3. Mate
Pagi datang bersama kabut tipis yang menyelimuti desa.
Sebastian masih berada di sana.
Sudah lima hari sejak pertama kali ia melihat gadis ber selendang putih itu, tetapi pencariannya belum membuahkan hasil. Sebagai seorang Alpha, Sebastian terbiasa mendapatkan apa pun yang ia inginkan. Namun, kali ini berbeda. Semakin ia mencari, semakin jauh gadis itu terasa.
Ia berdiri di depan sebuah rumah tua di ujung desa. Seorang wanita paruh baya baru saja keluar membawa keranjang.
"Permisi," sapa Sebastian.
Wanita itu berhenti. Wajahnya terlihat gugup ketika melihat siapa yang berdiri di hadapannya.
"Saya sedang mencari seorang gadis bernama Elena."
Wanita itu menunduk. "Saya tidak tahu."
Sebastian memperhatikan tangannya yang tiba-tiba gemetar. "Kau mengenalnya."
"Banyak orang bernama Elena di dunia ini, Tuan."
Sebastian tersenyum tipis. Senyum yang justru membuat wanita itu semakin gugup. "Benar."
Sebastian mundur selangkah. "Tapi hanya satu Elena yang membuat seluruh penduduk desa takut membicarakannya."
Wanita itu terdiam.
Sebastian berbalik. Namun, sebelum pergi, ia berkata, "Aku tidak berniat menyakitinya."
Wanita itu menatap punggung Sebastian. "Kalau begitu, jangan mencarinya terlalu jauh."
Sebastian berhenti. "Apa maksudmu?"
Wanita itu menggigit bibir. "Kadang-kadang, seseorang menghilang bukan karena tidak ingin ditemukan. Melainkan karena ada orang yang membuatnya harus bersembunyi."
Sebastian menoleh. "Siapa yang membuatnya bersembunyi?"
Wanita itu tidak menjawab. Ia hanya masuk ke rumah dan menutup pintu.
Sebastian berdiri dalam diam. Kalimat itu terus berputar di kepalanya. Ada seseorang yang membuat Elena bersembunyi.
Siapa?
Dan mengapa?
---
Di tempat lain, Elena sedang duduk di dalam kereta yang meninggalkan desa. Ia menatap keluar jendela. Desa itu semakin jauh.
Tangannya menggenggam ujung gaun. Ia ingin melihat seseorang untuk terakhir kalinya. Namun, ia tahu itu tidak mungkin. Pria bernama Sebastian itu pasti sudah pergi. Atau mungkin masih mencarinya.
Pikiran itu membuat hatinya terasa sesak. "Kenapa aku memikirkannya terus?"
Elena menggeleng. Ia mencoba mengalihkan pandangan. Tetapi bayangan wajah Sebastian kembali muncul.
Tatapan dinginnya.
Suara rendahnya.
Dan cara pria itu menatapnya seolah-olah Elena adalah satu-satunya perempuan di dunia.
Elena menutup matanya. "Aku bahkan tidak mengenalnya."
Namun, serigala dalam dirinya berbisik lembut.
Kau mengenalnya.
Elena mengerutkan kening. "Aku tidak mengenalnya."
Dia adalah milikmu.
Elena terdiam. Jantungnya kembali berdetak cepat. Ia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Sejak bertemu Sebastian, serigalanya menjadi jauh lebih aktif. Biasanya, serigala dalam dirinya tenang. Bahkan Elena sering merasa seolah-olah bagian dirinya itu tertidur.
Tetapi sejak kemarin... Semuanya berubah.
Ia menjadi gelisah. Mudah tersentuh. Dan terus meminta Elena kembali kepada pria asing tersebut.
"Diam."
Mate.
Satu kata itu membuat Elena membuka mata. "Jangan katakan itu."
Namun, serigalanya tidak menjawab.
---
Sore harinya, Sebastian kembali ke rumah sementara keluarga Valmont.
Ayahnya sudah menunggu. "Terlalu lama."
Sebastian meletakkan jasnya di kursi. "Aku punya urusan."
"Aku tahu."
Ayah Sebastian menatapnya tajam. "Kau tinggal di desa itu lima hari hanya untuk apa?"
Sebastian diam.
"Jangan bilang kau sedang mencari seorang perempuan."
Sebastian mengangkat wajah. "Aku memang sedang mencari seseorang."
Ayahnya menyipitkan mata. "Siapa?"
Sebastian tidak menjawab.
Pria itu berdiri dan berjalan mendekatinya. "Sebastian, kau adalah calon Alpha Pack Valmont. Kau tidak boleh membiarkan urusan pribadi mengganggu kewajibanmu."
"Aku tahu."
"Kalau begitu, pulang."
Sebastian menatap ayahnya. "Besok."
Ayahnya mengangguk. "Bagus."
Namun, sebelum pergi, pria itu berkata, "Dan lupakan perempuan dari desa itu."
Sebastian langsung menoleh. "Kau tahu tentang dia?"
Ayahnya terdiam sesaat. "Tidak."
Jawabannya terlalu cepat.
Sebastian menyipitkan mata. "Ayah."
"Jangan mencari masalah."
"Aku hanya ingin tahu siapa dia."
"Dan aku bilang lupakan." Nada suara ayahnya berubah tegas.
Sebastian tidak menjawab. Tetapi sejak saat itu, satu hal menjadi semakin jelas.
Ayahnya tahu sesuatu.
---
Malam itu Sebastian tidak tidur. Ia berdiri di depan jendela sambil memegang selendang putih.
"Kenapa Ayah begitu takut jika aku menemukan Elena?"
Serigalanya tidak menjawab.
Untuk beberapa saat, Sebastian hanya mendengarkan suara angin. Kemudian aroma itu kembali datang.
Lembut.
Samar.
Aroma yang sama seperti milik Elena.
Sebastian langsung menoleh. Jantungnya berdetak keras. Ia membuka pintu balkon. Tidak ada siapa pun. Namun, aroma itu masih ada. Ia melangkah keluar. Naluri serigalanya menuntunnya menuju hutan.
Sebastian berjalan semakin jauh. Sampai akhirnya ia menemukan sesuatu di tanah. Sebuah pita putih. Ia mengambilnya. Aroma Elena begitu kuat di sana.
"Dia pernah berada di sini."
Sebastian menatap sekeliling. Untuk pertama kalinya, ia yakin. Elena tidak pergi begitu saja. Seseorang membawanya pergi.
Dan jika itu benar...
Sebastian tidak akan berhenti sampai menemukan jawabannya.
---
Sementara itu, jauh dari desa, Elena berdiri di balkon rumah keluarganya.
Malam begitu tenang. Namun, dadanya terasa gelisah. Ia tidak tahu mengapa. Tiba-tiba, ia memegang dadanya. Jantungnya berdetak keras.
Sakit.
Seperti seseorang yang sangat jauh sedang terluka.
Elena terkejut. "Apa ini?"
Serigalanya berbisik.
Dia mencarimu.
Elena memejamkan mata. Air mata tiba-tiba mengalir tanpa alasan.
"Kenapa aku menangis?"
Ia tidak tahu. Ia bahkan tidak tahu bahwa pada malam yang sama, seorang pria sedang berdiri di tengah hutan sambil menggenggam pita putih miliknya.
Mereka terpisah oleh jarak.
Terpisah oleh keluarga.
Terpisah oleh rahasia.
Namun, sebuah ikatan yang belum mereka pahami telah menghubungkan mereka.
Ikatan yang bahkan tidak mampu diputus oleh waktu.
Dan lima tahun kemudian...
Ikatan itu akan membawa mereka kembali ke tempat yang sama.
Bukan sebagai dua orang asing.
Melainkan sebagai dua orang yang dipaksa takdir untuk saling mencintai.
