Pustaka
Bahasa Indonesia
Bab
Pengaturan

Bab 2

Dika hanya mengangkat kepala, menatap langit-langit kamar kosan di Kota Perak yang terlihat kusam karena lampu bohlam yang sudah tua, berusaha menahan sensasi yang begitu kuat dari gerakan Dina yang penuh hasrat.

"Cukup Din, cukup aja!" desah Dika dengan suara yang hampir terengah-engah, seolah kehabisan napas.

Dika mengangkat tubuh Dina dan mereka kembali mencium bibir satu sama lain dengan posisi berdiri di tengah kamar yang kecil.

Dengan penuh semangat, Dika kembali menurunkan wajahnya ke dada Dina. Lidahnya perlahan menyapu putingnya sampai benar-benar mengeras dan terasa hangat.

Dina menekan kepala Dika dengan lembut, menahan gelombang sensasi yang menyebar ke seluruh tubuhnya.

"Ahh... terus Kak Dika ! Kamu benar-benar hebat!"

Setelah beberapa saat, Dika menuntun Dina dan membuatnya berbaring di kasur lipat yang biasa digunakan penghuni kosan.

Kaki Dina sedikit terbentang lebar. Bagian intimnya yang masih ditutupi oleh sedikit bulu alami malah menjadi pemandangan yang membuat hasrat Dika semakin memuncak.

Sambil menatap mata Dina yang penuh harap, Dika melakukan satu kali dorongan perlahan. Bagian tubuhnya yang keras perlahan masuk ke dalam yang hangat, licin, dan terasa sempit.

Dika menatap Dina yang sedang menutup mata. "Din, kamu pernah melakukan hal seperti ini sebelumnya?"

Dina hanya mengangguk pelan dengan mata masih tertutup. "Dulu sama mantan pacarku. Tapi dia orang yang tidak bertanggung jawab, setelah itu dia pergi dan tidak pernah kembali lagi padaku."

"Tapi Din, kamu masih terasa sempit ya," bisik Dika dengan rasa heran, melihat wajah Dina yang sedikit memerah.

"Ya karena hanya milik kamu yang besar seperti ini, Kak," jawab Dina dengan suara lembut, senyumnya kini bercampur antara rasa sakit dan kepuasan.

Tanpa berkata lagi, Dika mulai bergerak dengan intensitas yang pas, menggerakkan pinggulnya maju mundur dengan irama yang teratur. Dina hanya bisa mengeluarkan suara desahan panjang sambil mengikuti gerakan Dika dengan mengangkat pinggulnya.

Suara lembut dari benturan tubuh mereka memenuhi ruangan sempit itu, seolah menjadi saksi dari pelepasan emosi dan trauma yang selama ini Dina tahan sendiri.

Dika tidak ingin menyia-nyiakan momen itu. Setelah Dina memuji dirinya, ia meminta untuk mengganti posisi.

"Din, coba jongkok dan punggungmu menghadap aku ya," pinta Dika dengan lembut.

Dina mengikuti permintaannya dengan cepat. "Milik Kak sungguh enak banget," puji Dina dengan suara yang penuh kepuasan.

Dika tersenyum lebar. Ia menatap bagian belakang tubuh Dina yang terlihat menarik dan membuatnya semakin terangsang.

"Waduh, tubuhmu benar-benar luar biasa Din!" ucapnya sambil menepuk pelan bagian belakang itu.

"Jangan banyak omong aja Kak! Ayo dong," desak Dina dengan suara yang menunjukkan bahwa dirinya sudah tidak sabar.

Dika segera mengambil alih dan memposisikan diri dengan benar. Dengan satu kali dorongan yang cukup kuat, ia kembali masuk ke dalam tubuh Dina.

"Ahhh...." desahan Dina semakin panjang, menikmati sensasi yang dirasakannya dari belakang.

Dika bergerak dengan penuh semangat, menggerakkan pinggulnya dengan irama yang semakin cepat dan intens. Dada Dina bergoyang mengikuti setiap gerakan yang dilakukan Rio.

"Kak Dika, aku merasa akan keluar nih! Ahhh!" seru Dina dengan suara yang semakin tinggi.

Tepat pada saat yang tepat, Dika menarik keluar bagian tubuhnya. Benar saja, cairan itu menyembur deras dan membasahi bagian kasur di dekat mereka.

Dina menoleh ke arah Dika dengan memberikan senyum yang penuh kepuasan.

"Terima kasih Kak Diak . Kamu benar-benar hebat!"

Dika hanya menggeleng dengan napas yang masih terengah-engah. Rasa kepuasan membungkus dirinya, namun bagian tubuhnya kembali menjadi keras dan berdenyut, seolah menuntut pelepasan yang lebih banyak.

"Din, kayaknya sekarang giliranku ya," ujar Dika dengan suara yang berat karena napasnya yang belum stabil.

"Jangan masuk ke dalam ya Kak," peringatkan Dina dengan suara lembut.

"Iya, aku paham."

Dika akhirnya mencapai titik tertingginya. "Ahh... Din, Din..."

Dina dengan refleks cepat memutar tubuhnya dan membuka mulutnya lebar. Tanpa ragu, Dika mengarahkan cairannya yang panas dan deras ke dalam mulut Dina.

Dengan lembut, Dina mengelus bagian tubuh Dika dan membersihkannya dengan hati-hati sampai bersih.

Sore itu, di kamar kos yang sempit di Kota Perak, Dika menyadari bahwa di balik sosok Dina yang cantik dan ceria, ada rasa sakit dan keinginan akan cinta yang sama kuatnya dengan hasrat yang ada pada dirinya sendiri.

Dina menatap Dika dengan pandangan yang lebih lembut dari biasanya. Ia berbaring dan menyandarkan kepalanya di dada Rio yang masih bernapas berat.

"Kak Dika kenapa aku bisa memberikan segalanya ini untukmu?" tanyanya dengan suara pelan, merujuk pada kepercayaan yang ia berikan pada Dika.

"Ya aku juga tidak tahu Din," jawab Rio dengan tersenyum kecil.

"Karena sejak kamu mulai bekerja di minimarket itu, aku sudah menyukaimu. Aku kira kamu sudah punya pacar."

Dika tersenyum hangat. "Kalau begitu kita sama Din. Aku juga sejak pertama kali melihatmu di toko, hatiku langsung terpikat padamu."

"Masa sih Kak?" Dina mendongak dengan wajah yang memerah, matanya penuh dengan keraguan yang manis.

"Ya benar, karena kamu adalah orang yang paling spesial di mataku," ujar Dika dengan lembut.

"Ah, kamu bisa saja ngomong hal-hal manis seperti itu," ucap Dina dengan wajah yang semakin merah. Ia segera bangkit dan mulai mengenakan pakaiannya kembali.

Rasa malu yang hilang sejenak karena hasrat kini kembali datang dengan kuat.

Begitu juga Dika , ia mulai mengenakan kembali pakaiannya. Setelah selesai, ia menoleh ke arah Dina.

"Kalau begitu aku pamit pulang ya Din. Sudah cukup lama juga aku berada di sini."

"Iya Kak Dika , hati-hati di jalan ya," ucap Dina dengan senyum.

Ia menghampiri Dika dan mencium bibirnya dengan cepat, sebuah tanda dari janji dan rasa hubungan baru yang telah mereka bangun bersama.

Dika memacu motornya dengan perlahan. Setelah mengucapkan selamat tinggal pada Dina, ia keluar dari halaman kosan dengan hati yang merasa lebih tenang.

Saat itu juga pandangan Dika tertuju pada Bu Wulan yang ia panggil 'Teteh Wulan'. Wanita itu sedang duduk santai di kursi yang ada di teras depan kosan, fokus pada ponselnya yang sedang digenggam. Ia mengenakan daster panjang bermotif bunga yang cukup longgar.

Kaki Bu Wulan sedikit terangkat dan disilangkan di atas kursi, posisi yang terlihat sangat santai.

Namun, posisi itu membuat bagian bawah dasternya sedikit terangkat, sehingga celana dalam berwarna merah muda yang dikenakannya terlihat jelas – sebuah pemandangan yang tidak disengaja namun sulit untuk dihindari.

Dika hanya menggeleng-geleng kepala dengan tersenyum kecil.

"Kosan ini memang penuh dengan kejutan ya," pikirnya dalam hati. Setelah mendapatkan kehangatan dari Dina, kini ia disuguhi pemandangan yang tidak terduga dari Bu Wulan yang tampak begitu santai.

Ia segera melaju meninggalkan kosan, membawa pulang kenangan hangat bersama Dina dan juga pemandangan yang tidak disengaja dari Bu Wulan.

 

Unduh sekarang dan klaim hadiahnya
Scan kode QR dan unduh aplikasi Hinovel