5. Semakin Terpesona
Malam itu, ruang utama kediaman Valmont dipenuhi cahaya lampu kristal.
Para bangsawan dari dua keluarga besar memenuhi ruangan. Alunan musik terdengar lembut, tetapi Sebastian hampir tidak mendengarnya.
Perhatiannya hanya tertuju kepada satu perempuan.
Elena.
Perempuan yang berdiri di samping ayahnya dengan wajah tenang, seolah pertemuan malam itu tidak berarti apa-apa.
Padahal bagi Sebastian, dunia baru saja berubah.
Lima tahun.
Selama lima tahun, ia mencari seorang gadis yang hanya dikenalnya melalui sepotong selendang putih dan sebuah nama. Sekarang gadis itu berdiri di hadapannya. Lebih cantik dari yang ia ingat. Lebih dewasa. Namun, tatapan matanya masih sama. Tatapan yang membuat serigalanya mengenalinya bahkan sebelum pikirannya mampu memahami.
Mate.
Sebastian mengepalkan tangan. Serigalanya terus bergerak gelisah. Ia ingin mendekati Elena. Ingin memastikan aroma itu benar-benar milik perempuan yang dicarinya. Namun, Sebastian menahan dirinya. Tidak mungkin ia membuat keributan di depan semua orang.
"Sebastian."
Suara ayahnya membuat Sebastian menoleh.
Alexander Valmont berdiri di sampingnya. "Jangan menatapnya seperti itu."
Sebastian mengangkat alis. "Seperti apa?"
"Seperti kau baru menemukan harta karun."
Sebastian diam.
Alexander menghela napas. "Malam ini kita hanya makan malam. Jangan membuat keputusan terburu-buru."
"Aku tidak terburu-buru."
"Kau sudah mencarinya selama lima tahun."
Sebastian menatap Elena lagi. "Itu bukan alasan untuk berhenti sekarang."
Alexander mengerutkan kening. "Sebastian."
"Aku tahu apa yang kulakukan."
Sebelum Alexander sempat menjawab, Tuan Clarice datang bersama Elena.
"Selamat malam."
Alexander tersenyum formal. "Selamat datang."
Kedua pria itu berjabat tangan.
Sementara Sebastian dan Elena hanya berdiri saling berhadapan. Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara. Akhirnya, Sebastian mengulurkan tangan.
"Sebastian Draco Valmont."
Elena menatap tangan itu. "Aku tahu."
Sebastian sedikit terkejut. "Kau tahu?"
"Semua orang tahu siapa dirimu."
Elena akhirnya menyambut tangannya. Begitu kulit mereka bersentuhan, sesuatu terjadi. Keduanya sama-sama terdiam. Jantung Elena berdetak keras. Serigala dalam dirinya meraung.
Mate.
Elena menarik tangannya dengan cepat. Sebastian juga merasakan hal yang sama. Namun, kali ini dia tidak bisa lagi menyangkal. Ikatan itu nyata. Elena adalah mate-nya.
Sebastian menatap wajah Elena. "Kita pernah bertemu."
Elena mengerutkan kening. "Benarkah?"
"Lima tahun lalu."
Mata Elena berubah. "Di mana?"
"Di sebuah desa."
Elena terdiam. Ingatan lama perlahan muncul. Sebuah desa. Hujan. Seorang pria muda. Tatapan tajam. Dan selendang putih. Elena menatap Sebastian lebih lama. "Kau..."
Sebastian mengangguk. "Pria yang mengejarmu."
Wajah Elena langsung memerah karena malu. "Kau masih mengingatnya?"
"Aku tidak pernah melupakannya."
Jawaban itu membuat Elena kehilangan kata-kata.
Sebastian menatapnya dalam-dalam. "Aku mencarimu selama lima tahun."
Elena menelan saliva. "Kenapa?"
Pertanyaan sederhana itu justru membuat Sebastian terdiam. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa serigalanya telah mengenali Elena sebagai mate sejak pertama kali bertemu. Belum. Bukan di sini.
"Aku ingin mengembalikan sesuatu."
"Apa?"
Sebastian mengeluarkan sebuah benda dari saku jasnya. Selendang putih.
Mata Elena membesar. "Itu..."
"Selendangmu."
Elena mengambilnya dengan tangan gemetar. Begitu kain itu menyentuh kulitnya, perasaan aneh memenuhi dadanya. Ia benar-benar mengenal benda itu. Selendang yang diberikan ibunya. Selendang yang hilang lima tahun lalu.
"Kau menyimpannya selama ini?"
Sebastian mengangguk. "Aku tidak tahu mengapa aku menyimpannya."
Elena menatapnya.
Sebastian tersenyum tipis. "Setiap kali aku mencoba membuangnya, aku selalu merasa tidak seharusnya melakukannya."
Elena menunduk. Entah mengapa, kalimat sederhana itu membuat hatinya berdebar.
Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, Tuan Clarice memanggil putrinya.
"Elena."
Elena menoleh. "Ayah?"
"Kemari."
Elena mengembalikan selendang itu kepada Sebastian. "Aku akan menyimpannya nanti."
Sebastian menerima kembali benda tersebut. "Tidak."
Elena terkejut.
Sebastian menyerahkannya lagi. "Ini milikmu."
Elena tersenyum kecil. "Terima kasih." Ia mengambil selendang itu.
Senyum kecil tersebut membuat Sebastian kembali terdiam. Ia pernah melihat senyum itu lima tahun lalu. Senyum yang sama. Senyum yang membuatnya mencari seorang perempuan selama bertahun-tahun.
---
Makan malam dimulai.
Sebastian duduk di seberang Elena.
Kedua keluarga membicarakan berbagai hal, mulai dari bisnis, wilayah Pack, hingga hubungan antara Valmont dan Clarice. Namun, Sebastian hampir tidak mendengar percakapan mereka.
Elena terlihat lebih sibuk dengan makanannya. Sesekali, ia mengangkat wajah. Dan setiap kali mata mereka bertemu, Elena buru-buru mengalihkan pandangan.
Sebastian justru tersenyum. Ia menikmati reaksi itu.
"Kau terlihat senang." Suara Adrian terdengar dari sampingnya.
Sebastian melirik Beta-nya. "Apa maksudmu?"
"Kau tersenyum."
"Aku memang bisa tersenyum."
"Biasanya tidak."
Sebastian menatapnya dingin. Adrian langsung mengambil gelasnya.
"Baik. Aku diam."
Sebastian kembali menatap Elena. Namun, kali ini ia melihat sesuatu yang berbeda.
Seorang pria muda dari keluarga bangsawan mendekati Elena. Pria itu tersenyum dan berbicara cukup dekat. Elena membalas dengan sopan.
Entah mengapa, dada Sebastian langsung terasa tidak nyaman. Serigalanya menggeram.
Jauhkan dia.
Sebastian mengerutkan kening. Ia tidak suka perasaan ini. Ia bahkan belum memiliki hubungan apa pun dengan Elena. Namun, melihat pria lain mendekatinya saja sudah membuat darahnya panas.
Sebastian berdiri.
Adrian langsung menatapnya. "Alpha?"
"Aku hanya ingin berbicara dengannya."
Sebastian berjalan menuju Elena. Pria muda itu masih berdiri di sana.
"Lady Elena, apakah Anda ingin berjalan-jalan di taman?"
Elena hendak menjawab. Namun, Sebastian sudah berdiri di sampingnya.
"Dia tidak bisa."
Pria itu menatap Sebastian. "Kenapa?"
"Karena aku membutuhkannya."
Elena menoleh. "Apa?"
Sebastian baru menyadari ucapannya. Namun, ia tidak menarik kembali perkataannya.
"Ayahmu memanggilmu."
Elena melihat ke arah ayahnya. Tuan Clarice memang sedang menatap mereka.
"Benarkah?"
Sebastian mengangguk. "Ya."
Pria itu akhirnya pergi.
Elena menatap Sebastian dengan curiga. "Ayahku tidak memanggilku."
Sebastian terdiam.
"Jadi, kau berbohong?"
"Aku tidak suka pria itu."
Elena hampir tertawa. "Kenapa?"
"Entahlah."
Jawaban itu membuat Elena tersenyum. "Kalau begitu, jangan khawatir. Aku juga tidak tertarik padanya."
Sebastian menatap Elena. Untuk sesaat, suasana di antara mereka menjadi sunyi.
Kemudian Elena bertanya pelan, "Sebastian."
"Ya?"
"Kenapa kau mencariku selama lima tahun?"
Sebastian menatap matanya. Karena aku merasakan ikatan yang tidak pernah kurasakan kepada siapa pun. Karena serigalaku mengenalimu. Karena sejak pertama kali melihatmu, aku tidak pernah benar-benar bisa melupakanmu. Namun, semua kalimat itu hanya berputar dalam pikirannya. Yang keluar justru sederhana. "Karena aku tidak bisa melupakanmu."
Elena terdiam. Jantungnya kembali berdetak cepat. Ia tidak tahu bahwa di balik tatapan tenang Sebastian, ada seekor serigala yang sedang meraung bahagia.
Mate.
Malam itu, untuk pertama kalinya, Elena mulai bertanya kepada dirinya sendiri. Mengapa pertemuan dengan Sebastian terasa seperti sesuatu yang sudah ditakdirkan? Dan mengapa setiap kali berada di dekatnya, bagian terdalam dirinya selalu berbisik hal yang sama?
Pulang.
Sementara itu, Sebastian belum mengetahui bahwa beberapa menit lagi, keluarganya akan mengumumkan sesuatu yang akan mengubah hubungan mereka selamanya.
Sebuah keputusan yang akan membuat dua orang yang baru saja menemukan kembali satu sama lain...
Dipaksa untuk menjadi pasangan.
