Bab 5. Timbul Masalah Baru
Telah terjadi ketegangan hari itu. Dimana saat itu Kulihat antara Hakim dan Sadat saling menatap dengan sengit. Entah apa yang terjadi di antara mereka berdua membuat ku berada di posisi yang tidak bisa untuk melakukan apapun. Aku bahkan tidak ingin membuat asumsi sendiri apakah Hakim sedang membela ku atau kah Sadat memang sengaja mengerjai ku karena kejadian tempo hari di kantin. Aku sama sekali tidak berpikir ada romansa di antara kami bertiga. Yang ku takutkan hanyalah terjadi perkelahian di antara mereka berdua. Aku hanya bisa diam dan tetap melihat mereka saling menatap dengan sinis.
Di saat aku terdiam dan hanya melihat ke arah Sadat, Hakim mendorongku dan meminta ku untuk kembali ke tempat duduk. Melihat hal itu Sadat tampak semakin tidak suka melihatnya sehingga ia meminta ku untuk tetap berada di tempat ku.
“ Wow, wow, wow. Apakah di kelas ini ada pasangan Romeo dan Juliet?“ ucap Sadat seolah-olah menyindir.
“ Baiklah, kalau begitu. Karena kita kedapatan satu personil tambahan, Jadi kita akan mendengarkan mereka berdua bernyanyi. Bukan begitu? “ katanya lagi sambil merangkul Hakim dan menatap ke arah Laura.
Hakim hanya terdiam dan berusaha melepaskan tangan Sadat yang saat itu memegang bahunya, aku sendiri hanya bisa diam dan terlihat gugup. Aku sama sekali tidak pandai bernyanyi, apalagi sampai di tonton orang banyak seperti ini. Aku hanya berharap sesuatu terjadi sehingga aku tidak akan pernah bernyanyi dengan di tonton orang sebanyak ini.
Beberapa Siswa mulai bersorak sorai dengan ramai. Aku sempat menatap ke arah Ilham dengan harapan ia bisa membantuku. Akan tetapi dia hanya mengangkat kedua bahunya dengan tangan terbuka seolah - olah mengisyaratkan bahwa dia tidak bisa membantuku sama sekali.
“ TUNGGU! “ teriak Hakim. Sudah ku bilang kan bahwa coklat dan bunga itu milik Laura. Bukan kah seharusnya dia duduk? “ katanya lagi. “ Ah, begitu rupanya. Apakah benar yang dikatakan anak ini Laura? “ tanya Sadat kepada ku. Aku pun terdiam seolah - olah membisu. Aku tidak tahu apakah aku harus meneruskan kebohongan ini atau tidak. Sejujurnya aku tidak memiliki keberanian untuk menyanyi di depan orang banyak. Tapi aku juga tidak bisa membiarkan Hakim di hukum menggantikan ku.
“ Apa yang harus ku lakukan?“ ucapku dalam hati.
“ Bagaimana Laura? Kenapa kau diam saja?“ Tanya Sadat lagi. Aku melihat Hakim mengedipkan mata seakan dia meminta ku untuk berkata iya.
“ I-Iya kak. “ jawabku dengan gugup. Tampak kekecewaan di raut wajah Sadat saat itu. Aku merasa bahwa sepertinya aku sudah membuat masalah sebelum menjadi siswa yang sah di sekolah itu.
Aku rasa nantinya kehidupan sekolah ku tidak akan berjalan lancar melihat Sadat yang tampaknya membenci ku. Akhirnya Hakim menggantikan ku bernyanyi di depan. Aku tidak menyangka bahwa Hakim ternyata sangat mahir bernyanyi. Aku tidak menduga betapa merdu suaranya. Apakah ia sengaja ingin pamer keahliannya itu? Atau dia memang benar - benar membantu ku? Aku hanya bisa bertanya - tanya sendiri karena ku tidak ingin mencari tahunya lagi.
Selesai Hakim bernyanyi, Sadat meninggalkan kelas ku. Dia pergi dengan raut wajah yang begitu masam. Aku tidak tahu apa yang ada di dalam hatinya saat ini, namun aku tebak bahwa sepertinya dia sangat kesal dengan ku dan juga Hakim. Hakim kembali duduk di sampingku. Suasana di antara kami kembali canggung. Aku bahkan engga berani bertegur sapa dengannya. Ya, karena aku malu.
Aku beberapa kali memergoki bahwa Hakim melirik ke arah ku, akan tetapi aku tetap diam seolah tidak menyadarinya padahal aku tahu betul bahwa dia melihat ke arah ku terus - menerus. Apa yang terjadi saat ini membuat ku rasanya ingin pindah tempat duduk. Saat waktu senggang aku sengaja mendatangi Ilham yang saat itu sedang sendirian.
“ Ham, tukeran tempat duduk yuk. Atau gak Lo duduk bareng gue deh.“ kata ku pada Ilham.
“ Duduk sama Lo? Kan Lo udah sama Hakim. Emang boleh pindah tempat duduk?“ Tanya Ilham dengan ragu.
“ Tentu saja boleh. Emang kita anak TK yang gak boleh tuker-tukeran. Ayo ah cepet! “ kata ku lagi memaksa.
“ Gue tanya dulu si Ratih deh.“ sahut Ilham.
Aku kembali ke tempat ku dengan harapan teman sebangku Ilham mau bertukar tempat duduk dengan ku. Ratih terlihat baru datang setelah dari toilet. Aku pun melihat Ilham berbicara dengannya. Kedua mataku terus tertuju pada Ilham dengan harapan ia mau duduk denganku. Tak lama kemudian Ilham menoleh ke arah ku. Dia pun menggelengkan kepalanya. Aku mulai berbicara dengan bahasa tubuhku.
Ilham membalasnya dengan menyilangkan tangannya, yang itu berarti bahwa Ratih tidak mau bertukar tempat duduk. Ilham pun bahkan tidak ingin pindah ke belakang karena penglihatannya kurang baik. Aku menyandarkan dagu ku ke meja lalu menghela napas panjang. Aku kira sepertinya memang sudah takdir bahwa aku akan terus duduk di sampingnya.
Hakim merasa heran melihat tingkah Laura. Dia bahkan merasa penasaran dengan apa yang di bicarakan oleh Laura kepada Ilham. Hakim masih menjaga sikap sehingga dia tidak menunjukkan secara langsung rasa penasarannya tersebut. Sampai pada akhirnya bel istirahat berbunyi lalu Hakim menemui Ilham dan meminta Ilham untuk berbicara dengannya di luar kelas.
Saat bel istirahat berbunyi adalah saat yang paling ku tunggu, aku begitu kelaparan sehingga membuatku merindukan bakso kantin kesukaan ku. Setibanya di kantin, aku sudah tidak bisa menemukan tempat duduk yang kosong.
“ Yah, gak ada bangku kosong lagi. Ah, udahlah pesen aja dulu.“ kata ku berbicara sendiri.
Aku selalu sendiri karena aku tidak terlalu dekat dengan siapa pun. Aku hanya dekat dengan Ilham, namun saat aku hendak mengajaknya untuk makan bersama, dia mengatakan ada urusan penting, sehingga aku sendirian pergi ke kantin.
Setelah aku memesan semangkuk bakso, aku kembali celingak celinguk mencari tempat duduk yang kosong. Aku mulai memicingkan kedua mataku mencari tempat yang barangkali bisa ku duduki. Lalu kemudian, aku melihat ada bangku kosong di dekat ruang UKS. meskipun engga ada meja, yang penting aku bisa duduk dan menikmati makanan ku.
Aku menghampiri tempat duduk tersebut dan mulai menyantap makanan ku. Aku memegangnya dengan kedua tangan ku karena kebetulan hanya tempat duduk yang tersedia dan tidak ada meja sama sekali.
“ Akhirnya, aku makan juga bakso yang sudah lama ku idam-idamkan.“ kata ku memuji makanan yang ada di tanganku.
Di saat aku sedang asik menyantap makanan, tiba-tiba saja ada seorang gadis mungil berdiri tepat di hadapan ku. Aku terdiam sejenak. Lalu menaruh mangkok bakso di samping ku. Lalu ku angkat kepala ku untuk melihat siapa yang tiba-tiba saja berdiri tepat di hadapanku.
“ Siapa ni orang? Ngapain juga tiba-tiba datang gini? Ganggu orang makan aja. “ gerutu ku dengan pelan.
“ Hai, Gue Octa. Lo Laura ya? “ ucap gadis mungil itu sembari menatapku sambil tersenyum.
