
Ringkasan
5 tahun lalu... Sebastian Draco Valmont, pewaris Valmont Group yang dingin dan angkuh, tak sengaja bertemu seorang gadis cantik ber selendang putih di desa terpencil. Hanya sekali pandang, hatinya luluh. Tapi gadis itu lari ketakutan saat melihat orang suruhan ayahnya. Dan dia menghilang... meninggalkan selendangnya. Sejak saat itu Sebastian selalu mencari gadis itu, tapi tak pernah membuahkan hasil. Kini... Keluarga mengumumkan perjodohan Sebastian dengan Elena Arabella Clarice, putri bangsawan Clarice. Dengan alasan yang cukup klasik yaitu butuh pewaris. Sebastian menolak. Dia sudah punya "gadis selendang" di hatinya. Begitu juga dengan Elena yang menolak perjodohan ayahnya, Tuan Clarice yang terlalu overprotektif karena trauma Elena pernah celaka waktu masih kecil. Dan Elena lelah terlalu dikekang. Hari pernikahan tiba. Dan keajaiban terjadi. Sama-sama kabur dari altar. Sama-sama bersembunyi di hutan. Dan... mereka malah bertemu di hutan. "Kenapa kamu kabur juga?!" "Kamu siapa?!" Terpaksa bekerja sama untuk menghindari kejaran dua keluarga besar, Sebastian dan Elena melarikan diri. Menyusuri lembah, mendaki gunung, dan menyeberangi lautan. Dari saling curiga, saling menyelamatkan, sampai tumbuh rasa yang tidak bisa mereka percaya. Karena terkadang, jodoh bukan untuk ditolak. Jodoh adalah untuk dikejar... ditaklukkan... dan dipertahankan... bahkan sampai ke ujung dunia.
1. Gadis Selendang Putih Dari Desa
Lima Tahun Lalu
Senja turun perlahan di atas sebuah desa terpencil yang berada jauh dari pusat wilayah Pack Valmont.
Langit berubah jingga. Cahaya matahari terakhir menyentuh pepohonan, sementara aroma tanah basah masih terasa setelah hujan sore tadi.
Sebuah mobil hitam berhenti di tepi jalan desa. Pintu belakang terbuka. Seorang pria tinggi turun dengan langkah tenang.
Sebastian Draco Valmont.
Pada usia dua puluh lima tahun, Sebastian telah dikenal sebagai salah satu Alpha muda paling berpengaruh di wilayah mereka. Ia adalah pewaris Valmont Group sekaligus calon pemimpin Pack Valmont.
Wajahnya tampan dan tegas. Tatapannya dingin. Sikapnya selalu tenang, tetapi cukup untuk membuat orang-orang di sekitarnya menjaga jarak.
Sebastian tidak pernah menyukai tempat ramai. Terlebih lagi, desa kecil seperti ini.
"Berapa lama urusan ini akan berlangsung?" tanyanya.
Salah satu pengawalnya segera mendekat. "Jika tidak ada kendala, sekitar dua jam, Tuan Sebastian."
Sebastian melirik jam tangannya. "Dua jam terlalu lama."
Pengawal itu hanya tersenyum kaku. "Maaf, Tuan."
Sebastian tidak menjawab. Ia berjalan menuju bangunan tua di tengah desa. Beberapa anggota Pack Valmont sudah menunggunya untuk membicarakan pembelian tanah yang akan digunakan sebagai jalur perdagangan.
Namun, baru beberapa langkah berjalan, Sebastian tiba-tiba berhenti.
Ada aroma asing.
Sangat lembut.
Aroma bunga liar yang bercampur dengan udara setelah hujan.
Tubuh Sebastian menegang. Di dalam dirinya, serigala yang selama ini hampir tidak pernah menunjukkan reaksi tiba-tiba bangun.
Mate.
Satu kata muncul begitu jelas dalam pikirannya. Sebastian mengernyit.
"Tidak mungkin."
Serigalanya kembali meraung.
Mate.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Sebastian merasakan sesuatu yang tidak dapat ia jelaskan.
Jantungnya berdetak lebih cepat.
Naluri Alpha-nya memaksanya mencari sumber aroma tersebut. Ia menoleh ke sekeliling. Kemudian pandangannya berhenti pada seseorang.
Seorang gadis berdiri tidak jauh dari sana.
Gadis itu mengenakan gaun sederhana berwarna pucat. Rambut panjangnya tergerai melewati bahu, sedikit basah karena hujan. Sebuah selendang putih melingkar lembut di tubuhnya.
Ia sedang membantu seorang anak kecil membawa keranjang buah.
Tidak ada perhiasan mahal.
Tidak ada pakaian mewah.
Namun, bagi Sebastian, tidak ada seorang pun di tempat itu yang lebih menarik daripada dirinya.
Gadis itu mengangkat wajah.
Tatapan mereka bertemu.
Dunia seolah berhenti.
Sebastian tidak bergerak. Begitu pula gadis itu.
Untuk beberapa detik, mereka hanya saling menatap.
Mata gadis itu begitu jernih. Ada kelembutan di dalamnya yang membuat Sebastian lupa bahwa beberapa detik lalu ia sedang terburu-buru menyelesaikan pekerjaannya.
Serigalanya kembali meraung.
Dia.
Sebastian menelan saliva "Siapa dia?" tanyanya pelan.
Pengawal yang berdiri di belakangnya mengikuti arah pandangan Sebastian.
"Sepertinya warga desa, Tuan."
"Namanya?"
"Saya tidak tahu."
Sebastian kembali menatap gadis itu. Entah mengapa, ia ingin mengetahui namanya. Bukan hanya namanya. Ia ingin mengetahui siapa dirinya.
Mengapa aroma gadis itu membuat seluruh tubuhnya bereaksi seperti ini?
Sebastian mulai berjalan mendekat. Satu langkah. Dua langkah.
Gadis itu masih berdiri di tempatnya. Namun, ketika Sebastian semakin dekat, gadis tersebut tampak sedikit gugup.
"Jangan takut," ujar Sebastian.
Gadis itu tidak menjawab.
Sebastian berhenti beberapa langkah di depannya. Untuk pertama kalinya, ia tidak tahu harus mengatakan apa kepada seorang perempuan.
Biasanya, perempuan yang berada di dekatnya akan berusaha menarik perhatian. Mereka akan tersenyum, berbicara, atau mencari alasan untuk mendekatinya. Namun, gadis ini berbeda. Ia justru terlihat ingin melarikan diri.
"Siapa namamu?" tanya Sebastian akhirnya.
Gadis itu menatapnya. Bibirnya bergerak perlahan. "Elena..."
Sebastian hampir tersenyum. Nama itu terasa indah ketika keluar dari bibirnya. Namun, sebelum gadis itu sempat melanjutkan kalimatnya, suara langkah kaki terdengar dari belakang.
"Tuan Muda!"
Beberapa pria berpakaian hitam memasuki halaman desa.
Gadis itu menoleh. Wajahnya langsung berubah pucat. Senyum kecil yang tadi terlihat di bibirnya menghilang. Ketakutan memenuhi matanya.
Sebastian memperhatikan perubahan itu. "Kamu kenapa?"
Gadis tersebut mundur. Satu langkah. Kemudian satu langkah lagi.
"Elena?"
Begitu Sebastian menyebut namanya, gadis itu langsung berbalik.
Ia berlari.
Sebastian terkejut. "Tunggu!"
Ia segera mengejarnya.
Gadis itu berlari menyusuri jalan kecil yang dipenuhi pepohonan. Selendang putihnya berkibar diterpa angin.
Sebastian mempercepat langkah. Ia adalah seorang Alpha. Tidak seharusnya seorang manusia biasa mampu melarikan diri darinya. Namun, entah bagaimana, gadis itu semakin jauh.
"Berhenti!"
Gadis itu tidak berhenti.
Sebastian hampir berhasil meraih tangannya ketika gadis tersebut berbelok ke sebuah jalan sempit.
Ketika Sebastian sampai di sana, gadis itu sudah menghilang. Ia berhenti. Napasnya sedikit memburu. Matanya menyapu seluruh jalan.
Tidak ada siapa pun.
Hanya suara angin dan dedaunan yang bergerak perlahan. Kemudian Sebastian melihat sesuatu di tanah.
Selendang putih.
Ia mengambilnya. Kain itu masih menyimpan aroma gadis tersebut. Aroma yang langsung membuat serigalanya kembali gelisah.
Sebastian memejamkan mata sejenak. Ia menggenggam selendang itu erat.
"Elena..."
Untuk pertama kalinya, nama seorang perempuan terasa begitu penting baginya.
Ia tidak tahu siapa Elena. Ia tidak tahu mengapa gadis itu begitu takut kepada orang-orangnya. Dan ia sama sekali tidak mengerti mengapa serigalanya terus mengatakan satu hal yang sama.
Mate.
Namun, Sebastian tahu satu hal. Ia harus menemukannya. Ia kembali ke tempat para pengawalnya menunggu.
"Tuan Muda, apakah Anda baik-baik saja?"
Sebastian tidak menjawab. Ia hanya menatap selendang putih di tangannya.
"Cari gadis tadi."
Pengawalnya terdiam.
"Yang memakai selendang putih?"
"Ya."
"Apakah ada sesuatu yang terjadi, Tuan?"
Sebastian mengangkat wajah. Tatapannya kembali dingin seperti biasa. "Aku ingin tahu siapa dia."
Pengawal itu mengangguk. "Baik, Tuan."
Sebastian kembali melihat ke arah jalan tempat Elena menghilang.
Ia tidak tahu bahwa pertemuan singkat itu akan menjadi awal dari sebuah perjalanan panjang.
Ia juga tidak tahu bahwa gadis yang baru saja berlari meninggalkannya akan menjadi satu-satunya perempuan yang mampu mengubah hidup seorang Alpha angkuh.
Dan lima tahun kemudian... Sebastian akan kembali bertemu dengannya.
Bukan di desa terpencil. Bukan dalam suasana damai. Melainkan di hari pernikahan mereka.
Hari ketika mereka berdua sama-sama melarikan diri dari altar. Tanpa mengetahui bahwa mereka sedang berlari menuju satu sama lain.
