuk menjagamu.”
Lintang menoleh pada Rakha. Matanya berkilau hijau lembut.
“Dan siapa yang akan menjagamu?”
Rakha tertawa kecil. “Mungkin aku tidak perlu dijaga.”
Lintang tersenyum. “Dasar manusia bodoh!”
Lintang menyentuh dada Rakha dengan dua jarinya. Cahaya hijau kecil masuk ke dalam tubuh Rakha.
“Apa itu?” Tanya Rakha heran.
“Perlindungan.” Jawab Lintang. “Jika suatu hari mereka datang mencarimu lagi, panggil namaku.”
Angin berhembus lembut. Saat Rakha berkedip, Lintang sudah lenyap.
Yang tersisa hanyalah aroma melati dan suara desisan samar yang menghilang bersama dengan kabut pagi.
Rakha berdiri lama di depan goa itu sambil menatap tempat dimana semua keajaiban dan kengerian bercampur.
Entah Rakha diselamatkan atau baru saja menjadi bagian dari sesuatu yang lebih besar dari manusia mana pun.
Bersambung……….
