Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 3

Sejak hari itu, Rakha seperti kehilangan arah. Setiap kali memejamkan kedua matanya, wajah Lintang selalu saja muncul di cermin, di genangan air, bahkan di mimpi-mimpi yang tak lagi bisa dibedakan antara kenyataan atau mimpi.

Rakha sudah berusaha untuk menjauhi Lintang. Tapi, setiap kali Rakha berniat untuk kembali ke rumahnya, ada sesuatu di dalam dadanya yang terasa sesak, seperti ada yang memanggilnya dari jauh. Sebuah suara lembut, berdesis, memanggil-manggil nama Rakha di sela-sela pikirannya.

“Rakha………”

Awalnya Rakha berpikir itu hanya halusinasi saja. Tapi, setelah tiga malam berturut-turut mendengar suara itu di tengah tidurnya, Rakha akhirnya menyerah.

Mungkin Rakha memang harus menemui Lintang lagi.

Sore itu, langit terlihat aneh. Kabut turun lebih cepat dari biasanya. Padahal, matahari belum benar-benar tenggelam. Udara terasa lembab dan dingin, seperti ada sesuatu yang bersembunyi diantara pepohonan.

Rakha membawa kameranya. Entah untuk alasan apa. Mungkin hanya agar terlihat punya alasan yang logis saat nanti orang bertanya, kenapa dia ada di hutan lagi. Tapi jujur saja, Rakha tahu alasan yang sebenarnya, bahwa dia ingin bertemu dengan Lintang lagi.

Setiap langkah yang diambil oleh Rakha terasa sangat berat. Tapi anehnya, kakinya tetap bergerak.

Jalan setapak itu kini tampak berbeda. Akar-akar pohon seperti bergeser dengan pelan, membentuk jalur yang menuntunnya masuk lebih dalam lagi. Suara jangkrik tak terdengar, digantikan dengan suara desis halus yang entah dari mana datangnya.

Ketika kabut mulai menebal, Rakha melihat sosok Lintang sedang berdiri di tepi danau. Gaun putihnya melambai pelan diterpa angin.

“Lintang!” Seru Raditya.

Lintang menoleh. Senyumnya lembut seperti biasanya.

“Kamu sudah datang?” Tanya Lintang.

“Kamu yang telah memanggilku, kan?” Tanya Rakha.

“Tidak. Bukan aku yang memanggilmu. Mungkin hatimu sendiri yang memanggil.” Kata Lintang.

Rakha tertawa pelan. Dia mencoba menutupi rasa gugupnya. “Tempat ini…… Terasa jadi semakin aneh saja, setiap kali aku datang.”

“Karena kamu mulai melihatnya.” Kata Lintang.

“Melihat apa?” Tanya Rakha dengan bingungnya.

“Yang sebenarnya.” Jawab Lintang.

Mereka duduk di tepi danau. Airnya tenang. Akan tetapi, bila diperhatikan dengan seksama, di bawah permukaannya ada sesuatu yang bergerak, semar-samar, panjang, dan berkilauan putih.

“Dulu, sebelum dunia ini seperti sekarang…..” Kata Lintang pelan. “Air dan tanah masih berbicara. Angin masih membawa pesan. Tapi, manusia berhenti mendengarkannya. Kini, yang mereka tahu, hanya ketakutan saja.”

“Dan kamu?” Tanya Rakha. “Apa kamu salah satu dari mereka?” Tanyanya lagi.

Lintang tersenyum. Tapi, kali ini tidak terlihat keceriaan di raut wajahnya. “Aku bukan manusia, Rakha. Setidaknya bukan lagi sepenuhnya manusia.”

Suasana kini menjadi hening. Hanya ada suara air dan detak jantung Rakha sendiri yang terdengar keras.

“Aku sudah menebaknya.” Kata Rakha akhirnya. “Tapi, aku tidak peduli.”

Lintang menatap Rakha. Matanya berkilau kemerahan di bawah cahaya sore.

“Harusnya kamu peduli. Karena setiap manusia yang selalu dekat denganku…. Tidak akan pernah kembali sama.”

Rakha menelan salivanya dengan kasar. “Apa maksudmu?”

“Aku membawa dunia di bawah kulitku, Rakha. Dunia yang tak pernah kamu pahami.” Jawab Lintang.

Rakha belum sempat bertanya lagi, saat angin tiba-tiba berputar dengan kencang, membuat kabut di sekitar mereka berputar seperti pusaran air. Dari sela-sela kabut itu, muncullah sebuah bayangan hitam, tinggi, melata, dengan mata hijau yang menyala.

Rakha mundur secara spontan. “Apa itu?!”

Lintang berdiri, menatap tajam ke arah makhluk itu. “Seharusnya dia tidak berada di sini.”

Suara desisan keras memenuhi udara. Rakha langsun menutup telinganya. Akan tetapi, suara itu menembus sampai ke kepala, seperti masuk melalui tulang.

Lintang mengangkat tangannya. Dalam sekejap saja, udara sekitar mereka berubah menjadi dingin sekali. Bayangan hitam itu akhirnya lenyap sudah, tersapu kabut.

Rakha menatap Lintang tak percaya. “Barusan…… Apa itu?!” Tanyanya sekali lagi.

“Itu bayangan dari bawah.” Jawab Lintang dengan lirih. “Mereka mencium keberadaanmu di sini.”

Rakha tidak tahu harus berkata apa. Jantungnya masih terasa berdegup kencang. Tetapi, di tengah ketakutan itu, ada perasaan aneh, seperti ada rasa aman, yang hanya bisa muncul saat Rakha berada di dekat Lintang. Meskipun, Rakha tahu, seharusnya tidak demikian, justru sebaliknya.

Malamnya, Rakha kemabli ke rumah dengan tubuh yang sangat lelah. Tetapi, pikirannya tidak bisa berhenti berputar. Saat diletakkannya kameranya di meja, Rakha melihat ada hal yang aneh. Layar kameranya menyala dengan sendirinya.

Gambar terakhir yang Rakha ambil, yaitu pemandangan di danau, tapi kali ini di tengah air, terlihat ada sosok ular putih raksasa melingkar.

Dan di atas kepalanya berdiri Lintang, dengan mata yang bersinar terang, menatap ke arah Rakha melalui layar kamera.

Layar kamera bergetar pelan. Suara desisan samar terdengar dari spiker kecilnya. Rakha langsung jadi panik dan mematikannya. Ada pantulan di jendela. Sesosok bayangan putih sedang berdiri di belakangnya.

Rakha menoleh. Tak ada siapa pun. Tapi, di udara tercium aroma bunga melati samar-samar mengambang.

*****

Hari-hari berikutnya lebih aneh lagi……

Benda-benda yang ada di rumah Rakha bisa berpindah dengan sendirinya. Pintu belakang terbuka tanpa ada angin.

Dan setiap tengah malam, Rakha mendengar ada suara langkah halus di luar kamar, seperti ada sesuatu yang melata perlahan di lantai kayu.

Suatu malam, Rakha nekat membuka pintu kamarnya. Di sana, di ujung koridor, terlihat ada ular putih kecil melingkar di bawah meja.

Rakha jadi terpaku melihatnya. Ular itu menatap Rakha, kemudian dengan perlahan menjulurkan lidahnya…… Seperti sedang tersenyum pada Rakha. Kemudian ular itu merayap ke luar jendela, meninggalkan jejak basah seperti air.

Rakha terdiam lama. Anehnya, Rakha tidak merasa takut, seperti seharusnya. Tapi, ada perasaan akrab.

Seolah ular itu bukan makhluk yang asing, tapi bagian dari sesuatu yang sudah lama mengenal Rakha.

*****

Keesokan harinya, Rakha kembali menemui Lintang. Bukan karena berani, tapi karena merasa butuh jawaban.

“Sebenarnya apa yang telah terjadi padaku?” Tanya Rakha begitu sampai di rumah Lintang.

Lintang sedang duduk di beranda rumahnya, sambil menatap hutan. Dia tidak langsung menjawab pertanyaan dari Rakha.

“Semakin lama kamu berada di sini, semakin tipis batasan antara duniamu dan duniaku.” Jawab Lintang akhirnya.

“Dan ular itu?” Tanya Rakha penasaran.

“Mereka adalah penjaga. Mereka tahu siapa yang menolak dan siapa yang menerima.” Jawab Lintang.

“Menolak dan menerima apa?”

“Takdirmu, Rakha.” Lintang menatap lembut ke arah Rakha.

Rakha tertawa hambar. “Takdirku bertemu dengan ratu ular? Apa kamu sedang bercanda?”

“Tapi, aku tidak bercanda.” Jawab Lintang sambil bangkit. “Bukankah kamu pernah berjanji padaku? Itu sudah lama sekali. Sebelum kamu dilahirkan kembali menjadi manusia.”

Rakha menatap Lintang tidak mengerti. “Aku tidak pernah berjanji apa-apa pada kamu.”

“Mungkin sekarang kamu sudah melupakan janji itu. Tapi, jiwamu tidak.”

Lintang mendekat, begitu dekatnya, sampai-sampai Raditya bisa merasakan hawa dingin dari tubuhnya.

“Lihat mataku, Rakha!” Perintah Lintang pada Rakha.

Rakha menolaknya, tapi tubuhnya menuruti perintah Lintang. Akhirnya pandangan Rakha bertemu dengan mata Lintang. Dunia di sekitar mereka langsung berubah.

Tiba-tiba saja, Rakha berdiri di tepi danau yang sama, tapi langitnya berubah menjadi gelap. Bulan penuh bersinar besar di atas kepala.

Di atas air, ada ribuan ular sedang menari-nari, berputar-putar membentuk lingkaran cahaya. Di tengahnya ada Lintang sedang berdiri dengan gaun yang berkilau. Mata Lintang menjadi terang sepenuhnya.

“Aku pernah menunggumu di sini.” Suara Lintang menggema di udara. “Dulu kamu berjanji akan kembali.”

“Apakah ini mimpi?” Tanya Rakha dengan suara yang bergetar.

“Tidak. Ini adalah ingatan.” Jawab Lintang.

Rakha menatap sekelilingnya. Dia sangat bingung. Di antara cahaya dan kabut, Rakha melihat dirinya sendiri. Atau seseorang yang sangat mirip dengan dirinya? Memakai pakaian kuno, berlutut di hadapan Lintang dan mencium tangan Lintang.

“Dahulu kala, kamu adalah penjaga manusia yang melindungiku.” Lanjut Lintang. “Kita sudah terikat dalam perjanjian suci. Tapi, ketika dunia berubah, kamu memilih untuk pergi. Sekarang aku menagih janji itu.”

Rakha ingin berbicara, tapi tiba-tiba suaranya jadi hilang. Dunia sekitarnya berputar dan saat Rakha membuka matanya kembali, dia sudah kembali di beranda rumah Lintang, dengan napas yang terengah-engah.

“Apa yang kamu lihat barusan?” Tanya Lintang dengan lembut.

“Sebuah kenangan…… Tapi, itu tidak mungkin. Aku tidak mungkin hidup di masa itu.” Jawab Rakha.

“Jiwa tidak mengenal waktu.” Kata Lintang.

Hari itu Rakha pulang dengan kepala yang penuh dengan pertanyaan dan hati yang tak bisa tenang. Setiap kali Rakha menatap tangannya, dia merasa ada sesuatu yang berubah. Kulitnya menjadi dingin, kadang muncul kilau tipis di bawah cahaya.

*****

Malamnya, Rakha mencoba untuk menuliskan semua kejadian yang dialaminya di sebuah buku catatannya. Dia berharap bisa menguraikan logika di baliknya. Tapi, sebelum pena sempat menyentuh kertas, udara di kamarnya berubah.

Angin dingin bertiup dari arah jendela yang tertutup. Kemudian, dari cermin kecil di meja, muncul bayangan samar Lintang, seperti pantulan dari dunia lain.

“Kenapa kamu ada di sini?” Tanya Rakha dengan pelan.

“Karena kamu telah memanggilku.” Jawab Lintang.

“Aku tidak…….”

“Sadar atau tidak, hatimu sudah terikat padaku, Rakha”

Rakha mundur, tapi bayangan Lintang terus mendekat.

“Kalau aku menolak?” Tanya Rakha.

Lintang tersenyum. “Kamu tidak bisa menolakku. Cinta tak bisa ditolak. Bahkan, oleh waktu sekali pun.”

Cermin itu bergetar dan tiba-tiba saja dari permukaannya keluar kabut putih. Dari dalam kabut tersebut, tangan pucat Lintang menjulur keluar, menyentuh wajah Rakha sebentar, terasa dingin, namun lembut. Kemudian, semuanya menjadi gelap.

Saat Rakha sudah sadar kembali, pagi sudah datang. Rakha terbangun dari ranjang, tapi lehernya terasa dingin.

Saat Rakha melihat cermin, di kulitnya ada samar-samar bekas sisik. Ada setangkai bunga melati basah dan diujungnya melingkar sebuah cincin perak dengan ukiran sisik ular.

Cincin yang sama seperti yang dilihat Rakha di rumah Lintang waktu itu.

Bersambung………..

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel