Bab 4. Hari Kedua Masa Orientasi
Ini sudah hari kedua Masa Orientasi Siswa. Hari ini kami para siswa kelas 10 di perkenalkan dengan beberapa kegiatan ekstrakulikuler seperti ; Futsal, Basket, karate, pencak silat, tari saman, rohis ( keagamaan ) , palastu ( Pramuka ) dan masih banyak yang lainnya. Kami mulai di minta untuk mengisi semacam formulir untuk esktrakulikuler yang kami minati beserta alasannya.
Aku melihat bahwa sekolah ini cukup terkenal dengan ekstrakulikuler futsalnya, hanya saja saat itu tidak ada untuk wanita. Sehingga akhirnya aku memilih Basket sama seperti yang ku ikuti pada waktu di SMP.
Bahkan ekstrakulikuler Tari saman cukup populer namun aku sama sekali tidak tertarik. Tubuh ku terlalu kaku untuk menari karena aku lebih menyukai hal-hal yang berbau olahraga. Karena penasaran, aku mencoba melirik apa yang di tulis oleh Hakim saat itu. Aku mulai memicingkan mata ku untuk melihat apa yang dia tulis dalam lembar formulirnya. Aku penasaran ekskul apa yang dia pilih. Saat aku mencoba untuk mengintip, aku sudah ketahuan lebih dulu sehingga dia menutup lembar formulirnya dari ku.
“ Untuk apa Lo lihat punya Gue?“ tanya Hakim dengan ketus.
“ Siapa juga yang ngeliatin. Pede banget Lo. “ jawab ku mengelak.
Pupus sudah harapan ku untuk mengetahui ekskul apa yang Hakim pilih. Aku mulai ngedumel sendiri. Lagi-lagi aku merasa penasaran bukan karena aku menyukainya. Hanya saja aku tidak ingin memiliki kegiatan yang sama dengan dia. Cukup hanya duduk sebangku saja yang membuat ku kesal, jangan pada saat melakukan hal yang ku suka, harus ada dia di sampingku dan membuat aku enggan menjalaninya.
Setelah di perkenalkan dengan kegiatan ekstrakulikuler yang ada di sekolah, para kakak pembina mos, mengenalkan satu orang personilnya yang akan memimpin sebuah permainan yang akan di lakukan. Pada saat kaka pembina menyebut sebuah nama, seseorang masuk dari balik pintu. Aku sedikit terkejut pada saat melihatnya.
“ Ini namanya kakak Sadat, dia akan memimpin jalannya permainan yang akan kita mainkan hari ini. “ kata salah satu kakak pembina perempuan yang sebelumnya mengenalkan kegiatan ekstrakulikuler kepada kami.
Aku sempat terpaku sambil berkata “ Bakso! “ seru ku tanpa aku sadari. Sadat adalah kakak kelas yang ku temui di kantin pada hari pertama Mos yang mengambil tempat duduk ku sehingga aku tidak bisa makan bakso yang sudah susah payah ku pesan.
“ Ck, kenapa harus dia sih. “ ucap ku dengan nada pelan.
Hakim terkejut dengan apa yang di katakan oleh Laura.
Hakim merasa bahwa sepertinya Laura sudah mengenal kakak kelas tersebut. Hakim juga merasa penasaran ada hubungan apa Laura dengan kakak kelas tersebut. Hal itu menjadi pertanyaan besar dalam kepala Hakim. Karena ia memiliki gengsi yang cukup besar ia tidak bertanya kepada Laura dan memilih untuk menebaknya dengan cara memperhatikan setiap gerak - gerik yang dilakukan oleh Laura dengan kakak kelas yang bernama Sadat itu.
Sadat beberapa kali menatap ke arah Laura. Ia menyadari bahwa Laura adalah siswi baru yang ia temui pada saat di kantin pada hari pertama masa orientasi. Sadat tidak menyangka bahwa ia akan bertemu lagi. Sadat merupakan kakak kelas di kelas 12 IPS 1. Sebenarnya kebanyakan kakak pembina yang memimpin jalannya masa orientasi adalah kakak kelas 11, karena sudah kelas 12 maka di haruskan dengan fokus kepada pembahasan mengenai ujian nasional. Namun kali ini Sadat di minta untuk mengisi acara sedikit karena sebelumnya ia merupakan mantan ketua OSIS.
Sadat tidak menolaknya karena ini adalah permintaan khusus oleh para anggota organisasi yang sebelumnya ia naungi. Sebelumnya para siswa dan siswi kelas 10 diminta untuk membawa sebuah coklat dan juga setangkai bunga mawar. Sadat pun meminta siswa siswi di kelas tersebut untuk segera mengeluarkannya karena ia akan mengumupulkan satu persatu.
Laura mulai membuka tasnya dan hendak mengeluarkannya. akan tetapi, tiba-tiba saja coklat dan bunga yang sudah ia siapkan, menghilang begitu saja dari dalam tasnya.
“ Hah? Kemana coklat dan bunga ku? aku sudah menyiapkannya semalam. kenapa tidak ada?“ kata ku mulai panik. Aku terus mencari dengan mengeluarkan satu persatu barang yang ada di dalam tas ku.
Melihat Laura yang terlihat panik, menimbulkan banyak pertanyaan dalam benak Hakim. Hakim merasa sepertinya Laura kehilangan barang miliknya. Begitu pula dengan Sadat, ia yang melihat Laura tampak panik, datang menghampirinya.
“ Dimana sih? “ gerutu ku sembari mencari.
Aku melihat Sadat yang semakin mendekati ku. Aku rasa aku akan menyebabkan masalah kali ini. Sadat sudah berada tepat di samping ku sambil memperhatikan apa yang sedang ku lakukan. Aku mencoba memberanikan diri untuk mengatakan bahwa milik ku tertinggal karena terburu-buru berangkat tadi pagi. Aku mulai mengatur napas untuk membangkitkan keberanian ku.
“ Maaf kak, punya saya tertinggal. “ kata ku dengan tegas di depan Sadat. Aku hanya melihat senyuman sinis di wajahnya saat itu. Entah mengapa senyuman itu terlihat sedikit menakutkan.
“ Oke, siapa nama mu? “ tanya Sadat dengan suara lantangnya. “ Laura kak. “ jawab ku. “ Oke, Kamu bisa jalan kedepan sekarang. “ ucap Sadat sembari berjalan ke depan papan tulis. “ Ha? Ja- Jalan kedepan? “ kata ku yang mulai gugup.
Aku sangat terkejut sampai tidak bisa berkata-kata. Aku memang tidak memiliki keberanian untuk tampil di depan orang banyak. Membuat beberapa pasang mata memperhatikan ku membuat ku keringet dingin karena terlalu gugup. Sadat meminta ku untuk bernyanyi di depan yang lainnya karena aku tidak membawa apa yang seharusnya ku bawa hari itu.
“ Ah, sial banget aku hari ini. “ kata ku dalam hati. Hakim tampak menatap Laura terus menerus. Ia merasa bahwa Laura terlihat tidak nyaman menjadi bahan tontonan. Hakim merasa bahwa sepertinya Laura mulai merasa terintimidasi. Ia pun langsung beranjak dari tempat duduknya dengan membawa coklat serta bunga di tangannya.
Aku melihat Hakim yang tiba - tiba saja berdiri lalu menghampiri ku. Entah apa yang ia pikirkan, aku menduga bahwa Hakim mungkin akan izin pergi ke toilet karena tidak ingin mendengar suara ku. Namun ternyata yang ku lihat saat itu Hakim mendatangi Sadat dan meletakkan coklat serta bunga di sampingnya sambil menatap dengan sinis.
“ Ini coklat dan bunga milik Laura. Dia kasih ke Gue sebelum bel masuk. Jadi Gue akan gantiin dia nyanyi. “ ucap Hakim dengan lantang di depan kelas sambil menatap Sadat. Aku hanya bisa terkejut dan bertanya - tanya. Ku lihat raut wajah Sadat seperti tidak menyukai apa yang telah Hakim lakukan. “ Aku bahkan sama sekali tidak memahami maksud dari apa yang Hakim lakukan saat ini. Bahkan aku tidak memberikannya apapun mengapa dia mengaku bahwa aku memberikannya coklat dan bunga? Apakah dia sedang membela ku saat ini? “
