Bab 3. Salah Paham
Laura kebingungan melihat sikap Hakim yang tiba-tiba saja memperdulikannya. Laura merasa tertolong karena di saat ia kelaparan ada yang memberikannya makanan. Melihat Laura yang terpaku, Hakim kemudian membuka bungkus roti itu lalu memberikannya kepada Laura.
“ Ini, makanlah. “ kata Hakim.
“ Te-Terimakasih. “ jawab Laura terbata-bata.
Hakim kembali diam dan meneruskan apa yang ia kerjakan saat itu. Sementara Laura makan dengan lahapnya sambil berpikir mengapa Hakim pria sedingin es itu memberikannya sebungkus roti secara cuma-cuma.
Bel berbunyi menandakan bahwa kegiatan hari ini telah berakhir. Banyak yang ku alami pada hari pertama ini, dimana aku tidak bisa menikmati semangkok bakso kesukaan ku, bertemu kakak kelas yang rese, dan teman sebangku yang tiba-tiba saja memberikan makanan kepadaku.
“ Apakah karena dia kasihan melihat ku yang keliatan kelaparan ya? Atau dia memang punya roti lebih makanya dia kasih aku? Atau dia ingin bertemen sama aku? Kayanya kalau untuk beteman engga deh. Hmmh, bikin pensaran aja. “ ucapku seraya berjalan menuju jalan utama.
Dari sekolah ku menuju jalan utama cukup jauh, untuk sampai ke jalan raya dan naik angkutan umum aku harus berjalan terlebih dahulu melewati permukiman warga dan juga beberapa toko kelontong. Ada beberapa jalan tembus yang memang di peruntukkan untuk pejalan kaki, dimana di sepanjang jalan tersebut di kelilingi dengan pohon pisang dan belokannya pun terlihat tajam. terkadang jalan itu di lewati dengan beberapa pemotor yang enggan melalui jalan yang di haruskan untuk kendaraan melewatinya sehingga siapa pun yang melewatinya harus berhati-hati.
Aku memilih jalan setapak itu karena ku pikir akan lebih dekat dan juga tidak terlalu banyak kendaraan yang berlalu - lalang. Pada saat aku sedang berjalan, aku merasa seperti ada yang mengikuti dari belakang. Awalnya aku meragukannya, semakin aku berjalan semakin terdengar suara langkah kaki yang serupa dengan langkah ku. Aku berhenti dan kemudian menoleh kebelakang. Ternyata ada Hakim di belakang ku sedang berjalan, ia pun tampak terkejut melihat aku yang tiba - tiba saja menoleh ke arahnya.
Hakim terlihat seperti tidak mengacuhkan Laura sama sekali. Dia pun berjalan melewatinya begitu saja bagaikan tidak pernah melihat orang sama sekali. Sikap dingin itu kembali lagi dan membuat Laura semakin merasa penasaran. Laura mencoba mengikuti dari belakang sambil menyiapkan sesuatu untuk ia tanyakan kepada Hakim. Sementara Hakim terus berjalan, dia pun merasa kalau Laura sedang mengikutinya.
Hakim tiba-tiba saja menghentikan langkahnya sehingga membuat Laura menabrak dirinya dari belakang. Laura yang saat itu sedang fokus menyiapkan kata-kata tidak tahu bahwa Hakim tiba - tiba saja menghentikan langkahnya.
“ Aduh!“ ucap Laura saat menubruk bagian belakang Hakim. Hakim kemudian menoleh dan menatap Laura dengan kening yang berkerut seolah-olah akan memarahinya.
“ Sorry sorry, gak sengaja.“ kata ku meminta maaf kepadanya.
“ Lo ngikutin Gue?“ tanya Hakim.
“ Hah? Ngikutin? Engga kok." jawab ku langsung membantah.
“ Ini buktinya gue berhenti Lo juga berhenti." sahut Hakim.
Merasa tertuduh, aku pun langsung membantah perkataan Hakim. Memang sedikit kesal, namun memang terlihat aku seperti mengikutinya. Aku bukan hendak mengikutinya, hanya saja aku ingin berterimakasih kepadanya karena memberikan ku roti di saat aku sedang kelaparan. Aku menarik kata-kata ku lagi lalu meninggalkan Hakim begitu saja.
“ Siapa juga yang ngikutin Lo, ini jalan umum jadi siapa pun bisa lewat.“ kata ku lagi lalu pergi meninggalkan Hakim.
Ternyata pada saat aku sedang berdebat dengan Hakim, ada beberapa kakak kelas yang memperhatikan kami, ada sebuah warung yang memang selalu di datangi kakak - kakak kelas untuk di jadikan tempat mereka berkumpul. Aku sama sekali tidak menyadarinya karena aku tidak terlalu memperdulikan sekitar ku saat itu. Aku terus saja ngedumel di dalam perjalanan pulang menuju rumah.
Sesampainya di rumah, aku tidak bisa langsung beristirahat. Aku terdiam sejenak memikirkan apa yang sudah terjadi pada hari ini sebelum aku mengerjakan apa yang akan di perintahkan oleh nenek ku. Baru istirahat selama kurang lebih 15 menit, nenek ku sudah mulai berteriak memanggil nama ku. Aku hanya menghela napas sambil mengganti pakaian ku lalu turun menghampiri nenek ku.
Seperti biasanya nenek ku meminta bantuan ku untuk berbagai hal, seperti memasak makan malam, mencuci piring, atau menyiram tanaman di sore hari. Karena tidak ada pembantu yang di pekerjakan olehnya. Bahkan tante ku saja tidak melakukan hal yang sama sepeti yang ku lakukan, hal itu semakin membuat ku bertekad untuk segera meninggalkan rumah dan mencari kesuksesan ku sendiri.
Setiap hari aku selalu melakukan hal ini ya tentu saja karena aku dan adikku tinggal bersama dengan nenek ku dan juga tante ku. Hal itu terjadi begitu saja, ayah ku yang memintanya, meskipun enggan, tapi nenek ku berkata akan lebih baik jika aku tinggal bersamanya dengan adik ku. Meskipun begitu, aku cuma bisa nurut aja. Karena aku selalu menghindarai yang namanya keributan.
Malam tiba dan aku masih di hantui rasa penasaran. Aku tidak tahu apakah sikap yang di miliki Hakim memang selalu berubah - ubah sesuai dengan moodnya pada hari itu. Bahkan aku tidak berteriak bahwa aku kelaparan pada saat berada di sampingnya, aku hanya berbicara dengan teman ku Ilham apakah ia memiliki makanan yang bisa ku makan saat itu sebab aku tidak jadi makan pada jam istirahat. Entah mengapa aku menjadi penasaran sendiri. Kami bahkan selalu berdebat mengenai hal - hal kecil, seperti jangan melewati meja ku ketika aku menaruh barang, jangan terlalu berisik ketika duduk disampingnya dan bahkan jangan banyak bertanya kepadanya.
Aku semakin merasa penasaran di buatnya. Aku melakukan hal itu bukan semata - mata karena aku menyukainya, hanya saja hal itu terlalu mengganggu pikiran ku sehingga aku menjadi seperti ini. Aku mulai menyiapkan barang - barang yang akan ku bawa keesokan harinya. Aku hanya berharap Mos segera selesai dan bisa memulai belajar, entah mengapa aku merasa sangat penasaran dengan mata pelajaran baru ku.
Setelah menyiapkan semuanya, aku melihat adik ku yang sudah tertidur lebih dulu. Aku mengecek tasnya untuk memastikan buku - buku pelajaran untuk besok tidak ada yang tertinggal. Aku cukup pandai mengurus adik ku, begitulah yang di katakan para tetangga ku ketika aku berpapasan pada saat keluar rumah.
Kabar berita ibuku yang meninggalkan ku secara mendadak memang santer terdengar di kalangan ibu-ibu yang menjadi tetangga ku. Banyak rumor yang beredar dan terdengar sampai ketelinga ku akan tetapi aku tidak ingin memikirkannya dan selalu fokus dengan apa yang menjadi tujuan ku. Itu sebabnya aku merasa bahwa aku harus tebal kuping menghadapi ocehan-ocehan para tetangga pada saat aku keluar rumah.
Ayah ku sama sekali tidak terlalu perduli, sehingga aku pun bersikap sama sepertinya. Oleh karena itu aku tidak terlalu pandai bersosialisasi dengan tetangga yang ada di sekitarku.
