Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2. Hari Pertama Masa Orientasi

Aku Laura Natania, aku lahir di kota yang sama seperti ibuku, mereka menyebutnya kota hujan, kota itu adalah Bogor, salah satu kota di bagian jawa barat. Daerah yang cukup sejuk itu adalah kampung halaman ku. Semenjak ibuku pergi, aku mulai terlatih menjadi mandiri. Aku mengurus semua sendiri termasuk keperluan adik ku. Tidak mudah memang, namun melihat adik ku yang masih terbilang kecil membuat ku ingin memberikan perhatian yang lebih kepadanya. Ayah ku terlalu sibuk mencari uang sehingga tidak begitu memperhatikan kami.

Beralih kembali dimana aku saat ini tengah berada. Ya, sekolah baru. Suasana baru di tahun ajaran yang baru. Sekolahnya terlihat cukup besar, bahkan lapangannya terbagi menjadi tiga bagian, lapangan basket, lapangan futsal dan lapangan kecil yang di tengahnya ada tiang bendera yang menjulang tinggi ke atas.

Pagi itu aku berusaha untuk tidak menghilangkan apapun, semua yang di minta untuk di bawa sudah lengkap ada didalam tasku. Sangat ramai karena kelas 10 dibagi ke dalam 6 kelas sehingga ketiga lapangan terlihat penuh sesak. Karena masih masa orientasi, aku masih mengenakan seragam SMP ku, begitu pula yang lainnya. Awal pembukaan, disambut oleh sambutan yang disampaikan oleh kepala sekolah, setelah itu, kami dibawa ke kelas kami masing - masing oleh salah satu perwakilan panitia penyelenggara yang dimana dilakukan oleh anggota osis sekolah.

Aku berada di kelas 10-6, begitulah mereka menyebut kelasku. Karena aku berada di barisan paling belakang, aku jadi tidak bisa memilih tempat duduk. Dan hanya tersisa bangku di paling belakang dan bersebelahan dengan laki - laki. Aku tidak masalah, hanya saja jika duduk di belakang aku merasa tidak bisa melihat dengan jelas ke arah papan tulis.

Laki-laki yang duduk di sampingku tampak seperti orang cina, badannya gemuk, matanya sedikit sipit dan rambutnya yang berbentuk seperti nanas. Dia bahkan memiliki tahi lalat di wajahnya yang sedikit membuatnya terlihat manis. Laki-laki itu bernama Hakim.

Aku tau namanya karena nametag yang dia kenakan. Aku bahkan tidak mencoba berkenalan karena ku pikir sepertinya dia tidak terlihat ramah. Aku mencoba tersenyum sebelumnya namun dia hanya memalingkan muka seolah-olah menolak ku untuk tidak duduk di sampingnya. Karena tidak ingin ada keributan di hari pertama masuk sekolah, aku pun mencoba mengabaikannya saja.

Kegiatan hari itu cukup berjalan lancar, beberapa kakak kelas yang menjadi pembina, beberapa kali meminta ku untuk maju kedepan menjawab beberapa pertanyaan dari mereka, hal itu tidak membuat ku ragu apalagi malu, karena ini masalah kewajiban, aku menganggapnya ini sebuah kewajiban sama seperti sedang belajar.

Beberapa siswa yang ada di dalam kelas ku tampak cukup familiar, karena memang ada cukup banyak yang masuk ke SMA tersebut dari sekolah ku sebelumnya, bahkan ada teman ku yang bernama Ilham sekelas dengan ku. Dia adalah teman ku sejak SD. kami selalu saja satu sekolah sampai sekarang. Mungkin karena kebetulan saja. Tapi dia tidak pernah sombong dan selalu baik dan juga selalu mengingat ku.

Ada beberapa kakak kelas yang meminta ku untuk membawakan beberapa barang dengan memberikan sebuah clue. Sudah hal wajar dan biasa jika kakak kelas mengejek dengan cara seperti itu, karena aku junior yang penurut aku pun selalu menuruti permintaan mereka. Di saat jam istirahat, aku pergi ke kantin yang sebelumnya sudah ku datangi pada saat pengenalan lingkungan sekolah. Aku sudah tidak sabar untuk mencoba menu yang ada di kantin sekolah ku saat ini. Makan adalah pilihan terbaik untuk segala suasana menurut ku.

Jika aku merasa kesal, aku akan makan. Aku merasa senang, aku pun akan makan. Menurutku makan adalah cara terbaik untuk membuat suasana hati ku membaik. Kali ini aku memesan semangkuk bakso dengan mie putih serta sayuran, dan tentu saja tidak pakai daun seledri karena aku membencinya.

“ Baiklah, kita tambahkan sambal yang banyak sama cuka, beuh, mantep nih. “ ucap ku berbicara sendiri.

Aku melihat ada tempat duduk kosong di bagian pojok kantin. Aku duduk dan menaruh makanan ku di sana. Aku bahkan menaruh atribut yang ku kenakan di samping mangkok bakso ku dan pergi memesan minuman. Dan pada saat kembali ke tempat ku, aku melihat dua laki - laki dan satu perempuan mungil duduk di tempat ku, bahkan mangkok bakso ku masih berada di sana.

“ Permisi, ini tempat duduk saya kak. “ kata ku dengan sopan karena ku lihat laki-laki itu memakai seragam SMA yang sudah pasti dia adalah kakak kelasku. mereka hanya menatapku seolah-olah mereka menolak ku dan meminta ku untuk pergi.

Karena aku sudah kelaparan, aku mencoba untuk mempertahankan kembali tempat duduk ku. “ Permisi kak! Saya mau makan! “ kata ku mencoba menegaskan kata - kata ku. Lalu wanita bertubuh mungil yang memakai seragam SMP sama seperti ku, tiba - tiba saja bangkit berdiri dan meminta laki - laki yang ada di sampingnya untuk bergeser dan memberikan tempat untuk ku.

Perempuan itu sempat tersenyum padaku lalu meminta pria yang duduk di tempat ku untuk bergeser. Namun pria itu sepertinya tidak menghiraukannya. Aku rasa sepertinya akan terjadi masalah jika aku terus berpendapat dan mempertahankan tempat dudukku. Aku tidak ingin merusak hari pertama ku di sekolah ini. “ Baiklah, aku akan mengalah. Tidak apa laura, kau bisa makan lagi nanti. Bakso ku yang malang– “ kata ku berbicara dalam hati sambil menatap mangkok bakso ku.

Tanpa basa-basi aku mengambil atribut ku dan meninggalkan kantin. Aku merasa bahwa kakak kelas yang menduduki tempat ku menatapku dengan tatapan yang tajam, namun aku tidak ingin memperkeruh keadaan dan memilih untuk mengalah. Saat kembali ke kelas, ku lihat wajah masam teman sebangku ku sehingga membuat hari ku semakin buruk saja. Aku mulai menghela napas dan menyandarkan kepala ku di atas meja. Aku sangat kelaparan sekarang. Kebetulan Ilham duduk di bangku depan ku tepat di baris sebelah.

“ Sst, Sst. Ham. “ panggil ku dengan pelan. Ilham menoleh ke arahku. “ apaan? “ tanyanya. “ Lo punya cemilan gak? Apaan kek gitu buat ganjel perut. “ kata ku. Ilham langsung mengecek isi di dalam tasnya. Dia pun kembali menoleh ke arahku dan menggelengkan kepalanya. “ sudah kuduga dia pasti tidak menyimpan makanan. “ gumamku. Aku kembali menghela nafas sambil merebahkan kepalaku di atas meja.

Rupanya sedari tadi Hakim memperhatikan Laura. Dia melihat Laura yang tampak kelaparan. Hakim masih memiliki sebuah roti yang baru saja dibeli di kantin pada jam istirahat.. Lalu kemudian, dia menyodorkan roti isi coklat itu kepada Laura. Laura yang tadinya membelakangi Hakim, mencoba menoleh ke arah sebaliknya. Laura cukup terkejut melihat Hakim menyodorkan sebungkus roti kepadanya. Laura langsung mengangkat kepalanya dari meja dan menatap Hakim.

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel