Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 5

Di minimarket "Jaya Makmur" di Kota Perak, suasana kerja terasa cukup sibuk. Dika dengan penuh fokus sedang menata produk di area dekat kasir, memastikan setiap barang tersusun rapi dan mudah dijangkau pembeli.

Di sisi lain kasir, Dina melayani pembeli dengan senyum hangat, menjaga alur layanan tetap lancar dan membuat pelanggan merasa nyaman.

Tiba-tiba, pintu depan toko terbuka dengan sedikit keras. Sosok Bambang, Kepala Toko yang selalu datang terlambat, muncul dengan langkah santai sambil membawa tas kerja besar di tangannya, jaket jeansnya tergantung di bahu.

"Maaf ya Din, aku lagi terlambat banget nih," ucap Bambang dengan nada yang tidak menunjukkan rasa menyesal sama sekali.

"Iya Pak, tidak apa-apa," jawab Dina dengan senyum yang terasa sedikit dipaksakan. Dalam hati, ia sudah merasa kesal dengan kebiasaan Bambang yang selalu tidak tepat waktu dan sering mengganggu kelancaran kerja.

"Oke deh, aku masuk ke belakang dulu ya, nyimpen tas dan barang-barangnya."

Bambang berjalan dengan langkah yang cuek tanpa memperhatikan sekitarnya. Saat melewati Dika, ia sengaja menyenggol bahu Dika dengan cukup kasar.

Tumpukan produk makanan ringan yang baru saja Dika susun dengan teliti langsung berhamburan ke lantai dengan bunyi yang cukup keras, menarik perhatian beberapa pembeli yang sedang berbelanja.

Bambang malah berhenti dan membalik tubuhnya, lalu melotot ke arah Dika dengan tatapan yang penuh penghakiman.

"Hei kamu, anak baru! Kerjanya beneran nggak jelas ya! Susun barang aja gak bisa benar-benar rapi!" teriaknya dengan suara tinggi, seolah sepenuhnya menyalahkan Dika atas kejadian itu.

Darah Dika langsung mendidih. Ia melihat puing-puing barang yang tersebar di lantai, lalu mengangkat kepala untuk menghadapi Bambang.

"Maaf Pak, tapi tadi Bapak yang menyenggol saya sehingga barang itu jatuh!" ucap Dika dengan suara yang tegas namun tetap sopan.

Wajah Bambang langsung memerah karena marah. Ia maju satu langkah mendekat ke Dika dan menundukkan tubuhnya sedikit.

"Loh, KAMU BERANI NYALAHIN SAYA YA?! Kamu baru kerja beberapa minggu aja udah berani cari masalah sama Kepala Toko?!"

Dina yang melihat situasi sudah mulai memanas segera meninggalkan kasir dan bergegas menghampiri mereka berdua, tangannya terangkat untuk melerai.

"Stop! Jangan terus-terusan ya!" teriak Dina dengan suara yang tajam namun tetap terkendali, berusaha meredam ketegangan. "Tidak apa-apa Pak, nanti saya yang akan merapikan barang-barangnya kembali. Silakan Pak fokus pada pekerjaan lain saja!"

Bambang menatap Dika dengan tatapan yang meremehkan, lalu mendengus kasar.

"Gak usah deh Din. Kamu fokus aja di kasirnya. Biar si anak baru ini yang merapikan sendiri hasil kerjanya yang tidak rapi itu!" ucap Bambang dengan nada yang penuh otoritas.

Ia kemudian berjalan dengan angkuh ke arah bagian belakang toko, meninggalkan Dika yang masih menekan amarah dalam dirinya dan mulai membersihkan serta merapikan barang yang berserakan.

Tiba-tiba, Dina menyentuh perutnya dengan wajah yang sedikit tidak nyaman.

"Duh, aku mau ke toilet sebentar ya Kak Dika," ucapnya pelan.

Ia menoleh ke arah Dika. "Kalau ada pembeli yang mau bayar, tolong kamu tangani dulu ya di kasirnya. Saya sebentar saja kembali."

"Oke Din, jangan lama-lama ya. Karena barang-barang ini saya belum selesai merapikan semua," jawab Dika sambil tetap fokus pada pekerjaannya.

Di lorong belakang menuju toilet, Dina tidak sengaja berpapasan lagi dengan Bambang.

"Din, kamu makin cantik aja ya setiap hari dilihat," ucap Bambang dengan nada yang menggoda, lalu berdiri menghalangi jalan Dina.

"Saya tidak punya waktu untuk basa-basi Pak. Saya mau ke toilet segera. Tolong silakan aja ya!" ucap Dina dengan nada yang jelas menunjukkan bahwa ia tidak nyaman, lalu mendorong bahu Bambang perlahan untuk melintas.

Saat Dina masuk ke toilet, wajah Bambang menyeringai dengan ekspresi yang tidak baik. Tak diketahui oleh siapa pun bahwa ia telah memasang kamera tersembunyi di sudut toilet beberapa hari yang lalu, dengan maksud yang sangat tidak baik.

Ia melakukan hal itu karena perasaannya terhadap Dina selalu ditolak, dan rasa kesal itu membuatnya melakukan tindakan yang sangat tidak terpuji.

Setelah itu, Bambang berjalan ke arah depan toko dan menghampiri Dika yang sedang menjaga kasir.

"Kamu ada di sini apa cuma nganggur?!" bentaknya dengan nada yang kasar.

"Saya menjaga kasir Pak, karena Kak Dina sedang ke toilet," jawab Dika dengan nada yang datar namun tetap sopan.

"Hei, kamu dulu aja selesain barang-barang yang tadi jatuh itu! Jangan cuma berdiri di kasir aja!" perintah Bambang sambil mengusir Dika dari kasir.

Namun, sebelum Dika pergi, matanya secara tidak sengaja melihat Bambang mengambil tiga bungkus rokok dari etalase yang terletak di belakang kasir dan menyembunyikannya ke dalam saku jaketnya.

"Apa kamu liat-liat aja?! Cepat aja kerja!" gertak Bambang dengan tatapan yang mengancam.

"Tidak Pak, saya tidak melihat apa-apa. Saya akan segera merapikan barang itu," jawab Dika dan segera pergi untuk melanjutkan pekerjaannya.

Setelah Dika benar-benar pergi dan kembali merapikan barang, Bambang dengan cepat membuka laci kasir. Ia mengambil beberapa lembar uang receh dan satu lembar uang ribuan, lalu memasukkannya ke dalam saku celananya. Setelah itu, ia menutup laci kasir kembali seolah tidak ada apa-apa yang terjadi.

 

Siang hari tiba, dan jumlah pembeli di toko mulai berkurang. Di area kasir, hanya Bambang dan Dina yang ada. Bambang terlihat terus-menerus mencoba menggoda Dina, dan perilakunya semakin tidak pantas.

"Pak, bisa tolong tidak menggangu saya?! Kalau terus seperti ini, saya akan melaporkan kepada Supervisor Cabang yang ada di pusat Kota Perak!" ucap Dina dengan suara rendah namun tegas.

Ia berusaha tetap menjaga profesionalisme, namun sulit karena Bambang sesekali mencoba menyentuh bagian belakang tubuhnya yang berada di balik meja kasir.

"Yaudah ya maaf ya. Tapi kamu juga harus ngerti dong, kamu selalu bikin saya merasa ingin dekat denganmu setiap hari Din!" Bambang mendekat lebih jauh ke Dina. "Kalau kamu mau jadi pacarku, nanti aku akan belikan kamu gadget baru yang kamu mau, gimana?"

"Maaf Pak, saya sudah punya pacar," tolak Dina dengan tegas.

Bambang tersenyum dengan ekspresi yang tidak percaya. "Masa? Dua hari lalu kamu bilang belum punya pacar, sekarang udah punya? Cepat banget ya hubungannya."

"Jodoh memang tidak bisa ditebak kapan datang Pak," jawab Dina dengan nada yang mantap.

"Oke oke, saya mengerti aja deh." Bambang menghela napas seolah merasa kecewa. "Kalau begitu saya masuk ke belakang dulu ya, mau merokok sebentar dan menyelesaikan beberapa berkas."

Namun, sebelum berjalan pergi, ia sekali lagi mencoba menyentuh bagian belakang tubuh Dina dengan cara yang cukup paksa.

"Pak Bambang!" teriak Dina dengan terkejut dan marah, tangannya langsung menyentuh area yang disentuh Bambang.

Bambang hanya menyeringai dengan ekspresi yang penuh kemenangan, lalu berjalan cepat ke arah bagian belakang toko.

Di gudang belakang toko, Bambang langsung mengeluarkan ponselnya dan membuka aplikasi untuk melihat rekaman dari kamera tersembunyi yang ia pasang.

Ia segera mentransfer data rekaman ke memori ponselnya, lalu membuka salah satu video yang baru saja direkam.

Matanya membelalak dan napasnya menjadi tidak teratur, wajahnya menunjukkan ekspresi yang sangat tidak pantas dan menjijikkan.

"Ya ampun Din! Betapa cantiknya kamu! Sudah pasti saya akan terus mencoba untuk mendapatkanmu!" gumamnya dengan suara rendah sambil melihat rekaman yang sangat tidak pantas itu, merasa senang dengan hasil yang ia dapatkan meskipun tindakannya sangat salah.

 

Tepat setelah jam kerja berakhir, saat Dina sedang melakukan perhitungan akhir uang kasir dan mencocokkannya dengan data penjualan di komputer, wajahnya tiba-tiba menjadi pucat.

Ia memeriksa ulang dengan cermat, menghitung uang fisik berkali-kali dan membandingkannya dengan jumlah yang tercatat di sistem, namun hasilnya tetap sama. Ia merasa sangat panik.

Uang yang ada di laci kasir kurang jauh dari jumlah penjualan yang seharusnya diterima.

Bambang yang sedang pura-pura sibuk merapikan berkas administrasi segera menghampiri Dina dengan ekspresi yang dibuat-buat prihatin.

"Kenapa Din? Kamu kok terlihat panik sekali?" tanyanya dengan nada yang seolah tidak tahu apa-apa.

Dina menoleh ke arah Bambang dengan wajah yang penuh khawatir. "Uangnya kurang Pak. Uang yang ada di kasir jauh lebih sedikit dari total penjualan hari ini."

"Kok bisa ya? Apakah kamu salah menghitung atau ada yang kecolongan?" tanya Bambang dengan nada yang menyiratkan kecurigaan, padahal ia sendiri yang tahu apa yang sebenarnya terjadi.

Tiba-tiba, pikiran Dina tertuju pada Dika. Selain dirinya, hanya Dika yang pernah menjaga kasir hari ini.

Apakah Kak Dika yang mengambil uang itu? Tapi tidak mungkin, Kak Dika bukan orang seperti itu, gumam Dina dalam hati, segera menepis pikiran buruk itu dan tetap mempercayai Dika meskipun situasi terlihat tidak menguntungkan.

Bambang menggeleng-geleng kepala dengan nada yang mengejek.

"Lah, kamu sudah terlalu percaya orang ya Din? Bisa-bisa aja si anak baru itu yang mengambil uangnya tanpa sepengetahuan kita!"

Dina langsung merasa marah dan frustrasi, wajahnya memerah karena emosinya yang sedang naik.

"Jangan asal menuduh orang ya Pak! Saya tidak terlalu percaya orang seperti yang Bapak kira, dan mohon Bapak berhenti mencurigai Kak Dika tanpa bukti yang jelas!" ucap Dina dengan suara yang cukup tinggi.

Bambang tidak mau berhenti, malah semakin menyakitkan kata-katanya. Ia menyeringai dengan ekspresi yang sinis dan tatapannya penuh dengan kecurigaan.

"Tiap kali saya lihat, kamu selalu membela anak baru itu ya? Apakah kamu ada hubungan khusus dengan dia atau bagaimana?!" ucap Bambang dengan nada yang menusuk, seolah ingin mencari tahu sesuatu yang tidak perlu diketahuinya.

Jika saya mengaku bahwa Kak Dika adalah pacarku, saya takut Kak Dika akan mendapatkan masalah karena itu, pikir Dina dalam hati sambil menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri.

"Tentu saja ada hubungan Pak, tapi hanya sebatas rekan kerja yang saling membantu satu sama lain," jawab Dina dengan nada yang mantap, berusaha meyakinkan Bambang agar tidak terus mencurigai Dika.

Wajah Bambang langsung berubah menjadi masam karena tahu bahwa Dina sedang berbohong. Ia langsung membentak.

"Aduh sungguh! Sudahlah! Kalau begitu bulan depan gajimu akan dipotong untuk mengganti uang yang kurang itu!"

Dina hanya bisa menunduk dengan hati yang berat. Ia merasa sudah tidak punya pilihan lain dan harus menerima konsekuensi tersebut, meskipun ia tahu bahwa dirinya tidak bersalah.

Bambang lalu menyandarkan tubuhnya ke atas meja kasir, suaranya menjadi lebih rendah dan terdengar sangat menggoda serta menjijikkan.

"Tapi kamu tidak perlu khawatir juga lho Din. Saya bisa membantu mengganti semua uang yang kurang itu, tapi dengan satu syarat saja: kamu harus memenuhi keinginanku malam ini!"

Mendengar tawaran yang sangat tidak pantas itu, Dina langsung mengangkat kepala dengan wajah yang penuh kemarahan dan kejutan.

"Pak sudah gila ya?! Saya lebih suka kehilangan uang dan gaji daripada melakukan hal yang tidak benar seperti itu!" teriaknya dengan suara yang cukup keras.

Bambang hanya tersenyum dengan ekspresi yang dingin dan penuh ancaman.

"Ya sudah kalau begitu, kamu jangan menyalahkan saya kalau nanti video rekaman kamu itu tersebar ke mana-mana dan sampai ke teman-teman kerja serta keluarga kamu!"

Dina mengernyitkan dahinya dengan wajah yang bingung sekaligus sangat takut.

"Video apa yang Pak maksud?"

Bambang tanpa basa-basi langsung membuka ponselnya dan memutar sebuah klip video pendek. Di layar ponselnya, terlihat jelas rekaman Dina saat sedang di toilet toko.

Wajah Dina langsung menjadi sangat pucat, ia merasa sangat terkejut dan dipermalukan. "Pak sungguh tidak terpuji sekali! Hapus sekarang juga itu video! HAPUS!" teriaknya dengan suara yang penuh dengan emosi.

Bambang langsung menyembunyikan ponselnya ke dalam saku jaketnya. Ekspresinya kini penuh dengan rasa kuasa.

"Saya akan menghapusnya hanya jika kamu mau membuat keinginanku hilang. Gimana Din, kamu mau atau tidak?"

 

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel