Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 4

Siti menatap anak tirinya dengan mata yang tampak bingung dan penuh dengan rasa sesal. Setelah kata-kata Dika sebelumnya yang mengingatkannya akan batasan keluarga, ia mulai menyadari bahwa apa yang ingin dilakukannya adalah salah.

"Maafkan aku Kak Dika," ucap Siti dengan suara pelan dan penuh rasa menyesal. "Aku tidak seharusnya berkata dan melakukan hal seperti itu padamu. Aku hanya merasa kesepian karena ayahmu selalu tidak ada di rumah."

Dika menghela napas panjang dan mendekat untuk menepuk bahu Siti dengan lembut. "Tidak apa-apa Bu, aku mengerti perasaanmu. Tapi kita harus tetap menjaga keharmonisan keluarga dan menghormati satu sama lain ya."

Siti mengangguk dan meneteskan air mata. Ia segera mengambil baju tidur yang ada di sisi ranjang dan mengenakannya kembali. "Kamu benar Kak. Aku akan berusaha untuk lebih baik dan jika ada masalah, aku akan berbicara dengan kamu atau ayahmu dengan jujur."

Dika tersenyum hangat. "Itu bagus Bu. Kalau ada yang perlu dibantu, jangan sungkan untuk bilang ya. Aku selalu siap membantu keluarga kita."

Setelah itu, Dika berdiri dan mulai mengenakan kembali pakaiannya yang sudah dilepas sebagian. Siti juga bangkit dari ranjang dan menuju meja di kamar untuk mengambil secangkir air putih.

"Aku sudah merasa lebih baik sekarang Kak," ucap Siti dengan suara yang lebih tenang. "Terima kasih telah bisa mengingatkanku pada hal-hal yang benar."

"Sama-sama Bu. Kita adalah keluarga, jadi harus saling mengingatkan dan membantu satu sama lain," jawab Dika dengan senyum.

Siti kemudian menawarkan untuk membuat kopi bagi mereka berdua. "Mari kita minum kopi saja di ruang tamu ya Kak. Aku rasa kita perlu sedikit berbicara dengan tenang."

Dika mengangguk setuju. Mereka keluar dari kamar dan menuju ruang tamu yang terletak di bagian depan rumah di Kota Perak. Siti segera memasak kopi sementara Dika duduk di sofa dan melihat sekeliling ruangan.

Setelah kopi siap, mereka duduk berhadapan dan mulai menikmati secangkir kopi hangat. Udara di ruangan terasa lebih tenang dan damai setelah kejadian tadi.

"Dika," bisik Siti dengan suara lembut. "Aku pernah mendengar dari ayahmu bahwa kamu dulunya sudah menikah ya?"

Dika mengangguk dengan senyum yang sedikit sedih. "Iya Bu. Kami sudah menikah selama sekitar dua tahun, tapi akhirnya kami putus karena perbedaan yang terlalu banyak dan juga karena aku belum bisa memberikan apa yang dia inginkan dari sebuah keluarga."

"Oh, begitu ya. Maka dari itu kamu tampak lebih dewasa dalam menangani masalah," ucap Siti dengan nada yang penuh penghargaan.

Dika hanya tersenyum. "Setelah mengalami hal itu, aku belajar banyak hal tentang tanggung jawab dan juga tentang bagaimana harus menghormati orang lain."

Siti mengangguk dan mengambil tegukan kopinya. "Aku baru saja menikah dengan ayahmu beberapa bulan yang lalu. Aku tahu bahwa ayahmu sering keluar kota untuk kerja dan terkadang membuatku merasa kesepian. Tapi aku sekarang menyadari bahwa tidak ada alasan untuk melakukan hal yang salah."

"Ya Bu, aku paham. Kesepian memang tidak enak, tapi kita bisa mencari cara yang baik untuk mengatasinya. Misalnya dengan hobi atau dengan berkumpul dengan keluarga dan teman-teman yang baik," ujar Dika dengan nasihat yang tulus.

Siti tersenyum dan menepuk lengan Dika dengan lembut. "Terima kasih Kak Dika. Kamu benar-benar anak yang baik. Aku berjanji akan lebih hati-hati dan menjaga hubungan baik kita sebagai keluarga."

Dika dan Siti pun tertawa bersama, rasa keakraban yang baru mulai terbentuk di antara mereka. Mereka menghabiskan sisa malam dengan berbicara tentang berbagai hal, mulai dari pekerjaan Dika di minimarket di Kota Perak hingga rencana masa depan keluarga mereka.

 

Pagi itu, Dika sudah siap dengan rapi untuk pergi bekerja. Siti masih tertidur pulas di kamarnya setelah malam yang penuh dengan pembicaraan yang mendalam.

Saat Dika akan mengambil kunci motornya yang ada di garasi, tiba-tiba ponselnya berbunyi. Panggilan masuk dari Dina, teman kerjanya yang kini sudah menjadi kekasihnya.

"Hai sayang, kamu bisa jemput aku ya? Kita bisa pergi ke minimarket bareng," pinta Dina dengan suara manja dari seberang telepon.

"Iya sayang, kamu tunggu saja di kosanmu ya. Aku akan datang segera," jawab Dika dengan senyum.

"Oke sayang, aku tunggu ya!"

Setelah mematikan panggilan, Dika segera menaiki motornya dan melaju menuju kosan Dina yang terletak di bagian utara Kota Perak.

Sesampainya di depan kosan Dina, Dika melihat Bu Wulan, ibu pemilik kosan, sedang sibuk membersihkan halaman depan dengan mengepel lantai. Ia mengenakan daster katun yang nyaman, dan gerakan membungkuknya membuat bagian tubuhnya terlihat jelas, namun Dika dengan sopan menghindari melihatnya dan menjaga jarak agar tidak mengganggu pekerjaannya.

Dika merogoh saku dan mengambil ponsel untuk menghubungi Dina.

"Din, kamu dimana ya? Aku sudah sampai di depan kosanmu," ucap Dika dengan suara yang lembut.

"Sebentar ya sayang, aku lagi menyusun rambutku. Kamu masuk saja dong, di luar panas sekali," jawab Dina dari telepon.

"Aduh, enggak deh aku masuk dulu. Bu Wulan lagi sedang mengepel lantai, aku takut mengganggunya atau membuat lantainya kotor lagi," ujar Dika dengan alasan yang benar-benar tulus.

"Ya sudah deh, tunggu sebentar aja ya. Aku segera keluar."

Tiba-tiba, Bu Wulan menghentikan pekerjaannya dan menghampiri Dika dengan senyum yang ramah.

"Eh, ini kan Dika ya? Pacar dari Dina kan? Ayo masuk dong Nak, jangan berdiri di luar saja. Boleh ngopi sebentar dulu sebelum pergi kerja," ajak Bu Wulan dengan suara yang hangat.

"Makasih ya Bu Wulan, tapi aku sudah minum kopi di rumah tadi. Selain itu, aku juga tidak ingin mengganggu pekerjaanmu yang sedang sibuk," jawab Dika dengan sopan, menjaga kontak mata yang ramah namun tetap profesional.

Bu Wulan tersenyum dan menggeleng-geleng kepala. "Enggak apa-apa kok Nak. Kalau begitu ya tidak apa-apa. Kamu tunggu saja Dina ya, dia pasti sudah hampir siap."

Dika mengangguk dan memberikan senyum terima kasih. Saat itu juga, Dina muncul dari dalam kosan dengan penampilan yang rapi dan cantik.

"Ayo sayang, kita pergi aja. Nanti telat kerja nih," ujar Dina dengan cepat dan segera naik ke jok belakang motor Dika.

Ia melingkarkan tangan di sekitar pinggang Dika dan memeluknya erat. Dika langsung menghidupkan motornya dan melaju dengan aman menuju minimarket, meninggalkan Bu Wulan yang tersenyum melihat kedekatan mereka berdua.

 

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel