Bab 3
Siti masih berdiri membeku, matanya membelalak karena kaget. Ia tak sengaja melihat sekilas bagian tubuh anak tirinya yang kini terlihat jelas.
Dika menoleh ke arahnya tanpa menyadari bahwa Siti sedang terkejut. "Iya Bu, mau tanya apa nih?"
Siti dengan cepat menenangkan diri dan menutupi ekspresi kaget di wajahnya. "Gak jadi deh Kak. Bolehkah Ibu duduk sebentar di ranjang kamu? Mau sedikit membersihkan tempat tidur yang terlihat berantakan."
"Maaf Bu, aku belum sempat ganti baju lho," jawab Dika dengan rasa canggung yang jelas.
"Gak apa-apa Kak, Ibu kan bukan orang asing. Lagian Ibu hanya akan beresin seprai dan bantalnya aja kok," ucap Siti dengan nada yang terlalu santai, seolah ada maksud tersembunyi di balik kata-katanya.
"Ya sudah Bu. Makasih ya sudah mau bersihin tempat tidurku," jawab Dika dengan pasrah dan mulai bergerak ke sisi kamar untuk memberi jalan.
Siti tersenyum dengan ekspresi yang sedikit misterius. Ia segera berbalik dan mulai membungkuk untuk merapikan seprai ranjang Dika yang berada di rumah mereka di Kota Perak.
Dika dengan canggung mulai mengenakan pakaiannya. Namun, saat pandangannya menyilang cermin yang ada di depan kamar, hatinya seolah berhenti berdetak sejenak.
Cermin itu memantulkan bentuk tubuh Siti yang sedang membungkuk, memperlihatkan lekukan pinggul dan bagian belakang tubuhnya yang terlihat jelas di balik daster tipis yang dikenakannya. Kain daster itu seolah tidak mampu menyembunyikan bentuk tubuhnya yang masih terlihat menarik walau sudah berusia 38 tahun.
"Waduh... Bu..." gumam Dika dengan suara yang tersedak, rasa tidak nyaman dan hasrat yang tidak diinginkan tiba-tiba muncul dalam dirinya.
Siti menoleh ke arahnya dengan senyum yang terlihat licik.
"Sudah Kak, tempat tidur kamu sudah aku rapikan. Sekarang ayo kita makan ya, makanan sudah aku siapin di meja makan."
Dika menelan ludah dengan terdengar, seluruh pikirannya masih terganggu oleh apa yang dilihatnya di cermin. Ia mengangguk dengan gerakan yang kaku, lalu mengikuti langkah Siti menuju meja makan.
Dika hanya bisa melihat Siti dari belakang. Setiap langkah yang diambilnya membuat bagian belakang tubuhnya sedikit bergoyang, hal ini membuat Dika merasa sangat tidak nyaman dan ingin segera mengalihkan perhatiannya.
Aroma parfum yang digunakan Siti terasa sangat kuat dan membuatnya merasa sedikit pusing.
Di meja makan, Dika mulai makan dengan cukup lahap karena memang merasa sangat lapar setelah bekerja seharian di minimarket di Kota Perak.
Ia menoleh ke arah Siti, mencoba sekuat mungkin untuk mengalihkan fokus dari apa yang dilihatnya tadi.
"Bu, Ayah kapan ya kira-kira pulang dari perjalanan kerja?" tanyanya dengan suara yang sedikit tercekik karena sedang mengunyah makanan.
Siti menghela napas panjang dan menunjukkan wajah yang terlihat sedih. "Masih lama Kak. Tadi dia telepon bilang mungkin butuh waktu sekitar tiga minggu sampai sebulan lagi baru bisa pulang ke rumah."
"Jangan sedih ya Bu. Kan ada aku di rumah, kalau ada yang perlu bantuan bisa bilang aja," ucap Dika dengan tulus, ingin memberikan dukungan pada ibu tirinya.
Siti menatapnya dengan mata yang tampak berbinar. Ia salah mengartikan maksud yang sebenarnya ingin disampaikan Dika. Apakah dia mengerti apa yang kurasakan? pikir Siti dalam hati.
"Ya, kalau ada masalah seperti lampu yang mati atau keran yang bocor, aku bisa bantu memperbaikinya kok Bu!" ujar Dika dengan yakin, merujuk pada pekerjaan perbaikan rumah yang bisa dia lakukan.
Siti hanya bisa tersenyum dengan wajah yang sedikit kikuk, berusaha menekan perasaan yang muncul dalam dirinya.
Ya ampun Kak, kalau aku merasa tidak nyaman dan butuh bantuan untuk mengatasinya, bisakah kamu juga membantu? gumamnya dalam hati.
Saking lapar dan tergesa-gesanya makan, sendok yang ada di tangan Dika tiba-tiba terjatuh ke lantai di bawah meja.
Clak!
Dika tersenyum dengan rasa canggung. "Maaf ya Bu, aku akan mengambil sendoknya dulu ya."
"Gak usah deh Kak. Lebih baik kamu ambil sendok baru saja di dapur aja," tolak Siti dengan cepat dan terdengar tergesa-gesa.
"Tidak apa-apa Bu, mumpung belum lama jatuh dan masih bersih kok," tegas Dika dan mulai berdiri untuk mengambil sendoknya.
Saat Dika membungkuk untuk mengambil sendok di bawah meja, Siti dengan sengaja membuka kaki yang sedikit terlipat di bawah daster longgar yang dikenakannya.
Seketika, mata Dika melebar lebar dan jantungnya mulai berdebar kencang. Di bawah dasternya yang sedikit terangkat, ia melihat celana dalam berwarna cream yang dikenakan Siti, dengan bagian luar yang terlihat jelas.
Dika merasa tersedak dan tidak bisa berkata-kata sejenak.
"Ehm... Dika? Sudah dapat sendoknya belum?" suara Siti terdengar dengan nada yang dibuat-buat seolah tidak tahu apa yang terjadi.
"Ada... sudah dapat Bu," jawab Dika dengan suara yang sedikit gemetar, segera mengambil sendoknya dan kembali duduk dengan wajah yang memerah seperti merah muda.
"Ayo cepat habiskan makanannya ya Kak, jangan sampai dingin," ucap Siti dengan senyum yang terlihat puas melihat reaksi Dika.
"Baik Bu," jawab Dika dengan suara pelan dan mulai makan lagi dengan hati-hati.
Siti berdiri dari kursinya, dengan sengaja menggeser pinggulnya saat berjalan seolah ingin memberikan kesan tertentu.
"Dika, setelah kamu selesai makan, tolong bantuin Ibu pijat badan ya di kamar. Rasanya badan ini sangat pegal-pegal karena kerja dari pagi sampai sore."
Dika merasa sulit bernapas dan menatap wajah Siti dengan tatapan yang bingung. "Baik Bu, setelah makan aku akan datang."
"Yaudah, kamu habiskan makanannya dulu ya. Ibu akan menunggu di kamar saja," ucap Siti dan mulai berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Dika sendirian dengan makanan yang tiba-tiba terasa tidak enak lagi karena pikirannya sudah tidak bisa fokus pada makanan.
Tok! Tok!
"Masuk aja Kak!" suara Siti terdengar dengan nada yang manja dari dalam kamar.
Klik!
Saat Dika membuka pintu kamar, jantungnya langsung berdebar sangat kencang. Siti kini sedang berbaring telungkup di atas ranjang dengan hanya mengenakan bra hitam dan celana dalam cream yang sama seperti yang dilihatnya tadi. Bagian belakang tubuhnya terlihat jelas dan membuat Dika merasa sangat tidak nyaman.
Siti menyeringai dengan ekspresi yang sedikit licik. "Kenapa kamu berdiri saja seperti itu? Ayo datang sini!"
Dengan langkah yang lambat dan canggung, Dika mulai menghampiri ranjang dan duduk di tepinya.
"Maaf ya Bu, pakaianmu seperti ini... bukankah lebih baik kamu mengenakan baju tidur dulu?" tanya Dika dengan ragu, matanya sulit untuk fokus pada satu tempat.
Siti menoleh ke arahnya dengan tatapan yang tajam. "Sudah lah Kak, gak apa-apa kok. Biar kamu bisa pijat dengan lebih leluasa aja," jawabnya tanpa sedikit rasa malu.
Dika mengangguk dengan terpaksa dan mulai memijat pundak serta bahu Siti dengan lembut. Saat ia memijat, jarinya tak sengaja menyentuh tali bra yang ada di punggung Siti.
"Ohhh..." Siti mengeluarkan suara desahan pelan. "Pijatan kamu enak sekali Kak. Kalau tahu kamu bisa pijat seperti ini, Ibu tidak akan perlu pergi ke spa lagi deh."
Dika tidak menjawab dan hanya fokus pada gerakan tangannya yang memijat bagian pundak dan bahu Siti dengan lebih dalam.
"Ya, di situ Kak! Lebih ke bawah sedikit lagi..."
Bagian dada Siti yang tertekan pada kasur terlihat jelas dan membuat Dika merasa semakin tidak nyaman. Ia menelan ludah dengan terdengar dan merasakan bagian tubuhnya mulai menjadi tidak nyaman di dalam celananya. Ia berusaha sekuat mungkin untuk tetap fokus pada pijatan yang sedang diberikan.
"Sekarang turun ke bagian pinggang ya Kak," pinta Siti dengan suara yang mulai terdengar serak.
"Ba... baik Bu," jawab Dika dengan napas yang sudah mulai tidak teratur.
Saat tangannya mulai memijat bagian pinggang, mata Dika tidak sengaja melihat celana dalam yang dikenakan Siti. Ia tiba-tiba mengingat bahwa celana dalam tersebut adalah salah satu yang pernah ia lihat dan bahkan pernah disentuhnya saat membersihkan lemari pakaian Siti beberapa waktu yang lalu, saat ayahnya sedang kerja dan Siti tidak ada di rumah.
Dika mengeluarkan suara terkekeh kecil, namun kenangan tersebut hanya membuatnya semakin merasa tidak nyaman dan bingung.
Gerakan tangannya terus memijat dengan lembut, sampai akhirnya ujung jarinya menyentuh bagian luar celana dalam Siti yang terasa hangat.
"Uh..." Siti mengeluarkan suara desahan lagi, bukan karena rasa sakit melainkan karena sensasi yang dirasakannya.
"Apakah tidak nyaman ya Bu?" tanya Dika dengan khawatir.
"Maaf ya Kak, cuma refleks aja. Kadang memang seperti itu kalau digelitik sedikit," jawab Siti dengan menahan diri agar tidak tertawa.
Dika hanya bisa terkekeh lagi dan terus memijat bagian sekitar pinggang Siti, dengan jari-jari yang masih menyentuh bagian luar celana dalamnya.
Tiba-tiba saja, Siti memutar tubuhnya dan sekarang berbaring terlentang di atas ranjang. Bra hitam dan celana dalam cream yang dikenakannya terlihat jelas, dengan bagian tubuhnya yang terbuka membuat Dika merasa sangat terkejut.
Dika hanya bisa membeku dan berdiri di tempat, napasnya tersedak karena kejutan. Ia tidak pernah membayangkan akan melihat ibu tirinya dalam keadaan seperti ini di depannya, seolah memberikan kesempatan untuk melakukan hal yang tidak seharusnya dilakukan.
Siti menatap Dika dengan senyum yang tidak lagi menunjukkan rasa malu. Ia kini terlihat sangat terbuka di hadapan Dika.
"Ayo Kak, lepas saja pakaianmu," ujarnya dengan suara yang lembut namun terdengar seperti perintah yang tidak bisa ditolak.
"Maksud Bu apa?" tanya Dika dengan suara yang tergagap-gagap, keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.
"Kamu harus bertanggung jawab Kak," jelas Siti sambil menunjuk pada bagian tubuhnya yang membuatnya merasa tidak nyaman. "Karena tadi aku melihat bagian tubuhmu yang besar, aku jadi merasa sangat tidak nyaman dan butuh bantuan untuk mengatasinya."
"Ta... tapi Bu, aku takut kalau Ayah tahu hal ini," ucap Dika dengan suara yang gemetar, mencoba mencari alasan untuk menghindari situasi yang semakin tidak nyaman ini.
"Tenang saja Sayang, ini rahasia kita berdua aja kok," ujar Siti dengan nada yang menenangkan namun penuh dengan godaan, matanya yang memandang Dika seolah memberikan janji dan juga ancaman tersembunyi.
Dika terdiam sejenak dan tidak bisa berkata-kata. Ia tidak bisa menyangkal bahwa dirinya juga merasa tidak nyaman karena situasi ini, namun akal sehatnya masih berusaha untuk mengontrol diri.
"Baik Bu, kalau begitu... aku akan keluar sebentar untuk membeli sesuatu dulu ya," ucap Dika dengan cepat dan mencoba berdiri untuk pergi, mencari cara untuk menghindari situasi yang semakin memprihatinkan ini.
Namun Siti menggeleng dengan ekspresi yang manja dan segera meraih tangan Dika dengan erat.
"Gak usah deh Kak. Aku sudah siap dan tidak perlu membeli apa-apa lagi, jadi kamu tidak perlu keluar," bisiknya dengan menarik tangan Dika agar kembali duduk di tepi ranjang, menutup semua kemungkinan bagi Dika untuk pergi.
Dika menatap wajah ibu tirinya dengan tatapan yang bingung dan penuh dengan rasa bersalah. Ia tahu bahwa tidak ada jalan keluar lagi dari situasi ini, namun akal sehatnya masih berusaha untuk berbicara. Ia memejamkan mata sejenak dan kemudian membukanya kembali dengan tekad yang baru.
"Maaf Bu, tapi aku tidak bisa melakukan hal yang tidak benar seperti ini," ujar Dika dengan suara yang jelas dan tegas. "Kita adalah keluarga dan harus saling menghormati satu sama lain. Jika Bu merasa tidak nyaman, sebaiknya kita mencari bantuan dari orang yang tepat atau berbicara dengan Ayah agar bisa menemukan solusi yang baik."
Siti terkejut mendengar kata-kata Dika dan mulai merasa malu dengan apa yang telah dilakukannya. Ia melihat wajah Dika yang penuh dengan kejujuran dan rasa hormat, membuatnya menyadari bahwa apa yang telah dilakukan adalah salah.
"Aku... aku maafkan Kak," ucap Siti dengan suara yang pelan dan penuh dengan rasa menyesal. "Aku tidak seharusnya melakukan hal seperti ini dan membuatmu merasa tidak nyaman. Aku hanya merasa kesepian karena ayahmu tidak ada di rumah dan salah mengartikan perhatian yang kamu berikan."
"Itu tidak apa-apa Bu," ucap Dika dengan lembut. "Kita semua bisa merasa kesepian dan salah mengambil keputusan. Yang penting kita menyadari kesalahan dan berusaha untuk memperbaikinya. Jika Bu merasa kesepian atau ada masalah yang ingin dibicarakan, aku selalu siap untuk membantu dan mendengarkan ya Bu."
Siti mengangguk dengan wajah yang memerah karena rasa malu dan meneteskan air mata. Ia merasa bersyukur memiliki anak tiri yang bisa memberikan nasihat yang baik dan tidak mengambil keuntungan dari situasi yang tidak baik ini.
"Terima kasih Kak," ucap Siti dengan suara yang penuh dengan rasa syukur. "Aku akan berusaha untuk lebih menghormati batasan kita sebagai keluarga dan jika ada masalah, aku akan berbicara dengan kamu atau ayahmu dengan jujur."
Dika tersenyum hangat dan memberikan tangan pada Siti untuk menunjukkan dukungannya. Ia tahu bahwa memaafkan adalah langkah yang sulit namun penting untuk menjaga keharmonisan keluarga.
