
Ringkasan
Laura, seorang gadis manis dan ceria, menjalani kehidupan remaja yang penuh warna di kota kecil tempat tinggalnya. Ia memiliki kakak laki-laki yang sangat menyayanginya, dan kehidupan mereka berjalan dengan harmonis. Di sekolah, Laura bertemu dengan Hakim, seorang siswa pindahan yang cerdas dan penuh misteri. Pertemuan pertama mereka tidak berjalan mulus, tetapi seiring berjalannya waktu, Laura dan Hakim semakin dekat. Persahabatan mereka mulai berkembang menjadi perasaan yang lebih dalam, dan Laura menyadari bahwa Hakim adalah cinta pertamanya. Namun, hubungan mereka tidak selalu mulus. Perbedaan karakter dan latar belakang menjadi tantangan tersendiri bagi keduanya. Di tengah perjuangan mereka, muncul Bayu, teman dekat kakak Laura. Bayu adalah sosok yang hangat dan penuh perhatian. Ia sering berkunjung ke rumah Laura dan menjadi teman curhat yang setia. Kehadiran Bayu mulai mengubah dinamika hubungan Laura dan Hakim. Laura merasa nyaman dan terlindungi saat bersama Bayu, yang membuatnya ragu akan perasaannya terhadap Hakim. Sementara itu, Hakim merasa ada ancaman dari kedekatan Laura dan Bayu. Konflik ini memuncak ketika Laura harus memilih antara Hakim, cinta pertamanya yang penuh tantangan, atau Bayu, teman yang selalu ada untuknya. Dalam pergolakan emosi dan perasaan, Laura belajar banyak tentang cinta, persahabatan, dan arti dari hubungan yang sebenarnya. Akhirnya, Laura harus membuat keputusan yang akan menentukan arah hidup dan cinta pertamanya.
Bab 1. Tahun Ajaran Baru
Saat ini aku resmi jadi siswi SMA kelas 10 di SMA Tunas Harapan. Letaknya tidak terlalu jauh dari rumahku, hanya perlu naik angkutan umum dua kali saja. Aku sama sekali gak nyangka bakalan di terima di SMA yang terbilang cukup terkenal olahraga futsalnya itu. Dari tahun ke tahun sekolah itu selalu mendapatkan juara 1 dalam setiap lomba futsal antar sekolah maupun tingkat provinsi.
Aku adalah anak kedua dari 3 bersaudara, aku tidak terlalu pintar, tapi tidak bodoh juga. Aku cukup gemar berolahraga. Sejak SMP aku sangat menyukai basket. Kupikir mungkin nantinya aku akan mengambil ekstrakulikuler basket lagi. Aku cukup pendiam, tapi jika sudah mulai mengenal seseorang, aku tak segan untuk bercerita bahkan curhat tipis-tipis mengenai kehidupanku yang terbilang sedikit suram.
Dibesarkan oleh seorang ayah, membuatku cukup mandiri. Tidak hanya itu, bahkan aku pandai mengurus adik ku yang pada saat itu masih sekolah dasar. Karena tinggal di rumah nenek ku, jadi aku harus membantunya melakukan apapun. Hidupku memang tidak semudah yang dibayangkan. ayah dan ibuku memang sudah bercerai saat aku masih SMP. jangan tanya ibu ku kemana, kalau diceritain bakalan panjang sih ngebahasnya.
Aku dibesarkan dari keluarga yang cukup sederhana, sebenarnya hanya ayahku saja yang sederhana, tidak dengan keluarga besarnya, bisa dibilang keluarga besar ayahku adalah orang berada.
Aku senang karena ku pikir dengan masuk ke sekolah favorit bisa membuat diriku terlihat membanggakan di keluarga ayahku. Namun nyatanya enggak sama sekali. Di antara saudara sepupuku yang lainnya, aku selalu saja dianggap remeh. Tapi biarkanlah, akupun gak terlalu memperdulikannya. Aku bahkan sudah tidak sabar ingin segera pergi ke sekolah di tahun ajaran baru ini.
Seperti biasanya, akan diadakan masa orientasi siswa selama tiga hari dan ditutup dengan acara penutupan seperti acara unjuk bakat. Aku sangat senang bahwa aku akan memasuki fase kehidupan yang baru lagi. Tidak cuma itu, mungkin saja aku akan mengenal seorang cowok tampan di sekolah baruku ini dan punya teman baru yang gokil-gokil. Gak cuma itu, kali aja makanan kantin nya lebih enak dari sekolah SMP ku.
Sebelum masa liburan sekolah berakhir, ayahku membelikanku setelan seragam baru. Ngeliatnya aja pasti ini baju kegedean. Mungkin pas di tubuh kakakku yang tinggi kurus. baju kegedean buat aku sama sekali jadi gak PD alias percaya diri. bahkan roknya aja kepanjangan kaya mau nyapu lantai. “ Huh, kayaknya dia bukan bapak gw deh ini. Masa dia gak tau ukuran seragam anak perempuannya sih? Kegedean gini. “ kata ku ngedumel sendiri.
Lalu, ku pikir aku akan membawanya ke tempat jahit langganan keluargaku. Karena langganan, jadi bisa bayar kapan aja, hehe. Setibanya di tukang jahit, pak Rojali mulai mengukur badan ku. Setelah dia mencocokkan dengan baju yang ku bawa, dahinya mulai berkerut.
“ Gede amat ini neng bajunye? Sape yang beliin sih? “ tanya pak Rojali si tukang jahit dengan logat betawinya. “ Ayah lah pak, siapa lagi. “ jawabku seraya tertawa kecil. “ Lah, pantesan aja. Beliin bocah wadon lah ka kaya buat lanang. Ade-ade aje bapak lu neng. “ sahut pak Rojali bercanda.
Aku hanya tertawa mendengarnya. Baju seragamku mulai di rombak habis. Aku menunggu sambil minum es jajanan di warung samping tukang jahit langgananku. Tak lama menunggu akhirnya selesai. Dan aku cukup terkesima dengan baju seragam baru ku.
“ Nah, ini baru pas pak. “ ucapku sambil senyum sumringah. “ Iya neng. “ sahutnya. “ Makasih ya pak. Nanti ayah yang bayar ya. “ kata ku lagi. “ siap. Tenang aja neng. “ kata pak Rojali.
Aku berjalan berlenggang dengan senang. Kali ini aku tidak perlu terlihat memalukan seperti waktu SMP dulu. Ayah ku memang tidak pernah tahu ukuran detail baju-baju anaknya. Bahkan dia selalu saja membelikan adik laki-lakiku seragam yang kekecilan. Aku tidak pernah menyalahkannya karena mungkin sulit bekerja sambil mengasuh tiga anaknya sendirian. Kakak laki-laki ku, kini berada di kelas 12, tapi berbeda sekolah denganku. Tidak masalah buat ku, setidaknya tidak ada yang menjadi pemantau ku selama di sekolah.
Sesampainya dirumah, nenek ku bertanya kemana saja aku seharian ini. Aku menjawab bahwa aku pergi ke tukang jahit untuk mengecilkan seragam. Seperti biasanya, nenek mulai mengomel dan mengoceh, entah apa yang dia ocehkan saat itu. Namun dari sini aku berpikir kembali, bagaimana ibuku tidak pergi jika mempunyai mertua rewel seperti dirinya. “ Yah, lagi-lagi bahas soal duit dia. “ gumam ku sambil mendengar ocehan nenek ku yang selalu berkata bahwa aku selalu menghabiskan uang anaknya itu.
Selesai nenek ku berbicara, aku kembali ke kamarku dan menyiapkan apa saja yang akan ku bawa besok untuk MOS hari pertama. Memang cukup aneh-aneh permintaan kakak kelas panitia acara itu. Bahkan ada beberapa yang gak aku mengerti karena pakai bahasa perumpamaan. Jika bertanya kepada om dan tante ku mungkin aku tidak akan pernah menemukan jawabannya sampai kapan pun. Jadi ku gunakan ponsel ku untuk mencoba mencari tahunya.
Ponsel ku tak sebagus yang dimiliki para sepupuku maupun keluarga ku. Ini pemberian ibuku, tidak masalah karena masih bisa berfungsi dengan baik. Meskipun tidak memiliki sebuah kamera yang bagus tapi aku begitu menghargai ponsel ini. Setidaknya aku masih bisa bertelepon atau bertukar pesan. Sesekali aku masih berkomunikasi dengan ibuku tanpa sepengetahuan ayah dan juga keluarga besar ayahku. Dengan begitu tidak ada keributan di rumah ini.
Awalnya aku sama sekali tidak berpikir akan di terima di sekolah favorit. Ku rasa keberuntungan lah yang membawaku ke sekolah tersebut. Aku hanya berpikir bahwa jika memang aku tidak di terima di sekolah negeri manapun maka aku mungkin akan masuk ke sekolah swasta di tempat om dan tante ku sebagai lulusan alumninya. Dan makin jadi lagi mereka akan merendahkan ku. Tujuanku hanya satu, yaitu hidup bahagia tanpa meributkan segala hal.
Bahkan aku sudah memikirkan bagaimana langkah ku selanjutnya setelah lulus dari jenjang pendidikan sekolah menengah atas ini. Tidak ada terbesit dalam pikiran ku untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi. Melihat kondisi perekonomian ayahku yang dibilang pas-pasan, mungkin aku akan bekerja setelah lulus nanti. Setidaknya aku bisa membantu ayahku membiayai sekolah adik bungsu ku.
Jangan tanya dengan kakak ku. Bahkan aku sama sekali tidak menaruh harapan kepadanya. Kami tidak sedekat kakak beradik pada umumnya. Bisa dibilang mungkin dia hanya memikirkan dirinya sendiri. Kami bahkan tidak pernah curhat satu sama lain. Hanya sekedar menyapa dan berbicara secukup yang kami butuhkan. Itulah sebabnya adikku lebih dekat denganku. Padahal dulu semasih ada ibuku, dia tidak pernah bersikap dingin seperti sekarang.
