Bab 2
Malam itu, Rakha jadi sulit tidur. Setiap kali memejamkan matanya, wajah Lintang selalu muncul di benaknya. Kadang dengan senyum lembutnya, kadang dengan mata hijau yang menyala dari balik kabut. Anehnya, meskipun semua terasa ganjil dan mengusik, Rakha tetap tidak bisa berhenti memikirkan Lintang.
Ada sesuatu tentang diri Lintang yang sangat menarik dan menenangkan baginya, tapi sekaligus menakutkan bagi Rakha. Dan Rakha…… Mungkin agak merasa gila karena menginginkan Lintang.
*****
Hari berikutnya, Rakha memutuskan untuk kembali ke hutan itu lagi. Kali ini dia membawa kamera, tripod, dan sedikit keberanian palsu yang dia bangun dari secangkir kopi hitam.
Bu Surti sempat menahan Rakha di depan rumah. “Mas Rakha, mau pergi kemana pagi-pagi begini?” Tanyanya.
“Saya mau pergi ke hutan, bu. Saya mau ambil foto lagi.” Jawab Rakha.
“Mas…..” Kata Surti dengan nada serius. “Hutan itu bukan tempat bermain. Banyak orang sudah diberitahu, tapi masih nekat. Ada beberapa orang yang tidak kembali setelah dari sana.”
Rakha tertawa. Dia mencoba menenangkan suasana. “Saya tidak pergi jauh kok, bu. Cuma di tepi hutan saja.”
Bu Surti menatap Rakha lama sekali. “Tapi, kalau mas bertemu dengan perempuan itu lagi, jangan ikuti dia ya, mas.” Katanya memperingati Rakha lagi.
Rakha hanya diam saja. Dia ingin bertanya darimana Bu Surti tahu tentang hal itu. Tapi, menurut Rakha, hal itu tidak perlu ditanyakannya pada Bu Surti. Senyum tipis Bu Surti sepertinya mengandung banyak hal yang tidak bisa diucapkannya.
Rakha masuk ke jalan setapak yang sama seperti sebelumnya. Hujan sudah berhenti, tapi tanah masih tetap lembab dan daun-daun di atas kepalanya masih meneteskan sisa-sisa air hujan. Cahaya matahari menembus celah-celah pepohonan, seperti garis-garis emas yang bergoyang.
Beberapa kali Rakha berhenti memotret. Tapi, tidak ada Lintang di sana. Tidak ada ular juga. Hanya hutan yang sunyi dan tenang.
Namun, semakin jauh Rakha melangkah, semakin kuat aroma bunga yang aneh tercium. Wangi lembut, tapi menusuk hidung. Rakha mengikuti aroma itu sampai menemukan sesuatu. Ada jalan kecil yang tak terlihat, seperti buatan manusia. Di ujunynya berdiri sebuah rumah berbahan dari kayu tua, yang separuhnya sudah ditelan oleh lumut. Rakha merasa ragu untuk melangkah, tapi akhirnya dia pun mendekat.
Rumah itu terlihat sangat aneh dan sepi, tapi tidak tampak ditinggalkan oleh penghuninya. Di terasnya ada kendi yang berisi air dan beberapa bunga-bunga segar, seolah-olah baru saja diletakkan.
Dan di depan pintunya, duduklah seorang.
“Lintang …….”
Lintang menoleh pelan. Rambutnya kali ini terurai dengan lembut. Dan gaun putihnya sudah digantikan dengan kain sederhana berwarna krem. Dia tersenyum kecil, seolah-olah sudah menunggu Rakha sejak lama.
“Akhirnya kamu datang juga.” Kata Lintang.
“Ya, aku hanya penasaran saja.” Jawab Rakha.
“Penasaran? Tentang aku?” Tanya Lintang.
Rakha menganggukkan kepalanya. Dia terlihat kikuk.
“Entahlah. Aku hanya ingin tahu, siapa sebenarnya kamu.” Kata Rakha.
Lintang menatap Rakha agak lama, kemudian dia berdiri dan membuka pintu rumahnya untuk Rakha.
“Kalau begitu, masuklah! Tapi, jangan tanya hal yang belum siap aku dengar.” Kata Lintang.
interior di dalam rumah Lintang sangat sederhana sekali, tapi rumahnya sangat bersih. Lantai kayu rumahnya dari kayu tua yang mengkilap, bau dupa samar-samar mengambang di udara. Di pojok ruangan ada sebuah guci besar, yang berisi air besih dan jernih dengan bunga melati yang terapung di atasnya.
“Tempatmu….. Sangat tenang.” Kata Rakha pelan.
“Aku sangat suka ketenangan.” Jawab Lintang sambil menuangkan teh ke cangkir tanah liat. “Kepalamu terlalu berisik, Rakha. Itu sebabnya kamu tidak bisa tidur.”
Rakha menatap Lintang bingung. “Darimana kamu tahu, aku tidak bisa tidur?”
Lintang hanya tersenyum, tidak menjawab pertanyaan Rakha barusan.
Mereka duduk saling berhadapan. Cukup lama dalam diam.
Kemudian Lintang berkata, “Apakah kamu tahu, mengapa aku tinggal di sini?”
Rakha menggelengkan kepalanya.
“Karena aku tidak bisa pergi terlalu jauh. Aku terikat dengan tempat ini.” Kata Lintang.
“Terikat?” Tanya Rakha bingung.
“Ya, sudah sejak dulu.” Kata Lintang.
Lintang menatap ke luar jendela, ke arah hutan. Tatapan itu membuat Rakha jadi merinding. Entah mengapa, seperti mengingat sesuatu yang berat.
“Kamu ini, seorang manusia, kan?” Tanya Rakha iseng.
Lintang menoleh ke arah Rakha, sambil tersenyum samar. “Menurutmu?”
“Hm….. Mungkin saja setengah.” Jawab Rakha.
Lintang tertawa kecil. Tapi, tawa itu lebih mirip bisikan yang menusuk kulit.
“Kamu itu lucu ya, Rakha.” Kata Lintang.
Waktu berjalan tanpa terasa. Mereka mengobrol tentang hal-hal yang ringan, tentang bunga, hutan, suara-suara malam yang kata Lintang bukan suara jangkrik.
Lintang bicara dengan cara yang tenang, namun terkadang aneh, tapi membuat Rakha betah untuk mendengarkannya.
Menjelang sore hari, Rakha sadar akan sesuatu. Tidak ada suara burung di sekitar rumah Lintang. Tidak ada nyamuk juga, tidak juga ada serangga.
Dan setiap kali Rakha menatap lebih lama ke lantai kayu Lintang, Rakha melihat sesuatu yang berkilau tipis seperti sisik yang tertanam di sela-sela papan.
Rakha berdiri, mencoba untuk menutupi rasa gugupnya. “Aku harus balik. Sudah sore.”
“Besok kamu datang lagi, kan?” Tanya Lintang datar. Bukan sebuah permintaan, tapi seperti memberi perintah dengan lembut.
Rakha menatap Lintang dengan ragu-ragu. “Untuk apa?”
“Aku akan menunjukkan sesuatu padamu.” Jawab Lintang.
Rasanya Rakha ingin bertanya apa maksud dari Lintang itu, tapi suaranya tidak bisa keluar. Entah mengapa, Rakha hanya mengangguk, kemudian melangkahkan kakinya keluar. Saat dia menoleh kembali, pintu rumah Lintang sudah tertutup dengan rapat.
Sore itu, Rakha pulang dengan banyak pertanyaan di benaknya. Tapi, di dalam rasa bingung itu, ada juga sesuatu yang lain, semacam rasa ketertarikan yang aneh, campuran antara rasa kagum dan takut.
Di desa, beberapa orang menatap Rakha dengan cara yang berbeda. Seperti ingin bicara, tapi memilih untuk diam. Sampai pada akhirnya, ada seorang laki-laki tua memanggil Rakha di warung kopi dekat jalan utama.
“Kamu orang baru ya?” Tanya laki-laki tua itu.
Rakha menganggukkan kepalanya. “Iya, pak. Saya seorang fotografer.” Jawabnya.
“Kamu sudah pernah pergi ke hutan?” Tanya laki-laki tua itu lagi.
Rakha terdiam sejenak, kemudian menjawab, “Sedikit.”
Laki-laki tua itu menghela napas panjang. “Kalau sudah ke sana, jangan sering-sering datang ke sana ya, nak. Di ujung hutan ada tempat yang tidak seharusnya manusia kunjungi.”
“Memangnya ada apa di sana, pak?” Tanya Rakha dengan bingungnya.
Laki-laki tua itu menatap Rakha dengan sangat lama. Matanya buram, tapi tajam. “Di sana ada ratu ular, penjaga danau tua. Katanya parasnya cantik luar biasa, tapi kalau laki-laki sudah melihat matanya terlalu lama, dia akan dibawa masuk ke dunia bawah. Tidak bisa kembali lagi.”
Rakha tertawa kecil. “Itu cerita rakyat, pak?”
Laki-laki tua itu menggeleng pelan. “Cerita rakyat yang selalu lahir dari sesuatu yang pernah terjadi.”
*****
Malamnya, Rakha bermimpi lagi. Kali ini dia bermimpi lagi. Lintang sedang duduk di lantai. Rambutnya basah dan di sekililingnya melingkar ular-ular putih kecil yang bergerak lamban.
“Aku ingin menunjukkan sesuatu padamu.” Kata Lintang sambil tersenyum.
Tapi, saat Rakha menatap wajahnya, kulitnya mulai berubah, sebagian menjadi sisik yang berkilau. Mata Lintang sepenuhnya berubah jadi hijau, dan lidahnya terbelah halus.
Rakha terbangun dengan suara teriakan yang tertahan. Napasnya terengah-engah, tubuhnya dingin, tapi entah mengapa di dada terasa sesak, seperti kehilangan sesuatu yang penting.
Di luar, suara hujan kembali turun. Tapi, kali ini ada suara lain di sela tetes air. Suara desisan lembut, seperti suara ular yang menyusup di bawah jendela.
Keesokan paginyam Rakha kembali ke rumah Lintang. Entah ada dorongan darimana yang membawa Rakha, tapi kakinya melangkah tanpa bisa menolak. Mungkin ada rasa ingin tahu, mungkin juga ada sesuatu yang lebih dalam.
Saat tiba di sana, pintu rumah Lintang sudah terbuka. Lintang sedang berdiri di depan sebuah cermin besar yang terlihat sudah tua. Dia menatap pantulannya sendiri, kemudian berbalik saat menyadari kehadiran Rakha.
“Akhirnya kamu datang juga.” Kata Lintang datar.
“Kamu yang suruh aku datang, bukan?” Tanya Rakha.
Lintang tersenyum samar. “Ya, benar. Aku mau memperlihatkan cermin itu. Permukaannya sedikit bergelombang, seperti air.”
“Itu…… Itu cermin aneh.” Kata Rakha mengemukakan pendapatnya.
“Itu bukan cermin. Itu jendela.” Kata Lintang.
“Jendela kemana?” Tanya Rakha lagi.
“Ke tempat yang tidak bisa kamu pahami.” Jawab Lintang.
Lintang meminta Rakha untuk duduk. Kemudian, dia membuka sebuah kotak kayu kecil yang ada di atas meja. Di dalamnya ada sebuah cincin perak dengan ukiran berbentuk sisik ular.
“Apa kamu percaya pada nasib, Rakha?” Tanya Lintang.
“Aku tidak tahu.” Jawab Rakha.
“Kalau aku bilang kalau kita sudah terikat sejak dulu, apa kamu akan mempercayainya?” Tanya Lintang lagi.
Rakha mengerutkan keningnya. Dia tak mengerti ucapan Lintang barusan. “Apa maksudmu?”
Lintang mendekat, sangat dekat hingga Rakha bisa mencium aroma bunga dan hujan di kulit Lintang.
“Kadang, janji lama tidak akan hilang begitu saja. Hanya menunggu waktu untuk ditagih.” Lintang menatap mata Rakha dalam-dalam.
Saat itu Rakha merasa seperti ditarik dalam pusaran. Mata Lintang berkilau kehijauan. Untuk beberapa detik, Rakha merasa tidak bisa bergerak. Tubuh Rakha menjadi dingin, tapi pikirannya masih terasa hangat dan tenang.
“Lintang ……” Suara Rakha jadi serak. “Siapa kamu sebenarnya?”
Lintang tersenyum kecil, kemudian dia menempelkan telapak tangannya di dada Rakha.
“Aku yang menjaga. Aku yang menunggu. Dan mungkin, aku juga yang akan mengambilmu.”
Seketika suasana di sekitar Rakha berubah. Udara menjadi lembab dan berat. Cahaya matahari meredup dan dari bawah lantai terdengar suara gemerisik, seperti banyak sesuatu yang bergerak bersamaan.
Rakha terlonjak untuk mundur. Tapi, Lintang menatap Rakha dengan tatapan yang tenang.
“Jangan takut!” Kata Lintang pelan. “Kalau aku ingin mencelakaimu, sudah aku lakukan dari dulu.” Lanjutnya.
Rakha terdiam, menatap Lintang tanpa tahu harus berkata apa.
Setelah beberapa saat, Lintang berjalan menuju pintu dan membukakan jalan untuk Rakha.
“Pulanglah dulu! Besok, datang kembali setelah matahari terbenam. Aku akan tunjukkan sesuatu yang lebih dari sekedar hutan.” Kata Lintang.
Rakha ingin menolak permintaan Lintang itu, tapi entah mengapa bibir Rakha berkata lain, “Baiklah.”
Dalam perjalanan pulang, Rakha merasa seperti baru keluar dari alam mimpi panjang. Udara desa terasa berbeda, lebih dingin dari biasanya.
Beberapa penduduk yang dilalui oleh Rakha, menatapnya dengan pandangan curiga. Salah satu dari ibu-ibu, bahkan berbisik sambil menepuk pundak anaknya supaya menjauhi Rakha.
Rakha mulai sadar. Mungkin dia sudah terlalu jauh masuk ke sesuatu yang seharusnya tidak dia sentuh.
Malamnya…….
Saat menatap hasil fotonya di kamera, Rakha tahu kalau semuanya sudah terlambat.
Dalam salah satu foto yang diambil Rakha di rumah Lintang, di belakangnya terlihat ada bayangan besar berbentuk ular putih raksasa. Matanya hijau menyala dan ekornya melingkar di sekitar rumah Lintang.
Namun anehnya, wajah Lintang di dalam foto itu tersenyum hangat ke arah Rakha, seolah-olah Rakha sedang melihatnya.
Dan di sudut bawah foto, ada sesuatu yang tidak diingat, tapi entah bagaimana bisa muncul. Tulisan itu berbunyi, ‘Datanglah saat matahari terbenam, Rakha. Aku menunggumu’.
Bersambung……………
