Bab 4
Sejak kejadian itu, Rakha jadi sulit untuk tidur nyenyak. Setiap kali dia memejamkan matanya, bayangan Lintang selalu saja datang. Kadang dalam bentuk seorang perempuan cantik, kadang dalam bentuk seekor ular putih yang melingkar di sekitar Rakha, seperti sedang menjaganya.
Rakha tidak tahu, harus merasa takut atau merasa aman. Yang pasti, sejak malam Rakha menemukan sebuah cincin, sesuatu di dalam diri Rakha terasa berbeda.
Hari itu, Rakha sedang berjalan pulang dari tempat kerja. Langit sore berwarna orange kelabu dan udara di jalanan kecil kampungnya mulai terasa berat.
Rakha menurunkan handlenya, menyalakan rokok, dan berusaha menenangkan pikirannya. Namun, tiba-tiba dari arah gang sebelah, ada tiga orang muncul.
Rakha mengenal mereka. Mereka adalah preman kampung yang sering nongkrong di warung ujung jalan.
“Eh, ada di fotografer hutan!” Kata salah satu preman itu sambil tertawa. “Katanya, suka cari setan buat difoto?”
Rakha terdiam sambil menahan emosinya. Preman-preman itu mendekati Rakha. Bau alkohol langsung menyengat.
“Saya cuma lewat saja.” Kata Rakha.
“Tapi, lo bawa kamera, kan? Kameranya mahalan tuh! Lumayan buat beli rokok.” Kata salah satu preman itu sambil menepuk pundak Rakha.
Rakha mundur selangkah. “Sudah, bang. Jangan cari ribut!”
Yang paling besar diantara mereka bernama Rio, langsung mendorong dada Rakha dengan keras. Hampir saja Rakha terjatuh.
“Wah, sok berani sekarang, ya?” Tanya Rio.
Rakha menatap mereka satu per satu. Tangannya bergetar. Bukan karena merasa takut, tapi karena marah.
Tapi, di saat yang sama, di dalam kepala Rakha mendengar suara mendesis yang lirih, tapi terdengar dengan jelas.
“Tenanglah, Rakha……. Biarkan aku…..”
Rakha membeku seketika. Suara itu….. Suara itu adalah suara Lintang.
Rio mendekat lagi, mengangkat tangannya, seolah hendak memukul Rakha. Tapi, sebelum tangannya menyentuh wajah Rakha, angin berhembus sangat kencang. Udara berubah menjadi dingin seketika, tajam, dan menusuk tulang.
Lampu-lampu di jalan, di atas mereka berkelap-kelip, kemudian padam. Suara jangkrik lenyap. Dunia seolah menahan napasnya.
“Eh, ada apa ini?!” Tanya salah satu dari mereka panik.
Kabut putih muncul entah darimana datangnya, merayap pelan di sepanjang jalan. Rakha mundur setapak, tapi langkahnya terhenti, bukan karena takut, melainkan karena Rakha bisa merasakan ada sesuatu yang besar ada di sekitar mereka.
Udara berubah menjadi dingin sekali. Dan tiba-tiba saja terdengar suara desis yang panjang dari arah belakang.
“Ada ular……!” Bisik salah satu dari preman itu.
“Ada ular, bro!”
Rio pun menoleh ke arah kanan kiri, tapi dia tidak melihat apa pun. Kemudian, tiba-tiba ada sesuatu yang bergerak cepat dari kabut, seperti ada bayangan putih melata.
Salah satu dari preman itu berteriak. Kaki kanannya tiba-tiba saja berdarah, seolah ada yang mengigitnya. Dia terjatuh dan menjerit kesakitan.
Rio memaki-maki, mencoba menarik temannya, namun semakin dia menariknya, semakin luas luka di kaki temannya itu.
Dari dalam kabut, terlihat samar ada sisik putih berkilau. Rakha terpaku. Semuanya terjadi begitu cepat, tapi di tengah kabut itu, Rakha sempat melihat ada siluet seorang perempuan sedang berdiri tegak dengan mata yang hijau menyala lembut.
Lintang!
“Siapa lo?!” Teriak Rio ke arah kabut, namun suaranya terdengar bergetar.
Tak ada jawaban sama sekali.
Hanya ada suara lembut, seperti suara bisikan dari semua arah sekaligus.
“Pergilah! Jangan sentuh milikku!”
Mereka bertiga langsung lari ketakutan, menyeret temannya yang masih menangis kesakitan. Kabut perlahan menghilang. Udara kembali jadi hangat dan suara jangkrik kembali terdengar.
Rakha masih berdiri di sana. Dia gemetar. Kemudian dari arah belakangnya, Rakha mencium aroma melati yang familiar.
“Lintang …….” Bisik Rakha.
Terlihat samar-samar, dari arah ujung gang, Lintang sedang berdiri. Gaun putihnya berkibar pelan. Rambutnya sedikit basah, seperti baru saja keluar dari dalam air.
“Kenapa kamu bisa ada di sini?” Tanya Rakha.
Lintang berjalan mendekati Rakha. Langkahnya nyaris tak terdengar.
“Mereka ingin menyakitimu.” Jawab Lintang dengan tenang. “Aku hanya ingin melindungi, apa yang menjadi bagianku.”
Rakha menatap Lintang. Dia bingung dan juga terharu.
“Bagianku?”
Lintang tersenyum samar. “Kamu pikir, cincin itu hanya sebuah hiasan saja?”
Rakha tertunduk sambil melihat cincin perak yang ada di jarinya, yang entah kapan terpasang di jarinya.
Saat cahaya lampu jalan memantul di permukaan, Rakha melihat ukiran sisik ular yang ada di sana, tampak berdenyut pelan, seperti makhuk hidup.
Mereka berjalan ke arah danau. Entah mengapa, setiap kali Lintang ada di dekat Rakha, dunia di sekitarnya terasa seperti kabur, natara nyata dan mimpi.
“Kenapa kamu mau bantu aku?” Tanya Rakha akhirnya.
“Karena mereka sudah mengusikmu.” Jawab Lintang. Nada suara Lintang terdengar datar, tapi di dalamnya ada sesuatu, rasa posesif yang terasa lembut, namun menakutkan.
“Bagaimana kalau mereka mati tadi……?” Tanya Rakha.
“Apakah kamu akan membenciku?” Lintang balik bertanya.
Rakha terdiam. Jujur saja, dia tidak tahu harus menjawab apa.
Lintang berhenti berjalan, kemudian menatap Rakha. “Apa kamu masih merasa takut padaku, Rakha?”
Rakha menggeleng pelan. “Aku bukannya takut padamu. Aku hanya merasa bingung. Dunia ini terasa salah, sejak aku mengenal dirimu.” Jawab Rakha.
“Tidak salah.” Kata Lintang dengan lembut. “Tapi, kamu hanya mulai melihat yang sebenarnya.”
Lintang menyentuh dada Rakha dengan ujung jarinya. Terasa sangat dingin sekali!
“Hatimu sudah lama terikat dengan dunia kami. Tapi, kamu sudah melupakan hal itu.” Kata Lintang.
Mereka duduk di tepi danau kembali. Bulan muncul di atas permukaan air, memantulkan bayangan wajah Lintang.
Rakha memandangi tangannya. Cincin itu masih bersinar dengan samar-samar.
“Aku hampir saja membunuh mereka.” Kata Lintang tiba-tiba. Suaranya terdengar datar. Matanya terlihat sayu. “Tapi, aku menahan diriku, karena kamu ada di sana.
“Terima kasih.” Kata Rakha dengan pelan. “Tapi, kamu jangan melakukan hal itu lagi ya?”
Lintang tersenyum kecil. “Kamu mulai berbicara seperti manusia yang mencintai monster.”
“Kalau aku memang melakukannya?”
Lintang menatap Rakha lama, kemudian tertawa pelan. “Kamu tidak tahu, apa yang barusan kamu katakan.”
“Aku tahu.” Jawab Rakha. “Mungkin aku sudah gila. Tapi, setiap kali kamu ada, aku merasa…… Sudah lengkap.”
Lintang menunduk, kemudian pelan-pelan mendekati Rakha. “Aku diciptakan untuk dicintai oleh manusia, Rakha.” Bisiknya. “Tapi, aku adalah kutukan. Aku membawa dunia yang tidak boleh kamu jamah.”
“Tapi, kamu tetap saja datang padaku.”
“Karena aku tidak bisa menolakmu.” Kata Lintang dengan lirih.
Malam itu, Rakha pulang dengan perasaan yang bercampur aduk, antara takut, kagum dan entah apa lagi yang dirasakannya saat itu.
Begitu sampai di rumah, Rakha sadar ada sesuatu yang berubah. Di dalam bayangannya sendiri, di lantai kamar, Rakha melihat ada dua sosok dirinya. Dan di sebelahnya, ada bayangan seekor ular besar yang melingkar, mengikuti gerakan Rakha.
Saat Rakha bergerak, bayangan ular itu pun ikut bergerak. Dan setiap kali dia menatap dirinya di cermin, di matanya muncul kilau kehijauan, seperti mata Lintang.
*****
Keesokan harinya, kabar sudah menyebar. Tiga preman kampung ditemukan pingsan di pinggir jalan. Tubuh mereka penuh dengan luka, seperti bekas gigitan, tapi tak ada ular yang ditemukan di sana. Orang-orang mengatakan bahwa mereka telah diserang oleh makhluk gaib.
Rakha hanya terdiam, pura-pura tidak tahu apa-apa. Tetapi, di dalam hatinya berkata, ‘Aku tahu Lintang yang melakukannya.’
Dan anehnya, Rakha tidak bisa membenci Lintang.
Malamnya, sebelum tidur, Rakha melihat sesuatu di jendela kamarnya. Seekor ular putih kecil sedang melingkar di sana, menatapnya dengan tatapan yang lembut.
Kemudian, dari udara, terdengar suara bisikan lembut, yang sudah Rakha kenal, “Kamu aman sekarang, Rakha. Aku selalu ada di sini untukmu.”
Bersambung………
