4. Perjodohan
Lima tahun berlalu.
Musim semi kembali datang ke wilayah Valmont.
Namun, tidak seperti bunga-bunga yang bermekaran di taman kediaman utama Pack Valmont, hati Sebastian Draco Valmont justru terasa semakin dingin.
Lima tahun.
Selama lima tahun, ia masih menyimpan selendang putih itu.
Benda sederhana yang seharusnya tidak berarti apa-apa, tetapi justru menjadi satu-satunya peninggalan dari perempuan yang pernah membuat serigalanya mengenali kata yang selama ini tidak pernah ia pedulikan.
Mate.
Sebastian berdiri di depan jendela ruang kerjanya. Di tangannya terdapat sebuah laporan.
"Masih belum ditemukan."
Suara Adrian, Beta kepercayaannya, terdengar dari belakang.
Sebastian tidak langsung menjawab. Matanya tetap tertuju pada halaman kediaman. "Sudah lima tahun."
"Ya, Alpha."
"Dan kalian masih tidak menemukan satu pun jejaknya."
Adrian menunduk. "Kami sudah mencari ke hampir seluruh wilayah. Bahkan beberapa Pack lain juga sudah kami hubungi."
Sebastian mengepalkan tangan. "Berarti cari lebih jauh."
"Alpha..."
Sebastian menoleh. Tatapannya membuat Adrian mengurungkan kalimatnya.
"Dia mungkin sudah tidak berada di wilayah ini."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, mungkin sebaiknya... "
"Jangan."
Satu kata. Tegas.
Adrian menghela napas. Ia sudah mengetahui sifat Sebastian. Jika Alpha-nya sudah menginginkan sesuatu, tidak ada seorang pun yang mampu membuatnya menyerah.
"Baik." Adrian menyerahkan sebuah dokumen. "Namun, ada masalah lain yang jauh lebih mendesak."
Sebastian menerima dokumen itu. "Apa?"
"Pertemuan antara keluarga Valmont dan keluarga Clarice."
Sebastian membuka dokumen tersebut. Alisnya langsung berkerut. "Kapan?"
"Malam ini."
Sebastian menatap Adrian. "Aku tidak pernah menyetujui pertemuan itu."
"Ini permintaan langsung dari Tuan Valmont."
Sebastian menutup dokumen. "Aku tidak akan datang."
"Tapi Alpha..."
"Aku bilang tidak."
Adrian hendak menjawab, tetapi suara langkah kaki terdengar dari luar.
Pintu terbuka.
Seorang pria berusia sekitar lima puluh tahun masuk. Wajahnya tegas. Tatapannya dingin. Dialah Alexander Valmont, ayah Sebastian sekaligus Alpha sebelumnya dari Pack Valmont.
"Kau akan datang."
Sebastian menatap ayahnya. "Aku tidak punya waktu."
Alexander berjalan mendekat. "Kau selalu tidak punya waktu ketika menyangkut keluarga."
"Karena sebagian besar urusan keluarga tidak penting."
Adrian langsung menundukkan kepala. Suasana ruangan berubah tegang.
Alexander menatap putranya cukup lama. "Kau sudah berusia dua puluh enam tahun."
"Aku tahu umurku."
"Kau seorang Alpha."
"Aku juga tahu."
"Pack membutuhkan pewaris."
Sebastian terdiam. Akhirnya, ia memahami arah pembicaraan itu. "Aku tidak tertarik."
Alexander menghela napas. "Kali ini kau tidak bisa menolak."
Sebastian tertawa kecil. "Aku bisa."
"Sebastian."
"Aku tidak akan menikahi siapa pun hanya karena Pack membutuhkan pewaris."
Alexander menatapnya tajam. "Kalau begitu, bagaimana dengan gadis yang kau cari selama lima tahun?"
Sebastian langsung diam. Sementara Adrian menatap keduanya.
Alexander melanjutkan, "Apakah kau benar-benar yakin dia masih hidup?"
Rahang Sebastian mengeras. "Jangan bicara tentang dia."
"Kenapa? Karena kau sendiri tidak pernah tahu siapa dia?"
Sebastian berdiri. "Ayah."
"Aku hanya mengatakan kenyataan." Alexander meletakkan sebuah dokumen di atas meja. "Namanya Elena Arabella Clarice."
Sebastian membeku. Untuk beberapa detik, seluruh ruangan terasa sunyi.
"Siapa?"
"Elena Arabella Clarice. Putri keluarga Clarice."
Sebastian menatap dokumen tersebut. Jantungnya berdetak lebih cepat.
Elena.
Nama yang selama lima tahun tidak pernah hilang dari ingatannya. Nama yang selalu ia cari.
"Kenapa Ayah menyebut nama itu?"
"Karena malam ini kau akan bertemu dengannya."
Sebastian tidak bergerak. Serigalanya tiba-tiba meraung.
Mate.
---
Di tempat lain, seorang gadis berdiri di depan cermin.
Elena Arabella Clarice.
Lima tahun telah mengubahnya.
Gadis yang dahulu berlari ketakutan di sebuah desa kini telah tumbuh menjadi perempuan muda yang anggun.
Rambut panjangnya tergerai melewati pinggang. Wajahnya semakin cantik. Namun, tatapan matanya menyimpan kejenuhan.
Ia mengenakan gaun panjang berwarna biru muda. Di lehernya terdapat sebuah kalung kecil.
Elena menatap dirinya sendiri. "Aku tidak ingin pergi."
Di belakangnya, seorang pelayan menunduk. "Nona, Tuan Clarice sudah menunggu."
Elena menghela napas. "Ayah selalu mengatakan hal yang sama."
Ia berjalan menuju pintu. Namun, baru beberapa langkah, ayahnya masuk.
Tuan Clarice.
Seorang pria yang dikenal sangat berpengaruh di wilayah mereka.
"Elena."
"Ayah."
"Sudah siap?"
Elena mengangguk malas. "Aku tidak mengerti mengapa aku harus bertemu keluarga Valmont."
"Karena ini penting."
"Aku tidak peduli."
Ayahnya menghela napas. "Elena, ini bukan sesuatu yang bisa kau tolak."
"Ayah selalu mengatakan itu."
Tuan Clarice menatap putrinya. Ada kekhawatiran besar di matanya. Sejak kecelakaan yang dialami Elena ketika kecil, ia menjadi terlalu takut kehilangan putrinya. Ia selalu memastikan Elena berada di bawah pengawasan. Tidak boleh bepergian sendirian. Tidak boleh pergi ke wilayah asing. Tidak boleh mendekati orang-orang tertentu. Bahkan urusan pasangan pun harus diatur olehnya.
"Aku hanya ingin melindungimu."
Elena menatap ayahnya. "Melindungi bukan berarti mengurungku."
Tuan Clarice terdiam.
"Aku sudah dewasa."
"Aku tahu."
"Kalau Ayah tahu, kenapa aku masih diperlakukan seperti anak kecil?"
Pria itu tidak mampu menjawab.
Elena berjalan melewatinya. "Aku akan datang." Namun, sebelum keluar, ia berhenti. "Setelah itu, jangan memaksaku melakukan sesuatu yang tidak kuinginkan."
Tuan Clarice menatap punggung putrinya. "Kita bicarakan nanti."
Elena menghela napas. Ia tahu jawaban itu berarti ayahnya tidak berniat menyerah.
---
Malam tiba.
Kediaman keluarga Valmont dipenuhi cahaya. Para bangsawan dan anggota Pack penting mulai berdatangan.
Sebastian berdiri di tangga utama dengan jas hitam. Wajahnya tetap dingin. Namun, pikirannya hanya tertuju pada satu nama.
Elena.
Ia tidak tahu apakah Elena adalah gadis yang dicarinya.
Lima tahun lalu, ia hanya mengetahui nama depannya. Dan kini, nama lengkap itu berada tepat di hadapannya.
Pintu utama terbuka. Keluarga Clarice tiba.
Sebastian mengangkat wajah. Kemudian tubuhnya membeku.
Seorang perempuan turun dari mobil. Gaun biru mudanya bergerak lembut tertiup angin.
Rambut panjang.
Tatapan jernih.
Wajah yang selama lima tahun hanya hidup dalam ingatannya.
Sebastian tidak mampu bernapas. Serigalanya meraung begitu keras hingga seluruh tubuhnya bergetar.
Mate.
Elena berhenti beberapa langkah dari pintu. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa sesak.
Ia mengangkat wajah. Mata mereka bertemu. Dan dunia kembali terasa berhenti.
Lima tahun.
Hanya satu tatapan. Sebastian tahu.
Dia.
Gadis ber selendang putih itu.
Elena.
Namun, Elena belum mengenalinya. Ia hanya melihat seorang pria tampan dengan tatapan dingin yang anehnya membuat jantungnya berdebar.
Sebastian turun satu anak tangga.
Elena semakin dekat.
Ketika jarak mereka tinggal beberapa langkah, Elena mencium aroma yang sangat familiar. Aroma yang pernah ia rasakan lima tahun lalu. Aroma yang tidak pernah bisa ia lupakan. Matanya membesar.
"Sebastian..." Nama itu keluar tanpa sadar.
Sebastian terdiam. "Kau mengingatku?"
Elena sendiri terkejut dengan ucapannya. Ia tidak tahu mengapa nama itu muncul begitu saja.
Namun, Sebastian sudah menemukan jawabannya. Ia menatap perempuan di hadapannya. Untuk pertama kalinya setelah lima tahun, Alpha yang terkenal angkuh itu tersenyum. Sangat tipis. Tetapi nyata.
"Akhirnya..."
Bisiknya begitu pelan.
"Aku menemukanmu."
Elena mengerutkan kening. "Maaf?"
Sebastian tidak menjawab. Ia hanya menatap Elena seolah seluruh dunia tidak lagi penting. Namun, tak satu pun dari mereka menyadari bahwa malam itu bukanlah awal dari kisah cinta yang sederhana.
Malam itu adalah awal dari sebuah perjodohan. Sebuah pelarian. Sebuah perjalanan panjang.
Dan sebuah ikatan mate yang akan mengubah kehidupan dua keluarga besar selamanya.
