
Ringkasan
Dika "Jaya Makmur" di Kota Perak, setelah bertahun-tahun menghadapi penolakan lamaran kerja yang membuatnya hampir menyerah. "Akhirnya ada kerjaan juga. Alhamdulillah, daripada terus nongkrong di rumah jadi beban orang tua," ujarnya pelan sambil mulai menyusun barang-barang makanan kaleng di rak yang panjang. Tiba-tiba, Dina, seorang karyawan senior yang juga menangani kasir dan pengelolaan stok, datang membantu menata barang tepat di sebelahnya. Tanpa melihat ke arah dika, Dina dengan santai jongkok untuk menjangkau rak paling bawah yang penuh dengan minuman kemasan.
Bab 1
Dika "Jaya Makmur" di Kota Perak, setelah bertahun-tahun menghadapi penolakan lamaran kerja yang membuatnya hampir menyerah.
"Akhirnya ada kerjaan juga. Alhamdulillah, daripada terus nongkrong di rumah jadi beban orang tua," ujarnya pelan sambil mulai menyusun barang-barang makanan kaleng di rak yang panjang.
Tiba-tiba, Dina, seorang karyawan senior yang juga menangani kasir dan pengelolaan stok, datang membantu menata barang tepat di sebelahnya. Tanpa melihat ke arah dika, Dina dengan santai jongkok untuk menjangkau rak paling bawah yang penuh dengan minuman kemasan.
Sekilas tentang Dina: Menurut dika, Dina adalah sosok yang sangat menarik. Selain wajahnya yang cantik dan wajahnya yang selalu ceria, ia juga memiliki tubuh yang proporsional dengan postur yang atletis karena sering berolahraga. Bahu yang lurus dan punggung yang ramping menjadi ciri khasnya.
Dika tidak sengaja melirik ke arah Dina yang sedang fokus bekerja. "Waduh, Dina..."
Mata Dika sedikit membelalak. Saat Dina berjongkok, rok kerja yang sedikit terlalu pendek terangkat sedikit, memperlihatkan bagian belakang paha yang putih dan celana dalam berwarna biru muda yang dikenakannya.
Pemandangan itu seolah tidak disengaja, namun membuat Dika merasa sedikit terkejut dan tidak nyaman. Ia menelan ludah dengan terdengar, lalu segera berdiri dengan tergesa-gesa.
"Hei Dika ! Kamu mau kemana? Kerjaan ini belum selesai dong!" seru Dina dengan nada sedikit kesal, masih tetap jongkok.
"Maaf Din, aku mau ke kamar mandi sebentar. Tiba-tiba inginnya banget," jawab Dika dengan suara yang sedikit terengah, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
"Oke ya! Jangan lama-lama ya, masih banyak barang yang harus disusun!" ujar Dina sambil mendengus ringan.
"Iya, cuma sebentar kok."
Dika segera berjalan cepat ke arah toilet, menutup pintunya dengan bunyi cukup keras. "Gila, kenapa bisa liat sesuatu yang gak seharusnya? Untung aja cuma aku yang liat. Kalau ada pelanggan lain, pasti Dina bakal merasa malu banget," gumamnya sambil mencuci wajah dengan air dingin, berusaha menenangkan diri yang sedikit terganggu.
Saat jam kerja usai sekitar pukul tiga lewat, Dika segera mengambil motor maticnya di area parkiran minimarket.
Namun, pandangannya langsung tertuju pada Dina yang berdiri sendiri di depan pintu keluar, tampak gelisah sambil melihat-lihat sekeliling. Ternyata ia sedang menunggu ojek online yang sudah lama tidak datang.
Dika langsung mendekatinya dengan senyum.
"Kok belum pulang, Din? Udah pesen ojol belum?"
"Iya nih, udah pesen dari tadi tapi kayaknya drivernya batal atau apa ya, sampe sekarang belum ada kabar. Padahal aku mau cepet pulang karena ada urusan penting di kosan," jawab Dina dengan wajah kesal, menggeleng-geleng kepala.
Dika tersenyum sedikit, melihat ini sebagai kesempatan untuk membantu teman kerja.
"Kalau begitu, ayolah aku antar aja pulang bareng. Jauh kan kosanmu dari sini?"
Dina menoleh ke arahnya dengan tatapan sedikit curiga dan ragu.
"Serius ya Kak Dika ? Boleh kah? Takutnya kamu kesusahan atau pacarmu marah kalau kamu antar aku."
Dika menggeleng dengan santai. "Pacar? Aku belum punya pacar sama sekali, Din. Jangan khawatir deh."
"Gak percaya dong! Masa cowok tampan kayak kamu belum punya pacar?" balas Dina sambil tertawa kecil, melihat wajah Dika yang sedikit bingung.
Dika terkekeh, membuat wajah kesal yang dibuat-buat. "Percuma tampan kalau kantong kosong, Din. Kini ini cewek kebanyakan lebih memilih yang bisa nyari uang aja, bukan cuma tampan doang."
Dina menggeleng dan tertawa lagi. "Hei! Aku bukan tipe kayak gitu lho! Jangan ngomong semua cewek sama aja!"
Dika ikut tersenyum. "Oke oke, maaf ya salah kata. Yuk aja naik, sebelum kamu semakin lama menunggu."
Akhirnya Dina mengalah dan naik ke jok belakang motor Dika . Saat tubuhnya bersandar pada punggung Dika , ada sensasi hangat dan sedikit ketegangan yang dirasakan keduanya karena jarak yang begitu dekat.
"Berhenti! Berhenti dong Kak Dika !" seru Dina dengan suara tinggi.
Dika langsung menghentikan motornya. "Ini kah kosanmu, Din? Yang warna kuning muda itu?"
"Iya, tepatnya yang paling dalam di gang itu. Rumahnya punya pagar besi hitam."
"Oh iya, kalau begitu kamu istirahat aja ya. Jangan lupa urusan yang kamu bilang tadi," ujar Dika sambil bersiap untuk memutar arah motornya.
"Lah, kamu tidak mau mampir sebentar? Aku ada kopi instan di kamar, bisa kita nikmati bareng aja sebelum kamu pulang," ajak Dina dengan senyum.
"Emang boleh ya? Takutnya ibu kos kamu marah atau ada aturan yang tidak boleh tamu masuk," ujar Dika dengan ragu, melihat lingkungan kosan yang cukup tertutup.
"Enggak apa-apa Kak. Ibu kos aku namanya Bu Wulan, orangnya sangat baik dan ramah. Selain itu, dia baru saja jadi janda sekitar setahun yang lalu. Katanya dulu karena suaminya pergi mencari kerja ke luar kota dan tidak pernah kembali lagi," jelas Dina sambil menekankan kata-katanya.
Dika sedikit terkejut mendengarnya. "Waduh, benar ya? Kasihan juga ya Bu Wulan."
Batin Dina sedikit jengkel. "Amplopnya sudah jelas banget nih, tapi dia malah fokus ke cerita Bu Wulan aja. Padahal aku yang ngajakin mampir lho," pikirnya sambil menggeleng-geleng kepala.
"Yaudah aja masuk yuk Kak," ajak Dina lagi.
Rio tersenyum dengan semangat, namun segera mengingat sesuatu. "Bentar dulu ya Din, aku harus kirim pesan ke keluarga dulu. Takut mereka khawatir karena pulangnya terlambat," ujar Rio sambil mengambil hp dari saku celananya.
"Yaudah deh, kamu kayak bocah aja ya! Udah dewasa masih harus melaporkan ke keluarga!" seru Dina dengan nada ketus namun penuh canda.
Dika terkekeh. "Cuma kabarin aja Din, biar mereka tidak khawatir!" serunya sambil mengetik pesan di hp-nya, merasa sudah berhasil masuk ke lingkungan baru yang lebih dekat dengan Dina.
Ia melangkah masuk mengikuti Dina, rasa penasaran terhadap kehidupan Dina dan ibu kosnya kini lebih besar daripada rasa kelelahan setelah bekerja seharian.
"Permisi Bu," ucap Dika dengan sopan saat melihat seorang wanita sedang mengepel lantai di halaman kosan.
Dina hanya tersenyum dan sedikit mencubit lengan Dika memberikan sinyal untuk tidak terlalu formal.
"Aduh! Kenapa dicubit ya Din?" bisik Dika dengan suara sedikit kesal, menyentak tubuhnya.
Bu Wulan yang mendengarnya langsung menoleh, menatap Dika dengan senyum yang cukup lebar dan tatapan yang hangat. "Enggak apa-apa kan ya anak?" tanyanya dengan suara lembut.
"Iya Bu, tidak apa-apa kok," ucap Dika dengan sedikit salah tingkah, merasa sedikit tertekan oleh tatapan Bu Wulan.
"Makanya, panggil aja aku 'Teteh Wulan' saja ya. Karena aku berasal dari desa di luar Kota Perak, lebih suka panggilan yang akrab!" tegas Bu Wulan dengan senyum yang semakin lebar.
"Oke Teh, maaf ya tadi," ucap Dika dengan cepat, segera meralat panggilannya.
Dina langsung menarik lengan Dika untuk masuk ke dalam kamar kosnya. "Mari Teh, kami masuk dulu ya!"
Bu Wulan mengangguk dan kembali fokus mengepel lantai. Setiap gerakan membungkuknya membuat bagian atas tubuhnya tampak lembut bergerak, pemandangan yang tidak bisa dilewatkan oleh mata Rio yang sedang tidak sengaja melihat ke arahnya.
Bruk!
Saking fokusnya melihat gerakan Bu Wulan, kaki Dika tidak sengaja tersandung ember berisi air pel yang ada di dekat tangga. Air langsung tumpah, membasahi lantai yang baru saja dipel bersih.
Bu Wulan langsung menoleh dengan cepat, wajahnya campur antara kesal dan tertawa. "Hati-hati ya kalau jalan anak! Kamu tampan-tampan tapi sedikit ceroboh ya," ujarnya dengan nada penuh keceriaan.
Dina hanya terkekeh melihat wajah Dika yang memerah karena malu. Ia merasa puas karena akhirnya perhatian Dika sedikit teralihkan dari Bu Wulan ke dirinya sendiri.
Dika hanya bisa menunduk dan menepuk-nepuk bagian celananya yang terkena air. "Maaf ya Teh, aku tidak sengaja," ujarnya dengan suara pelan.
Sesampainya di kamar kos yang cukup sempit namun rapi, Dina langsung mulai melepas seragam minimarketnya tanpa basa-basi.
Kini yang tersisa di tubuhnya hanya tank top hitam dan celana dalam putih yang sama persis yang dilihat Rio tadi saat di minimarket.
Dika langsung merasa tersedak dan tidak bisa berkata-kata. Jantungnya berdebar kencang dan matanya membelalak, tidak hanya melihat bentuk tubuh Dina yang tampak jelas di balik tank top tipisnya, tapi juga bagian bawah tubuh yang terlihat jelas di balik celana dalam yang cukup ketat.
"Kak Dika , kamu tidak mau mimisan kan?" tanya Dina dengan suara santai, melihat reaksi Dika yang kaget.
Rio menggeleng dengan cepat, suaranya sedikit serak. "Mungkin sebentar lagi ya Din, kalau kamu terus kayak gini."
Dina hanya terkekeh senang, merasa puas bisa membuat dika seperti itu. Ia kemudian mengambil celana pendek jeans yang tergantung di pagar baju dan segera mengenakannya.
Dika masih berdiri seperti batu, masih belum bisa mempercayai apa yang baru saja dilihatnya.
"Gila kamu ya Din! Kamu ganti baju di depan aku aja?" ujar Dika dengan suara sedikit tinggi.
Dina memutar tubuh menghadap Diak , menyeringai dengan puas. "Sengaja lho Kak. Biar kamu tahu kalau aku tidak canggung sama kamu."
"Lah, kalau aku merasa tidak nyaman gimana? Kamu mau tanggung jawab kan?" balas Diak dengan suara yang mulai penuh emosi.
"Ya tergantung aja Kak. Kalau kamu mau sesuatu dengan aku, kenapa aku harus menolak?" jawab Dina dengan nada provokatif, melihat langsung ke mata Dika
Dika hanya bisa memandangnya dengan campuran kagum dan sedikit takut. Seumur hidupnya, baru kali ini ia bertemu wanita yang begitu terbuka dan tidak ragu seperti Dina. Jelas, berada dekat dengan Dina adalah hal yang cukup menantang namun juga menarik bagi dirinya.
Tanpa berpikir panjang lagi, Dika langsung menghampiri Dina yang masih berdiri di tengah kamar. Jarak mereka langsung hilang dalam satu langkah saja.
Dina menatapnya dengan serius, matanya memancarkan tantangan yang jelas. Kini, mereka saling memandang tanpa berpaling, emosi dan hasrat yang sudah terkumpul lama akhirnya meledak dan tidak bisa lagi ditahan.
Tanpa basa-basi, Dika langsung mencium bibir Dina yang lembut. Dina dengan cepat membalas ciuman itu dengan penuh semangat, napasnya menjadi pendek dan terengah-engah. Mereka saling bergoyang dan mengadu lidah dengan penuh hasrat.
Dengan cepat, Dika menarik tank top Dina ke atas perlahan. Kini, di hadapannya terbentang dada Dina yang hanya tertutupi oleh bra tipis berwarna merah muda.
Dika segera membuka tali bra itu dengan cepat. Seketika, dada Dina tampak lepas dan terbentang di hadapannya, dengan puting yang berwarna merah muda cerah.
Napas Dika menjadi semakin pendek; ia langsung mencium dan menghisapnya dengan perlahan namun penuh hasrat.
Dina mengeluarkan suara mendesis lembut. "Ahh... pelan-pelan Kak Dika Jangan tergesa-gesa ya," bisiknya dengan suara lembut, meskipun tubuhnya sudah mulai bergetar karena sensasi yang dirasakannya.
Sambil masih menghisap dada Dina, tangan Dika perlahan merendahkan celana pendek jeans yang baru saja dikenakan Dina.
Kemudian, jari-jarinya mulai menyentuh bagian intim Dina yang sudah mulai basah dan terasa hangat.
Dina menggeliat dan mulai aktif melepas baju-baju yang dikenakan Dika , mulai dari kaos hingga celananya, hingga Dika benar-benar telanjang bulat di depannya.
Napas Dina menjadi semakin terengah, matanya membesar saat melihat bagian tubuh Dika yang sudah tegak dan siap.
"Gila Kak! Besar dan panjang sekali ya?" seru Dina dengan suara penuh keterkejutan dan kagum. "Mantan pacarku dulu tidak pernah sebesar ini!"
Tanpa menunggu jawaban dari Dika , Dina langsung jongkok di hadapannya. Dengan penuh hasrat, ia mulai mengelus dan mengisap bagian tubuh Dika itu. Cairan sudah mulai keluar deras, membasahi lantai kamar yang cukup kecil karena kesungguhan dan kepenuhannya.
Ini adalah momen yang terjadi dengan cepat, tanpa basa-basi, dan didorong oleh hasrat yang sudah lama terkumpul dan akhirnya bisa mereka lepaskan bersama-sama.
