Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 6. Di tunjuk sebagai pengisi acara

Lagi asyik makan, aku di hampiri seseorang. Ku lihat dia sudah berpakaian seragam SMA, ku pikir dia kakak kelas karena pakaiannya terlihat serba ketat itu. Rok nya bahkan terlihat sangat modis. Cewek itu ku lihat dari atas sampai bawah tubuhnya mungil dan rambutnya sebahu membuat dia terlihat cantik, bahkan kulitnya sangat putih. Aku sama sekali tidak tahu mengapa ia datang menghampiri ku dan menyebut namanya seolah-olah sedang memperkenalkan dirinya di hadapan ku.

Ku taruh mangkok bakso yang ada di tanganku lalu bertanya kepadanya apa tujuannya ia datang menghampiriku sembari menyebutkan namanya. Lalu, perempuan itu mengatakan kepada ku bahwa dia hanya ingin mengenalku. Ku pikir tidak mungkin hanya sekedar itu. Aku sama sekali tidak menarik perhatian di kantin itu bahkan aku duduk sendirian dimana tidak ada siapa pun yang memperhatikan. Ku pikir dia sedang berbohong saat ini.

“ Mungkin gak sih dia pengen ngebully gue karena waktu itu gak sempet? “ kata ku dalam hati.

Aku mengingat bahwa perempuan yang ada di hadapan ku saat ini adalah perempuan yang sebelumnya bersama dengan dua orang laki-laki yang dimana satu di antaranya pernah mengambil tempat duduk ku.

“ Apakah dia pengen kasih tau gue wilayah teritorinya sama dua temannya itu? atau jangan-jangan dia main geng-gengan? “ kata ku lagi bertanya-tanya dalam hati.

“ Ya, baiklah, salam kenal. Kalau begitu saya permisi dulu kak.“ kataku menyudahi pembicaraan ku dengannya. Perempuan yang bernama Octa itu hanya tersenyum kepadaku. Saat kembali ke kelas, aku tetap memikirkan perempuan yang baru aja aku temui sebelumnya. Entah mengapa terlalu mengganggu pikiran sehingga membuatku selalu bertanya-tanya.

Menurutku terlalu aneh jika dia menghampiriku tanpa sebab seperti itu bahkan mengenalkan dirinya. Jika memang ingin berteman, seharusnya dia tidak menghampiri ku begitu saja seolah-olah dia mengenalku bahkan ku lihat pria yang bersamanya saat itu tampak melihat dirinya dari kejauhan. Belum juga selesai aku memikirkan Hakim, sudah ada lagi yang mengganggu pikiranku, Bahkan aku merasa sepertinya Hakim tampak menjaga jarak dengan ku padahal aku sama sekali tidak memintanya membelaku di depan Sadat.

" Ah, benar, Sadat! Apakah Octa mendekatiku karena di suruh Sadat ya? Aku jadi ingat bahwa sepertinya mereka berteman? Mungkin kah ini terjadi karena Hakim membela ku? Bahkan aku tidak tahu mengapa Hakim melakukan hal seperti itu tanpa ku minta, kami pun terlihat seperti musuh bebuyutan. "

Saat Laura sedang termenung, kakak kelas pembina MOS kembali memasuki ruangan kelasnya, lalu ia berkata kepada seluruh Siswa dan Siswi yang ada di kelas itu untuk mengacungkan tangan jika ada yang ingin mengisi acara penutupan Mos besok. Aku hanya diam karena aku tidak tertarik sama sekali. Ternyata rumor tentang Hakim yang memiliki suara emas sudah tersebar di kalangan kakak kelas. Sehingga ia menunjuk Hakim dan berkata bahwa Hakim akan mewakili kelas ini untuk bernyanyi.

“ Hakim, Lo bagus kalau nyanyi, jadi Lo bakal nyanyi nanti. Silahkan pilih lagunya apa aja bebas.“ kata kakak kelas pembina menunjuk ke arah Hakim. Hakim terlihat tidak menyukainya. Awalnya Hakim langsung menolak mentah-mentah. Karena dia tidak ingin tampil di depan umum apalagi di hadapan seluruh Siswa yang ada di sekolah ini. Lalu kemudian kakak kelas tersebut mengatakan bahwa Hakim membutuhkan pengiring yang bisa memainkan alat musik dan mengiringi nya bernyanyi.

Aku sama sekali tidak mempedulikannya. Ku pikir aku tidak akan pernah ikut dalam bagian acara tersebut sehingga aku hanya diam saja dan tidak bicara sama sekali menunggu keputusan serta perdebatan yang sempat terjadi di antara Hakim dan kakak kelas pembina saat itu. Aku memang memiliki kemampuan bermain gitar, meskipun tidak piawai, tapi aku bisa memainkannya sesuai dengan tangga nada lagu yang akan di mainkan.

Aku bisa karena di ajarkan oleh pamanku yang dimana dia adalah adik laki-laki kedua dari ayah ku. Dia sangat pandai memainkannya sehingga sesekali aku meminta untuk di ajari. Sampai pada akhirnya aku cukup pandai memainkannya. Yang tahu aku bisa memainkan alat musik hanyalah teman-teman SMP ku saja, dan Ilham sangat mengetahuinya.

“ Hayo, siapa di sini yang bisa mainin alat musik? Apa aja deh, mau gitar, Bass, drum juga boleh.“ tanya kakak pembina.

Ilham langsung menengok ke arah ku. Aku pun bertanya dengan gerak tubuh ku yang berkata untuk apa ia memandang ku. Lalu, tangannya seperti sedang memetik gitar lalu menunjuk ke arah ku. Dengan cepat aku menanggapinya, aku tahu bahwa tujuan Ilham adalah meminta ku untuk tunjuk tangan karena aku bisa bermain gitar.

Sontak aku menggelengkan kepalaku dan menolak. Ternyata sedari tadi kami diperhatikan oleh kakak  pembina sehingga kemudian ia menghampiri Ilham. Aku pun langsung membuang muka karena tidak ingin nantinya di salahkan atau di tunjuk.

“ Lagi berbicara Sama siapa? Lo bisa main gitar? Kenapa gak tunjuk tangan? malah Ngobrol.“ tanya kakak pembina itu dengan tegas kepada Ilham.

“ Engga kak, bukan saya tapi dia.“ jawab Ilham sambil menunjuk ke arah Laura.

Melihat Ilham menunjuk ke arah Laura membuat semua siswa dan siswi melihat ke arahnya, hal itu membuat Laura sangat terkejut dan sedikit gemetar karena dia tidak pernah di perhatikan seperti ini. Bahkan dia berusaha tidak menarik perhatian banyak orang itulah sebabnya dia memilih duduk di belakang. Bahkan saat aku menoleh ke arah Hakim, ia tampak melihat ku seperti tidak percaya bahwa aku bisa memainkan alat musik.

“ Oh, Laura? Oke kalau begitu, Hakim menyanyi dengan diiringi permainan gitar dari Laura. Karna waktunya mepet, kalian bisa latihan dari sekarang, ada gitar di ruang seni, kalian bisa latihan di sana, kalau di kunci minta aja di ruang guru kuncinya.“ ucap kakak pembina.

Aku terkejut dan hanya bisa terdiam. Aku bahkan tidak mendengar penolakan sama sekali dari Hakim seperti sebelumnya. Hakim bahkan berjalan keluar kelas lebih dulu seakan ia menerima keputusan yang dibuat secara sepihak itu.

Aku menatap Ilham dengan kesal, “ Jika dia diam, mungkin aku tidak akan diminta melakukan hal ini. What? Tampil? Bareng Hakim? Yang ada kami malah berantem nanti bukan latihan.“ kata ku yang terus saja menggerutu dengan kesal.

Aku tidak memiliki pilihan selain menerima apa yang diminta oleh kakak pembina, karena jika aku menolaknya, maka aku akan memiliki nilai yang buruk selama masa orientasi ini dan mempengaruhi nilai ku nantinya.

Aku berjalan keluar mengikuti Hakim yang sudah lebih dulu keluar. Aku merasakan bahwa Hakim ini sangat plin-plan. Aku pikir dia akan menolaknya dengan tegas, namun nyatanya dia menerimanya begitu saja. Apa yang sebenarnya merasuki dirinya? Saat aku pergi ke ruang seni, aku melihat Hakim yang sudah duduk sendirian sambil memegang sebuah gitar. Rasanya sangat canggung sehingga membuat ku salah tingkah.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel